
Kesibukan sudah terlihat di gedung baru di mana Fatih akan meresmikannya. Hilir mudik manusia seperti benang-benang yang saling melilit dan rumit. Seira berada di sebuah ruangan bersama seorang make-up artist yang didatangkan Fatih langsung. Laki-laki itu ingin istrinya selalu tampil sempurna di setiap acara.
Fatih sendiri sibuk mengatur semuanya bersama Gilang dan karyawan yang lain. Mereka tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun pada acara tersebut karena acara ini ia persembahkan untuk istrinya, Seira.
"Papah!" sapa Rayan yang muncul bersama Biya dan Ibu.
Anak kecil itu tampak gagah dan tampan, kemeja putih dibalut tuxedo hitam serasi dengan sang papah. Keduanya tampak serasi, siapa yang tidak mengenal pasti akan menyangka mereka adalah anak dan ayah. Sekilas, Rayan memang mirip dengan Fatih.
Mata sipit, hidung bangir, bibir seksi lagi basah dan merah alami. Menjadi idaman setiap hati gadis yang melihat. Fatih menoleh, menjulurkan tangan padanya dan mengajak Rayan untuk berdiri di pintu masuk menyambut tamu yang datang.
"Di mana Mamah?" bisik Fatih bertanya sambil melirik pada tamu-tamu yang mulai berdatangan.
"Mamah masih di ruangan, Kakak itu masih mendandani Mamah," jawab Rayan sembari mengangkat bahu tak acuh.
Laki-laki itu mendesah, mencoba untuk tenang sebelum acara dimulai. Ia tersenyum sembari melambaikan tangan ketika melihat rombongan teman-temannya datang. Mereka yang dulu sempat diusir Fatih karena insiden Mala, kini kembali seperti semula. Fatih terlebih dulu meminta maaf kepada mereka.
"Hallo, Bro. Gimana-gimana ini? Sekarang makin hebat aja, ya. Makin sukses," ucap Dio sambil merangkul bahu Fatih usai bersalaman.
"Yah, alhamdulilah. Semua ini karena istri dan anak-anakku yang menjadi magnet kuat untuk menarik rezeki. Jadinya, ya, kayak gini. Allah percaya sama kami buat ngelola hartanya," jawab Fatih penuh syukur.
Nampak dari wajahnya yang berseri bahwa dia memang benar-benar bahagia. Kehidupannya berubah total semenjak menikah dengan janda anak satu itu.
"Kamu bener, Bro. Salut sama kamu, bisa menerima semua dengan sabar," ucap yang lain.
Fatih mengajak mereka semua masuk, duduk melingkar di sebuah meja panjang yang secara khusus disediakan untuk mereka. Bersamanya sang jagoan kecil mencuri perhatian. Banyak kolega bisnis Fatih yang melirik dan menyusun rencana untuk perjodohan anak mereka.
Perbincangan mereka terhenti saat Gilang memberi pengumuman telah dimulainya acara. Laki-laki itu berdiri di atas podium meminta perhatian semua orang. Rangkaian demi rangkaian acara dibacakan, mulai dari pembukaan hingga sambutan. Dilanjutkan dengan pemotongan pita.
"Mohon dukungannya dari semua rekan-rekan yang hadir di sini hari ini, terima kasih." Fatih menutup kata sambutan disambut riuh rendah suara tepuk tangan tamu undangan yang hadir.
__ADS_1
Dilanjutkan acara pemotongan pita, Fatih memanggil semua orang untuk mendekat ke panggung kecil termasuk di dalamnya Rayan dan Fathiya.
"Untuk pemotongan pita ini saya serahkan pada istri tercinta, dia yang berhak melakukanya," ucap Fatih memanggil Seira yang sejak tadi belum terlihat batang hidungnya.
Suara tepuk tangan kembali menggema, menyambut pemilik acara hari itu. Pintu ruangan terbuka, satu sosok yang ditunggu semua orang termasuk Fatih pun muncul dengan tampilan yang berbeda dari biasanya. Tepuk tangan para tamu undangan, sontak saja berhenti.
Suasana kembali hening, hanya langkah seorang wanita di sana yang terdengar. Tubuhnya yang sintal lagi padat, dibalut gamis berwarna navy, rambut yang biasa tergerai kini tak tampak lagi. Dibalut hijab dengan warna senada dan diberi hiasan sedikit.
Fatih terkesima, rasanya tak percaya jika wanita berhijab di sana adalah istrinya. Dia tampak sempurna, cantik secara lahir maupun batin. Disempurnakan dengan penutup kepala itu. Jantung Fatih berdebar-debar. Menunggu dengan tak sabar sosok yang datang mendekat.
Begitu pula dengan Rayan, anak itu pun turut termangu dengan kelopak mata yang berkedip-kedip.
"Apa itu Mamah?" tanyanya entah pada siapa.
"Benar, apakah itu Mamah?" Fatih turut bertanya, keduanya seperti melihat sebuah kejutan yang tak terduga sebagai hadiah ulang tahun mereka.
"Apa itu menantuku? Dia cantik sekali," puji Ibu dengan haru. Matanya memanas melihat perubahan yang terjadi pada menantunya itu.
Desas-desus terdengar di antara tamu, Seira menoleh dan tersenyum. Sedikit mengangguk untuk menyapa mereka semua.
"Mas!"
"Ah, iya. Maaf." Fatih gugup, buru-buru menyesuaikan diri dan berdehem.
"Apa ini istrinya Mas?" goda Fatih tepat di telinga Seira.
"Apa, sih, Mas?" Seira tersipu, pipinya yang memang sudah merah alami semakin merona saat rasa hangat menyapanya.
"Ekhem. Baiklah karena yang ditunggu telah muncul, mari kita selesaikan acaranya." Fatih kembali menguasai dirinya.
__ADS_1
Ia memberikan gunting tersebut kepada Seira, dibantu dirinya dan tangan kecil Rayan, tak lupa Fathiya yang berada di atas kereta bayinya, Seira memotong pita sebagai tanda peresmian gedung tersebut.
Suara tepuk tangan kembali terdengar menggema di ruangan. Di pojok ruangan itu, ada sepasang tamu yang tak menampakkan diri seperti tamu yang lainnya. Mereka seolah-olah menyembunyikan keberadaan mereka di antara semua orang.
Hendra yang melihat perubahan Seira, meneguk ludah gugup. Ia berpaling tak ingin berlama-lama menatap wanita itu. Khawatir kejiwaannya terguncang dan akan membuat semuanya berantakan.
Nisa di sampingnya melirik, meski Hendra sudah menyembunyikannya dengan baik, tapi tetap saja dia bisa melihat riak wajah itu. Sebuah kekaguman ataukah ... ah, tidak tahulah. Nisa tidak ingin memikirkannya.
"Ibu, wanita yang di sana cantik, ya. Kayak boneka," celoteh Hana sembari menunjuk Seira yang tersenyum pada semua tamu.
Hati Nisa berdenyut, sedangkan Hendra kalang kabut. Sibuk meyakinkan hati bahwa wanita di sampingnya tetap yang tercantik.
Tak ada sahutan, baik itu dari Hendra maupun dari Nisa sendiri. Hana terus sibuk mengoceh memuji penampilan Seira hari itu yang berbeda dari yang lain.
Acara dilanjutkan dengan saling menyapa dan menikmati hidangan yang telah disediakan. Seira celingukan mencari-cari tamu yang diundangnya secara khusus, Nisa dan Hana.
"Sayang, cari siapa, sih?" tanya Fatih menarik tubuh sang istri untuk merapat dengan tubuhnya.
Seira tersentak, malu sendiri saat ia melilau ada banyak pasang mata mengarah pada mereka.
"Itu ... Mas, ada teman aku. Di mana, ya?" ucapnya ambigu. Ia sendiri tidak yakin apakah Nisa menganggapnya sebagai teman ataukah tidak.
"Emangnya temen yang mana? Perasaan Mas nggak pernah tahu kalo kamu punya teman," ujar Fatih tak melepaskan tangannya dari pinggang sang istri.
"Iya, soalnya aku baru temenan sama dia, Mas." Seira terus mencari-cari sosok Nisa di antara puluhan kepala yang ada. Ia mendesah kecewa saat tak menemukan mereka di gedung tersebut.
"Sei!"
Sebuah teguran dari belakang tubuhnya menyentak Seira. Ia menoleh dengan senyum hangat seperti biasa, tapi raib saat melihat sosok lain yang berdiri di samping wanita itu.
__ADS_1
*****
Maaf telat, si kecil demamnya tinggi lagi. Ditambah kakaknya juga tepar. Mohon doa dari kakak-kakak semua. Terima kasih banyak.