
"Sayang. Kenapa?"
Sebuah tangan yang melingkar di pundak membuat Seira terkejut. Ia menoleh pada suaminya sambil mencubit pipi itu. Fatih tertawa seraya menggenggam tangan Seira dan mengecupnya.
"Tadi ada anak kecil yang datang ke sini, Mas. Kasian, deh." Seira mengalihkan pandangan ke tempat di mana anak kecil itu pergi.
Fatih turut memandang ke satu arah, pada kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan.
"Di sini emang banyak anak-anak kecil yang suka mengamen. Kadang mereka dimanfaatkan orang-orang yang nggak bertanggungjawab buat cari uang. Mas juga nggak ngerti kenapa zaman modern kayak gini masih ada perbudakan?" Fatih mengeluh, tangannya turun ke bawah melingkari pinggang sang istri.
"Sayang, kita periksa kandungan, yuk. Sekalian USG aja, kayaknya udah cukup buat USG. Dia lagi aktif banget soalnya," ucap Fatih sembari mengusap-usap perut besar Seira.
"Iya, nggak apa-apa, Mas. Kesorean nggak nanti, Mas? Kasihan Rayan takutnya nungguin kita," sahut Seira.
"Nggak, kamu tenang aja."
Seira menganggukkan kepala, bayi di dalam perutnya memang aktif bergerak di usianya yang ketujuh bulan.
"Pak." Teguran di belakang mereka membuat Fatih dan Seira sama-sama berbalik untuk melihat sosoknya.
Seorang laki-laki muda dengan lesung pipi kedua sisinya yang akan nampak setiap kali dia berbicara. Terlihat manis. Di tangannya memegang sebuah map berisi dokumen penting milik toko.
"Ah, iya. Sayang, ini Rayan. Dia emang masih muda, tapi jiwa bisnisnya jangan diragukan lagi." Fatih memperkenalkan mereka berdua.
Seira tersenyum sambil menangkupkan tangan di dada, begitu pula sebaliknya. Pemuda itu menyerahkan map di tangan pada Fatih sesuai yang diminta laki-laki itu.
"Saya titip lagi toko, ya. Kalo ada apa-apa kasih tahu saya dengan cepat," ucap Fatih yang diangguki oleh Rayan.
Mereka berpamitan pada semua orang, meninggalkan toko idaman Seira. Jauh di hati kecilnya, dia sendiri yang ingin mengelola. Akan tetapi, ia harus menghargai dan menghormati suaminya yang tak ingin membuatnya berlelah-lelah bekerja.
Itu adalah syarat mutlak dari Fatih yang harus dilakukan Seira jika dia ingin membuka usaha. Cukup mengarahkan, tak perlu terlibat langsung di dalamnya.
Mobil mereka memasuki kawasan rumah sakit terbesar di bilangan kota Jakarta. Tempat yang tak pernah sepi dari hilir-mudik manusia.
__ADS_1
Pemandangan serba putih pun langsung menyapa mata mereka, Fatih menggandeng tangan Seira menuju pendaftaran. Setelahnya, mereka pergi ke ruang kandungan untuk pemeriksaan.
Beruntung, siang itu antrian tidak terlalu banyak. Hanya menunggu dua orang tidak terlalu menghabiskan waktu banyak. Mereka berdua ditemani oleh suami mereka yang sibuk bermain ponsel. Mungkin karena bosan menunggu, tapi berbeda dengan Fatih yang duduk menumpuk kaki sambil melingkarkan tangan di pundak Seira.
Sesekali akan mengusap perut besar sang istri, dia selalu merasa bahagia setiap janin itu bergerak menyentuh tangannya.
"Mas dulu paling takut datang ke rumah sakit, kalo sakit juga Mas nggak pernah mau diajak Ibu ke sini. Takut disuntik, sekarang aja Mas berani datang buat periksa anak kita," bisik Fatih yang tak tahu malu. Tangannya kembali mengusap perut Seira dan kali ini menempelkan teling di sana.
Seira mengulum senyum, mengedarkan pandangan ke segala arah khawatir banyak orang yang tengah memperhatikan. Memang benar, beberapa pasang mata kedapatan sedang menatap mereka.
Ia menghela napas, mencoba untuk tidak peduli pada pandangan semua orang. Fatih adalah suaminya dan ayah dari anak yang berada di kandungannya. Tak perlu peduli pada yang lain, dan tak perlu memikirkan pandangan orang.
Di kejauhan seseorang nampak mengernyit melihat keduanya, dia berdiri dengan jas putih membalut tubuh, tak berkedip menatap wanita yang tengah hamil besar itu.
"Sei? Kenapa orang itu mirip banget sama Sei?" gumamnya masih bergeming di tempatnya berdiri.
Namun, sebuah teguran menyentak tubuhnya. Masih banyak pasien yang sedang menunggu untuk diperiksa dan dia harus cepat. Terpaksa masuk kembali ke ruangan, dan bekerja seperti biasa.
Dokter itu kehilangan konsentrasi, bayangan wajah wanita hamil tadi terus melayang-layang dalam pikiran memecah fokusnya.
Nama Seira disebut, keduanya beranjak masuk ke dalam ruangan tepat saat dokter yang tadi membuka pintu dan keluar. Dia celingukan mencari-cari Seira, hanya ingin memastikan bahwa matanya tak salah melihat.
"Ah, sial! Terlambat, apa mereka udah pergi, ya." Dia mengumpat kesal. Masuk kembali ke ruangan, terus saja uring-uringan seperti seseorang yang memiliki keluhan.
Sementara Seira di dalam sana, tengah bersiap untuk melakukan USG. Di samping ranjang, Fatih duduk menghadap layar sambil memegang tangannya.
Dokter menunjukkan perkembangan bayi mereka yang sehat di dalam sana. Ada rasa haru menyeruak dari dalam hati, menciptakan genangan di pelupuk mata yang perlahan memanas.
Anakku. Dia anakku.
Fatih bergumam dalam hati, betapa ia bersyukur karena dipertemukan dengan Seira dan menikahinya. Sampai akan memiliki anak buah cinta mereka.
"Untuk jenis kelamin, ini tidak terlalu jelas, ya. Biasanya yang seperti ini tanda anak perempuan," ucap dokter mencari-cari sesuatu yang tak jelas.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Dokter. Yang penting dia sehat," sahut Fatih dengan suaranya yang bergetar menahan rasa haru.
Seira mengeratkan genggaman, memberinya ketenangan serta kekuatan. Jodoh terbaik memang ada, dan tak akan pernah tertukar dengan siapa pun meski harus melewati masa-masa sulit terlebih dahulu.
Keduanya keluar ruangan dengan hati yang riang gembira. Kembali duduk di bangku mengantri obat yang diresepkan dokter.
"Mas, kita mau langsung ke mal, 'kan?" tanya Seira teringat pada Rayan.
Fatih melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul lima belas lebih beberapa detik saja. Ia tersenyum sambil melingkarkan tangan di pundak sang istri.
"Iya, sayang. Apa mau ke makam Ayah sama Ibu dulu?" tawar Fatih, tak lepas menatap wajah Seira yang selalu terlihat cantik setiap hari bahkan bertambah cantik semasa hamil sekarang ini.
"Tapi Rayan gimana? Dia pengen banget jenguk mereka," ucap Seira teringat antusias anak itu yang ingin menjenguk makam kakek dan neneknya.
"Iya, kamu bener. Ya udah, besok aja, ya. Sekalian kita pulang."
Seira menganggukkan kepala setuju. Menginap sehari lagi rasanya tidak masalah. Teringat akan berita tadi pagi yang dilihatnya di televisi, Seira ingin mengkonfirmasi kepada Fatih.
"Oya, Mas, tadi pagi aku lihat berita sama Rayan. Ada kamu sama Jago, tapi gak jelas beritanya. Di sana juga ada Mala, dia kelihatan marah gitu," tanya Seira sambil menatap suaminya.
Fatih tertegun, ia tak tahu jika aksinya semalam akan masuk berita di televisi.
"Kamu nggak salah lihat?"
Seira menggelengkan kepala.
"Oh, itu ... perempuan itu buka tempat yang bikin warga resah. Kayak semacam rumah bordil gitu."
"Inna lillaahi wa Inna ilaihi rooji'uun. Ya Allah, apa dia nggak takut dosa, ya. Terus sekarang gimana?" Seira tak ingin mempercayainya, tapi dari video singkat yang dia lihat itu wajah semua warga memang tampak marah.
"Udah beres, mereka juga udah ditangkap polisi."
Seira bersyukur sekaligus bersedih. Akhir zaman, apa saja dilakukan demi mendapatkan rupiah. Mereka meninggalkan rumah sakit setelah mendapatkan obat. Berjalan pelan di sepanjang lorong, tangan Fatih tak terlihat menjauh dari pinggang sang istri. Suami siaga.
__ADS_1
"Sei!"
Sebuah panggilan membuat langkah mereka terhenti.