
Selepas sarapan pagi, Kinara kembali ke kamarnya. Pagi ini dia berencana akan mengunjungi pusara Erlangga. Kinara merapikan penampilannya dan mengambil kunci motor yang tergeletak di meja belajar.
Dddrrtt...drrttt...
"Hallo, Jeng", sapa Kinara.
"Hallo kak, lagi sibuk gak pagi ini?", tanya Ajeng.
"Enggak juga, Jeng. Kenapa? mau fitting baju lagi?".
"Enggak. Kalau gak sibuk, aku mau ketemuan, bisa?".
"Mmm...boleh, tapi jam sepuluhan aja ya. Aku mau ziarah dulu ke Mas Erlangga".
"Oh ya udah, sekalian aku ikut kalau gitu. Aku udah lama gak ziarah ke sana".
"Ok, aku jemput ya bentar lagi".
"Ok".
Kinara menutup panggilan dari Ajeng. Dia segera berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Kakak mau pergi ya?", tanya Alisa menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar. Kinara mengangguk.
"Pulangnya belikan aku rujak lagi dong kak", pinta Alisa.
"Ok", jawab Kinara pendek.
Kinara segera melajukan motornya ke rumah Ajeng. Bu Tria nampak sibuk menyirami bunga ditemani Pak Wijaya yang sedang menikmati secangkir teh dan serius membaca koran.
"Assalamualaikum, mah, pah", sapa Kinara.
"Waalaikumusalam", jawab Bu Tria dan Pak Wijaya bersamaan.
"Nara, ayo masuk sini, nak", Bu Tria nampak sumringah menyambut kedatangan Kinara.
Kinara segera menyalami papa dan mamanya. Bu Tria memeluk erat Kinara.
"Bagaimana kabarmu? sehat?", Bu Tria menatap Kinara dari atas sampai bawah.
"Alhamdulillah sehat, mah. Mama sama papa apa kabar? maaf ya mah, pah, Nara baru datang ke sini sekarang", Kinara menatap Mama Tria dan Papa Wijaya bergantian.
"Tak apa. Papa dan mama sehat", jawab Pak Wijaya.
__ADS_1
Kinara tersenyum senang. Bu Tria segera mengajak Kinara masuk ke rumah, begitu pun dengan Pak Wijaya.
"Oh ya, pah, mah, ini Nara bawakan sedikit oleh-oleh dari Paris. Semoga papa dan mama suka, ya", Kinara menyerahkan buah tangannya.
"Kamu harusnya tidak usah repot begini. Bisa ketemu kamu sekarang saja papa dan mama sudah senang luar biasa, ya pah?", Bu Tria melirik ke arah Pak Wijaya dan dijawab dengan anggukan kepala.
"Tak apa. Papa dan mama kan jarang Nara jenguk, padahal Nara bisa kuliah di sana juga karena papa dan mama. Ini oleh-olehnya tidak sebanding dengan kasih sayang, perhatian dan pengorbanan papa juga mama", ujar Kinara.
Pak Wijaya dan Bu Tria tersenyum bersamaan.
"Terimakasih. Papa dan mama terima oleh-olehnya. Oh ya, Nara mau mama buatkan minuman apa?", tanya Bu Tria.
"Jangan repot begitu, mah. Nara kan bukan tamu, nanti Nara bisa ambil sendiri kalau boleh", jawab Kinara tersenyum.
"Tentu. Rumah ini rumah kamu juga. Lakukan apapun yang kamu suka di sini, ya", imbuh Pak Wijaya. Senyum Kinara semakin mengembang.
"Hai kak, maaf ya nunggu lama", Ajeng datang. Kinara tersenyum.
"Kalian mau kemana rapi begitu?", tanya Pak Wijaya.
"Aku mau menemani Kak Nara ziarah ke Kak Angga, pah, mah. Boleh ya?".
"Oh mau ziarah. Boleh, tapi jangan keluyuran kemana-mana ya habis ziarah, harus langsung pulang. Ingat, kalian itu calon manten lho, seharusnya dipingit. Lusa sudah mau menikah masih jalan keluar", ujar Bu Tria.
"Apa kedua orang tuamu belum memberitahukan tentang pernikahanmu, nak?", tanya Pak Wijaya yang menangkap keheranan Kinara.
"Pernikahan siapa, pah? Ajeng?", Kinara balik bertanya. Pak Wijaya tersenyum tipis mendengar pertanyaan balik dari Kinara.
"Duduklah sebentar lagi di sini. Ada hal penting yang ingin papa dan mama sampaikan", pinta Pak Wijaya.
Ajeng yang sudah tahu tentang rencana pernikahan Kinara memilih untuk duduk di samping kakak ipar sekaligus sahabat baiknya itu.
"Jadi begini, beberapa waktu yang lalu Farhan dan ibunya datang ke sini menemui kami dan juga menemui kedua orang tuamu. Kedatangan mereka bermaksud untuk melamarmu. Kami dan kedua orang tuamu menerima lamaran itu, meski keputusan akhir ada sama kamu, nak. Farhan itu lelaki yang baik, sangat baik. Menurut papa dan mama sudah saatnya kamu memiliki pendamping hidup lagi. Kamu masih muda, jalan hidupmu masih panjang. Papa dan mama tahu berat sekali kamu menerima kepergian Erlangga dan kehadiran Farhan. Tapi tidak ada salahnya kamu mempertimbangkan lamaran Farhan. Papa dan mama juga orang tuamu dan semua keluarga sudah merestui, jangan ragu. Erlangga juga pasti berharap kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan pendamping yang baik, dan papa rasa Farhan adalah orang yang tepat", terang Pak Wijaya to the point.
"Iya, sayang. Bagi papa dan mama, kamu bukan hanya menantu, tapi kamu adalah putri kami, kakaknya Ajeng. Tentu kami ingin melihat hidupmu bahagia dan berwarna lagi. Papa dan mama sangat merestui dan menerima apapun keputusanmu. Jika kamu bersedia, papa, mama, Ajeng, kedua orang tuamu, kami bahkan berharap kamu bisa menikah secepatnya dengan Farhan", imbuh Bu Tria.
Kinara menelan salivanya berkali-kali. Hatinya kembali bergemuruh bahkan lebih hebat karena apa yang disampaikan papa dan mama bukan sebatas soal pertunangan tapi ini tentang pernikahan.
"Kak, aku sangat ingin kakak bahagia. Kita sama-sama mengenal Farhan. Aku pun tahu betul Farhan lelaki seperti apa. Aku yakin dia bisa menjaga dan mencintai kakak seperti Kak Angga menjaga dan mencintai kakak dulu", ucap Ajeng.
Ada haru yang dalam di hati Kinara. Dia mencoba menenangkan diri dan hatinya, mencoba menahan air mata yang sudah mendesak untuk ditumpahkan. Tapi nyatanya Kinara lebih memilih untuk mencoba tersenyum mendengar semua perkataan orang-orang di sekitarnya.
"Terimakasih, papa, mama dan Ajeng selalu mendukung Nara. Tapi maaf, Nara belum bisa memutuskannya saat ini karena soal itu, Nara masih butuh waktu untuk mempertimbangkannya", jawab Kinara.
__ADS_1
Bu Tria dan Pak Wijaya mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka paham posisi dan kondisi Kinara saat ini.
"Ya, papa dan mama tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang tapi papa harap jangan pula kamu menunda keputusan terlalu lama, ya".
Kinara menganggukkan kepalanya. Ajeng memilih tak banyak bersuara. Setelah perbincangan itu selesai, Ajeng mengajak Kinara untuk berziarah. Mereka berdua pun pergi.
Sebelum sampai ke pemakaman, Kinara membeli satu buket bunga mawar putih kesukaannya. Dia ingat, dulu dia mendapatkan buket bunga misterius seperti itu di gerbang rumahnya dari Erlangga. Senyum tipis terulas di bibir Kinara mengingat bagaimana usaha Erlangga mendekatinya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?", tanya Ajeng heran melihat kakak iparnya tersenyum sendiri dari balik kaca spion.
"Tak apa, Jeng. Tetiba saja aku ingat dengan hal lucu dimasa lalu", jawab Kinara yang tetap fokus mengendarai motornya.
"Ciiieee...hal lucu sama siapa nih? Farhan ya?", seloroh Ajeng.
"Bukan. Jangan kepo ah", jawab Kinara pendek.
Kini mereka sudah sampai di pemakaman. Kinara dan Ajeng berjalan beriringan. Kinara mengucapkan salam ketika sampai di depan pusara Erlangga. Dia sudah bertekad untuk datang dengan bahagia. Senyum manis terulas di bibir Kinara.
Ajeng dan Kinara khusyu berdo'a lalu menaburkan bunga dan membersihkan dedaunan kering dari atas pusara itu.
"Mas, ini aku membawakanmu mawar putih. Bunga kesukaanku, semoga kamu juga suka juga dan mau menerimanya", ujar Kinara sambil mengelus nisan Erlangga.
Ajeng terenyuh melihat pemandangan itu. Dia bisa melihat kilatan cinta dan kesedihan di mata Kinara tapi Kinara berusaha menyembunyikannya.
"Hai Kak Angga. Maafin ya aku baru ke sini lagi. Oh ya kak, lusa hari pernikahanku lho. Kakak do'akan ya semuanya berjalan lancar dan aku nanti bisa jadi istri yang baik", giliran Ajeng yang berbicara.
Kinara tersenyum melirik ke arah Ajeng.
"Dan...aku juga mau minta izin sama kakak. Tolong restui Kak Kinara menikah dengan Farhan ya kak. Pesan terakhir kakak akan aku sampaikan hari ini sama Kak Kinara. Harapan terakhir kakak pasti terwujud", mata Ajeng mulai berkaca-kaca, kilatan wajah kakaknya hadir di ingatan Ajeng.
Kinara mengernyitkan dahi mendengar ucapan Ajeng tapi melihat Ajeng menangis, dia melupakan keheranannya dan lebih memilih untuk memeluk Ajeng. Kinara bisa merasakan kerinduan yang dalam dari Ajeng kepada kakaknya.
"Kita harus kuat, Jeng biar Mas Angga bahagia di sana. Bukan begitu?", tanya Kinara yang masih memeluk Ajeng. Ajeng menganggukkan kepalanya.
"Kak, setelah ini ada sesuatu yang penting yang ingin aku kasih sama kakak".
"Apa Jeng?".
"Ini, kak", Ajeng mengeluarkan sebuah buku kecil dari dalam tas yang dibawanya.
"Apa ini?".
"Buka saja, nanti kakak akan tahu itu apa. Aku harap ini bisa membantu kakak untuk mengambil keputusan", terang Ajeng yang membuat Kinara semakin merasa heran.
__ADS_1
Angin semilir menerpa lembut wajah Kinara dan Ajeng. Perlahan tapi pasti, Kinara membuka buku yang Ajeng berikan. Hatinya bertanya-tanya, hal mengejutkan apa lagi yang akan dia dapatkan kali ini?.