Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Sebuah Nama Berharga


__ADS_3

"Sayang, Mas ada reuni di restoran. Kamu ikut, ya. Mereka semua juga bawa pasangannya. Kita cuma sehari aja, kok."


Fatih merayu Seira malam itu, sejak kepindahan mereka Seira belum lagi mendatangi restoran. Selalu saja ada alasan jika diajak pergi, padahal enggan berada di satu kota dengan mantan suaminya.


Namun, kali ini sepertinya Seira akan menuruti keinginan sang suami. Ia tersenyum, menjatuhkan kepala di bahu Fatih yang bersandar pada kepala ranjang. Tangannya secara otomatis melingkar merangkul Seira.


"Iya, Mas. Udah lama juga aku nggak jenguk Ibu. Sekalian aja, ya, kita ke sana." Seira mendongak sambil tersenyum.


Satu kecupan ia terima dengan mesra dari laki-laki yang menghujaninya dengan kebahagiaan. Keduanya larut dalam kehangatan cinta yang terjalin indah. Seira harus menyiapkan hatinya untuk kembali ke kota itu. Ia tetap saja was-was meskipun Zafran kini berada di dalam penjara.


*****


"Mamah, apa kita mau nengok Kakek sama Nenek? Rayan mau beli bunga buat mereka," tanya bocah itu sambil menggoyang-goyangkan kedua kaki yang menggantung di ranjang.


Seira tersenyum, melirik sebentar pada anaknya yang menunggu jawaban. Sementara tangannya sibuk membenahi barang-barang Rayan yang akan mereka bawa.


"Iya, sayang. Nanti kita ziarah ke makam Nenek sama Kakek. Mamah juga kangen sama mereka," jawab Seira sembari beranjak setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Ia menghampiri Rayan dan mencium dahinya, menurunkan anak itu dari ranjang, menuntunnya untuk menemui Fatih yang menunggu di ruang depan.


"Papah!"


Rayan melepaskan tangannya dari Seira dan berlari ke arah Fatih. Tak segan lagi melompat ke pangkuan laki-laki yang menjadi ayah sambungnya itu sehingga membuat Fatih mengaduh. Bocah itu tertawa lepas saat rasa geli menyerang pinggangnya.


"Udah, udah. Jangan digelitikin terus nanti cucu Nenek nggak mau makan." Ibu mencegah tangan Fatih yang menggelitik Rayan.


Tawa bocah itu terhenti, napasnya menderu berat, tapi rasa bahagia jelas terpancar di wajah keduanya. Senyum di bibir semua orang terbit sempurna, hati dua wanita tua di rumah mereka itu pun turut merasakan kehangatan.


Tak perlu lagi risau akan masa depan mereka, Fatih dan Seira pasti akan bahagia dan bisa melewati setiap masalah dengan baik.


"Kami pergi dulu, Bu. Mungkin akan nginep di sana barang satu minggu saja," pamit fatih pada Ibu.


"Iya, Nak. Nggak apa-apa, yang penting kalian semua sehat," jawab Ibu sambil mengusap kepala Fatih yang mencium punggung tangannya.

__ADS_1


Mereka berpamitan pada semua orang, Biya mengerucutkan bibir tak senang. Dia akan kesepian akhir pekan ini karena ditinggal Rayan menginap.


"Jangan sedih, Aunty. Rayan nggak lama di sana. Nanti Aunty bisa nyusul, kita main di mal lagi, ya," ucap Rayan sambil memegang tangan Biya dan menggoyangnya.


Gadis itu tetap saja cemberut, tapi menarik tubuh bocah itu ke dalam pelukan. Belum juga berpisah, rasa rindu sudah berkumpul di hatinya.


"Iya, Dek. Nanti nyusul aja ke sana, ya," ucap Seira pula menenangkan hati Biya.


Rumah itu akan sepi untuk beberapa hari ke depan. Tak ada tawa dan celoteh dari Rayan yang akan mereka dengar. Pastilah rindu akan menumpuk dan menjadi berat.


*****


Di restoran, mereka disambut dengan baik oleh semua karyawan terutama Jago yang antusias dengan kedatangan sang majikan. Laki-laki itu ingin mengenalkan anaknya pada mereka. Supaya bisa berteman akrab dan saling menjaga satu sama lain.


Sebuah ruangan disulap menjadi kamar untuk mereka tempati sementara waktu ini. Oleh karena rumah mereka telah dijual, jadi mereka akan tinggal di restoran selama di sana. Tak apa, lagipula Seira tidak keberatan sama sekali.


"Kalian istirahat duluan, ya." Fatih mengajak mereka ke kamar dan membantu Seira menyusun barang-barang.


"Papah mau ke mana?" tanya Rayan.


"Papah mau ketemu dulu sama Om Gilang, Rayan sama Mamah di sini aja, ya." Fatih mengusap kepala Rayan dan membantunya berbaring. Ia mengecup dahi anak itu, bergantian dengan Seira sebelum pergi menemui Gilang.


Seira berbaring di sisi Rayan, memeluk tubuhnya dengan hangat. Tertidur bersama setelah lelah di perjalanan. Seira mengusap perutnya yang membesar sambil membacakan sholawat di dalam hati sampai ia terlelap dalam buai alam mimpi.


Sementara Fatih menemui Gilang di ruangannya, berbincang tentang perkembangan restoran dan segala kendala yang ada.


Fatih mendesah lega setelah mendengar laporan Gilang. Tak ada masalah berarti yang dialami restoran karena meskipun banyak restoran baru berdiri, pelanggan mereka tetap setia datang dan menikmati makanan di sana.


"Ayah, ayo, cepat! Katanya Ayah mau ngenalin aku sama Kak Rayan. Aku nggak sabar, Ayah."


Suara anak kecil yang terdengar di luar menghentikan langkah Fatih yang baru saja keluar dari ruangan Gilang. Ia melirik dengan dahinya yang mengkerut, mencari pemilik suara nyaring yang melengking tinggi di luar.


"Iya, sayang, tunggu sebentar. Mungkin Den Rayan lagi istirahat sekarang."

__ADS_1


Fatih tersenyum saat mengenali suara itu. Dia Jago, dan suara anak itu pastilah anaknya Jago. Ia membawa langkahnya keluar menemui mereka.


Di sana, seorang gadis kecil sedang menarik-narik tangan Jago mengajaknya masuk ke restoran. Fatih melambaikan tangan memanggil mereka.


"Ba-bapak. Maaf, ini anak saya bikin keributan," ucap Jago tak enak.


"Nggak apa-apa. Sini! Om mau kenalan," panggil Fatih.


Gadis kecil itu melepaskan tangannya dan berlari ke hadapan Fatih. Ia tersenyum sumringah, terlihat segar dan bersemangat meskipun keringat membanjiri wajah, dan napasnya tersengal-sengal.


"Siapa nama anak cantik ini?" tanyanya sambil mengusap kedua tangan anak itu.


"Maharani, Om. Panggil aja Rani," katanya.


Alis Fatih bertaut, nama itu adalah kepanjangan nama istrinya. Rasa curiga mendatangi hati, menatap Jago tak senang. Adakah sesuatu yang terjadi di antara mereka.


Namun, sekonyong-konyong, seorang ibu muda datang sambil berlari tergesa menghampiri anak tersebut.


"Rani! Maaf, Pak. Maafkan anak saya," ucapnya merasa tak enak.


"Kenapa? Namanya ... jelaskan apa maksud kamu, Dirman?" Pelan, tapi menusuk. Ia ingat betul pada pertemuan mereka berdua waktu itu. Oh, Fatih salah faham.


"Pak, maaf, jangan tersinggung. Nama itu saya yang kasih karena saya sangat mengagumi Non Sei, dan saya ingin anak saya nanti bisa punya sifat baik kayak Non Sei. Jangan salah faham, Pak." Wanita itu menyela dengan cepat. Menatap gelisah pada semua orang.


Fatih memicing, tak ingin langsung mempercayai ucapannya begitu saja.


"Pak, tolong jangan salah faham. Saya berani bersumpah kalo ucapan saya ini nggak bohong, tapi kalo Bapak nggak suka saya ganti aja nama anak saya ini Pak." Wanita itu menjelaskan dengan bergetar.


Ia melirik Jago, ada rasa bersalah di hatinya karena menyematkan nama panjang Seira pada anaknya. Sebenarnya, tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah, Seira dan Jago pernah terlibat di masa lalu. Dan Fatih tak tahu apa yang sudah mereka lewati di masa lalu itu.


"Tapi, Bu. Aku suka nama itu." Bocah itu merengek seraya menoleh pada Fatih, "Om, nggak apa-apa, kan, aku pakai nama itu. Aku suka. Kata Ibu, majikan Bapak dulu orangnya baik, dan namanya sama kayak nama aku. Ibu mau aku bisa jadi kayak beliau yang baik, dan suka menolong," lanjutnya membuat hati Fatih terenyuh.


Ia menatap Jago, laki-laki itu tampak tak enak. Sementara istrinya gelisah karena rasa bersalah. Ia tersenyum, kemudian menatap gadis kecil itu.

__ADS_1


"Iya, nggak apa-apa. Maafin Om, ya. Udah salah faham. Kamu boleh pakai nama itu, tapi jangan disalahgunakan, ya." Fatih tersenyum, gadis kecil itu mengangguk mantap. Kesalahpahaman pun tak sampai berlarut.


__ADS_2