
"Gimana penampilanku, kak?", tanya Ajeng yang baru saja selesai dirias.
"Cantik banget, Jeng", jawab Kinara sumringah. Nyatanya memang Ajeng nampak cantik dan anggun. Make up natural dengan kebaya putih modern yang pas di badannya ditambah dengan hiasan kepala dan bunga melati yang menjuntai membuat penampilan Ajeng semakin sempurna.
"Aku gugup", ujar Ajeng menatap dirinya di cermin.
Pagi ini akad nikahnya akan diselenggarakan.
"Erik pasti bisa menjalankan tugasnya dengan baik, Jeng", Kinara memegang kedua bahu Ajeng. Ajeng pun tersenyum.
Tepat pukul sembilan pagi, ijab kabul itu pun terucap. Terdengar suara gemuruh keluarga dan orang-orang yang hadir mengucapkan 'sah' setelah Erik dengan sempurna mengucapkan akad nikah dalam satu tarikan nafas.
"Ayo, temui suamimu, nak", Bu Tria datang ke ruang rias untuk menjemput Ajeng.
Beberapa kali Ajeng menarik nafas. Di dampingi oleh Kinara dan Alisa, Ajeng berjalan menuju pelaminan untuk menemui Erik yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Erik menyambut Ajeng dengan senyum mengembang, begitu pun dengan Ajeng, meski dia merasa gugup, tapi dia benar-benar merasa bahagia. Semua keluarga, teman dan kolega yang menghadiri akad nikah Ajeng menatap ke arahnya, mengagumi kecantikan dan keanggunan Ajeng.
MC memandu Ajeng untuk mencium tangan suaminya dan Erik mengecup kening Ajeng dengan penuh cinta.
"Akhirnya kamu menjadi istriku", bisik Erik sesaat setelah dia melepaskan kecupannya dari kening Ajeng. Ajeng tersipu malu.
MC kemudian meminta keluarga untuk berfoto bersama kedua mempelai. Semua orang terlihat bahagia.
Beberapa kali Farhan melirik ke arah Kinara yang juga terlihat malu-malu. Bagaimana tidak, nanti malam tiba saatnya mereka yang akan menjadi pengantin. Saat ini Farhan dan Kinara menyempatkan diri untuk menjadi bride maid untuk Erik dan Ajeng.
"Coba akad nikah kakak dan Kak Farhan juga sekarang, pasti kakak dan Kak Farhan ada di sana bareng Kak Ajeng dan Kak Erik", bisik Alisa di tengah keriuhan ballroom itu.
Kinara tersenyum, "Kakak kan udah janji jadi bride maidnya Ajeng. Tak apa, nanti ada waktunya kakak yang berdiri di sana".
Saat jeda ke sesi resepsi, Bu Tria dan Pak Wijaya menghampiri Kinara dan keluarganya.
"Nara, sebaiknya kamu istirahat dulu. Nanti malam kan acara pernikahanmu. Seharusnya hari ini kamu ada di rumah saja", ujar Bu Tria. Kinara tersenyum.
"Tak apa, ma. Nara kan sudah janji sama Ajeng untuk mendampinginya di hari pernikahannya".
"Tugas kamu sudah selesai. Ayo, papa tidak ingin kamu terlalu lelah hari ini, istirahat lah. Persiapkan dirimu untuk acara nanti malam", imbuh Pak Wijaya.
Kinara menatap papa, mama dan kedua orang tuanya, mereka semua mengangguk bersamaan tanda setuju. Akhirnya Kinara memilih untuk berpamitan pulang, mengistirahatkan dirinya. Tak lupa dia berpamitan kepada Erik dan Ajeng yang tengah bersiap berganti pakaian untuk acara resepsi.
"Makasih ya kak, sudah mendampingiku dan Erik", Ajeng memeluk Kinara sebelum Kinara pergi.
"Sudah menjadi tugasku, Jeng. Maaf ya jika aku tidak ada di acara resepsi pertamamu ini".
__ADS_1
"Tak apa, Ra. Kita paham kok, kamu harus bersiap-siap untuk acara nanti malam. Giliran kami yang akan mendampingi. Farhan juga akan aku minta untuk pulang dan beristirahat", Erik yang menjawab.
Kinara mengangguk kecil dan tersenyum, lalu pulang menuju rumahnya. Alisa dan kedua orang tua masih menyempatkan dulu untuk ada di acara pernikahan Ajeng dan Erik.
Farhan tengah berjalan ke parkiran saat dilihatnya Kinara sedang sibuk dengan ponselnya.
"Hai, Ra...", sapa Farhan.
"Oh, hai, Han", jawab Kinara pendek.
"Apa kamu mau pulang? biar aku antar", tawar Farhan.
"I...iya, aku diminta pulang untuk istirahat", jawab Kinara gugup.
Farhan tersenyum, "Aku juga. Ayo, aku antar kamu pulang".
"Mmm...tidak usah, aku bisa naik taksi".
"Jangan begitu. Kamu calon istriku, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk hari ini. Nanti malam pernikahan kita. Biar aku antar kamu pulang, ya", ujar Farhan lagi.
"Ta...tapi...apa tidak apa-apa kamu mengantarkanku pulang?".
Farhan tersenyum lagi, "Kenapa? aku tidak akan melakukan apa-apa padamu".
"Bu...bukan begitu maksudku. Hanya saja...", ucapan Kinara menggantung.
"Apa?".
Kinara terdiam sejenak, "Hanya saja...aku dengar orang yang mau menikah tidak boleh bertemu dulu", jawab Kinara malu-malu.
Farhan tersenyum manis, "Siapa yang bilang? sudah lah, jangan membuang waktu. Aku akan mengantarkanmu pulang".
Akhirnya Kinara pulang bersama Farhan. Tujuan mereka searah.
Di mobil itu suasana hening. Semenjak tadi jantung Kinara berdebar-debar. Begitupun dengan Farhan, tapi Farhan lebih pandai mengendalikan dirinya.
Tak butuh waktu terlalu lama, Farhan sudah menghentikan mobilnya di depan rumah Kinara.
"Kita sudah sampai", suara Farhan memecahkan keheningan dan lamunan Kinara.
"Oh, eh iya. Aku turun dulu, terimakasih", jawab Kinara gelagapan. Farhan tersenyum dan menganggukkan kepala.
Kinara turun dari mobil dan membuka pintu gerbang rumahnya.
__ADS_1
"Beristirahatlah dengan baik agar acara kita nanti malam berjalan dengan sempurna", pesan Farhan sebelum berlalu. Pesan itu membuat Kinara jadi salah tingkah sendiri.
Kinara bergegas masuk ke kamarnya. Dia merebahkan dirinya, melepas rasa lelah yang mendera. Maklum saja, dari sebelum subuh, Kinara sudah mendampingi Ajeng di hotel.
Sepanjang perjalanan pulang, wajah Farhan memancarkan kebahagiaan menyambut hari yang selama ini dia tunggu-tunggu.
.
Pukul lima sore, Kinara dan keluarganya sudah bersiap menuju sebuah hotel mewah yang menjadi tempat berlangsungnya acara pernikahan Kinara juga resepsi kedua Ajeng dan Erik.
Akad nikah akan dimulai selepas maghrib. Seorang perias sudah terlihat sibuk merias calon pengantin dan keluarganya.
"Mbak, riasannya jangan terlalu tebal ya. Aku ingin nampak senatural mungkin. Lipsticknya juga, tolong pilihkan warna natural saja", pesan Kinara sebelum perias itu melukis indah wajahnya.
"Ok Mbak Nara", jawab sang perias. Kuasnya mulai bergerak lincah di wajah Kinara.
Butuh waktu hampir satu jam untuk menyelesaikan riasan dan menyempurnakan penampilan Kinara.
"Hai kak...", Ajeng datang ke ruang rias.
"Hai, Jeng", sapa Kinara balik. Dia baru saja selesai dirias.
"Wwwwoooww...ini Kak Nara? cantik banget kak", Ajeng menatap Kinara dari atas sampai bawah. Kinara mengenakan gaun silver yang saat itu dipilihkan oleh Ajeng.
Riasan natural dengan tatanan rambut low updo, ditambah hiasan bunga di kepala berpadu sempurna dengan gaun cutting A-line off shoulders yang dikenakannya. Tampilan Kinara terlihat sederhana namun cantik, anggun dan elegan.
"Farhan pasti terpesona melihat kakak", goda Ajeng. Kinara tersipu malu.
"Apa kamu sudah selesai bersiap, Jeng untuk resepsi keduamu malam ini?", Kinara mengalihkan pembicaraan untuk mengurangi rasa gugupnya.
Ajeng tersenyum, "Semua rangkaian acara pernikahanku sudah selesai sampai tadi sore, kak. Malam ini khusus buat kakak dan Farhan".
"Lho, kenapa begitu? bukankah ada resepsi kedua malam ini?", tanya Kinara heran.
Ajeng tersenyum lagi, "Aku dan Erik memang ingin fokus saja malam ini ke pernikahan kakak. Kita berdua kan bride maidnya kakak dan Farhan".
Kinara tersenyum, "Terimakasih", jawabnya pendek.
"Sebentar lagi akad nikahnya akan dimulai. Aku gak sabar nunggu orang-orang bilang sah seperti tadi pagi", seru Ajeng senang.
Kinara tersipu, debaran di dadanya semakin kencang. Dia tidak pernah membayangkan jika hari ini akan tiba. Menikah dengan lelaki yang selama ini dia kenal sebagai sahabat.
"Tuhan, tolong lancarkan semuanya", harap Kinara dalam hati.
__ADS_1