Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Bertemu Muka


__ADS_3

Di depan cermin rias di kamar yang tak seluas rumah milik mereka, Seira menatap pantulan dirinya di sana. Wajah yang berbeda dengan yang dulu, tampak berseri dan bersinar. Tak lagi ada kerutan, apalagi noda hitam, bersama Fatih dia benar-benar dimanjakan.


Tubuh yang dulu kurus bahkan ada lingkaran hitam mengelilingi mata indahnya, kini tak lagi terlihat. Meski tidak gemuk, tapi cukup berisi dan padat. Dua anak yang telah dia lahirkan, kulit perutnya pun sedikit mengendur meski tidak buncit. Seperti halnya sebuah balon yang akan kencang ketika belum diisi udara, tapi setelah ditiup akan mengendur dengan sendirinya.


Seira mengurai rambut gelombangnya ke depan, menyisir dengan pelan sambil memperhatikan setiap helainya. Dulu, dia bahkan tak pernah ada waktu untuk sekedar memanjakan rambutnya. Selalu disibukkan dengan pekerjaan rumah demi pengabdiannya pada sang suami, tapi semua itu ternyata sia-sia.


Ia menghela napas, kehidupannya sangat jauh berbeda dengan saat dulu. Hatinya diliputi rasa syukur, setelah kepahitan panjang dia menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Kamu ngapain? Sedari tadi Mas perhatiin duduk di sini ngelamun terus. Ada apa? Apa ada yang ganggu pikiran kamu?" tanya Fatih yang datang terus memeluk tubuh sang istri dari belakang.


Seira tersenyum, meletakkan sisir dengan pelan. Mata indahnya terangkat menatap pelan pantulan manik hitam di dalam cermin itu.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku lagi mikirin perjalanan hidup aku yang panjang ini." Seira menghela napas.


"Kalo aja dulu aku nekad bunuh diri, mungkin kita nggak akan pernah ketemu, ya, Mas. Beruntung ada Bi Sari, Jago sama Mang Udin waktu itu yang ngingetin aku. Aku nggak mikir panjang waktu itu, nggak mikir akan dapat kebahagiaan kayak sekarang. Yang aku pikirin cuma hati aku yang sakit, juga nggak inget sama Rayan di perut aku." Seira tertunduk sebentar menghirup udara pelan.


"Sekarang semuanya sudah berlalu, aku bahagia sekarang. Aku nggak nyangka pelangi setelah badai itu ada dan nyata. Makanya, aku pengen berbagi kebahagiaan sama orang lain. Supaya hidup kita bertambah berkah dan bahagia," ucapnya sembari menyentuh tangan Fatih di pundak.


Laki-laki itu terenyuh, mendekatkan kepala pada ubun-ubun sang istri seraya mengecupnya dalam-dalam.


"Nggak apa-apa, masa lalu emang harus ada supaya kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga darinya agar di masa sekarang kita lebih berhati-hati, untuk mencapai masa depan yang lebih baik," ucap Fatih semakin erat mendekap tubuh itu.


"Mas kangen, deh. Bisa, ya ... itu ...." Fatih berbisik di telinga Seira, bergidik seluruh tubuhnya.


Ia mengelak malu, tapi mau. Melepas rindu yang selalu ada padahal setiap waktu bertemu. Tanpa meminta izin, ia mengangkat tubuh Seira dan membawanya ke ranjang. Beruntung, Fathia memiliki kasurnya sendiri dan Rayan tidur di kamarnya sendiri.


Rindu yang terhanyut dalam buai kemesraan dalam ikatan cinta yang sesungguhnya.

__ADS_1


****


Matahari kembali muncul di ufuk timur, memancarkan aneka warna yang menghiasi langit pagi. Pantulan warna hijau dari daun-daun di pohon, begitu menyegarkan pandangan. Ditambah keindahan yang terhampar pada atap jagat.


Seira membantu gadis penjaga toko menyiapkan kue-kue untuk dipajang. Semua resep itu miliknya, tapi dibuat dengan bahan yang berkualitas tinggi. Rasanya lebih legit dan enak.


"Bu, padahal Ibu cukup duduk aja di sana. Nggak usah ikutin bantu-bantu," ucap gadis itu merasa tak enak hati. Lebih-lebih bila Fatih melihatnya.


"Nggak apa-apa, aku bosan kalo cuma duduk aja. Kamu tenang aja, ya. Aku udah biasa, kok, kerja kayak gini. Dulu, waktu di desa aku ngerjain sendiri kue-kue ini," sahut Seira membuat penjaga itu hampir tersedak liurnya sendiri.


Tak mengira istri dari pemilik tokonya itu dengan rela hati ikut membantu pekerjaan mereka. Seira bahkan tak segan masuk ke dalam dapur dan bersama para pekerja membuat kue.


"Nah, udah beres. Tinggal nyapu-"


"Nggak usah, Bu. Biar saya aja, udah Ibu duduk aja di sana," ucap gadis itu yang dengan cepat merebut gagang sapu dari tangan sang majikan.


"Assalamu'alaikum!" Sebuah suara terdengar mengucap salam dari luar toko.


Seira yang hendak memasuki ruangan pun urung karena mendengar suara mungil itu. Ia berbalik dan mendatangi depan toko teringin tahu bahwa telinga tak salah mendengar. Seira mengernyit melihat kedatangan Naina pagi itu.


"Naina? Kok, pagi-pagi udah ke sini? Ada apa? Apa Ibu kamu masih sakit?" tanya Seira berdiri di hadapannya.


Mereka saling menatap satu sama lain, tak ada raut kesedihan terlihat di wajah gadis kecil itu. Mungkin Ibunya sudah baik-baik saja sekarang. Naina menggelengkan kepala, bibirnya sedikit tertarik ke atas menahan senyum yang ingin dia lakukan.


"Ibu udah sehat, kok. Ibu mau makan dan sekarang beliau udah sehat," jawabnya sembari tersenyum lebih lebar.


"Oh, Syukurlah kalo gitu. Ibu ikut senang mendengarnya," ucap Seira.

__ADS_1


Seira mengajak masuk Naina untuk menikmati sarapan, tapi gadis kecil itu menggeleng dan berhenti tak jauh dari etalase.


Seira terlihat bingung, ia melepas genggaman dan berbalik menghadap Naina.


"Kenapa?" Seira bertanya pelan.


"Katanya, ibu Nai pengen ketemu sama Ibu. Beliau pengen ngomong sama Ibu, apa Ibu nggak keberatan?" tanya Naina dengan ragu.


Ia ragu Seira akan memberi Lita waktu untuk berbicara. Terlihat dari raut wajahnya yang menegang, ia tak ingin memaksa.


"Emangnya ibu Nai mau ngomong apa?" tanya Seira tanpa senyum yang biasa tersemat di bibirnya.


Gadis kecil itu menggelengkan kepala, sungguh ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan Lita. Memang tak perlu! Untuk apa lagi?


"Sei, aku pengen ngomong sama kamu. Bisa, 'kan?" Sebuah suara bertanya lirih, bergetar seperti hendak menangis.


Seira menegakkan tubuh, mendapati dua orang wanita yang dulu begitu kejam terhadapanya. Seira menatap keduanya dengan nanar, luka masa lalu yang sudah tertutup, kini harus terbuka secara paksa karena kehadiran dua wajah itu.


Seira melirik pada wajah tua yang kaku di atas kursi roda, melempar pandangan pada gadis penjaga toko sebelum memintanya untuk menjaga Naina.


"Tolong temenin Naina dulu, ya. Saya ke depan dulu," pintu Seira seraya keluar dari toko dan mendatangi bangku pinggir jalan yang tak jauh dari toko kuenya.


Mereka duduk bersisian dengan jarak yang membentang jauh. Pandangan tak saling menatap satu sama lain, hanya mata Ibu yang terus terarah pada mutiara yang semakin berkilau saat ini.


"Jadi, mau ngomong apa? Sebaiknya cepet aku takut bayiku keburu bangun," ucap Seira tanpa mengalihkan pandangan dari jalan yang membentang luas.


"Aku ...."

__ADS_1


__ADS_2