Unknown Love

Unknown Love
Kecelakaan 2


__ADS_3

"Hallo...", Pak James menerima panggilan dari nomor yang tak dikenal. Tangannya bergetar dan matanya membelalak seolah tak percaya dengan kabar yang didengarnya ditelepon.


Selepas panggilan itu usai, ia segera menghubungi istrinya.


"Dear, we must go to Uniklinikum Aachen. Elena got accident there", tanpa basa-basi Pak James menyampaikan kabar buruk itu kepada Bu Tatiana.


Air mata spontan mengalir dari kedua pelupuk mata Bu Tatiana. Sama dengan suaminya, ia seolah tak percaya dengan berita yang diterimanya, terlebih sebelum kepergian Elena ke Aachen, mereka masih sempat berbincang ditelepon.


Bu Tatiana segera berkemas, diambilnya tas dan ia segera menghubungi John, supir pribadinya untuk segera menjeputnya di butik. Ia tak peduli dengan tumpukan desain baju yang tengah ia koreksi.


Jasmine, asisten pribadi Bu Tatiana nampak heran melihat tuannya berjalan keluar ruangan dengan tergesa dan mata sembab.


"Pardon me, miss. What happen?", Jasmine agak berlari untuk mengimbangi langkah kaki tuannya.


"I will go to Uniklinikum Aachen. Elena got accident there", jawab Bu Tatiana dengan suara bergetar menahan kesedihan.


Jasmine menutup mulutnya, ia pun ikut terkejut dengan berita itu. Terlebih saat ini dia dan Bu Tatiana sedang *finish*ing gaun pernikahan yang akan dikenakan oleh Elena dihari pernikahannya, satu minggu lagi.


Jasmine mengucapkan bela sungkawa dan do'anya. Bu Tatiana pergi meninggalkan butik miliknya setelah ia memberikan kewenangan kepasa Jasmine untuk sementara mengambil alih semua pekerjaannya di sana.


Pak James melajukan mobilnya dengan kencang. Pikiran Pak James kalut membayangkan keadaan putri kesayangannya saat ini. Ia menelepon istrinya berkali-kali untuk memastikan mereka akan tiba ditempat tujuan dalam waktu bersamaan.


"John, quickly please", perintah Bu Tatiana kepada supir pribadinya itu. Ia ingin segera melihat kondisi Elena.


Butuh waktu hampir tujuh jam perjalanan untuk sampai ke Aachen. Pak James dan Bu Tatiana sudah tiba di Uniklinikum Aachen. Mereka menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan putri mereka.


Pak James dan Bu Tatiana menunggu di depan ruang operasi. Perasaan mereka berdua campur aduk, mereka hanya bisa berharap keadaan Elena baik-baik saja. Dokter sedang melakukan operasi di dalam.


"Sir, mam, how about Elena?", terdengar sebuah suara yang membuyarkan kesunyian Pak James dan Bu Tatiana.

__ADS_1


Farhan kini sudah berdiri di depan Pak James dan Bu Tatiana. Rupanya pihak kepolisian menghubungi orang-orang terakhir yang dihubungi oleh Elena sebelum kecelakaan terjadi.


Wajah Farhan terlihat sendu, matanya sembab, ada raut kecemasan yang dalam di sana. Nafasnya terengah-engah karena Farhan berlari setibanya ia di Uniklinikum Aachen.


"Dokter masih di dalam. Kami belum tahu bagaimana kondisi Elena di sana. Kita hanya bisa menunggu", jawab Pak James sendu.


Bu Tatiana terlihat berkali-kali menyeka air mata yang terus mengalir dengan tissu yang ada di tangannya. Sebagai seorang ibu, ketakutan dan kekhawatirannya begitu tinggi. Terlintas dalam ingatannya tentang gaun pernikahan yang tengah ia selesaikan di butik.


"Elena, my dear. Tuhan tolong selamatkan putriku", Bu Tatiana berdo'a dengan lirih.


'Elena, aku harap kamu baik-baik saja di dalam sana. Berjuanglah, pernikahan kita sudah dekat', bisik hati kecil Farhan.


Tiga jam berlalu, operasi masih berjalan. Pak James, Bu Tatiana dan Farhan saling berdiam diri. Mereka hanya bisa menunggu operasi selesai untuk mengetahui kondisi Elena.


Lampu merah di atas pintu ruang operasi mati, pertanda operasi sudah selesai. Terlihat dua orang dokter dan beberapa perawat keluar dari dalam ruangan itu.


"Doctor, we're Elena's family. I'm her father, this is her mother and he's her fience. How about Elena, doc?", tanya Pak James cepat sesaat setelah dua orang dokter keluar dari ruang operasi.


"Doc, Is Elena still chance to life?", tanya Bu Tatiana cemas.


"Yes, but we must praying and hope God give the miracle for her. Her injured made she sleep for long time. We're always have the hope and she too, she have chance to life", jawab Dokter Smith. Bu Tatiana dan Pak James mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan kedua dokter itu.


"May we can see her now, doc?", tanya Farhan yang sedari tadi ingin sekali melihat kondisi Elena.


"Not now. Elena must take a rest for two hours before she moving to care unit", terang Dokter Frank lagi.


Tak lama, kedua dokter itu pun berlalu. Kini Pak James, Bu Tatiana dan Farhan kembali menunggu untuk bisa melihat Elena dengan penuh harap.


**

__ADS_1


Kinara baru saja menata belanjaannya setelah dua jam lalu ia pergi ke pasar.


Ddrtt...drrtt...drtt


"Hallo, mas", sapa Kinara saat menjawab panggilan telepon dari suaminya.


"Hallo sayang. Kamu sedang apa sekarang?", tanya Erlangga.


"Aku baru selesai mandi mas, tadi habis dari pasar, gerah", jawab Kinara sambil mencuci beberapa sayuran dan buah.


"Lho, kamu ke pasar kok gak bilang ke mas, sih. Kamu emang tahu pasar ada di mana?", Erlangga agak terkejut mendengar jawaban Kinara yang pergu keluar tanpa dirinya.


"Maaf mas, tadi aku terlalu semangat pergi belanja. Aku pikir tak apa jika aku pergi tanpa memberitahumu, khawatir kamu sibuk juga. Aku pakai aplikasi di HP nih buat nyari pasae terdekat", terang Kinara santai.


Erlangga menarik nafas dalam, "Lain kali kalau kamu mau pergi, kabari aku ya. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, ini Surabaya sayang, bukan Bandung. Kamu pasti asing sama daerah sini".


Kinara tersenyum tipis di balik telepon, ia tahu suaminya begitu mengkhawatirkan dirinya yang sudah terbiasa mandiri.


"Iya mas, aku minta maaf. Lain kali aku pasti bilang, ya. Oh ya, mas pulang jam berapa hari ini?", Kinara masih menjepit HP dengan bahu dan telinganya.


Erlangga melirik jam tangannya, "Hari ini aku pulang telat ya sayang. Masih ada meeting dengan klien. Kalau sampai jam delapan malam aku belum pulang, tidurlah, jangan menunggu, ya".


"Ok mas. Nanti aku siapkan makan malam ya", kata Kinara lagi.


"Iya. Tapi kalau kamu capek, gak usah memaksakan diri. Nikmatilah liburanmu di sini. Love you", ucap manis Erlangga sebelum dia menutup teleponnya.


"Love you too, mas", jawab Kinara malu-malu.


Hati Erlangga terasa lega setelah dia menghubungi istrinya. Ada kehangatan yang luar biasa saat dia mendengar kata cinta dari Kinara.

__ADS_1


"Akhirnya, perlahan kamu bisa mencintaiku, Ra", gumam Erlangga menatap foto Kinara yang sengaja dia simpan di meja kerjanya.


__ADS_2