
Bulan berlalu, Kinara sudah hampir melupakan pertemuan tak sengajanya dengan Farhan, dan dia pun berusaha melupakan keresahan hatinya yang sempat terbelenggu oleh ucapan Farhan beberapa waktu lalu.
Hari ini Kinara sudah menyelesaikan ujiannya di kampus, dia bergegas pergi ke bandara untuk menjemput seseorang yang sudah lama tak ditemuinya.
Kinara menatap jam di tangan beberapa kali sampai terdengar informasi kedatangan pesawat dari Indonesia. Kedua matanya dengan jeli melihat satu per satu orang yang keluar dari arah pintu kedatangan.
"Hai kakak...", sebuah suara yang tak asing lagi di telinga Kinara mengalihkan pandangannya. Ditatapnya wajah pemilik suara itu yang terlihat sumringah dan segera menghampirinya.
"Ajeng...", seru Kinara. Dia segera menghamburkan pelukannya kepada Ajeng, adik iparnya yang sudah hampir dua tahun ini tak ditemuinya. Mereka berbincang sebentar dan segera mencari taksi untuk pulang ke apartemen Kinara.
Tak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai di apartemen. Kinara segera menyajikan minuman, camilan dan makanan untuk mereka nikmati bersama sedangkan Ajeng memilih untuk merapikan perbekalannya dan mandi membersihkan diri.
"Mama sama papa apa kabar, Jeng?", tanya Kinara sambil menyeruput teh miliknya.
"Mereka baik, kak. Aku kangen berat nih sama kakak", jawab Ajeng yang juga menikmati teh yang sama dengan milik Kinara.
"Syukurlah kalau kabar mereka baik. Aku juga kangen sama kamu, Jeng dan sudah rindu sekali dengan mama, papa, dengan keluargaku juga Indonesia", lanjut Kinara.
Ajeng tersenyum, "Oh ya kak, kedatanganku ke sini gak cuma mau jenguk kakak lho. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan", Ajeng mulai terlihat serius.
"Apa?", tanya Kinara penasaran.
"Mmm...aku mau menikah kak, bulan depan", jawab Ajeng.
"What? nikah? ya ampun it's a surprise, Jeng. Selamat yaaaa...", Kinara terkejut sekaligus bahagia mendengar kabar baik itu.
Mereka berdua saling berpelukan, "Aku harap kakak bisa hadir di acara pernikahanku nanti. Tanggal sepuluh bulan depan", imbuh Ajeng di tengah pelukannya.
"Pasti, Jeng. Aku pasti hadir. Aku tidak akan melewatkan momen kebahagiaanmu itu. Oh ya, siapa calon suamimu?", Kinara masih penasaran.
Ajeng tersenyum malu-malu, "Erik, kak", jawabnya pendek.
Kedua mata Kinara membelalak, "Wah...laki-laki yang dulu pernah kamu ceritakan itu? ternyata kalian berjodoh ya".
Ajeng mengangguk dan tersipu, "Dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya padaku, kak. Bulan lalu dia tiba-tiba saja melamarku dan entah kenapa hatiku langsung yakin kepadanya. Saat aku kenalkan dia sama mama dan papa pun, mereka menyambutnya dengan baik. Aku pikir itu cara Tuhan menguatkan keyakinanku untuk menerimanya", terang Ajeng.
"Keputusan yang tepat, Jeng. Meski aku belum pernah bertemu dengan Erik, tapi dari ceritamu itu aku juga yakin dia laki-laki yang baik dan pasti bisa membahagiakanmu", respon Kinara. Ajeng mengangguk kecil dan mereka pun berbincang-bincang, menghabiskan waktu malam di meja makan.
.
__ADS_1
Sementara itu, di Indonesia, Erik nampak sibuk dengan ponselnya. Farhan yang sedari tadi duduk mulai gerah memperhatikan tingkah Erik.
"Ck, lo kenapa sih Rik, mondar-mandir cek HP. Muka kusut lo itu ganggu banget", protes Farhan.
"Aaahh...lo mana ngerti sih Han perasaan gue. Calon istri gue lagi ke luar negeri dan dia sampai sekarang gak ngabarin gue udah sampai apa belum ke tujuannya. Dikontak juga ponselnya gak aktif", jawab Erik sewot.
Farhan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Dasar calon manten, gitu aja repot. Mungkin calon istri lo lagi istirahat, Rik. Positive thinking dulu aja kenapa sih", timpal Farhan tak kalah sewot.
Erik membuang nafas kasar, apa yang Farhan bilang ada benarnya juga. Akhirnya Erik memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jas dan mencoba fokus membantu Farhan menyelesaikan pekerjaannya.
.
Keesokan harinya, Ajeng terbangun dan baru mengaktifkan ponselnya. Ada laporan panggilan masuk yang begitu banyak dari Erik, dan dia baru sadar jika dari kemarin belum mengabari calon suaminya itu.
Ajeng segera membersihkan diri dan setelahnya mencoba menelepon Erik.
"Ya hallo...", Erik menjawab panggilan masuk tanpa menatap layar ponsel miliknya.
"Kok kamu galak gitu sih sayang jawab telepon aku", keluh Ajeng.
Erik menarik sebentar ponselnya, ditatapnya sebuah nama di layar ponsel untuk memastikan siapa yang sedang berbicara dengannya.
"Oh gitu, ya udah tak apa. Sayang, maaf ya kemarin aku lupa mengabari kalau aku udah sampai di Paris. Aku terlalu asyik melepas rindu dengan kakakku", terang Ajeng.
"Iya tak apa, sayang. Seharian kemarin aku hampir gila karena kamu tak mengabariku. Oh ya bagaimana kabar Kinara di sana?".
"Maaf ya sayang. Kabar Kak Kinara baik".
"Pastikan dia datang ke acara pernikahan kita, ya", pinta Erik.
"Tentu. Dia harus datang karena kita akan memberikannya kejutan, bukan?", ujar Ajeng sambil tertawa kecil.
"Iya. Kejutan ini pasti akan sangat luar biasa. Kamu baik-baik di sana ya. Jangan lupa mengabariku terus", Erik mengingatkan Ajeng.
"Iya".
"Sayang, aku ada meeting sebentar lagi. Aku tutup dulu ya teleponnya".
"Ok", panggilan itu pun berakhir.
__ADS_1
Hari ini Kinara berencana mengajak Ajeng berjalan-jalan di Kota Paris, mengunjungi beberapa tempat wisata, pusat perbelanjaan dan tentu saja mengenalkan Ajeng kepada sahabatnya, Ananta.
Ajeng begitu semangat dan bahagia bisa menghabiskan waktu dengan Kinara. Mereka sekarang ada disebuah taman, menikmati beberapa makanan kecil yang tadi mereka beli.
"Kak, kapan dong aku dikenalkan sama gebetan kakak?", tanya Ajeng sambil sibuk mengunyah makanannya.
Kinara mengernyitkan dahinya, "Gebetan apa sih Jeng?".
"Diihh...malah balik nanya. Kakak di Paris kan udah lumayan lama. Masa iya gak punya gebetan di sini. Kakakku secantik ini lho, pasti banyak dong yang deketin", goda Ajeng.
Kinara tersenyum geli mendengar celotehan Ajeng.
"Gak ada Jeng. Aku gak punya gebetan dan gak kepikiran juga ke arah sana", jawab Kinara.
"Kenapa? kakak masih muda, apa salahnya membuka hati lagi, kak?", ujar Ajeng, kali ini dia menyeruput Capuccino di tangannya.
Kinara tersenyum tipis dan menghela nafas berat.
"Kakak belum bisa move on ya dari Kak Angga?", tanya Ajeng lagi hati-hati.
Kinara mengalihkan pandangannya kepada Ajeng. Ditatapnya dalam kedua mata Ajeng seperti ada banyak hal yang ingin dia sampaikan tapi sulit diucapkan.
"Mas Angga terlalu baik Jeng untuk digantikan oleh orang lain", jawab Kinara pendek. Dia menelan salivanya, mencoba menahan perasaannya yang mulai tak karuan.
Ajeng merapatkan posisi duduknya dengan Kinara. Dia mengelus lembut bahu kakak ipar sekaligus sahabatnya itu.
"Mas Angga beruntung sekali mendapatkan wanita yang begitu mencintainya. Tapi aku yakin, Mas Angga ingin kakak bahagia menjalani hidup kakak saat ini dan dimasa depan", ucap Ajeng.
Kinara tersenyum mendengar jawaban adik iparnya itu. Pikirannya kembali melayang kepada sosok lelaki yang sudah lama pergi, lalu sosok Farhan pun tiba-tiba berkelebat dalam ingatan Kinara, untuk sesaat Kinara larut dalam kenangan kedua lelaki itu.
"Kak...".
"Eh ya, kenapa Jeng?", jawab Kinara gelagapan.
"Kakak melamun ya?", tembak Ajeng.
"Nih, diminum capuccinonya", Ajeng mengulurkan capuccino milik Kinara.
"Kakak tahu, gak cuma Mas Angga yang ingin melihat kakak bahagia seperti dulu. Aku, mama, papa, orangtua kakak dan Alisa, kita semua ingin melihat kakak tersenyum lagi. Kalau ada lelaki yang baik datang, meski berat, tapi cobalah kakak membuka hati, ya", lagi, Ajeng berpesan.
__ADS_1
Kinara hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Dia mencoba meresapi semua ucapan Ajeng. Apa yang Ajeng bilang ada benarnya juga. Mimpi Kinara bertemu dengan Erlangga beberapa waktu lalu menyadarkannya bahwa hidup masih berjalan dan mungkin memang sudah saatnya Kinara kembali membuka hati.