
Altezza memegang kepalanya, ia sedikit menyipitkan mata dan terdiam beberapa saat.
"ALTEZZA." Keenan membuka pintu dengan kasar dan menatap Altezza khawatir.
"Ada apa?."
Keenan mendekat kearah Altezza dan melihat bahwa dia hanya baru bangun dari tidurnya, "Aku mengira kau pingsan, tapi ternyata baru bangun tidur?."
"Jam berapa?."
"9 pagi."
Altezza membulatkan matanya dan duduk dengan tegap, "Jam 9? Bukankah meeting nya jam 10?."
Keenan mengangguk.
Altezza turun dari tempat tidur nya dan segera bersiap-siap. Ia bahkan tidak sarapan dan langsung masuk kedalam mobil.
"Kenapa kau tidak lebih cepat ke rumah ku?." Tanya Altezza kesal.
"Kirana memberitahuku kau tidur, tapi tak ku sangka kau baru bangun. Ckckck-" Keenan menggelengkan kepalanya pelan kemudian terdiam dan memandang Altezza sambil menelan saliva, "Kau tidur dengan Kira-"
"Jangan berpikir sembarangan." potong Altezza.
"Ouh benar, aku sudah mengetahui kenapa Kirana menangis." Ucap Keenan kemudian memberikan tablet nya kepada Altezza.
Di sana memperlihatkan Kirana yang masih SMA bersama dua pria lainnya.
"Apa ini?."
"Kau tau setelah mengenal Kirana lebih dalam aku merasa dia sangat-sangat luar biasa. Dua orang ini sahabatnya, yang kelihatan nakal itu Pendiri Kiit Food dan satunya lagi aku tidak tau." Ucap Keenan.
"Pendiri Kiit Food?."
Keenan mengangguk, "Dia sudah meninggal dan Kirana baru mengetahuinya kemarin jadi dia menangis."
"Ouh benar, dia juga pernah kuliah di Luar negeri namun berhenti setelah satu tahun."
"Kenapa?." Tanya Altezza penasaran.
"Bos kenapa kau penasaran dengannya? Jangan-jangan kau-"
"Aku hanya ingin mengetahuinya saja. Keenan kau tau kepribadian ku bukan?." Tanya Altezza dan diangguki oleh Keenan.
"Aku tau, tapi aku sedikit berharap kau berubah. Ouh benar berbicara tentang Kiit Food, kita akan memiliki kerja sama." Ucap Keenan dan memberikan Altezza sebuah dokumen, "Ini kontrak nya."
"Baiklah."
Altezza sampai di kantor bersama Keenan, saat mereka baru aja masuk seorang resepsionis menghampirinya, "Maaf Tuan Al, ini bekal dari Nyonya Kirana."
Altezza melirik Keenan menyuruh nya membawa bekal itu.
"Kata Nyonya Kirana bekal nya bisa dipanaskan di ruangan Tuan." Ucap Resepsionis itu lagi.
Altezza mengernyitkan alisnya dan dengan cepat menuju Ruangannya. Di sana ia melihat sebuah Oven yang baru saja dibeli, "Kenapa dia melakukan ini tanpa izinku?."
_&_&_
__ADS_1
Kirana makan kuaci dengan tenang, ia bisa bersantai dan tak perlu mengantar bekal Altezza.
Dirinya hampir lupa bahwa Izumi adalah seseorang yang tak ingin repot. Jadi pastinya dia akan membayar seseorang untuk mengantar makanan.
Jika Altezza ingin dirinya seperti Izumi maka dia juga tidak bisa setengah-setengah.
"Bu kau tampaknya senang?." Tanya Ersya dan duduk di samping Kirana.
"Kau tidak ke kantin?."
Ersya menggeleng dan memberikan sebungkus roti pada Kirana.
"Aku tidak tau bahwa Sekolah akan menjadi sangat menyenangkan." Ucap Ersya sambil memandangi Siswa yang berlalu lalang.
"Aku juga tidak tau kenapa kau bisa seserius itu dalam belajar? Ah mungkin karena dulu aku terlalu nakal juga." Ucap Kirana.
Ersya sedikit tertawa, ia lalu memberikan sebuah undangan, "Besok malam Mama ku ulang tahun, kau harus datang."
"Apa banyak makanan?."
"Tentu, ada banyak cokelat." Ucap Ersya yang mengetahui Kirana adalah maniak cokelat.
"Aku akan kembali ke kelas. Sampai jumpa."
Kirana melambaikan tangannya dan menghela nafas pelan, ia kemudian menatap kaget ke depannya, " Kenapa kau disini?."
Ravindra tertawa kecil dan duduk di samping Kirana, "Adikku sekolah disini."
"Lalu? Apa dia bermasalah?."
"Kelas berapa?." Tanya Kirana
"Sepuluh."
"Sayang sekali bukan di kelas XI-11 jika dikelas ku aku yakin-"
"Yakin apa?."
"Yakin kau akan di panggil setiap hari." Ucap Kirana kemudian tertawa, "Anak anak di kelas ku sangat nakal. Aku hampir saja menyerah."
Kirana menatap jam tangannya"Sebentar lagi aku akan mengajar, aku pergi dulu."
Ravindra menatap Kirana yang semakin menjauh dan tersenyum kecil, "Jika aku tidak terlambat bertemu denganmu, apa kau akan di sisiku?"
_&_&_
Kirana mengenakan Gaun panjang yang sederhana namun tidak terlihat murah.
Ia pergi ke pesta sendirian bahkan tidak meminta Izin Altezza. Namun jika bilang pun dia tidak akan menanggapinya.
"Kau sudah datang?." Ersya menghampiri Kirana dengan raut wajah senang kemudian membawa nya ke tempat orang tuanya, "Ma Pa Kenalin ini Bu Kirana yang Ersya ceritain itu."
"Ouh Kirana." Sapa Mama Ersya.
"Selamat ulang tahun." Ucap Kirana.
"Terima kasih, ah aku akan berbicara dengan yang lain. Kau bisa menikmati makanannya." Ucap Mama Ersya mengedipkan kedua matanya tampak tau keinginan Kirana.
__ADS_1
"Baik, aku akan memakan semuanya." Canda Kirana.
"Bagaimana dengan pelayanan ku? Bagus kan?."
Kirana mengangguk. Ersya kemudian membawa Kirana ke stand makanan, "Aku akan menyapa yang lainnya, tidak apa ku tinggal sendiri kan?."
"Tentu saja, silahkan."
Setelah ditinggalkan Ersya Kirana melihat kue-kue itu sambil menelan saliva, "Wuah bagaimana aku bisa menghabiskannya?."
Kirana memakan kue-kue cokelat tanpa henti, sesekali ia akan memejamkan matanya menikmati makanan yang menggoyang lidahnya.
"Kau suka cokelat?."
Kirana membuka matanya dan menoleh, ia melihat seorang Pria tua yang hanya melihat kue-kue itu.
"Yaaa, bisa dibilang maniak cokelat. Tuan tidak akan memakannya?."
"Pria tua ini tidak bisa lagi memakannya." Ucapnya kemudian menambahkan, "Makan cokelat itu baik tapi tidak boleh berlebihan, hanya bisa jadi penyakit."
Kirana mengambil sesuatu dari dalam tas nya dan memberikannya pada pria tua itu, "Ini cokelat hitam, aku jamin tidak akan menjadi penyakit."
"Cokelat hitam?."
"95℅ kakao hanya sedikit gula."
"Bukankah sangat pahit?."
Kirana mengangguk, "Yang terpenting itu adalah Cokelat. Entah itu manis atau pahit aku menyukai nya tapi aku lebih suka membawa cokelat pahit. Cokelat manis aku lebih suka orang lain memberikannya."
"Kau sangat menarik Nona. Ngomong-ngomong apa pekerjaanmu?" Tanyanya
"Seorang Guru, aku Guru Ersya jadi dia mengundangku."
Pria tua itu mengangguk kemudian memberikan Kirana sebuah kartu nama.
Dareen Uzi
Presdir Grup Karsa
Kirana menatap Pria tua itu dan Kartunya secara bergantian, "Grup Karsa?."
"Jika saja Cucuku belum menikah aku akan menjadikan mu menantuku." Ucap Dareen dengan nada bercanda kemudian ia menghela nafas kecewa, "Tapi dia bahkan tidak mengundangku ke pernikahannya."
"Ayah, aku akan pulang terlebih dahulu."
Kirana menoleh ke seorang wanita yang sangat ia kenali, Fanley.
"Kenapa pulang?."
Dareen menatap kesekitarnya menyadari sesuatu, "Kau masih belum berbaikan dengan Putramu Fanley?."
Kirana menatap kearah yang dituju dan terdiam sesaat, itu Altezza dan ia bersama Izumi?.
"Aih dia bahkan masih bersama Anak Haram itu, aku tidak mengerti apa yang dipikirannya." Ucap Dareen.
"Kakek, kata-kata mu terlalu kasar."
__ADS_1