
Pesta pernikahan telah usai, keluarga dekat dan para kolega sudah undur pamit satu per satu. Malam pun beranjak kian larut.
"Malam ini kalian bermalam di sini, bukan?", tanya Pak Prastowo sebelum dia dan keluarganya pergi.
Kinara melirik ke arah Farhan, "Iya, pak".
"Baik kalau begitu. Nara, kami pulang dulu ya".
"Iya, pak, bu. Hati-hati ya, besok Nara pulang ke rumah".
"Jangan buru-buru, nikmati saja kebersamaanmu dengan suamimu, ya", pangkas Bu Hasna. Kinara tersenyum malu.
"Ibu juga pamit ya, Han, Nara. Secepatnya kasih kami cucu", bisik Bu Asri terdengar jelas oleh semua orang di sana. Semua orang yang mendengarnya tersenyum meng-iya-kan.
Farhan tersenyum, sedangkan Kinara menunduk malu.
Setelah kepergian semua anggota keluarga, Farhan mengajak Kinara ke kamar mereka. Kamar yang sudah Farhan pesan dan disiapkan dengan baik.
Kinara mencoba mengimbangi langkah Farhan.
"Kemarilah", Farhan mengulurkan tangannya. Rupanya dia ingin menggandeng Kinara.
Hati Kinara berdesir saat Farhan menggenggam tangannya.
Sepanjang perjalanan ke lantai tujuh, keduanya memilih untuk diam. Kinara merasa lebih nyaman seperti itu, setidaknya dia tidak perlu mencari-cari topik pembicaraan.
Kini mereka berdua sudah berada di depan sebuah pintu kamar.
"Aku harap kamu suka dengan apa yang sudah aku siapkan di dalam", ujar Farhan sebelum dia membukakan pintu kamar itu.
Kinara tersenyum tipis, dia tidak tahu kejutan apa yang Farhan siapkan untuknya.
Perlahan pintu kamar terbuka, ada temaram cahaya lilin di sana. Kinara belum melihat jelas isi ruangan itu.
Klik
Farhan menyalakan lampu utama dan betapa terkejutnya Kinara melihat isi kamar itu dipenuhi bunga kesukaannya. Bunga mawar putih terhampar memenuhi ruangan, bercampur dengan kelopak mawar merah. Harum manis mawar menyeruak.
"I...ini...ini kejutan untukku?", tanya Kinara tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ya, apa kamu suka?", tanya Farhan.
Kinara mengangguk cepat, "Aku suka sekali, terimakasih", spontan Kinara memeluk Farhan.
Farhan sedikit terkejut, tapi kemudian dia membalas pelukan itu.
Deg
Kinara baru sadar jika dia spontan memeluk Farhan, "Ma...maaf", Kinara melepaskan lingkaran tangannya dari tubuh Farhan.
"Kenapa kamu minta maaf?".
Kinara mencoba membuang wajahnya agar Farhan tak menatap dirinya.
Farhan tersenyum, dia tahu Kinara gugup dan malu, "Tak masalah jika kamu memelukku. Sekarang kita sudah sah menjadi suami istri".
__ADS_1
Kinara semakin menundukkan pandangannya saat mendengar ucapan Farhan. Ya, meskipun mereka sudah resmi menikah, tapi entah kenapa Kinara merasa kikuk sekali berdekatan dengan Farhan.
Dddrrtt
Ponsel Farhan bergetar, ada nama Erik di sana.
"Sebentar, aku menerima telepon dulu ya", Farhan menunjukkan ponselnya yang menyala. Kinara hanya meng-iya-kan dengan anggukan.
Farhan keluar dari kamar itu, sedangkan Kinara menjelajah kejutan indah yang Farhan siapkan.
Lantai di penuhi dengan mawar, begitupun dengan kasur, ada mawar merah berbentuk hati dengan satu buket mawar putih di tengahnya dan ada sebuah kartu di sana.
Mawar putih segar juga menghiasi beberapa vas bunga yang ada di nakas, Farhan benar-benar mempersiapkannya dengan baik.
Perlahan, Kinara berjalan mendekati buket bunga yang ada di atas kasur dan mengambilnya, tak lupa dia membaca isi kartu yang ada di sana.
Thank's for being my wife. I love you so much, Kinara Cyzarine.
Kinara tersipu membaca pesan di kartu itu. Kalimat yang sederhana, namun berarti.
Sementara di luar kamar, Farhan masih sibuk menerima telepon dari Erik.
"Ck, jam segini masih bahas urusan kerjaan, Rik", keluh Farhan.
"Ya sorry, Han, ini juga mendadak banget. Nindia minta kita untuk meeting besok. Ada kesepakatan kerja sama yang baru untuk perusahaan kita".
"What? besok meeting? apa lo gak bisa handle sendiri, Rik? atau diundur gitu? gue baru aja nikah, baru masuk kamar udah lo telepon, dan besok harus meeting juga. Gila", Farhan kesal.
"Lah, Han, gue juga sama. Malah gue udah siap tempur nih sama Ajeng, eh ada telepon soal kerjaan. Nyesel gue gak matiin ponsel".
"Lo gak malu jujur kek gitu sama gue? ajukan pengunduran jadwal meetingnya, Rik, jadi lusa atau Minggu depan kalau bisa".
Farhan mendengus kesal, "Ya udah, jam berapa dan di mana besok kita meeting?".
"Jam sembilan pagi di kantor", jawab Erik cepat.
"Ok, lo siapkan semua hal yang dibutuhkan buat meeting besok", perintah Farhan.
"Siap bos. Udah dulu ya, gue mau tempur sama Ajeng. Lo juga yang semangat bertempur sama Kinara biar cepat jadi", goda Erik sebelum dia menutup teleponnya.
Erik tahu Farhan tidak suka digoda seperti itu, jadi dia langsung memutus telepon tersebut setelah menyampaikan pesan gilanya kepada Farhan.
"Dasar mesum", gerutu Farhan.
Tapi ucapan Erik terngiang lagi. Bagaimana pun juga Farhan lelaki normal. Farhan tersenyum tipis dan mencoba menepis pikirannya yang sudah berlari jauh dari kenyataan.
"Farhan lama sekali, kemana dia?", gumam Kinara sendiri. Beberapa kali dia melirik ke arah pintu, tidak ada tanda-tanda kedatangan Farhan.
"Hmm...mungkin telepon itu penting. Sebaiknya aku membersihkan diri dulu", gumam Kinara lagi.
Dia beranjak dari samping tempat tidur dan meletakkan kembali buket mawar putihnya di sana. Kinara mencoba melepaskan risleting gaunnya.
"Iihh susahnya", keluh Kinara, dia masih mencoba meraih risleting di punggungnya tapi belum berhasil.
"Kamu sedang apa, sayang?", tetiba saja sepasang tangan melingkar di pinggang Kinara.
__ADS_1
Deg
Jantung Kinara berdegup, dia tidak tahu sejak kapan Farhan masuk ke dalam kamar itu.
"A...aku...aku mau membersihkan diri tapi sulit sekali membuka gaun ini", jawab Kinara gelagapan.
Farhan tersenyum, "Mau aku bantu?", bisikan suara Farhan di telinga Kinara menggelikan.
"Tak...tak apa, aku bisa membukanya sendiri", jawab Kinara gugup.
Di posisi Farhan memeluknya dari belakang tentu saja membuat Kinara tidak bisa meraih risleting gaunnya.
Farhan mengeratkan pelukannya, dia sandarkan wajahnya di bahu Kinara, menikmati harum tubuh Kinara.
"Kamu harum sekali, sayang...", bisik Farhan lagi.
Debaran yang Kinara rasakan semakin menjadi. Terlebih Farhan memanggilnya sayang.
Farhan meraih kedua tangan Kinara agar bisa di dekapnnya juga. Sepersekian detik kedua insan manusia itu larut dalam keheningan. Kinara berusaha menenangkan hatinya, bersusah payah menekan kegugupan dirinya sendiri.
Farhan membalikkan tubuh Kinara dengan lembut. Dipandanginya Kinara yang memilih menundukkan wajahnya.
"Kenapa kamu masih menunduk di depanku?", tanya Farhan.
"Apa kamu malu, hm?".
Kinara tak menjawab, dia menelan salivanya dalam-dalam.
Tangan kanan Farhan menyentuh dagu Kinara dan mengangkatnya.
"Selama ini kita bersahabat dan hari ini Tuhan menakdir kita menjadi sepasang suami istri. Kamu sudah lama mengenalku, tapi masih bisa segugup ini saat di depanku, aku suka", mata elang Farhan menatap mata Kinara.
Ingin sekali Kinara membenamkan kembali wajahnya karena dia tahu saat ini wajahnya pasti sudah memerah seperti kepiting rebus Tapi tak mungkin dia melakukannya karena tangan Farhan kini mulai menyentuh pipinya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Kinara Cyzarine", bisik Farhan.
Ucapan itu seolah membius Kinara. Tanpa disadarinya, Farhan memajukan wajahnya, menyentuhkan bibirnya dengan bibir Kinara.
Farhan mencium lembut bibir manis itu dan entah kenapa, Kinara merespon ciuman Farhan. Tanpa disadarinya, kedua tangannya sudah melingkar di leher Farhan. Tangan Farhan pun berbagi, satu memegang tengkuk Kinara dan satunya lagi melingkar di pinggang Kinara.
Ciuman itu semakin dalam dan hangat. Tangan Farhan sudah mulai mengelus lembut punggung Kinara, membuat istrinya itu merasakan debaran yang luar biasa. Tangan Farhan pun mulai membuka risleting gaun yang Kinara kenakan tanpa melepas pautan bibirnya.
Kinara tak menyadari hal itu, dia hanyut menikmati ciuman dari Farhan. Perlahan, Farhan melepaskan pautan bibirnya, mengizinkan Kinara untuk menarik nafas panjang.
"Aku sudah membukakan risleting gaunmu. Apa kamu mau membersihkan diri sekarang atau ...".
"Aku mau membersihkan diri", jawaban cepat Kinara memotong ucapan Farhan. Farhan tersenyum nakal. Dia melihat istrinya terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Kinara segera mengunci dirinya di kamar mandi. Dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dirinya dan Farhan lakukan.
Kinara berdiri di depan cermin, dia menatap wajahnya dan memegang bibirnya.
"Bagaimana bisa aku melakukan hal seperti itu? ini memalukan sekali", gumam Kinara. Kali ini dia benar-benar bisa melihat wajahnya memerah karena malu membayangkan apa yang baru saja terjadi.
Sementara itu, Farhan memilih untuk duduk di ujung ranjangnya, merebahkan kakinya, menunggu Kinara membersihkan diri.
__ADS_1
Senyum Farhan terkembang sempurna. Rasa manis bibir Kinara masih bisa dirasakannya. Bayangan ciuman mereka tadi berkelebat dalam pikiran Farhan.
"Akhirnya aku memilikimu", gumam Farhan bahagia.