Unknown Love

Unknown Love
Kejujuran Farhan


__ADS_3

Pukul sepuluh malam, pesta ulang tahun Daddy Dave semakin ramai, tapi Kinara sudah resah menatap jam di tangannya berkali-kali.


"Apa kamu mau pulang?", tanya Giovani yang sedari tadi matanya begitu awas kepada Kinara.


Kinara tersenyum tipis, "Ya, jika boleh aku ingin pamit lebih dulu, ini sudah mulai larut".


"Oh tentu saja, tak baik jika nanti kamu pulang terlalu malam", jawab Giovani perhatian.


"Apa kamu akan pulang naik taksi lagi, Ra?", tanya Ananta menatap sahabatnya.


Kinara menganggukkan kepalanya.


"Jika tidak keberatan, biar aku mengangantarkanmu pulang", tawar Farhan yang sedari tadi mendengarkan percakapan di meja itu.


"Tak apa, aku bisa pulang dengan taksi. Aku rasa itu aman".


"Tidak, sebaiknya Farhan yang mengantarkanmu pulang. Aku khawatir jika perempuan secantik dirimu naik taksi sendirian malam-malam begini. Maaf aku tak bisa mengantarmu karena daddy memintaku untuk tetap di sini selama acara berlangsung", ujar Giovani.


"Iya Ra, jangan naik taksi, ya", tambah Ananta.


Meskipun perasaannya tak nyaman jika harus pulang diantar Farhan, tapi akhirnya Kinara meng-iya-kan saran dari Giovani dan Ananta.


Dia sudah kembali mengenakan mantelnya, dan memeluk Ananta sebelum pergi. Ananta dan Giovani menatap kepergian Kinara dan Farhan dengan bahagia.


"Ayo masuk", Farhan membukakan pintu mobilnya untuk Kinara.


"Terimakasih".


Mobil pun melaju, "Tunjukkan arah tempat tinggalmu", pinta Farhan saat mereka sudah memasuki jalanan kota Paris.


Kinara hanya menganggukkan kepalanya, lalu memberikan beberapa petunjuk arah dan selebihnya dia memilih untuk lebih banyak diam, menatap indahnya suasana malam di Paris lewat jendela di sampingnya.


Farhan melirik ke arah Kinara, ada perasaan bahagia saat dia bisa kembali bertemu dengan gadis yang dicintainya itu dan saat ini mereka hanya berdua di dalam mobil.


"Mmm...Ra...".


"Ya", Kinara menoleh.


"Maaf aku tidak hadir dipemakaman suamimu waktu itu".


"Tak apa".


"Aku turut berduka cita atas kepergiannya. Bagaimana dengan dirimu sekarang?".


"Terimakasih. Ya seperti yang kamu lihat, keadaanku baik-baik saja".


Farhan tersenyum tipis.


"Syukurlah kalau begitu. Tentu bukan hal mudah untuk menerima kehilangan orang yang kita cintai, bukan?".

__ADS_1


"Iya".


"Kamu wanita yang tegar, aku percaya kamu bisa menjalani semuanya dengan baik".


"Iya terimakasih", jawab Kinara penuh senyuman.


"Oh ya, soal Giovani, apa kamu berhubungan dengannya?", tanya Farhan hati-hati.


Kinara mengernyitkan dahinya, "Tidak. Kami hanya berteman saja".


"Bagaimana menurutmu tentangnya?".


Kinara nampak berpikir, "Dia laki-laki yang baik, ramah, sukses dan cerdas".


"Tidakkah kamu tertarik padanya?".


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?".


"Aku hanya ingin tahu saja, bolehkah?".


Kinara menghela nafas dalam, hatinya saat ini berdebar-debar tak karuan.


"Perempuan manapun tentu akan tertarik kepada laki-laki seperti Giovani, tapi...aku masih berat untuk membuka hatiku pada orang lain".


Jawaban Kinara menusuk hati Farhan. Disatu sisi dia senang karena Kinara tak sungkan menjawab semua pertanyaannya, tapi di sisi yang lain entah kenapa dadanya terasa sesak saat mendengar jawaban Kinara yang belum bisa membuka hatinya.


"Apa?".


"Tidak adakah wanita yang kamu cintai?", Kinara menatap Farhan dengan lekat.


Farhan terdiam, dia tak tahu harus memberikan jawaban apa.


"Han?".


"Ya"


"Hm...jangan curang dengan tak mau menjawab pertanyaanku", Kinara mengalihkan lagi pandangannya ke luar jendela mobil.


Farhan melirik ke arah Kinara, "Ada wanita yang aku cintai, tapi...", kalimat Farhan menggantung.


"Tapi apa?", Kinara kembali menatap Farhan.


Farhan tersenyum tipis, "Tapi sepertinya aku harus berjuang dengan keras untuk meluluhkan hatinya".


Kinara terdiam mendengar jawaban itu.


"Beruntungnya wanita yang kamu cintai itu. Dia dicintai oleh lelaki yang baik, santun, cerdas dan pekerja keras sepertimu", puji Kinara tulus.


"Begitukah menurutmu?".

__ADS_1


"Ya. Meskipun kita sudah sangat lama tidak bertemu, tapi aku yakin, semua kebaikanmu itu tidak berubah", jawab Kinara yakin.


Farhan tersenyum mendengar kejujuran ucapan Kinara, ada rasa hangat yang menelusup dalam hatinya. Farhan bahagia Kinara masih memandangnya sebaik itu.


"Oh ya, apa yang kamu lakukan di Paris?", tanya Farhan mengalihkan pembicaraan.


"Aku kuliah di sini".


"Wah, bagus. Di mana?".


"ESMOD", jawab Kinara pendek.


"Bidang yang jauh berbeda dengan jurusan kuliah kita dulu. Kamu hebat", puji Farhan.


"Terimakasih".


Kinara meminta Farhan untuk berbelok dan menghentikan mobilnya disebuah apartemen.


"Sudah sampai, terimakasih sudah mengantarku pulang", jawab Kinara yang sudah melepaskan seat beltnya.


Farhan tersenyum dan mengangguk kecil.


"Tunggu", suaranya menahan Kinara yang sudah membuka pintu mobil.


"Ya?", Kinara berbalik menatap Farhan.


"Maaf, selama ini aku pergi selalu tak mengabarimu, bahkan disaat keadaanmu susah, aku pun tak membersamaimu. Aku tidak tahu apa ini waktu yang tepat atau tidak, tapi aku takut kita akan sulit bertemu lagi. Kinara, apa kamu bisa mencoba membuka hatimu untukku?".


Deg


Jantung Kinara berdegup mendengar ucapan Farhan. Entah mendapat keberanian dari mana Farhan tiba-tiba saja mengucapkan hal itu.


"Ma...maksudmu apa, Han?", perasaan Kinara mulai kacau.


"Maaf jika waktunya memang tidak tepat dan caraku mengatakan ini juga mendadak. Tapi pertemuan kita malam ini, aku anggap itu sebagai kesempatan yang Tuhan berikan kepadaku untuk bisa mengatakan semuanya. Aku mencintaimu, sungguh. Perasaanku padamu tidak pernah berubah sedari dulu hingga kini. Meskipun pernah ada wanita yang Tuhan hadirkan sejenak di hidupku, tapi perasaan cintaku padamu begitu besar hingga membuatku mampu bertahan sejauh ini, Ra. Aku harap kamu mau memberiku kesempatan untuk mengisi hati dan hidupmu, Kinara".


Kinara hanya terdiam mendengar semua ucapan Farhan. Dia tak menyangka jika pertemuan mereka malam ini akan membawa keduanya pada keadaan dan perasaan yang sulit.


"Maaf jika ucapanku membebanimu. Beristirahatlah", lanjut Farhan karena Kinara tak memberikan jawaban apapun.


Kinara berusaha tersenyum dan hanya mengangguk kecil, "Terimakasih", ucapnya meninggalkan mobil Farhan.


Kinara bergegas masuk ke apartemennya, perasaannya benar-benar kacau. Dia berusaha mencerna semua ucapan Farhan, tapi di sisi lain, dia merasa mengkhianati almarhum suaminya. Selama ini Kinara sudah begitu bersusah payah menjaga diri dan hatinya agar tidak terpaut pada siapapun. Tapi entah kenapa, pertemuannya dengan Farhan setelah sekian lama berpisah dan mendengar ucapan Farhan tadi membuat hatinya berdesir hebat. Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan dan tidak pernah dia dapatkan dari laki-laki lain setelah kepergian suaminya.


"Mas, maaf, aku bersalah padamu. Seharusnya aku tidak datang ke pesta itu dan tidak menerima tawaran Farhan untuk mengantarkanku pulang. Aku minta maaf mas, hatiku saat ini begitu kacau karena Farhan mengungkap perasaannya padaku. Aku...aku...", air mata Kinara tumpah menatap potret Erlangga di pelukannya.


Sementara itu, selama perjalanan kembali, perasaan Farhan pun tak karuan. Dia merasa bersalah sudah berkata sejujur itu pada Kinara yang baru saja dia temui kembali, tapi hatinya yang lain merasa lega, beban perasaan yang selama ini dia tanggung akhirnya tersampaikan juga.


'Aku harap kamu bisa mengerti dan menerima kejujuranku, Ra', harap Farhan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2