Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Mencoba Mengakhiri Hidup


__ADS_3

Sekembalinya Zafran dari pesta, dia menangis histeris di ruangannya. Sampai-sampai membuat suster yang mengantar kebingungan sendiri.


"Sialan! Mereka pasti udah nyuci otak anak aku! Kalo nggak, nggak mungkin dia benci sama aku. Nggak mungkin dia ngusir aku!" teriak Zafran kesetanan. Apa saja yang ada di hadapan, dilemparnya hingga berserakan di lantai.


"Sabar, Pak. Sabar!" pekik suster yang mencemaskan keadaan Zafran.


Dia sudah sangat lemah, ditambah kejadian sekarang yang membuat emosinya memuncak, pastilah akan semakin membuat Zafran lemah.


Batuk hebat menyerangnya, sampai tubuh Zafran membungkuk di kursi roda. Suster tersebut panik, bergegas pergi keluar mencari bantuan. Berselang, rombongan dokter datang bersama suster tadi.


Zafran menggenggam pisau buah di tangan dan mengarahkannya pada tim medis.


"Jangan dekat!" katanya dengan suara yang serak.


Setetes cairan bening terlihat di salah satu sudut bibirnya. Dia terlihat putus asa, air mata membanjiri pipi, keringet turun dengan deras. Suster tadi tidak tega setelah menyaksikan bagaimana Zafran ditolak dan diusir oleh anaknya sendiri.


"Aku nggak mau hidup lagi, aku mati aja!" Dia kembali berteriak sembari bersiap memotong nadi di tangannya.


Semoga pisau itu tumpul. Semoga pisau itu tumpul.


Suster itu terus bergumam dalam hati, dia menggigit bibirnya ngeri. Bagaimana jika Zafran benar-benar menorehkan benda tajam itu di tangannya.


"Tenang dulu, Pak. Semua bisa dibicarakan baik-baik, tidak seperti ini," pinta dokter yang datang dengan tenang. Matanya melirik dua orang perawat laki-laki memeberi kode untuk mencegah Zafran bunuh diri.


Diam-diam mereka mengendap, tapi berhenti disaat Zafran menatap ke depan lagi.


"Udah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, Dokter. Mereka udah bikin aku dibenci anak sendiri, udah nggak ada gunanya lagi aku hidup. Aku cuma mau ketemu sama anak aku, tapi dia ngusir aku," ucap Zafran melankolis.

__ADS_1


Ia menunduk, mengendurkan tangannya hingga benda tajam tadi menjauh dari nadi. Sigap, dua perawat laki-laki tadi mencekal kedua tangannya. Zafran memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman mereka.


"Lepasin aku! Lepas! Biarin aku mati!" jerit Zafran seperti orang yang sudah kehilangan akal.


"Baringkan dia di kasurnya!" titah dokter tersebut sembari mengambil sebuah suntikan yang dibawa suster lain.


Zafran terus memberontak, dua orang tadi berbagi tugas. Salah satunya memegangi kedua tangan Zafran, dan yang lain memegangi kakinya.


"Nggak! Jangan suntik aku! Aku nggak mau! Lepasin aku, Dokter brengsek!" teriak Zafran tak peduli suaranya akan terdengar sampai ke ruangan lain.


Namun, dokter itu pun tidak peduli, dia melakukan tugasnya untuk menenangkan para pasien. Zafran diberi suntikan penenang, agar dia dapat beristirahat dan dapat menenangkan diri.


"Lepas ... lepasin aku ... aku mau ...." Zafran lunglai. Jatuh tak sadarkan diri setelah obat tadi bereaksi di tubuhnya.


"Dokter, pasien nggak apa-apa, 'kan?" tanya suster yang merawat Zafran dengan panik.


Dokter itu menggeleng, ia mendesah berat tak habis pikir dengan kondisi kejiwaan Zafran yang selalu terguncang. Bagaimana bisa sembuh, jika hatinya selalu was-was dan tak punya harapan untuk melanjutkan hidup.


Tinggallah suster itu sendirian, memperhatikan Zafran yang tampak menyedihkan. Ia menghela napas panjang, entah kenapa hatinya merasa kesal sendiri bila mengingat tentang kejadian di mana Rayan menolak bahkan mengusirnya.


"Apa mereka nggak bisa lihat Bapak ini udah nggak berdaya. Buat jalan aja dia nggak bisa, tapi masih nekad datang buat ketemu sama anaknya," gumam suster tersebut sedih.


Ia duduk di sebuah kursi tempatnya menunggu Zafran. Sungguh malang nasib pasien tersebut? Dosa apa yang sudah dia lakukan sehingga mendapat perlakuan kejam seperti tadi? Begitu isi pikiran suster.


Ia beranjak, berniat untuk melakukan ibadah sambil membawa benda apa saja yang sekiranya akan membahayakan Zafran. Suster itu terlonjak ketika tangannya baru saja hendak membuka pintu, dokter Hendra mendahului.


"Zafran!" Hendra berhambur dengan panik. Baru saja tiba di rumah dia mendapat kabar soal kondisi Zafran yang mengamuk dan hilang kendali.

__ADS_1


Hendra mengusap wajah gusar saat melihat kondisi laki-laki itu yang sedang tidak sadarkan diri. Ia membanting tubuh di kursi, sungguh hatinya merasa tak enak karena sudah menyalahi janji. Yah, mau bagaimana lagi? Dia lebih menurut pada saran Nisa untuk meminta izin terlebih dahulu kepada Seira.


"Dokter!" tegur suster yang tadi hendak meminta izin Hendra untuk pergi sebentar.


"Apa yang terjadi?" tanya Hendra dengan cepat. "Kenapa dia bisa nekad kayak tadi?" lanjutnya bertanya sambil menolehkan kepala pada suster tadi.


Ia menunduk gelisah karena tanpa seizin Hendra sudah membawa Zafran ke luar sampai mengalami kejadian seperti tadi.


"Ta-tadi ... Pak Zafran minta jalan-jalan, Dok. Awalnya sama Dokter Ferdi, tapi karena satu hal jadi saya yang melanjutkan," jawab suster itu takut-takut.


Mata Hendra mendelik tajam, kecurigaannya muncul. Pikirannya berkelana pada pesta pembukaan tadi. Jangan-jangan ....


"Apa tadi Zafran pergi ke taman kota?" tanyanya dengan cepat.


Suster tadi membeliak, terkejut dengan pertanyaan Hendra. Bagaimana dia bisa tahu?


"Dokter tahu? Pak Zafran yang meminta untuk pergi ke sana tadi, dia juga bilang mau ketemu sama anaknya," ucap suster semakin gelisah melihat raut wajah Hendra yang mengeras.


Kedua mata Hendra semakin melebar, hampir-hampir melompat keluar. Ini salahnya yang sudah berjanji, tapi tak dapat menepati.


"Astaga! Kenapa dia nekad sekali? Padahal aku lagi bantu dia supaya bisa ketemu sama anaknya, tapi .... ah!" Hendra mengusap wajah gusar.


Tak habis pikir pada temannya itu yang berani pergi tanpa dia. Pada akhirnya, semua kacau balau, rencana menunggu kesiapan Rayan pun berantakan. Entah, apakah anak itu mau bertemu dengannya lagi nanti?


"Maaf, Dokter. Saya izin ke belakang dulu, nanti saya ke sini lagi. Kata Dokter Ferdi, pasien nggak boleh ditinggal. Bisa Dokter di sini sebentar? Saya mau sholat Maghrib dulu," pamit suster tersebut mengingat waktu terus berjalan dan Maghrib memiliki waktu yang tidak panjang.


Hendra mengangguk seraya mengibaskan tangannya. Ia memandangi Zafran dengan tatapan bersalah, tapi setelah berbicara dengan Seira hatinya perlahan menjadi lega. Rasa bersalah yang kemarin bersarang pun berangsur-angsur hilang karena kebaikan sepasang suami istri tersebut.

__ADS_1


"Aku harap kamu mau bersabar, Zafran. Karena rasanya nggak mudah menempatkan kamu sebagai ayah di hati Rayan. Anak itu benar-benar tampak terguncang mendengar ada Ayah lain di hidupnya selain laki-laki yang selama ini ada di sisinya. Kamu nggak pernah ada untuk mereka, Zafran. Jadi, harus lebih bersabar kalo mau diakui," gumam Hendra sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Merasa pilu dengan nasib temannya itu.


__ADS_2