
Uhuk-uhuk!
Suara batuk amat menyiksa terdengar alot dan menjengkelkan. Selimut tipis yang telah usang itu tak mampu menghilangkan dingin yang membuat tubuhnya menggigil. Dia meringkuk sendirian, khawatir batuk yang dia alami akan mengganggu orang-orang di sekitarnya.
Suara batuk itu terus terdengar hingga membangunkan salah satu orang yang berada di bawah naungan atap yang sama dengannya. Seorang gadis kecil terbangun, mengucek mata dan mencari keberadaan ibunya yang selalu tidur di samping.
Ia menoleh, mencari sosoknya yang tiba-tiba menghilang. Naina menyibak selimut, berdiri dan berjalan mengikuti suara rintihan Lita.
"Ibu!" panggilnya. Naina melangkah dengan hati-hati, terus keluar kamar menemui Lita yang meringkuk sendirian di ruang depan.
Melihat sesuatu bergelung selimut dan menggigil, Naina menghampirinya dengan cepat. Ia duduk di sampingnya seraya membaringkan tubuh dan memeluk tubuh berguncang itu.
"Ibu. Ibu sakit?" tanya Naina dengan lirih.
"Nggak tahu, Ibu cuma kedinginan aja." Lita menjawab dari dalam selimut sama sekali tidak membukanya meksipun Naina memeluk erat.
"Ibu udah minum obat?" Dia bertanya lagi.
"Udah, sayang. Udah, ya. Kamu tidur, jangan mikirin Ibu. Besok juga sembuh," sahut Lita membiarkan anaknya itu tidur di sana.
Pelukan yang diberikan tangan kecilnya sedikit membuat Lita merasa hangat dan mendapatkan ketenangannya.
Maafin Ibu, Nai. Ibu minta maaf.
Hatinya terus menerus meminta maaf pada putri satu-satunya itu. Rasa sesal semakin dalam di hati terus menggerogoti harapan yang dia miliki. Apalagi jika teringat pada Seira, wanita yang telah dia khianati hanya karena merasa iri dan ingin berada di posisinya sebagai istri Zafran.
Istri saudagar beras yang bergelimang harta. Mau apa saja tinggal meminta, tak perlu lagi bekerja keras sendirian, dan yang pasti laki-laki itu mudah sekali digoda.
Sei, aku minta maaf sama kamu, tapi aku bener-bener malu ketemu sama kamu. Maafin aku, Sei. Maaf.
Lita sadar semua yang terjadi padanya adalah karena perbuatannya sendiri. Keserakahan, rasa iri dan dengki, membawanya pada kehancuran yang perlahan membuat hidupnya dipenuhi dengan derita.
****
Uhuk-uhuk!
__ADS_1
"Sayang, hati-hati. Kenapa sampe batuk-batuk?" Fatih memberikan segelas air pada istrinya.
Ia sedang menemani Seira yang terbangun karena tangisan Fathiya. Meski matanya terlihat sayu dan berat, laki-laki itu tetap terjaga menemani sang istri.
"Makasih, Mas. Kalo Mas ngantuk tidur aja, nggak apa-apa," ucap Seira merasa kasihan pada ayah anaknya itu.
"Nggak apa-apa, Mas kuat, kok. Mas mau temenin kamu," sahut Fatih keukeuh.
Ia beringsut mendekati kepala sang anak, turut bersandar di kepala ranjang, memperhatikan wajah mungil itu. Hanya ada Fatih di sana, sedikit milik Seira, mungkin hanya di bagian bibirnya saja yang tipis.
Fatih mengusap-usap dahinya, merasa telah sempurna menjadi seorang laki-laki. Lagi-lagi teringat pada masa-masa Rayan dilahirkan. Tak ada siapapun yang menemaninya seperti saat ini. Tengah malam terbangun, hanya seorang diri. Jika haus tak ada yang membantunya mengambilkan minum, terus menunggu sampai Rayan tidur kembali.
Terkadang, menyusui sambil tertidur. Rasa lelah itu ia tanggung sendiri. Seira tak pernah menyulitkan Bi Sari dalam mengurus keseharian bayinya, semua dilakukannya seorang diri meski harus dengan hati-hati.
Sekarang, laki-laki yang berstatus suaminya itu tak pernah membiarkannya kesulitan. Mungkin hanya mandi saja yang tak turut andil dalam mengurus bayinya. Fatih bahkan tak segan mengganti popok ketika Fathiya mengompol ataupun pup.
Seira menjatuhkan kepala di pundak laki-laki itu, bersyukur karena dipertemukan dengannya meskipun tanpa sengaja.
"Sayang, boleh Mas tanya?" Fatih mengecup kepala Seira sekenanya.
Tangan Fatih menahan kepalanya yang hendak beranjak. Memintanya untuk tetap berada di sana, di pundaknya. Dia selalu merasa berguna saat sang istri melakukan hal itu.
"Tapi kamu jangan sedih, ya. Mas cuma pengen tahu aja," ucap Fatih lagi mengingatkan.
Seira menggerakkan kepala tanda setuju. Menunggu pertanyaan seperti apa yang akan diajukan oleh suaminya itu.
"Waktu Rayan lahir, apa dia kayak Fathiya juga?" tanyanya penasaran.
Seira terdiam, semua itu baru saja melintas dalam pikirannya. Fatih bertanya karena ia melihat sendiri betapa tidak mudahnya menjadi seorang Ibu yang harus terbangun di tengah malam berbagi waktu istirahat dengan tangisan sang bayi.
Semua yang ingin dilakukannya harus ditunda karena mengutamakan bayinya. Termasuk makan. Fatih selalu merasa kasihan setiap kali melihat Seira makan harus ditunda karena Fathiya menangis ingin menyusu.
Membayangkan saat itu di mana tak ada suami yang menemani, yang menguatkan, yang menyuapi ketika makan, rasanya hati Fatih teriris dan sedikit menyesal sebab terlambat menemukan keberadaan mutiara seindah itu.
"Iya, Mas. Semua bayi sama aja. Pasti selalu bangun tengah malam. Itu normal, Mas, karena artinya bayi kita sehat," jawab Seira tanpa beban.
__ADS_1
Ia pandangi wajah Fatih kecil, bersyukur dalam hati karena memiliki keduanya.
"Terus siapa nemenin kamu kalo Rayan bangun tengah malam kayak gini? Apa Bi Sari?" tanyanya lagi, Fatih melingkarkan tangan pada tubuh sang anak menimpa tangan Seira.
Hangat, sentuhan lembut laki-laki itu selalu membuat hatinya menghangat. Setiap apa yang dilakukannya selalu menghadirkan kebahagiaan.
"Nggak ada, Mas. Bi Sari udah tua, aku nggak tega ngerepotin dia. Makanya, Mas kalo ngantuk tidur aja. Aku udah biasa dan emang kayak gini kalo punya bayi," jawab Seira meyakinkan suaminya.
Ia mengangkat kepala seraya menatap laki-laki baik hati itu, mengecup pipinya tanpa segan sebagai ucapan terima kasih yang tak berwujud kata-kata.
Fatih tersenyum, rasa rindu tiba-tiba menyeruak. Sampai kapan dia harus berpuasa?
"Sayang, Mas harus puasa, ya?" tanyanya tiba-tiba.
Seira menganggukkan kepala.
"Sampai kapan?" Raut wajah laki-laki itu terlihat murung, bibirnya mengerucut panjang ke depan.
"Mmm ... sekitar dua bulanan. Aku lahiran normal, Mas. Harus nunggu sembuh dulu. Kamu sabar, ya. Mmm ... Mas, nggak apa-apa, kan, nunggu selama itu?" Giliran Seira yang berwajah muram.
Yah, trauma itu masih ada. Selalu menjadi mimpi buruk dalam hidupnya, mengingat Fatih yang harus menahan hasrat selama itu ketakutan tiba-tiba muncul menyerang hatinya. Itu wajar, bukan? Untuk seorang wanita yang pernah mengalami pengkhianatan dalam pernikahan.
Fatih menangkap alunan kesedihan dari kalimat yang terucap lisannya. Terus menyesal dalam hati karena wajah muram itu. Dia hampir lupa, dulu Seira adalah jelmaan luka pengkhianatan. Tentu tak mudah untuknya menghapus trauma itu, apalagi posisinya sekarang tak dapat melayani Fatih.
"Nggak apa-apa, sayang. Jangan murung kayak gitu, ah. Mas nggak suka lihatnya. Senyum, ya." Fatih mengusap bibirnya, rasa sesal terus hadir di hati karena mengusik luka masa lalu.
"Aku cuma takut, Mas-"
"Mas ngerti, sayang. Mas ngerti. Udah, jangan diinget-inget lagi." Fatih mendekap kepala Seira, wanita itu menangis tanpa dapat ditahan.
Betapa Fatih mengerti apa yang sedang dirasakan olehnya. Seira pasti takut Fatih akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Zafran dulu.
"Mas nggak akan ngelakuin hal bodoh kayak dia, sayang. Mas udah janji sama Ibu, juga di depan makam kedua orang tua kamu, dan sekarang Mas juga berjanji di depan anak kita. Lagipula Mas punya adik perempuan, dan anak Mas juga perempuan."
Fatih tak ingin hal yang sama menimpa pada adik dan anaknya kelak. Cukup hanya ada Seira, jangan pernah ada yang lain lagi. Jika dia menjadi ayah Seira waktu itu, mungkin akan membunuh Zafran. Begitulah isi pikiran Fatih.
__ADS_1
Teringat pada ucapan seorang ustadz, "Zina adalah hutang, dan setiap hutang harus dibayar."