Unknown Love

Unknown Love
Jalan-Jalan


__ADS_3

"Kak, kita nonton yuk ke bioskop. Mumpung weekend nih", ajak Ajeng.


Kinara yang baru selesai membuatkan sarapan pagi, mengangguk cepat.


"Ayo. Aku juga butuh hiburan".


Mereka pun menyantap sarapan pagi itu bersama-sama.


Pukul sepuluh keduanya sudah terlihat rapi. Kinara mengenakan atasan lengan panjang berwarna biru muda, dipadu dengan celana jeans warna senada. Tak lupa, sling bag dan flat shoes berwarna hitam melengkapi penampilannya. Dia ikat rambutnya, selesai.


Ajeng pun berpenampilan serupa, hanya bedanya hari ini dia mengenakan pakaian bernuansa pink, membuatnya terlihat manis.


"Yuk kak".


Mobil sedan berwarna silver meluncur membelah jalanan Kota Bandung. Semenjak Erlangga tiada, mobil itu diberikan oleh papanya kepada Ajeng.


"Jago nyetir juga ya adikku ini", puji Kinara.


"Ya sebetulnya udah lama sih kak, aku bisa bawa mobil. Tapi papa sama mama gak pernah beliin aku mobil", seloroh Ajeng.


Kinara tersenyum simpul. Sejenak, dia memperhatikan seisi mobil itu, tak ada yang berubah. Kondisinya masih sama seperti saat Erlangga yang memakainya.


Ajeng memutar lagu milik Rossa.


....


*Gapai semua jemariku


rangkul aku dalam bahagiamu


ku ingin bersama berdua


selamanya


Jika ku buka mata ini


ku ingin slalu ada dirimu


dalam kelemahan hati ini


bersamamu


aku tegar*


....


Kinara terbawa suasana, meresapi setiap lirik yang ada dalam lagu Rossa yang kini terasa begitu menyayat hatinya.


"Kakak kenapa? kok diam terus?", tanya Ajeng, matanya melirik sebentar ke arah Kinara yang duduk di sampingnya.


Kinara tersenyum tipis, "Aku enggak kenapa-kenapa kok, Jeng. Cuma kangen aja sama mas mu aja", ungkapnya jujur.


Ajeng menjadi merasa bersalah karena memutar lagu sendu disaat seperti ini.


"Gak usah dimatikan lagunya, biarkan saja", sergah Kinara saat tangan Ajeng sudah siap menekan tombol off.


Tak lama, mobil pun berbelok, memasuki basement sebuah mall. Ajeng dan Kinara turun bersamaan.


Langkah kaki mereka menuju ke bioskop di lantai tiga.


Kinara mulai menikmati suasana di sana. Memang sudah sangat lama dia tak keluar seperti ini.


"Kita mau nonton apa nih kak?", tanya Ajeng yang sibuk melihat deretan jadwal film yang tayang hari ini.

__ADS_1


"Aku mau nonton itu", tunjuk Kinara pada sebuah poster film horror.


"Wooww...horror, ok juga pilihan kakak. Kita pacu adrenalin", jawab Ajeng penuh semangat. Mereka berdiri dalam antrian untuk membeli tiket.


Masih ada waktu tiga puluh menit lagi sebelum film itu diputar. Ajeng dan Kinara memilih untuk berkeliling sebentar, melihat-lihat isi toko yang ada di sekitaran bioskop.


"Bajunya lucu. Kita beli yuk kak", ajaknya.


"Boleh".


Ajeng memilih baju berwarna merah terang, sedangkan Kinara memilih baju berwarna krem dan abu-abu. Dia sengaja mengambil dua buah baju, salah satunya nanti akan dia berikan kepada Alisa, adiknya.


"Kapan-kapan kita bertiga pakai baju ini biar kembaran, terus kita foto studio", seru Ajeng lagi.


Ajeng sebetulnya seusia dengan Kinara, tapi entah kenapa jiwa ABG-nya masih meledak-ledak. Kinara hanya tersenyum simpul meng-iya-kan rencana Ajeng.


Ajeng dan Kinara sudah masuk ke dalam ruang bioskop. Tak lupa, pop corn pun sudah mereka beli, porsi jumbo.


Film horror itu mulai diputar, menyajikan ketegangan yang dalam. Beberapa kali Ajeng dan Kinara kompak menjerit dan menutup mata mereka. Kaget tapi menyenangkan.


.


Farhan baru saja menyelesaikan pengerjaan bab tiga untuk tesisnya. Beberapa hari ini dia memilih untuk begadang, mengejar target.


Direbahkannya sejenak tubuhnya yang terasa pegal. Matanya menerawang, menatap langit-langit kamar.


Ingatannya masih terpaut pada Kinara. Satu bulan lalu dia terkejut saat Erik mengabarkan kepergian Erlangga padanya. Farhan ikut merasa sedih, tapi dia tak bisa datang takziah ke Indonesia.


Pesan bela sungkawanya pun ia titipkan pada Erik yang datang ke rumah duka, bertemu dengan keluarga Pak Wijaya namun tak sempat bertegur sapa dengan Ajeng atau pun Kinara.


"Hhhhh...bagaimana kondisi kamu sekarang, Ra? pasti sulit bagimu menjalani hidup tanpa Erlangga", gumam Farhan, menarik nafas dalam.


Tiba-tiba saja ingatan Farhan terpaut juga pada perbincangannya dengan Erlangga beberapa hari sebelum dia kembali ke Jerman. Tapi Farhan mencoba menepis hal yang dipesankan Erlangga kepadanya.


Farhan segera beranjak dari tempat tidurnya. Dia pergi ke dapur, membuat segelas coklat hangat untuk menemani pekerjaannya malam ini.


"Aku harus fokus dengan studiku. Sedikit lagi selesai dan aku akan segera kembali ke Indonesia", tekad Farhan. Jari-jemarinya kini sudah kembali bergerak lincah di atas keyboard.


.


"Huuuhh...ini film terhorror yang pernah aku lihat", kata Ajeng yang masih belum lepas dari rasa takutnya.


Kinara tertawa kecil, "Takut ya Jeng?".


Ajeng nyengir, "Lebih tepatnya kaget, kak", kilahnya.


"Nanti malam, aku tidur sama kakak ya", pinta Ajeng.


"Lho katanya cuma kaget, kok tidur aja minta barengan sih", goda Kinara.


Ajeng menyenggol lengan Kinara, "Iihh...iya...iya...aku takut", jawabnya jujur dengan muka ditekuk.


"Ok, jangan ngambek gitu dong. Mendingan sekarang kita makan ice cream yuk", bujuk Kinara.


Mata Ajeng berbinar. Mereka segera menuju gerai ice cream ternama yang ada di mall itu.


Seorang waitress datang dengan dua mangkuk ice cream. Tanpa menunda waktu, Ajeng dan Kinara segera menikmatinya. Mereka asyik menikmati ice cream itu sambil berbincang santai, membahas segala persoalan perempuan dan sesekali terlihat tawa mereka meledak bersamaan.


Seseorang yang sedari tadi memperhatikan Ajeng dan Kinara datang menghampiri tanpa mereka sadari.


"Hai, Ajeng", sapa suara itu.


Ajeng menoleh, begitu pun dengan Kinara, dia mengangkat kepalanya, melihat lelaki yang kini berdiri di samping Ajeng.

__ADS_1


"Lho, Erik", seru Ajeng terkejut karena kedatangan seorang lelaki yang tak asing lagi baginya.


Erik tersenyum manis, membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan.


"Apa aku ganggu?", tanyanya.


"Oh...enggak kok, enggak", jawab Ajeng gelagapan.


"Boleh aku ikut duduk di sini?", tanya Erik lagi.


Ajeng melirik Kinara, meminta persetujuan. Kinara yang paham dengan maksud tatapan mata Ajeng hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Akhirnya mereka bertiga duduk bersama, tak lupa Erik pun memesan ice cream untuk ia nikmati.


"Oh ya Rik, kenalkan ini kakak iparku, Kak Kinara", Ajeng menunjukkan Kinara.


"Hallo kak, salam kenal. Saya Erik, teman dekat Ajeng", sapa Erik tanpa malu dan ragu.


"Iya, saya Kinara. Jadi ini teman dekat yang diceritakan Ajeng waktu itu", Kinara menyambut jabatan tangan Erik, dan dengan sengaja memberikan penekanan pada kalimat akhirnya, dia menggoda Ajeng.


Wajah Ajeng spontan memerah, "Bu...bukan teman dekat. Erik ini boss aku di kantor, kak", jawabnya malu-malu.


"Ya kalau lebih dari sekedar boss juga gak apa-apa kok", goda Kinara lagi. Erik yang menyaksikan perubahan air muka Ajeng nampak tersenyum simpul.


"Oh ya, Rik, jangan panggil saya kakak. Panggil Kinara saja. Usia kita juga sepertinya tidak terpaut jauh, agak aneh rasanya jika kamu memanggil saya kakak", pinta Kinara yang di-iya-kan oleh Erik.


"Saya dan perusahaan turut berbela sungkawa ya Ra atas meninggalnya Pak Erlangga. Hari itu, mohon maaf saya tidak sempat menemuimu dan menemui Ajeng secara langsung. Hanya sempat bertemu dengan Pak Wijaya dan istrinya", ucap Erik formal. Meskipun dia mau memanggil nama saja pada Kinara, tapi kata-katanya masih terdengar formal saat bicara.


"Tak apa, Rik. Terimakasih ya", jawab Kinara pendek.


Ajeng baru tahu jika ternyata dihari pemakaman kakaknya Erik datang, tapi mereka memang tak sempat bertemu. Saat di kantor pun Erik tak membahas soal itu, baru kali ini dia mengungkapkannya.


"Jadi, kamu lagi apa di sini? nge-date?", tanya Ajeng mengalihkan pembicaraan.


Erik beralih menatap Ajeng, "Mmm...enggak, aku cuma jalan-jalan aja. Membeli beberapa kebutuhan pribadi", jawab Erik enteng. Dia menunjukkan beberapa tas belanja yang dibawanya.


"Aneh, jalan-jalan sendirian. Yakin gak nge-date?", selidik Ajeng lagi.


Kinara dan Erik kompak tersenyum mendengar pertanyaan Ajeng yang terdengar begitu penasaran.


"Ya apa salahnya jalan-jalan dan belanja sendiri? aku sudah terbiasa begitu. Kenapa? kamu takut ya aku jalan sama perempuan lain, hm?", goda Erik.


Wajah Ajeng semakin merona, "Bu...bukan...bukan gitu maksud aku. Cuma ya, gak normal aja sih orang jalan tapi gak ada temannya", kilah Ajeng salah tingkah.


Erik senang melihat wanitanya serba salah seperti itu, sedangkan Kinara memilih tersenyum saja melihat pemandangan yang berlangsung di depannya saat ini.


"Lain kali, kalau aku jalan-jalan lagi, aku minta kamu yang temani, ya", tambah Erik semakin memojokkan Ajeng.


Jantung Ajeng berdebar dengan cepat, 'Aadduuhh...kenapa jadi gini sih?', dia sibuk menenangkan dirinya. Ucapan Erik benar-benar membuatnya terlihat konyol.


Suasana serba salah itu buyar saat seorang waitress datang mengantarkan ice cream pesanan Erik.


"Oh ya Ra, saya juga mewakili Farhan menyampaikan bela sungkawa", ucap Erik sesaat setelah dia menyuapkan sesendok ice cream ke mulutnya.


Mendengar nama Farhan disebut, Kinara mengernyitkan dahinya, "Farhan?".


"Iya Farhan. Boss sebenarnya di tempat Ajeng bekerja, karena saat ini Farhan masih di Jerman dan saat peristiwa kemarin dia juga ada di sana, jadi dia menitipkan ungkapan bela sungkawanya ke saya. Tapi ya baru bisa hari ini saya sampaikan langsung sama kamu. Dia berpesan agar kamu juga bisa tegar dan kuat. Dia percaya kamu wanita yang hebat", Erik menyampaikan dengan penuh pesan dari boss sekaligus sepupunya itu.


Kinara terdiam, entah apa yang dirasakan hatinya saat ini. Antara senang dan sedih, antara terharu dan kehilangan.


"Maaf ya kak, aku gak bilang dengan jujur kalau aku kerja di perusahaannya Farhan", giliran Ajeng yang bersuara. Selama ini dia memang tak pernah mau mengatakan dengan terbuka di mana dia bekerja. Hal itu sengaja dia lakukan selain karena permintaan Farhan, dia juga ingin menjaga perasaan kakaknya. Bagaimanapun juga Ajeng tahu, Farhan adalah sosok yang istimewa untuk Kinara, dan sebaliknya. Tapi disaat yang sama, Kinara sudah menikah dengan Erlangga, kakak kandungnya sendiri. Tentu Ajeng ingin menjaga perasaan mereka yang dia sayangi.


Kinara tersenyum tipis, "Tolong sampaikan terimakasih saya kepada Farhan, dan kamu Jeng, jangan merasa bersalah begitu. Tak apa, itu bukan masalah kok", jawab Kinara menatap Erik dan Ajeng bergantian.


Perbincangan mereka bertiga pun berlanjut. Beberapa kali Erik masih menggoda Ajeng, membuat wajah Ajeng sudah seperti kepiting rebus. Dia juga banyak berbincang dengan Kinara. Momen berharga menurutnya, peluang untuk mencari tahu seperti apa sosok Kinara ini hingga sepupunya, Farhan, tak pernah benar-benar bisa melupakannya.

__ADS_1


__ADS_2