Unknown Love

Unknown Love
Menjemput Kinara


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan enam belas jam lebih, akhirnya Kinara menjejakkan kakinya di Indonesia. Dia tersenyum sumringah ketika turun dari pesawat. Beberapa kali dia menghirup nafas, mencoba menikmati aroma Indonesia.


Setelah keluar dari pintu kedatangan, Kinara mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi kedua orang tuanya di Bandung. Ya, dia masih harus melanjutkan perjalanan sekitar tiga jam lagi untuk sampai di rumah.


"Hallo pak, Nara sudah sampai Jakarta. Sebentar lagi Nara menuju Bandung", suara Kinara terdengar riang.


"Syukurlah kalau kamu sudah sampai di Jakarta, nak. Kamu naik apa ke sini?", tanya Pak Prastowo.


"Rencananya Nara mau naik travel saja, pak. Nanti Nara kabari ya kalau sudah masuk Bandung", jawab Kinara diakhir teleponnya.


Pak Prastowo meng-iya-kan dan berpesan agar putrinya itu berhati-hati di jalan. Sebetulnya ayah dan ibunya menawarkan untuk menjemput Kinara di Jakarta sebelum dia terbang dari Paris, tapi Kinara menolak karena dia tidak ingin merepotkan dan membuat kedua orang tuanya menunggu lama. Biarlah mereka beristirahat di rumah saja, begitu pikir Kinara.


Kinara segera bergegas mencari travel menuju Bandung.


"Hai, Kinara", sebuah suara membuat Kinara yang sedang menunggu antrian di depan sebuah loket travel menoleh.


Di sampingnya sudah berdiri seseorang yang Kinara kenal dengan baik, Farhan.


"Lho, Farhan. Kamu sedang apa di sini?", tanya Kinara heran.


Farhan tersenyum manis, dia menghampiri Kinara lebih dekat.


"Aku datang untuk menjemputmu. Aku kira kamu sudah pergi dengan travel. Beruntung, aku masih bisa menemukanmu di sini", terang Farhan.


Kinara tersenyum sekaligus terlihat bingung melihat kehadiran Farhan yang datang untuk menjemputnya.


"Dari mana kamu tahu hari ini aku pulang ke Indonesia?", selidik Kinara.


Farhan tak menjawab, dia hanya tersenyum, lalu mengambil alih koper dari tangan Kinara.


"Nanti aku jelaskan. Sekarang, ayo kita pulang. Ibu dan bapak pasti sudah menunggumu di rumah", Farhan berlalu dan Kinara segera mengekor dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


Mobil milik Farhan pun mulai bergerak meninggalkan bandara. Suasana di dalam mobil itu masih senyap dan kaku.


Entah kenapa perasaan Kinara campur aduk antara senang, bingung, gugup, dan merasa tenang karena dia pulang dengan orang yang dia kenal.


Farhan terlihat fokus mengemudikan mobilnya. Beberapa kali Kinara melirik ke arah lelaki tampan di sampingnya itu.


"Mmm...Han, kamu masih punya hutang penjelasan padaku", akhirnya Kinara membuka suara.


Farhan melirik ke arah Kinara sebentar dan tersenyum tipis.


"Iya, tentang pertanyaan kamu tadi, kan", jawab Farhan pendek. Kinara menganggukkan kepalanya.


"Aku tahu soal kepulanganmu hari ini dari Alisa", lanjut Farhan.


Kinara mengernyitkan dahinya, dia semakin tidak mengerti. Seingatnya selama ini Farhan dan adiknya, Alisa, tidak pernah bertemu dan belum saling mengenal.

__ADS_1


"Kamu pasti bingung ya bagaimana bisa Alisa menghubungiku?", tanya Farhan seolah bisa membaca pikiran Kinara.


"Iya. Kalian sebelumnya kan tidak saling mengenal dan belum pernah bertemu", jawab Kinara.


Lagi, Farhan tersenyum.


"Tidak perlu dipikirkan, nanti kamu bisa tanyakan sendiri pada Alisa", hanya itu jawaban yang Farhan berikan. Kinara pun tak ingin melanjutkan pembahasan itu.


Perjalanan masih panjang dan rasa kantuk mulai menyergap kedua mata Kinara. Dia berusaha menahannya, Kinara tidak ingin tertidur di depan Farhan. Tapi rasa kantuk itu terlalu kuat sampai akhirnya dia tertidur.


Farhan melirik ke arah Kinara yang sedari tadi tak bersuara. Dia tersenyum melihat gadis itu tertidur dengan lelap di sampingnya.


"Kamu pasti lelah sekali melalui perjalanan panjang sendirian", bisik hati kecil Farhan. Dia membiarkan Kinara terlelap selama perjalanan.


Beruntung, jalanan tidak macet. Setelah sekitar tiga jam perjalanan, mobil Farhan sudah sampai di Bandung. Dia mengarahkan mobilnya ke rumah Kinara. Kinara masih belum bangun juga, ternyata tidurnya benar-benar lelap.


Farhan memarkirkan mobilnya di depan rumah yang sudah sangat familiar. Bu Hasna yang sedang menemani Pak Prastowo menikmati petang di teras rumah terlihat heran melihat sebuah mobil datang.


"Pak, itu mobil siapa?", Bu Hasna bertanya pada suaminya.


Pak Prastowo melihat ke arah yang ditunjuk istrinya, "Bapak juga tidak tahu. Coba ibu lihat, bukakan gerbangnya", pinta Pak Prastowo.


Bu Hasna bergegas mendekati gerbang dan dia tersenyum ramah saat melihat Farhan keluar dari dalam mobil.


"Ya ampun, nak Farhan. Ayo masuk nak", ajak Bu Hasna. Farhan segera mencium tangan Bu Hasna dan dia tersenyum santun kepada Pak Prastowo yang masih duduk di bangku teras.


"Iya bu. Sebelumnya maaf bu, ini saya mengantarkan Kinara tapi dia masih tidur di mobil. Sudah saya coba bangunkan tapi nampaknya tidurnya lelap sekali, kelelahan sepertinya", terang Farhan.


"Hallo Kak Farhan, kakak pasti antar Kak Kinara ke sini ya", Alisa tiba-tiba saja muncul di teras rumah. Farhan tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Bapak sama ibu jangan bingung, aku yang kasih tahu Kak Farhan dan minta tolong buat jemput Kak Nara di bandara", terang Alisa seolah paham dengan tatapan heran dari ayah dan ibunya.


Pak Prastowo dan Bu Hasan menggeleng-gelengkan kepalanya, mereka tak habis pikir dengan ulah Alisa.


"Maaf ya nak Farhan, jadi merepotkan begini. Biar ibu coba bangunkan dia", ujar Bu Hasna dan segera menghampiri pintu mobil lainnya untuk melihat Kinara.


Ternyata apa yang Farhan bilang benar. Kinara benar-benar lelap sekali. Berkali-kali ibunya memanggil namanya dan menggoyangkan bahunya untuk bangun, Kinara tak bergeming.


"Pak, ini lho putrinya gak mau bangun", Bu Hasna memanggil Pak Prastowo.


"Hmmm...jarang-jarang Kinara seperti itu. Mungkin dia sangat lelah, bu", jawab Pak Prastowo sambil berjalan menghampiri istrinya. Farhan segera mencium tangan Pak Prastowo.


"Han, kalau tidak keberatan, bapak minta tolong gendong Kinara ke kamarnya. Kalau bapak yang angkat, bisa sakit pinggang bapak", pinta Pak Prastowo.


Deg


Farhan terkejut dengan permintaan itu. Selama ini, sedari kuliah sampai dengan sekarang, Farhan belum pernah menyentuh Kinara. Tapi saat ini dia justru diminta menggendong Kinara, lebih dari sekedar menyentuhnya.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya menunggu Kinara bangun saja, pak?", Farhan berusaha menolak dengan halus.


"Bapak yakin, dia akan tidur sangat lama. Kalau menunggu dia bangun, baru besok dia masuk ke rumah", jawab Pak Prastowo.


"Tak apa nak. Bapak dan ibu minta tolong ya. Lagi pula kita sudah mencoba membangunkan Kinara, tapi dia tidak mau bangun juga. Lagi pula bapak dan ibu ada di sini, tidak akan terjadi apa-apa", tambah Bu Hasna seolah mengerti keengganan Farhan.


Tak ada pilihan lain, Farhan akhirnya memenuhi permintaan kedua orang tua Kinara. Dia mulai melepaskan seat belt yang melekat di tubuh Kinara, lalu dengan perlahan dan hati-hati Farhan mulai mengangkat tubuh Kinara yang masih tertidur lelap.


Jantung Farhan berdegup kencang saat tangannya menyentuh tubuh Kinara. Terlebih wajah mereka beradu dekat karena Farhan harus mengangkatnya. Farhan berusaha menenangkan dirinya.


Pak Prastowo menugaskan Alisa untuk membawa koper milik kakaknya dan Bu Hasna menunjukkan kamar Kinara kepada Farhan.


Farhan mengikuti langkah kaki Bu Hasna. Bu Hasna membukakan pintu sebuah kamar bernuansa hijau dengan tempat tidur berwarna senada dan seisi ruangan itu terlihat sangat rapi. Farhan merebahkan tubuh Kinara di atas kasur lalu menyelimutinya.


"Terimakasih ya nak Farhan", ujar Bu Hasna yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar. Farhan mengangguk kecil dan tersenyum.


Bu Hasna mengajak Farhan untuk menikmati jamuan di ruang tamu. Pak Prastowo dan Alisa pun ada di sana, mereka berdua nampak asyik bersenda gurau.


"Berat ya membopong Kinara ke dalam, Han?", tanya Pak Prastowo saat Farhan duduk setelah dipersilahkan oleh Bu Hasna.


"Tidak juga, pak", jawab Farhan pendek dan kikuk.


"Anggap saja latihan. Nanti kalau kalian sudah menikah, kamu pasti akan sering menggendongnya", ucapan Pak Prastowo membuat Farhan semakin kikuk.


"Bapak ini kalau bercanda suka kemana-mana. Maaf ya nak Farhan. Oh ya kabar ibu bagaimana? sehat?", tanya Bu Hasna sambil menyodorkan secangkir teh kepada Farhan.


"Terimakasih, bu. Kabar ibu baik. Mohon maaf ibu belum bersilaturahmi ke sini", jawab Farhan.


"Tak apa nak. Syukurlah kalau ibumu sehat. Ayo diminum dan dinikmati camilannya", sodor Bu Hasna.


Meskipun kikuk, tapi Farhan menerima semua sajian itu. Pak Prastowo meramaikan suasana dengan mengajak Farhan berbincang tentang banyak hal. Alisa dan Bu Hasna ikut mendengarkan, sesekali mereka terlibat dalam perbincangan itu.


Waktu terus berlalu, tak terasa hari sudah hampir malam. Sebelum adzan Maghrib berkumandang, Farhan berpamitan kepada Pak Prastowo dan Bu Hasna.


"Hati-hati di jalan ya nak. Salam dari kami untuk ibu di rumah", pesan Bu Hasna setelah Farhan mencium tangannya dan mencium tangan Pak Prastowo.


"Baik Bu, akan saya sampaikan salamnya. Terimakasih untuk sajiannya, pak, bu".


"Iya. Terimakasih juga karena kamu sudah mau menjemput dan mengantarkan Kinara", respon Pak Prastowo.


"Sering-sering main ke sini ya Kak Farhan", tambah Alisa.


Farhan mengangguk dan berlalu melajukan mobilnya.


"Bapak berharap Kinara bisa menerima Farhan, bu", ujar Pak Prastowo saat mereka kembali masuk ke dalam rumah.


"Farhan benar-benar lelaki yang baik ya pak. Ibu juga berharap begitu", jawab Bu Hasna sambil membereskan meja di ruang tamu.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pulang hati Farhan begitu bahagia. Dia senang hari ini bisa bertemu dengan Kinara, melalui perjalanan yang cukup lama meski hampir sepanjang jalan itu Kinara tertidur. Kilatan wajah Kinara yang begitu teduh saat di pangkuannya kembali berkelebat. Farhan mencoba menepis bayang itu.


"Belum saatnya aku memikirkan hal yang terlalu jauh tentang Kinara", gumam Farhan pada dirinya sendiri.


__ADS_2