
Alarm di ponsel Kinara menyala membuat pemiliknya mengerjapkan kedua matanya dan perlahan bangun dari tidur lelapnya.
"Mmhh...sudah mau subuh", gumam Kinara dari balik selimut. Tubuhnya terasa berat, ada sesuatu yang menekannya.
"A...apa ini?", Kinara terkejut. Ada tangan melingkar di pinggangnya dan kaki yang mengunci tubuhnya untuk tetap diam di tempat.
Dia mencoba melepaskan kuncian tangan dan kaki itu, tapi sulit. Bukannya terlepas, Farhan, pemilik tangan dan kaki itu justru semakin mengeratkan kunciannya.
Kinara masih mencoba menggerakkan tubuhnya agar terlepas, tapi tindakannya itu justru membuat Farhan mengerjapkan kedua matanya.
"Kamu sudah bangun? mau kemana?", tanya Farhan dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Tolong lepas dulu, aku mau bangun. Sudah subuh", terang Kinara yang masih saja tidak bisa diam dalam dekapan Farhan.
Farhan bukan melepaskan kunciannya, tapi menarik tubuh istrinya hingga posisi mereka kini berhadapan.
Farhan tersenyum, "Biarkan seperti ini, sebentar lagi".
Spontan saja wajah Kinara memerah. Ini kali kedua wajah mereka berada sangat dekat, tanpa jarak bahkan Kinara dapat merasakan hembusan hangat nafas Farhan.
Farhan beranjak dari dalam selimut, dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kasur.
"Kemarilah", Farhan meminta Kinara mendekat.
Kinara masih menundukkan wajahnya, dia berusaha membuang tatapannya ke sembarang arah.
Lagi, Farhan tersenyum, "Kenapa sepagi ini kau sudah menggodaku?", tanyanya saat kedua matanya mengarah ke dada Kinara yang sedikit terbuka.
Kinara lupa dengan gaun tidur sexy yang dikenakannya.
Ekor mata Kinara melirik ke arah Farhan yang masih menatapnya dengan senyuman. Dia belum menyadari tatapan Farhan yang sedari tadi mengarah ke dada dan pahanya yang terbuka.
"Apa kamu mau kita melakukannya pagi ini, hm?", tanya Farhan lagi.
Deg
Jantung Kinara berdegup, "A...apa maksudmu bicara seperti itu? aku hanya ingin bangun dan ...", belum selesai Kinara bicara, tangan Farhan sudah menariknya.
Tubuh Kinara kini menempel pada dada bidang milik Farhan. Jantungnya kian berpacu dengan cepat, terlebih sedari tadi Farhan terus menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.
"Jangan terus menyembunyikan wajahmu, lihat aku", Farhan mengangkat dagu Kinara dengan lembut. Kedua mata mereka kini beradu.
Senyum Farhan semakin mengembang saat dia bisa melihat wajah istrinya merona dari dekat.
"Kamu terlihat cantik sekali. Rasanya aku tidak tahan untuk tidak menerkammu", ujar Farhan menggoda.
Kinara sudah salah tingkah, dia mengerti maksud Farhan. Tapi pikiran dan perasaannya saat ini mengatakan jika dia belum siap jika harus melakukannya sekarang.
Farhan yang menyadari perubahan ekspresi Kinara merasa senang. Pagi ini dia memang sengaja ingin menggoda istrinya.
"Kenapa dari tadi kamu diam, sayang? apa kamu pun tidak sabar untuk aku terkam?", Farhan bicara setengah berbisik di telinga Kinara.
Bulu kuduk Kinara meremang mendengarnya.
"Bu...bukan begitu. Tolong, Han, lepaskan aku. Aku mau siap-siap sholat subuh", pinta Kinara.
__ADS_1
Farhan menegakkan tubuhnya dan entah bagaimana, kini posisi mereka berdua berubah. Farhan sudah ada di atas tubuh Kinara dan menguncinya.
"Ka...kamu mau apa, Han?" Kinara mulai panik. Dia tak menyangka jika Farhan berani melakukan hal seperti itu kepadanya.
"Tentu saja aku ingin meminta hakku. Apa kamu lupa jika kita sudah menikah?", jawab Farhan enteng. Mata Farhan dengan bebas menjelajahi tubuh Kinara.
Kinara masih berusaha melepaskan kuncian Farhan dikedua tangan dan pahanya.
"Aku mohon Han, jangan sekarang", pinta Kinara.
Farhan seolah tak mendengar permintaan istrinya. Dia hanya tersenyum nakal lalu mulai mendekatkan wajahnya, memagut lembut bibir Kinara.
"Mmhhpp....", Kinara merasa sesak saat bibir Farhan menyentuh bibirnya. Bermain dengan lembut di sana.
Cukup lama Farhan menikmati ciuman pagi itu.
Kinara terengah-engah saat Farhan melepaskan pautan bibirnya.
"Morning kiss", katanya sambil melepaskan kunciannya dari tubuh Kinara.
Kinara segera beranjak dari tempat tidur itu, tapi tangan Farhan menariknya kembali.
Kali ini Kinara berada dalam dekapan Farhan. Kedua mata mereka saling beradu.
"Aku tidak akan melakukannya sampai kamu benar-benar siap", ujar Farhan. Kinara masih terdiam, dia berusaha menenangkan hatinya.
"Ayo, kita siap-siap sholat subuh berjama'ah", ajak Farhan enteng seolah tak terjadi apa-apa.
Kinara masih tertegun,, dia masih tak percaya Farhan bersikap seperti itu kepadanya.
Menyadari hal itu, Kinara segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia setengah berlari menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Farhan tersenyum lebar melihat tingkah istrinya itu, "Menarik", gumam Farhan.
Kinara dan Farhan sudah selesai melaksanakan sholat subuh berjama'ah. Kinara mencium tangan suaminya dan Farhan mengecup kening Kinara.
"Aku minta maaf atas sikapku tadi, Han. Tidak seharusnya aku menolak", ujar Kinara. Dia memang sudah bertekad tidak melakukan kesalahan yang dulu kepada suaminya saat ini.
Farhan mengernyitkan dahinya, "Tak apa, Ra. Tidak perlu meminta maaf. Lagi pula aku yang salah karena sudah menggodamu. Tapi memang melihatmu berpakaian seperti itu, itu benar-benar menantang", jawab Farhan jujur. Wajah Kinara sudah mulai merona lagi. Beruntung, mukena yang masih dikenakannya membuat tubuhnya tertutup sempurna, jika tidak, mata suaminya pasti sudah beredar bebas diseluruh tubuhnya.
"Aku...aku tidak bermaksud begitu. Ini kan pakaian yang kamu berikan", jawab Kinara gugup.
"Ya, aku hanya menemukan baju-baju seperti itu di lemari. Sepertinya Ajeng sengaja memberimu pakaian yang terbuka. Tapi aku suka melihatnya".
"Ajeng?", Kinara terkejut.
"Iya, kemarin sore sebelum acara pernikahan kita, Ajeng mengabariku jika dia sudah menyiapkan semua keperluanmu di kamar ini, termasuk pakaianmu".
Kinara menarik nafas kasar, "Iihh Ajeng jahil sekali. Pantas saja aku tidak melihat koper bajuku di kamar ini", batin Kinara.
"Jadi, nanti aku pulang gimana, Han? tidak mungkin aku berpakaian seperti ini", keluh Kinara.
Farhan tersenyum, "Tenanglah, nanti akan ada orang yang mengantarkan pakaianmu ke sini".
Kinara tersenyum.
__ADS_1
"Oh ya, Ra. Aku minta maaf, sepertinya hari ini aku tidak bisa menemanimu. Semalam Erik mengabariku jika pagi ini ada meeting penting yang tidak bisa dibatalkan", ujar Farhan sendu. Dia sebetulnya sangat enggan untuk menghadiri meeting dengan koleganya, Nindia.
"Tak apa, Han. Aku akan baik-baik saja meski sendiri. Lagi pula nanti aku mau pulang ke rumah", jawab Kinara.
"Aku usahakan menyelesaikan meeting ini dengan cepat dan nanti aku antar kamu pulang dulu, ya. Setelah itu kita akan pergi berdua" Farhan menatap Kinara dengan penuh cinta. Kinara mengangguk.
Pukul tujuh pagi, seperti yang Farhan katakan, ada orang yang datang ke hotel mengantarkan pakaian Kinara dan Farhan. Farhan yang menerimanya.
"Maaf, aku belum bisa membuatkanmu sarapan. Di sini tidak ada dapur", ucap Kinara saat menyajikan makanan yang tadi dipesannya dari restoran hotel.
Farhan tersenyum, "Tak apa, sayang".
Deg
Jantung Kinara berdegup mendengar Farhan memanggilnya sayang.
"Lagi, dia memanggilku sayang", batin Kinara.
"Ayo, kita sarapan sama-sama", ajak Farhan.
Kinara menemani suaminya sarapan. Mereka berdua sudah segar dan rapi.
Kinara melirik jam di tangannya, masih ada waktu tiga puluh menit lagi sebelum Farhan mengantarkannya pulang.
"Mmm...Han".
"Ya", jawab Farhan setelah dia menyeruput teh miliknya.
"Kenapa?", Farhan menunggu Kinara melanjutkan ucapannya.
"Mmm...begini, kita sekarang sudah menikah, rasanya aneh jika aku masih memanggil namamu padahal kamu suamiku. Bolehkah aku memanggilmu, Mas?", tanya Kinara hati-hati.
Farhan tersenyum, "Tentu, kenapa tidak? kalau kamu mau memanggilku sayang juga boleh".
Kinara tersipu, "Ok, mulai sekarang aku memanggilmu Mas Farhan atau sayang, ya", jawab Kinara kikuk.
"Iya, sayang", jawab Farhan tanpa ragu.
Setelah sarapan, Kinara mengemas kembali barang-barang miliknya dan Farhan. Setelah selesai, mereka berdua berjalan bersama menuju basement.
Hari ini Farhan benar-benar merasa bahagia. Dia lebih bersemangat untuk bekerja. Sepanjang perjalanan, sesekali dirinya dan Kinara tertawa bersama mengenang cerita mereka saat dulu masih berteman di kampus.
"Mas berangkat dulu ya sayang, nanti setelah meeting mas langsung ke sini jemput kamu", ucap Farhan sebelum dia mengecup kening istrinya.
Pak Prastowo dan Bu Hasna yang melihat pemandangan itu tersenyum bahagia.
"Aduh pengantin baru", goda Pak Prastowo.
Farhan dan Kinara melirik malu.
"Tak apa, sudah halal kok", kata Bu Hasna yang bisa membaca raut wajah malu anak dan menantunya itu.
Farhan tersenyum, "Kalau begitu, Farhan pamit dulu ya pak, bu. Nanti Farhan ke sini lagi jemput Kinara", Farhan berpamitan kepada kedua mertuanya. Dia mencium tangan mereka bergantian.
"Hati-hati ya mas", ucap Kinara setelah giliran dirinya yang mencium tangan Farhan. Farhan mengangguk dan berlalu.
__ADS_1
"Tuhan, jaga selalu suamiku", do'a Kinara mengiringi kepergian Farhan bekerja.