Unknown Love

Unknown Love
Membuka Hati


__ADS_3

Dua hari berlalu. Semenjak kepergian Erlangga ke Surabaya, Kinara lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, melanjutkan kembali tulisannya yang tertunda. Hanya ketika Ajeng pulang saja dia akan berada di ruang utama, menemani adik iparnya itu bercerita.


"Hai kak, masih sibuk?", tanya Ajeng tiba-tiba menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


Kinara yang sedari siang fokus menulis novel di laptopnya tak menyadari kedatangan Ajeng.


"Kamu mengejutkanku, Jeng", jawab Kinara sambil mengelus dada. Dia beranjak dari tempat tidur dan menutup laptop miliknya.


"Maaf".


Kinara dan Ajeng duduk bersama di balkon. Menikmati petang ditemani dua gelas orange juice dan semangkuk besar pop corn yang baru saja mereka buat bersama.


"Hmm...gak ada Mas Angga sepi ya kak", seloroh Ajeng.


Kinara tersenyum tipis, "Iya", jawabnya pendek.


"Aku penasaran deh, gimana sih perasaan kakak ke Mas Angga?", selidik Ajeng. Dia sudah mengubah posisi duduknya menghadap Kinara.


Kinara menghela nafas dalam, pertanyaan yang sulit untuk dijawab.


"Bisakah kamu memanggil namaku saja tanpa tambahan 'kakak'?", Kinara mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa? kakak gak suka? mama lho yang minta aku membiasakan diri memanggil kakak", terang Ajeng dengan mulut masih aktif mengunyah.


"Aku hanya rindu dipanggil dengan namaku seperti dulu, rasanya lebih akrab", terang Kinara.


Ajeng nampak berpikir sejenak, "Baiklah, tapi kalau ada Mas Angga atau papa dan mama, aku panggil kakak ya. Bisa habis aku kalau panggil nama tanpa gelar kakak", Ajeng menirukan wajah galak Erlangga dan itu membuat Kinara tertawa lepas.


"Jadi, gimana Ra?", tanya Ajeng lagi.


"Apanya yang gimana?".


"Hhmm...perasaanmu Ra. Gimana perasaan kamu ke Mas Angga? Kalian kan menikah karena dijodohkan, tentu bukan hal mudah untuk bisa menerima itu. Ya meskipun aku tahu sih, kalau kakakku cinta mati sama kamu", Ajeng mengulang lagi pertanyaannya diawal.


Kinara menghela nafas dalam.


"Aku tak bisa menjawabnya, Jeng. Terlalu sulit".


Ajeng mengernyitkan dahinya, "Sulit? kenapa?", dia semakin menyelidik.


Kinara menatap Ajeng dalam.


"Entahlah. Tapi satu hal yang pasti Mas Erlangga sangat baik padaku dan aku bisa merasakan semua kebaikan, perhatian dan kasih sayangnya", jawab Kinara jujur.

__ADS_1


"Lalu, kenapa kamu bingung dengan perasaanmu jika kakakku sebaik itu?", Ajeng masih penasaran.


Kinara menundukkan kepalanya. Dia tak tahu harus menjawab apa.


"Apa ini ada hubungannya dengan...Farhan?", tanya Ajeng hati-hati.


Deg...


Jantung Kinara berdegup saat nama Farhan disebut. Entah apa yang dirasakan hatinya.


"Ra?", Ajeng membuyarkan lamunan sahabatnya itu.


"Eh...ya...apa?", Kinara gelagapan.


Ajeng tersenyum tipis, "Farhan sudah kembali ke Jerman", katanya tiba-tiba.


Kinara terdiam mendengar perkataan Ajeng.


'Dulu dia pergi tanpa kabar. Dua bulan yang lalu dia menemuiku tiba-tiba dan sekarang dia pergi lagi tanpa berita', batin Kinara. Dadanya tetiba saja merasa sesak.


Drrtt...ddrrtt...drrtt


Ponsel Kinara bergetar, ada nama Erlangga di layar.


"Hallo sayang. Sedang apa?".


"Aku sedang menikmati senja bersama Ajeng, mas".


"Oh. Sayang, apa kamu merindukanku?", tanya Erlangga to the point.


Wajah Kinara merona. Ajeng yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik kakak iparnya itu tersenyum geli.


'Pasti Kak Angga menggodanya', batin Ajeng yang tak berhenti menikmati pop corn di meja.


"Sayang...apa kamu masih di sana?", tanya Erlangga yang sedari tadi menunggu jawaban Kinara.


"Oh i...iya mas, maaf. Aku masih di sini", jawab Kinara gugup.


Senyum Erlangga merekah, 'Dia masih malu-malu', pikirnya, membayangkan wajah Kinara yang merona hanya karena ditanya seperti itu.


"Aku merindukanmu dan merindukan tubuhmu, sayang", lagi, Erlangga menggoda Kinara.


Perasaan Kinara makin tak karuan. Dia memberi kode kepada Ajeng untuk permisi masuk ke dalam kamar, Ajeng menganggukkan kepalanya. Dia mengerti, kedua kakaknya itu pasti membicarakan hal yang sangat pribadi.

__ADS_1


"Mas...jangan menggodaku seperti itu", jawab Kinara setibanya di dalam kamar.


Terdengar tawa renyah Erlangga di ujung sana.


"Kenapa tertawa, mas? apa ada yang lucu?", sergah Kinara.


"Maaf...maaf, sayang. Aku hanya membayangkan bagaimana wajahmu yang begitu merona. Tapi sungguh, aku tak bermaksud menggodamu. Aku benar-benar rindu padamu, rindu masakanmu, rindu kamu yang suka malu-malu dan aku pun rindu tubuhmu yang indah dan harum itu, desahanmu membuatku bergairah. Semuanya yang ada pada dirimu, aku rindu, sayang", ucapan Erlangga makin tak terkontrol.


"Mas...hentikan...", Kinara hampir menjerit, tak tahan dengan godaan suaminya itu.


Lagi, Erlangga tertawa.


"Aku suamimu, apa salahnya aku berbicara sejujur itu pada istriku sendiri? apa kamu mau aku berkata seperti itu pada Viona, hm?".


"Tidak...jangan...", Kinara spontan menjawab dengan keras saat suaminya menyebut nama wanita yang mengusik pikiran dan perasaannya belakangan ini.


"Aku ingin secepatnya pulang, memelukmu dan menuntaskan momen indah kita yang tertunda".


Kilatan bayangan malam itu kembali berkelebatan dalam ingatan Kinara. Ya, pertama kalinya selama menikah mereka berdua sedekat dan selekat itu, bahkan momen yang selama ini ditakutkan oleh Kinara hampir saja terjadi.


Kinara menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menepis bayangan momen itu.


"Cepatlah pulang mas, aku pun merindukanmu dan...", Kinara tak melanjutkan ucapannya.


"Dan apa, hm?", Erlangga menunggu.


"Dan...aku...aku akan memberikan hakmu dengan penuh", jawab Kinara malu-malu. Dia membenamkan wajahnya di bantal. Erlangga tak ada di hadapannya tapi seolah bagi Kinara suaminya itu ada di sana. Malu sekali.


"Benarkah? baiklah, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan secepatnya pulang. Tunggu aku, sayang".


"Iya mas, hati-hati ya di sana. Jaga makan dan istirahatmu", pesan Kinara.


"Aku mencintaimu...".


"Aku...aku juga mencintaimu, mas...", akhirnya kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Kinara. Entah dari mana dia tak ragu lagi mengatakannya, padahal selama ini dia masih berusaha meyakinkan perasaannya pada Erlangga.


'Apa sebenarnya aku sudah benar-benar mencintainya? atau...', Kinara sibuk dengan pikirannya sendiri.


Meskipun masih ada rasa malu yang menyeruak dalam, tapi dia tersenyum mengingat godaan suaminya saat di telepon tadi.


"Mungkin sudah saatnya aku membuka hati untuk suamiku. Tak ada alasan bagiku untuk tak mencintainya sepenuh hati", gumam Kinara yakin.


Petang itu pun dia habiskan lagi bersama Ajeng yang kini sudah berpindah ke ruang utama, masih menikmati pop corn, orange juice dan sebuah film drama. Tapi ada warna yang berbeda di hati Kinara. Warna cinta yang membuatnya berbunga-bunga.

__ADS_1


__ADS_2