Unknown Love

Unknown Love
Lamaran


__ADS_3

Hari ini Farhan sudah bersiap menyambut kedatangan ibunya dan Erik. Sudah dari satu jam yang lalu dia ada di Flughafen Berlin Schonefeld, bandara internasional Jerman.


Farhan menunggu di cafetaria yang ada di dalam lingkungan bandara sambil menikmati pastry dan secangkir teh.


Drrtt...ddrrtt...drrttt


HP Farhan bergetar, nampak nama Paman Erwin ada di layar.


"Hallo paman", sapa Farhan.


"Hallo Farhan. Apa ibumu dan Erik sudah sampai di sana?", tanya Paman Erwin.


"Belum paman, mungkin sebentar lagi sampai", Farhan melirik keluar kaca untuk melihat informasi kedatangan.


"Oh baiklah. Kabari paman ya jika mereka sudah sampai. Paman minta maaf sekali tidak bisa ikut ke Jerman, kerja sama bisnis kita di Surabaya belum selesai, bibimu juga sedang mengurus catering Mbak Yu Asri, karena minggu ini mereka mendapatkan banyak permintaan untuk hajatan dan berbagai pertemuan", terang Paman Erwin.


Farhan tersenyum, "Tak apa paman. Aku justru harus banyak berterimakasih kepada paman, bibi Sari juga Erik, selama ini kalian sudah sangat banyak membantu dan berkorban untuk keluargaku".


"Tak apa, Han. Kita ini kan keluarga, sudah seharusnya begitu. Erik yang mewakili paman dan bibi ya. Semoga lamaranmu lancar, nanti pesta pernikahannya siap paman urus", janji Paman Erwin.


"Iya paman, terimakasih", Farhan menutup teleponnya.


Dua jam sudah Farhan menunggu kedatangan ibunya, akhirnya sosok yang ia tunggu itupun tiba. Farhan melambaikan tangan ke arah sang ibu dan Erik.


Begitu mereka sudah bertemu, Farhan mencium tangan ibunya dan memeluknya erat, melepaskan semua kerinduannya selama ini.


"Thank's ya bro, udah nemenin ibu ke sini", ujar Farhan saat memeluk Erik.


"Sama-sama, Han. Justru gue nih yang makasih banget sama Bukde Asri dan lo juga karena udah mau ajak gue ke sini. Jerman gitu lho", jawab Erik riang.


Mereka tak membuang waktu, Farhan segera melajukan mobilnya ke apartemennya di Highpark, Berlin.


"Ini tempat tinggalmu, nak?", kata ibu begitu mereka sampai di apartemen Farhan.


"Iya bu. Selama study, Farhan tinggal di sini. Ayo masuk", ajak Farhan pada ibunya dan Erik.


Erik berdecak kagum melihat isi apartemen itu, "Gila Han, keren gini apartemennya", ia menatap sekeliling apartemen Farhan.


Farhan tersenyum, ia membawakan barang milik ibunya dibantu oleh Erik. Lalu ia menyiapkan minuman untuk dua orang kesayangannya itu.


"Di sini ada dua kamar. Ibu bisa pakai kamar Farhan, nanti Farhan dan Erik tidur di kamar yang satu lagi", Farhan menunjukkan kamarnya.


Ibunya mengangguk, sedangkan Erik, dia sibuk menjelajahi apartemen itu.


"Gue mau jalan-jalan dong Han", kata Erik setelah ia kembali dari balkon apartemen yang view-nya memang menghadap ke arah pusat Kota Berlin.


"Boleh, tapi gak sekarang ya. Sekarang kita istirahat dulu, nanti malam kita jalan-jalan, sekalian membeli beberapa barang yang dibutuhkan untuk nanti lamaran", jawab Farhan.


**


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi ini Farhan sudah terlihat tampan dan gagah dengan setelan jas hitam, kemeja putih dan dasi berwarna merah. Tampilan Erik pun tak kalah keren, dia mengenakan setelan jas berwarna coklat tua, dengan kemeja cream tanpa dasi, kancing bagian bawahnya sengaja ia buka, agar tampilannya semi-formal.


Bu Asri mengenakan pakaian kebaya motif batik dengan model baju kurung. Nampak sederhana tapi kelihatan anggun sekali dikenakannya. Rambutnya disanggul sedikit.


"Ayo, ibu sudah siap", kata Bu Asri keluar dari kamarnya.


Farhan dan Erik terpesona melihat penampilan Bu Asri.

__ADS_1


"Wah, ibu cantik sekali", puji Farhan.


"Iya bukde, ini sih namanya bidadari wis turun dari kahyangan", tambah Erik.


Bu Asri tersipu mendengar pujian Farhan dan Erik, "Maturnuwun lho, tapi ayo jangan sampai kita terlambat berangkat", ajak Bu Asri. Mereka pun bergegas pergi.


Erik yang mengendarai mobil hari ini.


"Lo ganteng parah Han, pangling ya hampir setahun di Jerman. Gue yakin, calon istri lo pasti klepek-klepek lihat penampilan lo yang kek gini", goda Erik dari balik kaca spion dalam yang dijawab dengan sikutan tangan Farhan.


"Gue nervous Rik", kata Farhan pendek.


Erik melirik ke arah Farhan, "Baru kali ini gue dengar Farhan Ganindra nervous. Selama ini biasanya kadar PD lo selangit", godanya lagi.


"Kali ini lain, Rik. Gue mau lamaran, beda lah sama momen-momen yang lain. Nanti lah lo rasain sendiri kalau mau lamaran", jawab Farhan.


Erik menyunggingkan senyumnya, "Kapan gue lamaran? jodoh aja belum nemu, gue dipingit terus tiap hari di kantor".


Farhan terkekeh mendengar luahan hati Erik.


"Kalian ini kalau udah ngobrol bisa kemana-mana", kata Bu Asri yang sedari tadi memilih diam mendengarkan obrolan putranya dengan Erik.


Tak terasa, mobil mereka sudah tiba di halaman rumah yang nampak mewah dan luas. Rumah dengan gaya Eropa klasik lengkap dengan taman yang dipenuhi bunga dan rerumputan hijau yang nampak terurus dan sangat asri.


Farhan turun dari mobil, ia kini sudah didampingi oleh ibunya dan Erik.


Pak James dan Bu Tatiana, terlihat menyambut kedatangan mereka di depan pintu.


"Welcome home, Farhan", kata Pak James sambil memeluk Farhan.


"Come in, please", Bu Tatiana mempersilahkan Farhan dan keluarganya masuk.


Sekarang mereka sudah duduk di ruang utama dengan dekorasi ruang yang sangat apik dan klasik namun berkesan mewah.


"Silahkan duduk dan sekali lagi, selamat datang di rumah kami. Perkenalkan, saya James Morris dan ini istri saya, Tatiana Cassandra Morris", Pak James memperkenalkan keluarganya.


Farhan, Bu Asri dan Erik tersenyum.


"Perkenalkan juga, pak, bu. Ini ibu saya, Bu Asri dan ini sepupu saya, Erik. Mohon maaf, tak banyak sanak saudara saya dari Indonesia yang datang ke sini", giliran Farhan yang memperkenalkan keluarganya.


"Oh never mind, Farhan. Kami senang bisa bertemu dengan Bu Asri dan Erik", jawab Pak James dengan ramah.


"Saya permisi dulu ya memanggil Elena. Silahkan dinikmati hidangannya, meskipun ini acara keluarga tapi kita santai saja ok?", ucap Bu Tatiana sebelum ia masuk ke dalam.


Tok...tok...tok


"Honey, are you ready? Farhan dan his family was arrive here. We're waiting you", Bu Tatiana memanggil Elena yang masih ada di dalam kamarnya.


Elena menarik nafas berkali-kali, ada rasa gugup di hatinya. Ia lihat lagi dirinya di cermin, sudah rapi.


"Ok mom, I'm coming", jawab Elena.


Ia keluar dari kamarnya dengan malu-malu.


"Oh my god, you're looks pretty, dear", ujar Bu Tatiana saat melihat tampilan Elena yang anggun sekali dengan pakaian kebaya khas Indonesia.


Elena tersenyum, ia kemudian melangkah bersama ibunya menuju ke ruang tamu. Semakin mendekati ruangan itu, jantungnya semakin berdegup kencang.

__ADS_1


Bu Asri, Farhan dan Erik nampak sedang asyik berbincang bersama Pak James saat Elena dan ibunya tiba.


"Elena sudah datang", kata Bu Tatiana memecahkan keseruan perbincangan antara Pak James dan keluarga Farhan.


Farhan menoleh, melihat ke arah kedatangan Elena dan ibunya. Dia benar-benar terpesona dengan penampilan Elena yang mengenakan kebaya khas Indonesia dengan tatanan rambut sederhana ala gadis Bali. Dua perpaduan yang anggun.


"Gila Han, calon istri lo cantik paripurna", bisik Erik di telinga Farhan.


Farhan hanya tersenyum mendengarnya.


"Come here, dear", kata Pak James sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya. Elena masih menundukan kepalanya, kini ia duduk di samping ayah dan ibunya.


"Ini putri kesayangan kami, namanya Elena Morris", Pak James memperkenalkan Elena kepada keluarga Farhan.


"You're looks pretty. Saya Asri, ibunda Farhan", Bu Asri memperkenalkan dirinya kepada Elena yang dijawab Elena dengan senyuman dan anggukan kecil, lalu dia mencium tangan Bu Asri sebagai tanda hormat.


"Oh ya, ini Erik, sepupunya Farhan", lanjut Bu Asri. Elena melirik ke arah Erik yang tersenyum manis kepadanya.


"Ok, kita bisa mulai acaranya ya", kata Pak James.


Semua orang yang merupakan keluarga inti, mengangguk, menyegerakan acara lamaran itu.


"Sebagaimana yang sudah bapak dan ibu ketahui, maksud kedatangan saya dan keluarga saya ke sini adalah untuk melamar Elena. Apakah bapak, ibu dan Elena bersedia menerima lamaran saya?", Farhan membuka suara, ia berusaha tenang meskipun jantungnya sebetulnya berdebar kencang.


Pak James dan Bu Tatiana tersenyum mendengar keseriusan Farhan kepada putrinya itu.


"Saya dan istri saya sangat senang dan menyambut baik niatan Farhan. Entah dengan Elena, how about you, honey?", tanya Pak James melihat Elena yang sudah mulai memberanikan diri menatap semua orang yang ada di ruangan itu.


Kedua tangan Elena saling bertumpu, menahan debaran di hatinya.


"Ya, aku bersedia menerima lamaran Farhan", jawabnya cepat.


Semua orang yang mendengar jawaban itu nampak bahagia. Bu Asri kemudian memasangkan cincin di jari manis Elena sebagai tanda ikatannya dengan Farhan.


"Sekiranya diperkenankan, saya berharap pernikahan Farhan dan Elena bisa segera dilaksanakan, pak, bu", ujar Bu Asri menatap Pak James dan Bu Tatiana setelah ia memasangkan cincin.


"Kalau saya setuju, bu. Tak baik ya kalau terlalu lama ditunda", jawab Bu Tatiana yang diiringi anggukan kepala Pak James.


"Bagaimana jika tiga bulan lagi pernikahan itu kita laksanakan?", tanya Pak James yang disetujui oleh Farhan dan ibunya.


Setelah acara inti selesai, mereka pun menikmati makan siang bersama dengan banyak berbincangan ringan untuk saling mengenal lebih dalam antar keluarga.


"Oh ya, mohon maaf, jika boleh tahu prosesi akadnya nanti dilaksanakan secara hukum Islam atau....", kalimat Bu Asri menggantung.


"Islam bu. Keluarga kami alhamdulillah muslim, setelah saya menikah dengan Tatiana, istri saya, saya memutuskan untuk menjadi mualaf dan Elena pun seorang muslim", jawab Pak James, paham maksud pertanyaan Bu Asri.


Bu Asri tersenyum, "Alhamdulillah kalau seperti itu, pak. Sekali lagi mohon maaf jika saya berani menanyakan hal itu, karena terkait keyakinan adalah hal yang penting untuk ke depannya".


"Tak apa bu, kita akan menikahkan anak-anak kita, sudah seharusnya kita saling terbuka dari sekarang tentang banyak hal", jawab Bu Tatiana dengan senyum ramah.


Di tengah perbincangan itu, Farhan dan Elena memilih diam untuk menenangkan hati mereka masing-masing, sesekali mereka saling mencuri pandang. Erik yang juga memilih sebagai pendengar menyaksikan hal itu.


"Setelah makan, bagaimana kalau kita semua berfoto dulu?", tawar Erik kepada semua orang.


Akhirnya selepas santap siap, keluarga Elena dan keluarga Farhan mengabadikan momen kebersamaan mereka dengan berfoto.


'Akhirnya aku melamarmu, selangkah lagi, aku akan memilikimu dengan utuh, El', bisik hati kecil Farhan dengan tatapan penuh cinta kepada Elena.

__ADS_1


__ADS_2