
"Selamat malam, Mas Wijaya, Mbak Tria", ibu membuka suara menyapa sepasang suami istri yang sudah menanti kedatangan mereka sedari tadi.
"Selamat malam Yu Hasna dan Mas Prastowo", jawab lelaki bernama Wijaya.
"Mari duduk", ajak istrinya, Bu Tria.
Pak Pras dan Bu Hasna segera duduk, diikuti oleh Alisa yang sebelumnya mencium tangan Pak Wijaya dan Bu Tria.
"Maaf yo mas, saya telat datang ke sini", Pak Pras membuka suara.
"Tak apa, santai saja", jawab Pak Wijaya.
"Mbak Yu, kemana anak-anak?", tanya Bu Hasna karena sedari mereka tiba, mereka hanya melihat Pak Wijaya dan Bu Tria saja yang ada di sana, padahal rencana mereka malam ini adalah makan malam keluarga.
"Oh iya, Yu, maaf, ini anak-anakku belum pada datang. Tadi putraku lagi jemput dulu adiknya, mungkin sebentar lagi mereka sampai", terang Bu Tria.
Seperti mengerti maksud istrinya, Pak Wijaya segera mengeluarkan HP, meminta izin untuk menghubungi putra sulungnya.
"Iya, pah, kenapa?", terdengar suara lelaki di ujung telepon.
"Kamu di mana sekarang? ayo segera ke sini, keluarga sahabat baik papa udah sampai ini", ucap Pak Wijaya.
"Iya pah, ini juga udah mau sampai kok, cari parkiran dulu", jawab putra Pak Wijaya.
Tak lama, telepon pun ditutup, dan Pak Wijaya memilih untuk berbincang dengan keluarga Pak Prastowo.
Kinara mempercepat langkahnya menuju ke arah balkon Resto Bahagia.
"Selamat malam, maaf, saya....", kalimat Kinara menggantung karena ada sebuah suara yang menyela kalimatnya.
"Malam semuanya, maaf ya aku sama kakak....telat", sebuah suara terdengar tak asing di telinga Kinara. Pemilik suara ini pun sejenak menjeda sedikit ucapannya. Ia menatap perempuan yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Ia merasa mengenal sosok itu.
"Lho, Kinara", seru suara itu. Kinara membalikkan badannya, ia melihat Ajeng sudah berdiri menatap dirinya. Ajeng datang bersama seorang lelaki muda, berpostur tinggi, bermata tajam. Sosok yang sudah tak asing bagi Kinara, Erlangga.
"Kok kamu ada di sini, Ra?", Ajeng menghampiri Kinara. Kinara terhenyak dari rasa terkejutnya.
"Eh, oh, aku....", belum selesai Kinara bicara, terdengar suara Pak Wijaya meminta mereka untuk segera duduk.
__ADS_1
Erlangga tak bersuara sedikit pun, ia hanya menatap Kinara sekilas saja.
'Cantik sekali dia', batin hatinya namun tetap dengan ekspresi yang datar.
Tak lama, Bu Tria memanggil pelayan, memintanya segera menyajikan makanan yang sudah dipesan.
"Oh ini toh putrimu, Pras? cantik sekali dia", puji Pak Wijaya.
Kinara mencoba tersenyum, ia sungguh malu, ditambah lagi keadaan ini membuatnya bingung.
'Kenapa ada dia juga sih?', tanya Kinara dalam hati.
"Iya, Kinara ayu tenan ya pak. Kinara ini sering main ke rumah lho ketemu sama Ajeng", Bu Tria menceritakan beberapa kali pertemuannya dengan Kinara di rumah.
"Oh gitu. Berarti Kinara akrab ya sama Ajeng", seru Bu Hasna, ibunya Kinara.
"Baguslah kalau akrab sama nak Ajeng, nanti tinggal mengakrabkan diri sama kakaknya, ya", ucapan Pak Pras, ayah Kinara, tetiba saja membuat jantung Kinara berdebar kencang.
'Apa maksudnya ini semua?', lagi, Kinara bertanya pada dirinya sendiri.
"Hampir lupa, kenalkan ini anak-anakku, Pras, Na. Ini putra sulungku, Erlangga dan ini adiknya, Ajeng", Pak Wijaya memperkenalkan keduanya.
Pak Pras dan Bu Hasna tersenyum melihat Ajeng dan Erlangga.
"Anak sulungmu itu gagah ya sepertimu, mas. Nak Ajeng juga ayu tenan seperti ibunya", puji Bu Hasna. Erlangga dan Ajeng tersenyum mendengar pujian itu.
"Nah, giliranku mengenalkan kedua putriku. Ini Kinara dan ini Alisa", Pak Pras menunjuk ke arah Kinara dan Alisa. Kedua kakak beradik ini pun tak kalah kikuk merespon keadaan. Padahal sebelumnya Kinara dan Alisa, juga Erlangga dan Ajeng sudah pernah bertemu.
Perbincangan mereka terhenti sejenak saat beberapa pelayan datang mengantarkan makanan yang dipesan. Kedua keluarga itu mulai menikmati makan malam mereka, hampir tak ada suara dari Kinara dan Alisa, juga Erlangga dan Ajeng. Hanya kedua orang tua mereka yang nampak asyik sesekali bernostalgia dan saling berbagi cerita di tengah-tengah makan malam itu.
Tak lama, semua menu utama sudah habis dinikmati. Pelayan resto datang lagi, memohon izin mengambil semua piring kotor dan menggantinya dengan dessert yang nampak lezat.
"Ok, makanan utamanya sudah habis ya. Sekarang tinggal kita berbincang ringan sambil menikmati sajian ini", Pak Wijaya mengawali suapan pertama dessert-nya.
"Pras, bagaimana dengan rencana kita?", Pak Wijaya menghentikan kunyahannya, balik menatap Pak Pras.
Seolah paham dengan maksud Pak Wijaya, Pak Pras menatap istrinya yang duduk di sebelahnya. Bu Hasna hanya merespon tatapan suaminya itu dengan anggukan.
__ADS_1
"Yo kalau saya sama Hasna, seperti yang sudah lama kita sepakati, kami berdua setuju", jawab Pak Pras.
Pak Wijaya tersenyum mendengar jawaban itu, kali ini gilirannya melirik Bu Tria, istrinya.
"Wah ibu senang sekali lho pak kalau rencana kita ini jadi", jawab Bu Tria.
Anak-anak mereka saling bertatapan, seolah memberikan sinyal bahwa mereka tak paham dengan apa yang disepakati oleh kedua orang tua mereka.
"Ini bahas apa sih pah, ma? Ajeng gak ngerti deh", akhirnya Ajeng memberanikan diri membuka suara, ia sungguh penasaran.
Bu Tria dan Pak Wijaya tersenyum mendengar pertanyaan Ajeng. Mereka kemudian kompak melihat ke arah Erlangga yang sedari datang tak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Jadi gini nak, papa sama mama sudah punya kesepakatan sedari kami baru menikah dulu. Jika kami nanti punya anak, maka anak pertama kami akan kami jodohkan dengan anak pertama sahabat baik papa dan mama, yaitu Pak Pras dan Bu Hasna", terang Pak Wijaya.
Uhuk....uhuk.....uhuk
Kinara tersedak dessert yang tengah dinikmatinya. Ucapan Pak Wijaya barusan sukses membuatnya mengalami hal itu, ditambah lagi perasaannya mulai tak menentu.
Alisa segera memberikan air minum kepada kakaknya, ia mengelus-elus pundak kakaknya, berusaha membantu.
"Hati-hati kak makannya", ucap Alisa lembut. Ia paham sebetulnya kakaknya terkejut dengan apa yang didengarnya barusan, ia pun demikian. Tak menyangka jika pertemuan malam ini akan membahas tentang masa depan kakak kesayangannya itu.
Berbeda dengan Kinara, Erlangga terlihat santai mendengar apa yang disampaikan oleh ayahnya, sedangkan Ajeng membelalakan kedua matanya dan menutup mulutnya yang spontan terbuka karena tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Ma....maksud papa sama mama itu, kak Erlangga dan sahabatku Kinara ini, mau dijodohkan gitu?", Ajeng memberikan penekanan pada pertanyaannya.
Pak Wijaya dan Bu Tria mengangguk bersamaan.
"Kalian pasti kaget. Tapi ya, ini sudah kesepakatan antara keluarga kita dengan keluarga Pak Wijaya. Bapak sama ibu juga sudah lama mengenal nak Erlangga, kami yakin dia bisa menjadi suami yang tepat dan baik untukmu", giliran Pak Pras yang menjelaskan. Di akhir ucapannya, Pak Pras menatap ke arah Kinara dan melirik Erlangga yang merespon perkataan itu dengan senyuman.
Deg....
Jantung Kinara berdebar semakin kencang. Ia sudah membaik dari tersedaknya tadi, tapi hatinya kini merasa tak sebaik itu. Ia merasakan wajahnya memanas, ia yakin kini wajahnya mulai memerah karena merasa malu dan terkejut dengan pembahasan ini.
"Gimana, nak? Nara mau kan menikah sama Nak Erlangga?", kali ini ibu yang bertanya. Ditatapnya lembut wajah putri sulungnya itu.
Kinara terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa, keadaan ini benar-benar membuatnya merasa sesak. Semuanya sangat tiba-tiba dan di luar perkiraannya.
__ADS_1
"Tante akan merasa sangat bahagia kalau Kinara mau menikah sama anak tante, Erlangga", Bu Tria ikut memberikan penekanan pada Kinara. Kinara masih terdiam, tak memberikan jawaban.
Erlangga mengarahkan mata tajamnya ke arah Kinara. Ia tahu hal ini sangat sulit bagi Kinara, tapi apa yang terjadi malam ini adalah sesuatu yang diinginkannya.