Unknown Love

Unknown Love
Tak Terduga


__ADS_3

Tok...tok...tok


Terdengar suara ketukan pintu saat Erlangga tengah menikmati sarapannya pagi ini di apartemen pribadi miliknya.


Ia segera berjalan ke arah pintu dengan malas, mencari tahu siapa yang datang sepagi ini ke tempatnya. Padahal hari ini adalah hari liburnya ke kantor, ia ingin menikmati waktu tanpa gangguan siapapun.


"Siapa?", tanya Erlangga sambil menekan tombol speaker yang ada di samping pintu apartemennya.


Tak ada jawaban, "Siapa di luar?", Erlangga bertanya lagi, tapi tetap tak ada suara. Akhirnya dengan terpaksa dia membuka pintu itu.


Ceklek


Erlangga membuka kunci pintu apartemennya dan tetiba saja Viona menghambur, memeluknya erat.


"Viona, lepaskan aku!!!", teriak Erlangga yang terkejut dengan kedatangan Viona yang tiba-tiba.


Erlangga mencoba mendorong tubuh Viona, membuatnya meringis kesakitan karena cengkeraman tangan Erlangga yang kuat dikedua lengannya.


"Aauuww, sakit, mas", pekik Viona.


"Mau apa kamu ke sini? tahu dari mana aku tinggal di sini?", tanya Erlangga dengan tatapan mata yang tak suka melihat kedatangan Viona.


Viona masih mengusap-usap kedua lengannya yang terasa sakit.


"Tentu saja kedatanganku ke sini untuk menemuimu, mas. Mudah bagiku untuk mendapatkan alamat tempat tinggalmu di kota ini", jawab Viona penuh percaya diri.


"Kita tak ada urusan apapun, pergilah!!!", pinta Erlangga tegas. Ia sudah berniat untuk kembali masuk ke dalam apartemennya, tapi tangan Viona terlebih dahulu menahan pintu masuk itu.


"Kita masih ada urusan, mas. Pembicaraan kita waktu itu belum selesai", jawab Viona sambil menatap mata Erlangga dengan berani.


Erlangga menghela nafas, "Apalagi yang mau kamu bahas? semuanya sudah jelas, Vi", kata Erlangga lagi. Dia tak berminat meladeni Viona yang masih bersikukuh ingin kembali kepadanya dengan menjadikan Alya sebagai alasan.


"Mas, sebenci itukah kamu kepadaku sampai kamu tak memberikan kesempatan sedikit pun kepada hatimu untuk mempertimbangkan kembali hubungan kita?", mata Viona mulai berkaca-kaca.


Erlangga memalingkan wajahnya. Ia benar-benar malas membahas soal itu lagi. Baginya, apa yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Sekalipun perceraian mereka dulu adalah karena kesalah pahamannya, tapi Erlangga sudah mengubur semua perasaannya kepada Viona. Kehadiran Kinara dalam hidupnya kini sudah banyak memberikan warna.


"Mas, aku mohon berikan kesempatan kedua padaku dan Alya", pinta Viona dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Tangan Erlangga refleks menarik tubuh Viona, membuatnya berlabuh dipelukannya. Apa yang Erlangga lakukan itu membuat Viona merasa damai. Itulah pelukan yang sudah begitu lama ia rindukan.


"Jangan salah paham soal ini, aku hanya tak tega melihatmu menangis untuk sesuatu yang tak semestinya kamu tangisi lagi", ujar Erlangga dikala Viona ada dalam pelukannya.


Viona tersenyum, ada rasa bahagia dalam dirinya saat ini. Ia tak menyangka jika Erlangga yang selama ini bersikap dingin kepadanya masih menyimpan sikap manis yang Viona sukai sejak dulu, rasa empatinya tinggi. Viona tahu Erlangga tak pernah tahan melihat orang lain bersedih.

__ADS_1


"Mas...terimakasih", ujar Viona dan tanpa disadari oleh Erlangga, Viona memberikan ciuman yang dalam kepadanya.


Erlangga terkejut, dia segera melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Viona lagi.


"Mas...", pekik Viona.


"Kamu, pergi dari sini. Jangan lagi berusaha menggodaku!!!", ada kilatan kemarahan yang tergambar dalam tatapan mata Erlangga.


"Mas, tega sekali kamu berbicara seperti itu kepadaku. Aku datang tak bermaksud menggodamu. Aku memang masih mencintaimu dan akan tetap begitu selamanya. Setelah ini, pikirkanlah lagi dan tanya hatimu, apa benar kamu sudah tak mencintaiku lagi?", ujar Viona sesaat sebelum dia pergi meninggalkan Erlangga yang tengah marah kepada dirinya sendiri karena sudah bertindak bodoh dengan memberikan pelukan kepada wanita yang tak seharusnya, bahkan wanita itu berani menciumnya tanpa izin.


**


"Pak, berapa lama kita di Surabaya?", tanya Erik ketika ia membantu ayahnya berkemas.


"Paling lama tiga hari di sana, kenapa?", tanya Pak Erwin tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan berkas yang besok yang akan ia bawa.


"Kemarin Farhan meneleponku, katanya Bukde Asri mau ke Jerman. Farhan mau lamaran di sana, keluarga kita juga diundang ke sana", terang Erik santai.


Pak Erwin mengernyitkan dahinya, heran sekaligus terkejut dengan apa yang putranya sampaikan.


"Lamaran? di Jerman?", Pak Erwin bertanya untuk memastikan lagi berita yang baru saja didengarnya itu.


Erik mengangguk, "Iya pak. Aku udah tanya sama Farhan. Dia memang mau lamaran di sana, tapi dia belum cerita mau lamar siapa".


Pak Erwin mengangguk-anggukan kepalanya, "Yoo wis, kamu urus saja apa yang Farhan minta. Nanti bapak yang bicara sama ibumu soal ini", Pak Erwin berlalu dari hadapan Erik.


**


Hari ini sepulang bekerja, Kinara mampir ke rumah mertuanya.


Bu Tria dan Ajeng menyambut kedatangannya dengan bahagia.


"Kamu pasti capek ya nak. Mama buatkan lemon tea dingin ya", kata Bu Tria setelah Kinara duduk di ruang keluarga.


"Gak usah repot-repot, Ma. Nanti kalau Nara mau minum, Nara bisa ambil sendiri kok", jawab Kinara merasa tak enak dengan perlakuan mama mertuanya itu.


Bu Tria tersenyum, "Tak apa nak. Kamu kan gak tiap hari ke sini. Mama juga belum nengok kamu ke rumah", ucapnya sebelum berlalu ke dapur.


"Ma, aku juga mau dong lemon tea dingin kek punya kakak ipar", teriak Ajeng. Mamanya hanya menganggukan kepala, membiarkan Ajeng bercengkrama dengan Kinara.


"Sorry ya kakak ipar, aku juga belum nengokin ke rumah. Aku lagi ditraining nih sama mama buat ngurusin usaha baru mama", kata Ajeng sambil mengunyah kue bolu yang ada di atas meja.


"Wah, mama punya usaha apa, Jeng?", tanya Kinara penasaran.

__ADS_1


"Mama buka butik", jawab Ajeng pendek.


"Kapan-kapan, kakak ikut ya sama kita ke butiknya mama. Di sana ada banyak baju bagus yang bisa kita coba lho", kata Ajeng lagi.


Kinara tersenyum dan meng-iya-kan ajakan adik iparnya itu. Kini mereka asyik menikmati kue bolu bersama.


"Oh ya kak, gimana rasanya LDM-an? kangen gak sih sama orang nyebelin itu?", tanya Ajeng penasaran.


Kinara mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu itu Erlangga?".


Ajeng mengangguk malas, "Ya siapa lagi kak orang paling nyebelin sejagat raya ini kalau bukan dia".


Kinara tertawa kecil.


"Yaaa kangen sih pasti, Jeng. Kakak kamu itu gimana ya, emang ngangenin sih", mata Kinara mengerjap membayangkan wajah suaminya yang tampan.


"Diiihh...kalau Kak Angga dengar ini, dia pasti GR luar biasa", Ajeng meleletkan bibir bawahnya, membayangkan wajah menyebalkan kakaknya yang suka usil itu.


Kinara dan Ajeng tertawa bersamaan. Bu Tria datang membawa tiga gelas ice lemon tea.


"Kalian bahas apa sih sampai tertawa heboh begitu?", tanya Bu Tria sambil menurunkan gelas-gelas itu di meja.


"Bahas Kak Angga, Ma. Masa Kak Kinara bilang kalau Kak Angga itu ngangenin. Geli deh aku dengarnya", kata Ajeng masih tak percaya dengan ungkapan jujur Kinara tentang kakaknya.


Bu Tria tersenyum mendengar hal itu, "Ya bagus dong kalau kakak kamu dikangenin sama istrinya. Memang sudah seharusnya begitu".


Ajeng memasang ekspresi tak percaya mamanya akan membenarkan kejujuran Kinara. Ia tak mau ambil pusing, diseruputnya lebih dulu ice lemon tea miliknya.


"Oh iya, nak. Apa kamu sudah ada tanda-tanda kehamilan?", pertanyaan tiba-tiba dari Bu Tria membuat Kinara tersedak saat ia meminum hidangan dari mama mertuanya itu.


Uhuk...uhuk...uhuk


Ajeng buru-buru membantu Kinara meredakan tersedaknya.


"Mama iiih, kok nanyanya aneh gitu sih? tuh kakak ipar jadi tersedak begini", bela Ajeng.


"Maaf ya nak, mama gak maksud buat kamu kaget lho. Cuma ya, mama ingin tahu saja. Mama sama papa udah ngebet banget ingin punya cucu", jawab Bu Tria apa adanya.


Kinara sudah mulai lebih tenang, dia mencoba tersenyum mendengar ucapan mama mertuanya itu.


"Do'akan aja ya ma", jawab Kinara pendek.


Bu Tria mengelus lembut punggung menantunya kesayangannya.

__ADS_1


'Gimana mau kasih cucu. Mas Erlangga belum pernah menyentuhku dan sekarang kami harus tinggal terpisah cukup lama', batin Kinara.


Suasana beku itu berubah menjadi ramai saat Ajeng mulai bercerita tentang masa kecilnya dengan kakaknya, Erlangga. Kinara menyimak semua cerita Ajeng dan mama mertuanya. Kinara senang mendengarkan semua cerita itu, satu cara untuk mengenal sosok suaminya lebih dalam.


__ADS_2