Unknown Love

Unknown Love
Persimpangan Hati


__ADS_3

Farhan menyalakan motornya yang ia parkir di depan gerbang rumah Kinara. Kinara pun sudah nampak siap di atas motornya.


"Ra, gak boncengan aja sama aku?", tawar Farhan.


Kinara menggelengkan kepalanya, "Nggak ah, Han. Bukan muhrim", jawabnya.


Farhan tersenyum, tak lama mereka pun beriringan mengendarai motor menuju ke rumah Farhan.


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke tujuan. Ibu Farhan sudah menyiapkan beberapa kue dan camilan lainnya yang terlihat lezat.


"Yuk masuk, ibuku pasti sudah menunggumu di dalam", ajak Farhan sambil melepaskan helm dari kepalanya.


Kinara mengangguk dan melakukan hal yang sama. Ia segera mengekor di belakang Farhan.


"Assalamualaikum, bu....", Farhan mengucapkan salam, berbarengan dengan Kinara.


"Waalaikumusalam, nak....", jawab ibu sembari membukakan pintu untuk anak kesayangannya itu.


Kinara tersenyum manis ketika wajah ibu Farhan muncul dari balik pintu. Segera ia mencium tangan ibu Farhan yang membalasnya dengan senyuman dan usapan lembut di kepala Kinara.


"Ayo masuk, nak. Ibu sudah siapkan camilan untuk kalian. Nanti sekalian kita makan siang bareng juga, ya", tanpa basa-basi ibu Farhan mengajak Kinara masuk.


"Bu, Farhan ke kamar dulu ya sebentar", Farhan bersuara.


Ibu hanya mengangguk dan menggandeng Kinara untuk masuk dan duduk di dekatnya.


"Apa kabar nak? ibu merasa lama ya gak ketemu sama kamu", ibu Farhan memulai percakapan.


"Alhamdulillah, kabarku baik, bu. Ibu sendiri apa kabar? ini hidangannya luar biasa sekali", Kinara balik bertanya sembari memuji sajian yang ada di hadapannya.


Ibu Farhan tersenyum, "Kabar ibu baik, nak. Ya, beginilah aktivitas harian ibu. Buat ini, buat itu. Nanti kamu coba semuanya ya, habiskan kalau perlu".


Kinara mengangguk cepat. Entah kenapa ia merasa nyaman ada di dekat ibunya Farhan. Setelah pertemuan beberapa waktu lalu, tak ada rasa canggung dalam diri Kinara.


"Ayo diminum jus sehatnya, nak. Jangan sungkan ya, anggap aja di rumah sendiri", lagi, ibu Farhan menawarkan.

__ADS_1


"Kinara minum ya, bu", Kinara mengambil gelas yang sedari tadi ada di depannya.


"Oh ya, ibu, bapak dan adik kamu sehat, nak?", ibu bertanya lagi setelah menyeruput jus yang sama.


"Alhamdulillah semuanya sehat, bu", jawab Kinara cepat.


Tak lama, Farhan datang, menemui ibunya dan Kinara yang nampak asyik berbincang santai dan menikmati sajian yang ada di meja.


"Habis ganti baju ya, Han?", tebak Kinara yang melihat penampilan Farhan berubah. Kali ini Farhan mengenakan kemeja lengan pendek berwarna coklat muda, dipadukan dengan celana jeans yang membuat tampilannya nampak lebih segar dari sebelumnya.


"Kok tahu? kamu perhatian banget sih Ra sama aku", goda Farhan sambil duduk di samping ibunya.


"Idih GR, siapa juga yang perhatian. Kelihatan aja kali itu baju berubah", bela Kinara.


Ibu Farhan tersenyum melihat tingkah putra semata wayangnya dan Kinara yang terlibat perdebatan kecil.


"Sudah, sudah. Yuk sekarang kita makan siang dulu", ajak ibu.


Farhan dan Kinara mengangguk berbarengan, membuat ibu kembali tersenyum, "Tuh, urusan makan aja, kalian sekompak ini".


"Hmm...masakan ibu selalu lezat ya. Kinara bisa nambah terus ini", puji Kinara disertai canda.


"Ah, kamu ini, nak, dari tadi muji ibu terus. Yo wis, kalau mau nambah boleh, ibu senang malah. Ayo makan yang banyak", tawar ibu antusias.


"Dih ibu, giliran sama Kinara aja, boleh nambah. Lah kalau aku yang nambah, ibu selalu bilang nanto gendut", Farhan menyela perkataan ibunya.


"Mmm....emang bagusnya kamu jangan kebanyakan makan, Han. Betul kata ibu, nanti kamu gendut, gak ganteng lagi lho", canda Kinara.


Ibu dan Kinara tertawa bersamaan, sedangkan Farhan meleletkan bibir bawahnya, kesal.


Usai menikmati santap siang, mereka bertiga sholat dzuhur berjama'ah. Farhan tentu saja menjadi imamnya. Lantunan bacaan qur'an Farham terdengar merdu sekali di telingan Kinara. Ada rasa damai yang hadir.


Selepas sholat, ibu, Farhan dan Kinara kembali duduk bersama di ruang tamu.


"Betah gak Ra di sini?", tanya Farhan setelah mengunyah dan menelan kastangel kesukaannya.

__ADS_1


Kinara menganggukan kepalanya, "Iya aku betah, banyak makanan enak soalnya".


Ibu tersenyum mendengar jawaban Kinara, "Kalau kamu betah, tinggal lah di sini, jadi mantu ibu, ya".


Uhuk....uhuk....uhuk....


Kinara tersedak kastangel yang dimakannya. Farhan buru-buru memberikan segelas air putih untuknya.


Kinara masih berusaha menenangkan dirinya, "Makasih, Han", ucapnya sambil mengelus dada.


"Aduh, maaf ya nak, ibu bikin kamu kaget ya", ibu Farhan merasa bersalah.


Kinara menggelengkan kepalanya, "Enggak kok bu, gak apa-apa, bukan salah ibu. Tadi aku yang terlalu heboh makan kuenya".


Farhan tersenyum mendengar jawaban Kinara. Ia bisa melihat betapa baiknya Kinara itu. Ia pandai menyenangkan hati ibunya dan mudah sekali mengakrabkan diri. Sisi Kinara yang seperti inilah yang membuat Farhan berharap banyak padanya.


"Ra, sebetulnya ada hal penting yang ingin aku dan ibuku sampaikan sama kamu", Farhan memperbaiki posisi duduknya. Di tatapnya Kinara, lalu ditatapnya wajah ibunya, terlihat ibu menganggukan kepala.


Kinara terdiam, menunggu Farhan berbicara lagi.


"Ra, sebetulnya hal ini pernah aku sampaikan, mungkin ini kali kedua aku bilang lagi soal ini sama kamu, aku....", kalimat Farhan menggantung. Debaran jantungnya tiba-tiba saja terasa lebih cepat dari biasanya.


Ibu beranjak dari kursi tempatnya duduk, ia berpindah ke sisi Kinara. Dipegangnya tangan Kinara, membuat Kinara mendadak gugup dan bingung dengan perubahan suasana yang ada.


"Nak, ibu tidak bisa berbasa-basi. Begini, Farhan sudah lama menceritakan tentang kamu sama ibu. Pertemuan kita beberapa waktu yang lalu itu, itu adalah permintaan ibu untuk bisa mengenalmu langsung dan lebih dekat. Nak, maukah kamu menjadi menantu ibu? menjadi istrinya Farhan?", pertanyaan ibu membuat Kinara terkejut.


Perasaan Kinara berubah, yang semula merasa damai, kini menjadi gelisah dan tak tahu harus bagaimana.


"Maaf jika ini mendadak ya Ra. Aku bersungguh-sungguh ingin menikahimu. Jujur saja, sudah sangat lama aku tertarik padamu, tapi aku tak ingin membangun komitmen yang tak pasti", terang Farhan.


Mendengar hal itu, perasaan Kinara semakin bercampur aduk. Belum selesai urusannya dengan Erlangga, kini hal serupa harus ia urus juga dengan Farhan dan ibunya.


"Ibu dan Farhan tidak akan memaksamu menjawabnya sekarang. Maaf jika Farhan menyampaikan semuanya dengan cara seperti ini. Sebetulnya dia sudah lama meminta ibu untuk menemui kedua orang tuamu. Pikirlah dulu, nak", ibu mengusap lembut pundak Kinara.


Kinara berusaha tersenyum. Ia tak tahu harus memberikan jawaban apa, yang ia tahu, kini diri dan hatinya ada di persimpangan untuk memilih.

__ADS_1


__ADS_2