
Gedung-gedung tinggi, pijar-pijar lampu, suara bising berbagai kendaraan, kemacetan yang mengular hingga berpuluh-puluh meter panjangnya, menyambut kedatangan Seira yang pulang ke kota kelahiran.
Ibu, Ayah, Sei pulang. Sei kangen sama kalian.
Seira menghela napas panjang, ada sesak yang merebak dalam dada. Matanya memanas, hatinya bergolak, entah seperti apa kehidupan yang akan dia jalani untuk ke depannya, semua ia serahkan kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Ia menyusun skenario, tapi Sang Kuasa pun memiliki skenario-Nya sendiri, dan skenario milik-Nyalah yang terbaik.
Fatih melirik, hatinya berdenyut melihat sang bidadari tertunduk. Ia meraba pelan jemari Seira dan menggenggamnya, menciuminya agar hati sang pujaan menjadi tenang. Seira melirik, tersenyum dalam keremangan lampu kota mendapat perlakuan manis dari laki-laki di sampingnya.
Mata Seira melirik Rayan yang masih terlelap, sedangkan Bi Sari telah terbangun sejak tadi. Suara klakson yang ditekan para pengemudi karena rasa tak sabar ingin segera merebahkan diri di rumah, mengganggu lelapnya tidur sang bocah.
Rayan terbangun, mengucek mata demi menjernihkan pandangan. Ia mendekatkan wajah pada jendela mobil, menatap takjub pada keramaian kota Jakarta.
"Nenek, apa kita udah sampe di Jakarta?" tanyanya dengan suara parau khas bangun tidur tanpa menarik diri dari jendela.
Mobil perlahan maju dan meninggalkan kemacetan yang tak pernah usai di kota padat penduduk tersebut.
"Iya, sayang. Kita udah sampe di Jakarta," jawab Bi Sari sembari mengusap punggung Rayan.
Bocah itu menjauh dari kaca, berjalan pelan ke depan dan duduk di pangkuan Seira. Mobil kembali ramai oleh celotehan Rayan yang bertanya ini dan itu.
"Mamah, di mana kereta cepatnya? Rayan mau lihat," tanyanya.
Ia tak terlihat lelah ataupun lesu meski baru terbangun dari tidur, mungkin karena bersemangat ingin bertemu dengan sang Nenek.
"Ada di stasiun, sayang. Kereta nggak di jalanan, mereka punya tempat sendiri kayak rumah," jelas Seira yang membuat Rayan semakin tak sabar ingin melihat kereta.
"Pasti rumahnya besar, nggak kayak rumah kita. Apa Rayan bisa main di rumah kereta?" Seira dan dua orang dewasa lainnya tertawa spontan.
"Nanti kamu juga tahu. Sekarang, kita cari makan dulu, ya, sebelum ke rumah Nenek," ucap Fatih sembari mengusap kepala sang anak dengan lembut.
__ADS_1
Bocah itu mengangguk, mobil berhenti di parkiran restoran miliknya sendiri, tapi tak satu pun ada yang tahu. Ia datang ke sana sebagai tamu malam itu. Mengajak Seira dan Bi Sari sambil menggendong Rayan memasuki restoran.
"Selamat datang, Pak-"
Seorang resepsionis di pintu masuk restoran menganga tak percaya, tapi kedipan mata dari laki-laki itu menjadi kode untuknya agar tidak membongkar identitas Fatih. Ia mengangguk, menetralkan detak jantung seraya melanjutkan kalimatnya yang terputus.
Setelah bersekongkol dengan semua karyawan, Fatih memilih meja dan membiarkan mereka memilih menunya sendiri.
"Mas, aku nggak ngerti menu apa? Tulisannya nggak sama kayak di restoran biasa," bisik Seira sambil menyodorkan menu pada Fatih. Matanya mengedar ke segala arah, pada bangku-bangku yang terisi penuh oleh pengunjung malam itu.
"Papah, tempat ini rame banget. Coba toko Mamah segede ini, pasti orang-orang yang datang akan banyak kayak gini juga," celoteh Rayan setelah melihat dan menilai juga membandingkan dengan toko milik Seira di kota kecil tempat tinggal mereka.
Fatih mengusap kepala Rayan yang berada di pangkuannya, mengambil alih menu dari tangan sang istri, seraya memanggil pramusaji yang siap siaga di dekat mereka. Ia berbicara dengannya dan Seira hanya diam memperhatikan.
Sedikit heran pada semua pekerja di restoran tersebut, pertama wajah mereka memucat seperti terkejut melihat kedatangan rombongannya. Selanjutnya, sikap mereka berbeda terhadap Fatih dan pengunjung lain.
Seira berpikir mungkin Fatih sudah sering datang ke sana dan menjadi tamu istimewa. Mereka menunggu dengan bimbang, juga penasaran. Apa saja yang tertera pada buku menu yang ditulis dengan bahasa asing itu.
Satu per satu menu dihidangkan di atas meja mereka hingga nyaris tak ada tempat untuk membuka piring. Seira terkesima, Bi Sari ikut melongo, dan Rayan mengedipkan mata tercengang melihat berbagai makanan di atas meja mereka.
"Udah, makan aja. Mas nggak tahu kalian mau makan apa, jadi Mas minta sama pelayan buat bawa semua makanan," ucap Fatih santai.
Kenyanglah perut mereka bahkan makanan itu masih tersisa dan Seira meminta pada pelayan makanan yang tak disentuh mereka dibagikan pada anak-anak jalanan yang ia lihat di seberang restoran ini.
*****
Sementara di rumah, Ibu dan Biya pun baru menyelesaikan ritual makan malam mereka. Lalu, duduk di depan televisi menunggu kantuk. Tanpa menduga akan ada kejutan malam itu.
Mobil memasuki kawasan perumahan di mana rumah yang dibeli Fatih khusus untuk Seira berada. Wanita itu bersyukur karena Jakarta yang mereka tuju bukan tempat tinggalnya dulu bersama Zafran.
"Rumah di sini Mas beli atas nama kamu, Sei. Jadi kamu yang punya rumah itu," ucap Fatih ketika mobil berbelok memasuki gerbang rumahnya.
__ADS_1
Bangunan yang tidak sederhana, selain sudah megah sejak dibelinya, Fatih juga merenovasi beberapa bagian agar lebih pantas untuk dipandang.
Seira tak tahu harus menjawab apa, lidahnya kelu karena perasaannya yang meletup-letup. Mobil berhenti di halaman rumah besar itu, mereka dibuat takjub oleh kemegahannya.
Halaman yang luas, terdapat taman kecil dengan meja bundar yang dikelilingi bangku kayu di tengahnya. Di sudut taman itu pula, ada gazebo kecil dengan lampu berkedip yang menghiasinya. Kolam kecil berada tak jauh dari gazebo, yang diberi beberapa ikan hias di dalamnya.
Lampu taman menyala tak kalah dengan keadaan taman di kota. Asri dan sejuk, cukup nyaman untuk bersantai. Dua wanita di dalam sana tak acuh meski mendengar suara mobil Fatih. Sudah biasa.
Namun, keduanya mengernyit saat pintu mobil terbanting beberapa kali, menduga-duga saling melempar pandangan. Biya buru-buru bangkit dari sofa dan berlari menuju pintu utama.
"Ah ... gantengnya Aunty! Bu ... Rayan, Bu!" teriaknya histeris.
"Aunty!"
Keduanya berlari saling membentang tangan, saling berpelukan melepas rindu. Ibu yang mendengar teriakan putri bungsunya bergegas mendatangi teras.
"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Seira seraya meraih tangan Ibu dan menciumnya.
Ibu tak mampu menjawab karena terkejut melihat mereka di rumah itu. Malam yang tak disangka, putranya datang membawa kebahagiaan. Ibu memeluk Seira erat, menangis saking bahagianya.
"Masuk, masuk! Maa syaa Allah!"
"Bu!" Bi Sari turut menyapa, tak dinyana Ibu memeluknya juga.
"Kenapa kamu nggak kasih kabar Ibu kalo mau bawa mereka ke sini? Ibu, kan, bisa nyiapin semuanya," sungut Ibu sambil memukul bahu Fatih.
Rayan dan Biya sudah lebih dulu berada di dalam rumah, remaja itu membawanya ke sebuah ruangan khusus untuk tempat bermain Rayan. Ada banyak mainan di sana, dan semua itu membuat Rayan takjub.
"Maaf, Bu, tapi Sei nggak mau Ibu repot."
Mereka duduk di ruang tengah, melepas penat di bawah suhu udara yang sejuk. Ibu memanggil sang asisten untuk membuatkan minuman. Rumah itu ramai seketika, apalagi saat Rayan datang membawa mainan baru yang disiapkan mereka untuknya.
__ADS_1
Alhamdulillah, ya Allah. Rumah ini akhirnya ramai juga. Terima kasih, ya Allah, Engkau sudah menguatkan hati menantuku untuk datang ke sini.
Tak ada lelah yang ditunjukkan balita itu, ia bermain dengan senang ditemani Biya yang riang. Rumah yang biasanya dingin mencekam, perlahan berubah hangat dan menyenangkan.