Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Tidak Sekarang


__ADS_3

Zafran ambruk di lantai sambil memegangi perut, wajahnya meringis dan mengernyit kesakitan. Peluh bercucuran di sekitar wajah hingga lehernya, Zafran mengerang merasakan sakit yang hebat melilit bagian bawah perutnya.


Rekan yang melihat segera memanggil petugas jaga dan memberitahukan perihal kondisi Zafran. Sigap, petugas itu menelpon ambulans setelah memastikan keadaan Zafran. Dia tidak main-main.


Cukup menunggu beberapa menit saja mobi yang dinanti pun tiba. Petugas ambulans membawa tubuh Zafran masuk ke dalam mobil, dan melaju menuju rumah sakit.


"He-hendra, ba-bawa sa-saya ke tempat He-hendra," pintanya terbata dan dengan napas yang berat.


Petugas tentu tahu siapa yang dimaksud. Zafran semakin tidak tahan, sesekali akan menjerit saat rasa sakit itu semakin meremuk-redamkan seluruh tulang dalam tubuhnya.


Mereka tiba di rumah sakit, Zafran segera diturunkan dan dibawa dengan cepat menuju ruang Instalasi Gawat Darurat.


"Ah, Dokter Hendra? Kebetulan, pasien ini mencari Anda," ucap salah satu petugas saat melihat laki-laki berkacamata itu berjalan di lorong yang sama.


Ia mengernyit, langkahnya yang sempat berhenti kembali berlanjut mendekati pasien yang dimaksud.


"He-hendra?"


"Zafran? Kamu kenapa?" tanya Hendra setelah melihat pasien tersebut.


"A-aku nggak tahu, Hen," jawab Zafran tersengal-sengal.


"Mohon maaf, Dokter. Yang saya dengar dari tahanan lain kalo saudara Zafran tiba-tiba saja merasa sakit dan jatuh di lantai," ucap salah satu petugas polisi yang mengawal Zafran.


Hendra mengusap wajah, meminta pada para petugas untuk segera membawa Zafran ke IGD. Dia sendiri lekas menyusul sambil berdecak kesal berkali-kali.


*****


Sementara di restoran Fatih, di sebuah rumah kecil belakang tempat makan tersebut, Seira sedang berkumpul bersama keluarganya di teras. Menikmati aroma segar dedaunan, juga bunga-bunga yang bermekaran meski akan layu saat siang hari.


Keduanya asik bermain bersama Fathiya, sedangkan Rayan masih tertidur di kamarnya. Seira menyematkan senyum melihat Bi Sari begitu asik dan ceria mengajak Fathiya berbicara.


"Bi, menurut Bibi pake kerudung itu ribet nggak, sih?" tanya Seira menatap arak-arakan awan di langit sebelum melirik ke arah wanita tua itu.

__ADS_1


Bi Sari yang sedang asik pun teralihkan oleh pertanyaan wanita yang dia anggap anak sendiri. Tersenyum menebak apakah Seira berkeinginan untuk menyempurnakan diri sebagai muslimah.


"Non salah kalo tanya sama Bibi, coba tanya sama gadis penjaga toko kue itu. Dia pasti punya jawabannya," jawab Bi Sari tak dapat memberikan jawaban yang tepat karena dia sendiri pun tidak mengenakannya.


"Mmm ... begitu, ya, Bi." Seira manggut-manggut mengerti.


Salah satu penjaga toko kuenya memang mengenakan hijab, tapi jarang terlihat di depan. Lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mencatat berbagai pesanan di ruangan khusus.


"Coba nanti aku mau tanya sama dia," katanya sambil tersenyum dengan semu merah yang menyembul di kedua pipi.


"Apa Non ada keinginan buat pake kerudung?" selidik Bi Sari dengan hatinya yang berdenyut.


Bukan rasa sakit, tapi justru rasa bahagia dan haru. Entahlah, dia sendiri tidak tahu dari mana asalnya.


"Nggak tahu juga, Bi. Kalo liatnya aku suka, tapi bayanginya kayaknya ribet, ya." Seira tertawa sumbang.


Ia pernah mendengar seorang ulama mengatakan dalam ceramah yang disampaikannya, bahwa seorang perempuan hendaknya memakai penutup kepala.


"Tapi kayaknya Non makin cantik kalo pake kerudung." Bi Sari tersenyum sampai-sampai kedua sudut matanya berkerut banyak.


Apakah itu merupakan sebuah panggilan Tuhan untuk datang menghadap-Nya dalam keadaan sempurna? Namun, tiba-tiba ....


"Mamah!" jerit Rayan yang menyentak dua wanita itu.


Seira terdiam mendengarkan bahwa suara tadi benar-benar nyata.


"Mamah!"


Rayan memanggil-manggil Seira sambil menangis histeris. Selayaknya seorang anak kecil yang tak dituruti apa maunya. Seira berdiri dengan cepat terus berlari masuk sampai di kamar anaknya itu.


"Sayang? Kamu kenapa, Nak?"


Seira membuka pintu, melihat Rayan yang duduk di tengah ranjang ketakutan. Bocah itu membelalak saat melihat Seira, lantas berlari menuruni ranjang dan memeluk mamahnya.

__ADS_1


"Mamah, Rayan takut, Mah. Rayan takut," ucapnya bergetar dan lirih.


Seira mengernyit, mengangkat tubuh Rayan dalam gendongan dan berjalan menuju teras rumah.


"Kenapa, Nak? Rayan mimpi, ya?" tanya Bi Sari sambil mengusap-usap kepalanya yang lembab karena keringat.


Seira mendekapnya di atas pangkuan, mengecup ubun-ubun milik anaknya itu.


"Rayan kenapa, sayang? Apa Rayan mimpi?" tanyanya disambut anggukan kepala.


"Mimpi apa, sayang? Coba bilang sama Mamah," ucap Seira penasaran.


Mimpi seperti apa yang membuat Rayan terbangun sambil menjerit-jerit di siang bolong seperti itu.


"Rayan mimpi ada ... ada laki-laki yang mau ambil Rayan dari Mamah. Dia maksa Rayan buat ngikutin dia. Rayan takut, Mah. Gimana kalo dia ada beneran terus mau nyulik Rayan?" ungkapnya secara nyata memang terlihat benar-benar ketakutan.


Mendengar itu, Seira teringat pada Zafran yang beberapa hari lalu dia lihat. Timbul pertanyaan apakah Zafran sudah keluar penjara?


Seira mendekap tubuh Rayan, menciumi kepalanya dengan penuh cinta. Ia tak ingin dipisahkan dari anaknya itu. Sampai kapanpun bahkan jika harus dibayar nyawa, dia tak akan menyerahkan Rayan pada laki-laki itu.


"Udah, ya. Tenang. Nggak ada yang bisa ambil Rayan dari Mamah. Ingat, ada Papah. Papah nggak akan ngebiarin siapapun ngambil Rayan dari Mamah. Rayan harus percaya itu, ya." Seira menangkup wajah gembil itu dengan kedua tangan.


Matanya bergulir kian kemari, jejak kesedihan jelas terlihat nyata di sana. Seira harus menekan rasa takutnya, dia harus bisa melawan semua rasa yang membuatnya lemah. Ketakutan, kegelisahan, juga rasa was-was yang tak berkesudahan. Semua itu menjadikan jiwa lemah dan akhirnya membuat dirinya terkurung dalam kubangan ketakutan.


Bi Sari yang mendengar turut cemas. Berharap masa tahanan laki-laki itu akan ditambah lebih lama lagi.


"Mamah bener, sayang. Papah pasti nggak akan biarin orang lain misahin Rayan dari Mamah," timpal Bi Sari sambil mengusap-usap punggung Rayan.


Perlahan, bocah kecil itu menjadi tenang. Ia masih sesenggukan di dada mamahnya, melingkarkan tangan pada pinggang sang mamah seraya mengangguk pelan.


"Rayan percaya sama Papah, orang itu jahat, Mah. Mukanya serem banget, Rayan takut." Suara Rayan kembali terdengar lirih. Menusuk-nusuk jantung Seira.


"Tapi Rayan bingung, kenapa dia bilang kalo dia itu ayah Rayan? Bukannya ayah Rayan itu Papah, ya, Mah?" lanjutnya membuat Seira terhenyak.

__ADS_1


Tidak! Zafran tidak boleh tahu bahwa dia memiliki anak dari Seira, tapi ditolak pun percuma. Wajah anak itu memang mirip dengannya. Zafran pasti akan mengenali begitu mereka bertemu.


Nggak sekarang kamu harus tahu tentang Papah kamu, Nak.


__ADS_2