
*****
"Anya kau akan pulang cepat malam ini?" tanya Tere dengan sedikit berteriak karena berisik oleh musik di dalam club.
"Aku akan pulang sebentar lagi saja." jawabku dengan agak berteriak juga padanya.
Hari ini kami memang sengaja datang ke club untuk perayaan ulang tahun Sonia, rekan kerja dikantorku. Aku memang sengaja ingin ikut karena aku tau jika awal minggu begini Arthur tidak akan pulang ke rumah, atau jika pulang pun akan telat.
"Pesan minum lagi aja ya kalian! Gak pulang kalau belum mabok ya?" ucap Sonia dengan sedikit berteriak juga dengan mengangkat gelas yang ditangannya tersebut. Kami semua membalas dengan mengangkat gelas kami masing-masing tanda setuju.
Aku menikmati minuman dan irama musik yang di club tanpa tau aku habis berapa gelas untuk meminumnya. Aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 2 pagi, aku sudah tak sanggup untuk meminum lagi terlebih aku harus menyetir, seengganya kesadaranku harus ada jika tidak maka akan bahaya.
"Aku pulang duluan ya Ter?" kataku dengan mendekatkan bibirku pada telinganya.
"Serius? Gak nambah lagi?" tanyanya memastikan.
"No, harus menyetir aku!" ucapku dengan menolak, Tere mengangguk tanda mengerti apa yang di maksudkan.
"Bye Ter." pamitku dengan mengambil tas dan beranjak pergi
"Bye Anya, hati-hati." balasnya sambil menenggak minuman kembali.
Aku berdiri dan memberikan isyarat pamit pada Sonia, dia pun meresponnya. Aku berjalan agak sempoyongan tanda aku sudah mulai mabuk, aku pun berjalan menerobos kerumunan orang yang semakin lama semakin banyak. Aku segera menghampiri mobilku yang terparkirkan tak begitu jauh dari lift club. Aku segera masuk dan menyadarkan diri sendiri untuk tetap bisa fokus menyetir. Beruntungnya aku masih bisa walau membawanya dengan perlahan.
Akhirnya aku sampai, aku membuka pintu apartement. Suasana lampu mati semua, aku tau Arthur pasti tidak akan pulang. Namun diluar dugaanku tiba-tiba lampu ruang tv menyala.
"Baru pulang jam segini?" tanya Arthur yang masih dengan posisi dekat saklar lampu.
Aku yang terkejut tak sengaja cengukan, "Hik! Arthur? Hik!" ucapku.
"Anya ini jam berapa sayang? Kamu seharusnya tau waktumu!" kata Arthur dengan menghampiriku karena dia tersadar bahwa aku sudah setengah mabuk.
"Aku tak apa Arthur. Aku pikir kamu tak pulang." balasku yang sekarang berusaha mencari sandaran karena kepalaku sudah berat.
"Aku pulang Anya! Kau tak mengecek ponselmu?" ucap Arthur yang segera sigap menggandeng tangan Anya agar dia tak tumbang.
"Bukannya kamu pasti sibuk?" ucapku dengan melirik pada Arthur.
__ADS_1
"Aku usahakan pulang Anya, agar kamu tak sendirian." jelas Arthur yang sekarang berusaha mengendongku, seolah-olah kami pengantin baru.
Arthur segera membopongku dan membawa masuk ke dalam kamarku. Dia pun melepaskan tubuhku perlahan dari kasur, melepaskan sepatu yang masih aku kenakan. Aku yang menyadari sikapnya itu segera menarik lengannya, Arthur pun terjatuh mendadak disisiku. Saat ini aku bisa melihat kedua matanya dengan jelas, begitu pun dengan Arthur. Aku menatapnya lekat entah mengapa mataku mengarah pada bibirnya yang sangat menggoda. Aku memandanginya perlahan dan memegang bibirnya tersebut, Arthur yang menyadari akan sikapku segera memegang tanganku itu. Aku terdiam melihat Arthur, entah mengapa rasanya ada dorongan dalam diriku ingin segera melumat bibirnya itu. Aku pun mendekatkan wajahku berusaha untuk meraih bibir Arthur, namun Arthur menghindar dan dia pun mentapku dengan lekat. Aku yang merasa tak enak pun segera mengalihkan pandangan tanda bahwa aku sangat malu sekali seolah-olah aku sangat ingin sekali menciumnya.
"Sudah malam, istirahatlah Anya." pamit Arthur yang mengecup keningku dan menutupi tubuhku dengan selimut, dia pun berjalan keluar dari kamarku. Aku masih terpaku dengan posisiku ini, entah mengapa aku merasa malu dan...
Arthur yang keluar dari kamar Anya terhenti sejenak. Dia masih membayangkan momen yang tadi telah terjadi, dia menyesali dirinya bahwa tadi menolak Anya yang ingin menciumnya itu. Diam-diam Arthur pun mengharapkan bahwa suatu saat Anya akan mulai membuka dan melihat dirinya sebagai orang yang dicintainya. Arthur mengehela nafas dengan berat, dia pun segera berjalan menuju kamarnya.
"Apa sih yang kamu pikirkan?" gumamnya sendiri.
Pagi ini aku terbangun dengan masih menggunakan baju yang sama.
(Semalem Arthur kan ya yang membawaku ke kamar?)
Gumamku dalam hati. Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan kemudian berjalan ke kamar mandi untuk segera menyiapkan sarpaan pagi.
(Masih tidurkah?)
Aku memberanikan diri mengetuk kamarnya, tak biasanya dia sudah jam segini masih tertidur di kamarnya.
Tok! Tok!
"Arthur?" kataku.
"Ya?" suara balasan dari dalam kamarnya.
"Kau sudah bangun?" tanyaku memastikan kembali.
"Sudah. Sarapan sudah jadi?" balasnya yang kini dia membuka pintu kamarnya dan sudah berdiri dihadapanku.
__ADS_1
Sedikit terkejut, Arthur sudah terbangun ternyata dan dia memang tak membuka pintu kamarnya. Kemeja suda melekat ditubuhnya, namun masih belum dikancingkan bisa aku lihat badannya yang begitu banyak roti sobeknya yang membuatku terpaku sesaat karena sungguh menggoda ini.
"Anya?" tegurnya dengan melihatku. Aku segera mengalihkan pandanganku dari pemandangan yang sangat menggoda ini.
"Belum, aku mau menyiapakan sarapan untukmu." balasku dengan mata mengalihkan.
Arthur menyadari sikapku yang salah tingkah karenanya, dia terdiam sejenak lalu...
"Siapkanlah. Panggil aku jika sudah ya?" katanya dengan menatapku.
"Oke." kataku, Arthur kemudian berbalik badan melanjutkan kembali. Aku berjalan munuju dapur untuk membuatkan sarapan.
Selama membuat sarapan sekilas aku teringat dengan tubuh Arthur yang begitu menggoda dan untuk seumurnya bisa dibilang sangat bagus sekali bisa menjaga sebugar itu. Aku mengalihkan pikiran-pikiran kotor yang membuat pagi ini menjadi mesum.
(Apasih Anya? Pagi-pagi udah ngayal aja!)
Gumamku sendiri sambil memukul halus kepalaku. Tanpa sadar Arthur melihat gerak gerikku yang begitu dari kejauhan dia tersenyum simpul sambil melipatkan kedua tangannya dan kemudia berlalu meninggalkanku didapur.
"Arthur hari ini aku akan pulang agak larut." ucapku sambil menghidangkan sarapan pagi padanya. Arthur masih terdiam memperhatikanku yang sedang sibuk menyajikan.
"Arthur?" kataku memanggilnya untuk memastikan bahwa dia mendengarkanku.
"Bukan mau minum-minum lagi kan?" tanya Arthur dengan datar.
"Gak Arthur. Aku ada kerjaan beneran, dan deadline sampai besok lusa." ucapku yang kini sambil menuangkan susu pada gelas Arthur.
"Rico ikut bersamamu ya seharian ini." ucapnya sambil akan memulai sarapannya. Anya terdiam sejenak dan dia memandang pada suaminya tersebut dengan tatapan tak suka.
"Jangan! Aku kerja bukan melakukan hal apapun Arthur!" bantah Anya dengan masih melihat Arthur.
"Aku gak mau kamu sampai mabuk seperti kemarin Anya!" jelas Arthur dengan posisi menghadap wajah Anya, kini mereka berdua saling pandang namun dengan suasana berdebat satu sama lain.
"Aku gak mabuk! Buktinya aku bisa menyetir sendiri Arthur!" kata Anya yang mengelak.
Arthur hanya memandang Anya tanpa mengucap kata sepatah pun. Ia tau jika dia memperpanjang dan bersikeras dengan pemikirannya akan membuat Anya semakin marah dan ujungnya mereka akan bertengkar. Arthur menghela nafas begitu panjang memastikan bahwa dirinya tidak terpancing oleh keegoisan dirinya sendiri.
"Baik. Rico gak akan ikut kamu seharian ini. Tapi kamu bisa berjanji kalau hari ini kamu gak akan minum-minum lagi? Apalagi 'hampir' mabuk?" tegas Arthur dengan menatap pada Anya.
"Ya." balasnya dengan datar. Dia pun segera berjalan menuju dapur dan melepaskan celemek, kemudian dia berjalan kembali ke meja makan untuk sarapan bersama Arthur.
*****
__ADS_1