Unknown Love

Unknown Love
Permintaan Viona


__ADS_3

"Ya, kenapa Angga?", terdengar suara Pak Wijaya menyambut telepon dari putranya.


"Pah, Angga mau kembali ke Bandung secepatnya. Kalau papa izinkan, lusa Angga pulang ke sana, ya", jawab Erlangga langsung.


Pak Wijaya terdiam sejenak, memikirkan permintaan putranya yang mendadak.


"Apa ada masalah?", tanya Pak Wijaya menyelidik.


"Enggak, pah. Angga hanya ingin secepatnya pulang menemui Kinara".


"Hmm...ok, orang yang akan menggantikan kamu di sana, sudah siap?".


"Angga percayakan kantor di sini ke Soni, pah".


"Oh...Soni, asisten pribadimu itu? apa dia dapat dipercaya penuh?".


"Iya pah. Angga yakin, Soni bisa profesional mengurus perusahaan kita di sini sampai nanti Angga dan Kinara benar-benar siap pindah ke Surabaya".


"Baik, kalau kamu yakin dengan asisten pribadimu itu. Segera urus kepulanganmu, nanti papa menyusul, ya".


"Iya pah, terimakasih", Erlangga mengakhiri perbincangannya dengan sang ayah.


Semenjak virtual meeting beberapa hari yang lalu dengan direktur utama Ganindra Group, perasaan Erlangga terusik. Ia khawatir dengan kehadiran Farhan yang begitu tiba-tiba.


"Aku harus secepatnya pulang, memastikan istriku tak pernah bertemu lagi dengan teman baiknya itu", gumam Erlangga.


Ia kembali berkutat dengan tumpukan berkas yang harus segera ia pelajari dan ia selesaikan sebelum kepulangannya.


"Son, tolong ke ruangan saya sekarang", perintah Erlangga lewat telepon.


Tak lama, seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya dan orang yang ditunggu itu pun tiba.


"Duduk, Son".


"Terimakasih, pak".


"Begini Son, lusa, saya harus kembali ke Bandung. Saya sudah membahas soal ini dengan ayah saya dan keputusannya adalah kamu menggantikan posisi saya di sini sampai nanti saya dan istri saya siap pindah ke sini, bagaimana?", terang Erlangga tanpa basa-basi.


Soni terkejut mendengar penjelasan bossnya itu.


"Ta...tapi, pak, apakah bapak dan Tuan Wijaya yakin akan mempercayakan perusahaan ini kepada saya? rasa-rasanya saya tidak pantas menerima itu", jawab Soni sangsi.


Erlangga tersenyum tipis, "Hampir satu tahun kamu menjadi asisten saya dan saya bisa melihat dedikasi dan kerja kerasmu, Son. Saya dan ayah percaya sama kamu, ya".


Soni terdiam, pikirannya berkecamuk dengan permintaan atasannya itu.

__ADS_1


"Sudah, jangan banyak berpikir. Terima dan kerjakan tugas ini dengan baik. Oh ya tolong siapkan juga kepulangan saya lusa", pinta Erlangga lagi.


"Baiklah pak, jika itu sudah menjadi keputusan bapak dan Tuan Wijaya. Saya akan berusaha bekerja dengan baik untuk perusahaan ini. Saya permisi pak untuk mengurus keperluan kepulangan bapak", pamit Soni sebelum meninggalkan ruangan kerja bossnya itu. Erlangga menjawabnya dengan senyuman dan anggukan kepala.


'Tunggu aku pulang, sayang', batin Erlangga sambil menatap foto Kinara di layar ponselnya.


**


Kinara baru saja selesai mengajar dan bersiap untuk pulang saat seseorang datang menghampirinya.


"Hai...apa aku bisa meminta waktumu sebentar?", suara itu mengejutkan Kinara.


"Eh, Viona. Ada apa? tentu, aku sudah selesai dengan pekerjaanku".


Kinara dan Viona berjalan bersama, menuju sebuah taman kota yang tak jauh dari sekolah tempat Kinara mengajar.


"Hallo bu guru...", sapa Alya saat dia melihat Kinara dan Viona berjalan beriringan.


"Hallo, Alya belum pulang ya?", sapa Kinara.


Alya menggelengkan kepalanya, "Kata mama, mama mau main dulu sama bu guru. Jadi Alya masih di sini", jawabnya polos, mengguratkan senyum di bibir Kinara.


Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mereka sampai di taman kota. Viona mengajak Kinara dan Alya duduk di bangku taman yang tak jauh dari play ground. Suasana taman nampak sepi disaat siang. Hanya terlihat beberapa orang saja yang berlalu-lalang di sekitar taman.


"Sayang, kamu main di sana dulu ya. Mama mau ngobrol dulu sama bu guru di sini", pinta Viona pada putri kecilnya itu.


"Hati-hati ya sayang. Jangan main yang bahaya", pesan Viona sesaat sebelum Alya berlari kecil menuju area play ground.


Kinara duduk memperhatikan kedekatan Viona dan Alya.


"Alya itu anak yang manis, ya", puji Kinara tulus.


"Ya, dia manis sekali", jawab Viona.


"Oh ya, ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan?", Kinara mulai menatap Viona dengan serius.


Viona terlihat menarik nafas dalam, "Aku mau bicara soal kita".


Kinara mengerutkan dahinya, mencoba memahami maksud pernyataan Viona.


"Kita?", tanya Kinara heran.


Viona menganggukkan kepalanya, "Sebelumnya aku minta maaf jika ini mungkin akan membuatmu sedih dan sakit. Tapi aku tak bisa terus menutupinya darimu", kata Viona.


Kinara masih diam menyimak.

__ADS_1


"Aku tahu kamu adalah perempuan yang baik. Aku yakin kamu pasti akan mengerti maksudku berbicara tentang ini. Ini...ini soal...Erlangga", suara Viona terdengar ragu.


"Soal Mas Erlangga? ada apa dengannya?", selidik Kinara.


"Aku yakin kamu masih ingat dengan kejadian di mall saat di Surabaya. Saat itu tanpa sengaja Alya bertemu denganmu dan Mas Erlangga. Dia spontan memanggil suamimu, ayah, bukan?", Viona mencoba mengingatkan kembali kejadian yang lalu.


Kinara menganggukkan kepalanya, "Ya, aku terkejut dengan hal itu. Apakah kamu dan Alya....", Kinara tak melanjutkan perkataannya, ada rasa ragu di hatinya.


"Ya. Alya itu anak Mas Erlangga dan aku, aku adalah mantan istrinya", jawab Viona cepat. Dia sudah tak bisa lagi menahan perasaannya.


Kinara terhenyak, berharap apa yang dia dengar bukan itu.


"Aku minta maaf karena baru mengatakannya sekarang. Wanita yang kamu lihat saat pertama kali kamu datang ke apartemen suamimu, itu pun adalah aku. Alya juga ada di sana, tapi saat itu dia sedang bermain di balkon. Maafkan aku, Kinara", mata Viona mulai berkaca-kaca.


Kinara terdiam, berkali-kali dia menelan salivanya. Ada rasa kesal, marah, sedih dan kecewa yang bercampur dalam dirinya.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku...aku hanya ingin Alya bahagia, sama seperti kebanyakan anak lainnya", lanjut Viona lagi. Air matanya kini sudah bercucuran.


Kinara menatap dalam wanita yang ada di depannya itu. Ia mengerti bagaimana perasaan Viona, tapi hatinya yang lain tak bisa menerima itu semua.


"Lalu apa maumu?", tanya Kinara langsung.


Viona mengusap air matanya, menatap Kinara dengan dalam.


"Aku...aku...aku ingin kembali pada Mas Erlangga", jawab Viona ragu.


Mata Kinara membulat, dia tak percaya dengan apa yang didengarnya itu.


"Maafkan aku, Kinara. Tapi sungguh, aku masih mencintai Erlangga dan aku ingin Alya bahagia, tumbuh dengan keluarga ya utuh".


Perkataan Viona membuat hati Kinara terasa perih Matanya berubah panas dan bulir bening mulai menggenang di pelupuknya.


"Ka...kamu...kenapa harus begini?", Kinara berusaha menahan air matanya.


"Maafkan aku. Aku tak bisa lagi menyimpan ini semua darimu. Aku tahu kamu pasti akan terluka, tapi aku pun juga sama. Bertahun-tahun aku menjaga hatiku untuk Erlangga, meskipun aku sudah dicampakkan begitu saja olehnya, membesarkan Alya sendirian, melalui semua masa sulit tanpa kehadirannya di sisiku. Tapi aku masih mencintai dia, aku cinta...", Viona kembali menangis tersedu.


Kinara duduk mematung. Dia tak tahu apa yang terjadi dengan hatinya. Dia masih berusaha mencerna pertemuannya dengan Viona. Bayangan kebersamaannya dengan suaminya muncul dalam ingatan Kinara. Itu semua kemudian pecah karena pengakuan Viona saat ini.


"Lalu mau kamu apa? kamu tahu bukan, Mas Erlangga adalah suamiku. Hatiku perih mendengar semua ucapanmu", suara Kinara terdengar bergetar namun penuh dengan penekanan.


Viona menatap Kinara semakin dalam, "Ya, aku tahu posisimu dan posisiku saat ini. Aku paham luka di hatimu, aku pun memiliki luka yang sama. Tapi aku mohon, mengertilah, aku hanya ingin Alya bahagia, itu saja".


"Bahagia? maksudmu?", tanya Kinara lagi.


"Kembalikan suamimu kepadaku atau izinkan aku kembali bersamanya", tanpa ragu Viona menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


Kinara merasa hatinya diserbu ribuan anak panah yang mengoyak-ngoyak perasaannya. Dia sudah tak bisa membendung lagi air matanya. Permintaan Viona seolah menjadi bom yang meluluh lantakkan segalanya.


'Kenapa harus begini?', batin hati kecil Kinara mengirigi tangisannya yang tiada henti.


__ADS_2