Unknown Love

Unknown Love
Pertemuan dengan Viona


__ADS_3

Pagi ini Kinara sudah nampak rapi, seperti biasa, dia akan pergi mengajar. Sebelumnya dia nampak menikmati sarapan pagi yang dibuatkan oleh sang ibu.


"Nara berangkat dulu ya pak, bu", ujar Kinara sambil mencium tangan kedua orang tuanya setelah ia selesai sarapan.


"Iya, hati-hati, nak", pesan ibu. Kinara mengangguk dan berlalu dari hadapan ibu dan bapaknya.


"Pak, sudah bilang ke atasan kalau kita cuti di sini sampai hari pernikahan Kinara tiba?", tanya ibu melirik ke arah suaminya yang baru saja menyelesaikan sarapan paginya.


Pak Prastowo menyeruput teh hangat miliknya, "Sudah bu, bapak malah sudah kirimkan undangan untuk atasan dan rekan-rekan kerja bapak di Semarang".


Bu Hasna tersenyum, dia segera membereskan meja makannya dibantu oleh Alisa yang juga izin tidak masuk sekolah sampai hari pernikahan kakaknya tiba.


**


"Selamat pagi anak-anak", sapa Kinara di dalam kelas setelah bel tanda masuk berbunyi.


"Selamat pagi bu", jawab murid-muridnya serentak.


Kinara memberikan senyum yang manis kepada semua muridnya itu. Tak lama setelah ujian sidang, Kinara mendapatkan pekerjaan sebagai guru. Tepatnya guru TK.


Meskipun jurusan yang ia ambil saat kuliah bukanlah menjadi guru TK, tapi Kinara menikmati perannya saat ini. Kinara menyukai dunia anak-anak.


Hari itu, Kinara mengajarkan murid-muridnya menggunting dan menempel. Seluruh muridnya nampak antusias.


Kinara sangat telaten mengajari satu per satu anak muridnya untuk bisa menggunakan gunting dan lem.


Tak terasa, jam mengajar pun sudah usai. Jam belajar TK memang hanya sampai jam 11.00 WIB siang.


Setelah semua anak berpamitan pulang, Kinara pun bersiap untuk pulang. Dihampirinya Bu Tyas dan Bu Rosa, rekan guru dan kepala sekolah di TK tempat Kinara mengajar.


"Ibu, maaf, ini saya mau memberikan undangan pernikahan saya", Kinara menyerahkan dua buah undangan kepada Bu Tyas dan Bu Rosa.

__ADS_1


"Wah, selamat ya Bu Nara", seru Bu Tyas sambil menerima undangan itu.


"Terimakasih undangannya, kami pasti akan datang", janji Bu Rosa.


Kinara tersenyum senang mendengar respon dari keduanya. Ia berpamitan lebih dulu, lalu segera menuju ke tempat parkir motor, bersiap untuk mengantarkan beberapa undangan yang sengaja dibawanya ke sekolah hari ini.


Kinara sudah mengenakan helm-nya, sesaat sebelum dia menyalakan mesin motornya, dia melihat seorang anak nampak duduk sendirian di ruang tunggu jemputan.


"Lho, Alya. Kok kamu masih di sini, nak?", tanya Kinara seraya menghampiri anak muridnya itu.


Murid bernama Alya menoleh, "Iya bu guru. Aku masih nunggu mama jemput. Mama belum datang, hari ini Oma Diah gak jemput Alya".


Kinara membuka lagi helm-nya lalu dia duduk di samping Alya.


"Mungkin mama Alya masih di jalan. Ibu temani di sini ya sampai mamanya datang", ujar Kinara sambil mengusap lembut rambut Alya.


Alya mengangguk dan tersenyum senang. Selama menemani Alya, Kinara menceritakan beberapa dongeng agar Alya tidak merasa bosan menunggu. Ternyata dongeng itu membuat Alya tertidur di pangkuan Kinara.


"Maaf ya bu, saya sangat terlambat menjemput Alya", seru seorang wanita berambut panjang, tinggi dan anggun. Ia nampak berwibawa sekali dengan stelan blazer yang dikenakannya.


Kinara tersenyum, "Tak apa bu, ini Alya nampaknya mengantuk sekali karena tadi saya ceritakan dongeng", Kinara menunjuk Alya yang tertidur pulas di pangkuannya.


Wanita itu tersenyum, dihampirinya Alya dan segera ia alihkan ke dalam gendongannya.


"Saya terlalu sering membuat Alya menunggu sampai seperti ini. Andai saja ayahnya masih di sini, tentulah saya bisa bergantian untuk menjemput Alya di sekolah", wanita itu menarik nafas dalam saat bercerita. Matanya nampak sedih melihat Alya yang tetap tertidur lelap.


Kinara mencoba tersenyum, "Maaf, bu, memangnya kemana ayahnya Alya?", tanya Kinara penasaran.


"Oh, eh maaf bu, saya jadi ngelantur kemana-mana ini, aduh", wanita di depan Kinara itu tersipu, ia merasa sudah salah bicara.


Lagi, Kinara tersenyum, "Oh tak apa bu, maafkan saja juga jadi balik bertanya hal yang tidak seharusnya", Kinara pun jadi tak enak hati.

__ADS_1


Wanita tadi membalas permintaan maaf Kinara dengan tersenyum, lalu dia memilih duduk di samping Kinara.


"Oh ya, kenalkan, saya Viona. Saya ibunya Alya. Biasanya Alya dijemput sama neneknya karena saya bekerja. Tapi hari ini saya mencoba menjemput Alya sendiri, ternyata saya justru sangat terlambat tiba di sini", wanita itu mengulurkan tangannya, memperkenalkan dirinya kepada Kinara.


"Saya Kinara, bu. Gurunya Alya di sini. Iya tadi saya agak heran dengan kehadiran ibu, karena biasa Oma Diah yang jemput Alya. Tapi karena ibu datang langsung menyebut nama Alya, saya yakin ibu adalah ibunya Alya", respon Kinara.


Viona dan Kinara pun nampak terlibat perbincangan sebentar. Viona menanyakan perkembangan belajar dan pergaulan Alya di sekolah. Kinara menjelaskannya dengan detail. Viona nampak senang mendengar penjelasan Kinara, hal penting yang selama ini hampir tak ia ketahui karena terlalu sibuk bekerja.


"Syukurlah, saya senang kalau ternyata perkembangan Alya sebaik itu. Menjadi single parent disaat usia anak seperti ini sungguh berat, bu", Viona kembali mencurahkan isi hatinya. Kinara hanya terdiam mendengarkan cerita Viona.


"Saya dan suami saya bercerai saat Alya masih dalam kandungan. Kami menikah selama 2 tahun. Sebelumnya kami tinggal di Belanda. Tapi semenjak perceraian itu, saya memilih kembali ke Indonesia. Kembali ke keluarga saya, membesarkan Alya sendirian, bekerja sebagai sekretaris di sini, itulah kenapa saya hampir tak punya waktu untuk menemani Alya", mata Viona terlihat sendu menatap wajah polos Alya yang ada di pangkuannya.


Kinara mencoba tersenyum, "Tapi ibu adalah wanita yang hebat. Bisa berjuang sendiri membesarkan Alya sampai tumbuh menjadi gadis cantik yang riang dan cerdas", puji Kinara.


Viona melirik ke arah Kinara, ia merasa memiliki seorang teman. Entah kenapa, ia merasa nyaman berbagi cerita dengan Kinara yang baru saja di kenalnya.


"Terimakasih, bu", ujar Viona.


Kinara menganggukkan kepalanya.


"Jika boleh, bisakah kita berteman baik?", tanya Viona.


"Tentu saja", jawab Kinara cepat.


"Kalau begitu, panggil aku Viona ya, jangan panggil bu dan jangan gunakan kata saya saat kita berbicara satu sama lain, agar lebih akrab. Aku pikir usia kita tak terlalu jauh, hanya bedanya aku sudah jadi ibu satu anak. Baru kali ini lho aku merasa begitu nyaman bercerita, padahal kita baru saja bertemu", kata Viona lagi.


"Baiklah, tapi jika di lingkungan sekolah, tak apa ya aku memanggilmu ibu?", tanya Kinara yang dibalas anggukan Viona.


"Oia, aku ingin mengundangmu ke acara pernikahanku minggu depan. Undangannya besok aku titipkan kepada Alya", kata Kinara.


Viona mengangguk dan tersenyum senang. Perbincangan mereka pun berakhir. Kinara melihat mobil sedan merah itu berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2