
"Mamah!"
Rayan tak sengaja menoleh ke belakang, dan bibirnya terus tersenyum saat melihat wanita anggun berhijab itu. Ia melangkah bersisian dengan suaminya sambil membawa Fathiya. Tangan mereka bertaut seolah-olah tak akan ada yang bisa memisahkan.
Anak laki-laki itu berlari menghampiri, dan memeluk keduanya. Wajahnya terlihat bersinar karena yang ditunggu akhirnya sampai juga.
"Mamah datang jemput Rayan?" tanyanya, mendongakkan kepala pada sang mamah.
"Iya, sayang. Papah yang ajak, kenapa? Nggak boleh," ucap Seira sedikit cemberut.
Rayan terkekeh, lanjut menggeleng sambil berbalik.
"Nenek tanyain Mamah tadi, Nenek mau ketemu sama Mamah. Ayo, Mah!" ucapnya yang kembali melirik pada Seira sebelum menarik tangan wanita itu.
Fatih menganggukkan kepala saat sang istri menoleh ke arahnya. Seira mengikuti tarikan tangan Rayan, mendekati seorang wanita tua yang kembali menangis melihat kedatangan mantan menantunya.
"Assalamualaikum, Bu. Apa kabar? Udah lama kita nggak saling sapa, mudah-mudahan Ibu lekas sembuh, ya," sapa Seira tanpa beban.
Ia tersenyum membuat hati Ibu semakin terkoyak. Menantu yang dibuangnya dulu tanpa perasaan kini hidup dengan layak dan bahagia. Berbanding terbalik dengan takdir yang menjungkirbalikkan kehidupannya. Kini ia percaya, jika kehidupan itu berputar seperti roda. Adakalanya dia di atas, tapi tak mustahil juga akan berada di bawah hanya dalam waktu singkat saja.
Bibir Ibu terbuka, bergerak-gerak ingin berbicara. Air matanya terus jatuh bercucuran. Di belakangnya, ada Lita yang amat merasa malu melihat kedatangan Seira. Terlebih penampilan wanita itu telah tertutup membuatnya semakin terlihat sempurna.
"Ma-ma-af ...." lirih Ibu disusul tangisannya yang tersendat-sendat.
"Ma-ma-maafin sa-sa-ya, sa-saya ba-ba-nyak do-sa sa-ma ka-mu," lanjut Ibu lagi meski dengan susah payah.
Seira menggelengkan kepala seraya perlahan mendekat. Ia berjongkok di hadapan wanita tua itu sambil memegang tangannya. Sebelah tangan yang lain menopang bayi Fathiya di gendongan.
"Aku udah maafin, Ibu. Yang dulu itu nggak usah diinget-inget lagi, fokus aja sama kesembuhan Ibu supaya cucu-cucu Ibu ini senang bisa bermain dengan Neneknya," tutur Seira dengan kelemahlembutannya.
Dia memang seperti itu, bila berbicara tak pernah meninggikan suaranya. Sekalipun sedang marah, ia selalu menahan diri untuk tetap berkata lembut. Mendengar penuturan dari wanita yang disia-siakannya dulu itu, Ibu semakin malu rasanya.
Setelah ini, dia berjanji akan hidup lebih baik lagi ke depannya. Jikapun Tuhan memberinya umur panjang supaya dapat menyaksikan kedua cucunya itu tumbuh.
"Te-te-ri-ma ka-sih." Ibu mengeratkan genggamannya pada tangan Seira menuangkan segala rasa di hati lewat sentuhan kulit mereka.
Di sampingnya, Zafran tak lepas menatap mantan istri. Inilah yang tak diinginkan Fatih, laki-laki itu tak dapat menjaga pandangan, tapi ia menunggu sampai Seira menyelesaikan urusannya.
Wanita itu beranjak, beralih pada Lita yang lekas tertunduk saat pandang mereka bertemu. Tak inginkah dia meminta maaf? Atau hanya segan saja. Terakhir, mata indah miliknya jatuh pada sang mantan suami, ia tampak menyedihkan.
"Sei, maafin semua kesalahan aku. Maaf," lirih Zafran sambil menundukkan wajah.
"Aku udah maafin kalian semua. Jadi, nggak usah ingat-ingat lagi apa yang udah lalu. Fokus aja sama sakit kamu, Zafran. Berjuanglah buat sembuh karena kedua anak kamu ingin bermain sama ayahnya," ucap Seira. Entah kenapa menjadi sengatan untuk hati Zafran yang hampir mati kekeringan.
Seira kembali menjatuhkan pandangan pada Ibu, sosok tua itu masih saja menangis.
"Ya udah, kalo gitu, saya permisi dulu. Ini udah sore, dan Rayan harus bersih-bersih. Saya pamit, assalamualaikum!" pungkas Seira mengakhiri pertemuan hari itu.
Ia menggandeng tangan Rayan setelah anak itu menyalami nenek dan ayahnya. Keduanya berbalik menghampiri Fatih dan Biya yang menunggu. Seira tersenyum, lega rasa hati setelah ia mengikhlaskan semuanya. Fatih menggendong Rayan, dan merangkul pinggang sang istri.
__ADS_1
Di bawah tatapan mata semua orang, Seira kini terlihat bahagia. Kehidupannya yang dulu dipenuhi dengan penderitaan, kini bertabur cinta dan kasih sayang. Laki-laki itu menjadikannya ratu.
*****
Berbulan telah berlalu, Fathiya tumbuh semakin besar, Rayan pun telah bersekolah, dan Biya memasuki perguruan tinggi. Kehidupan Lita pun semakin membaik, ia rajin menjenguk Ibu di panti. Memang lebih baik Ibu di sana karena Lita harus bekerja dan tak bisa mengawasi Ibu selalu.
Rayan pun selalu berkunjung ke rumah sakit menjenguk Zafran. Kondisi laki-laki itu semakin hari semakin baik, dua penyemangatnya itu selalu membuat hati Zafran berbunga dan bahagia.
"Ayah, Rayan udah sekolah. Ini, coba lihat tulisan Rayan, bagus, kan?" seloroh bocah itu saat mengunjungi Zafran di akhir pekan.
"Wah, bener. Anak Ayah emang hebat," puji Zafran sembari mengusap kepala anaknya.
"Ayah udah sembuh belum? Nanti kalo Ayah udah sembuh, Rayan mau dijemput sama Ayah," pinta anak laki-laki itu penuh harap.
Zafran terenyuh, memeluk tubuh anaknya sambil berharap dia bisa mengabulkan permintaan sang anak.
"Insya Allah. Doain Ayah, ya, supaya cepat sembuh dan bisa jemput Rayan," sahut Zafran dengan hatinya yang teriris.
Rayan mengangguk sambil tersenyum, hati kecilnya juga berharap begitu. Keduanya sering bermain bersama, Fatih tak akan segan mengantar Rayan untuk bertemu Zafran jika anak itu ingin menjenguk ayahnya.
****
Hari-hari berikutnya terus berlanjut, Rayan pergi ke sekolah dengan diantar Fatih. Dia anak yang supel, mudah beradaptasi dengan lingkungan, dan menjadi murid kesayangan karena kebaikan yang kerap dilakukannya. Dia bersinar, di manapun berada.
Jam pulang telah berlalu, Rayan duduk menunggu di dekat gerbang sekolah. Ditemani oleh petugas keamanan sekolah, dia menunggu jemputan.
"Rayan!"
"Ayah!" Ia melompat dari tempat duduk, berlari dan memeluk Zafran.
"Ayah udah sembuh?" tanyanya dengan perasaan yang gembira.
Zafran mengangguk, ia tak ingin membuat kedua anaknya kecewa.
"Kita akan jemput Kak Nai, abis itu kita jenguk Nenek. Ayah udah minta izin sama Mamah," ucap Zafran sembari menggandeng tangan Rayan.
Anak laki-laki itu mengangguk senang, bisa berjalan-jalan seperti sekarang membuatnya semakin bahagia. Walaupun hanya menaiki angkot, tapi Rayan tidak merasa keberatan. Dia justru tersenyum sepanjang perjalanan menuju sekolah Naina.
Sama seperti Rayan, Naina pun terlihat senang. Ketiganya pergi menjenguk Ibu dengan perasaan riang gembira.
Uhuk-uhuk!
"Ayah! Ayah nggak apa-apa?" Rayan bertanya panik saat Zafran terbatuk hebat.
Laki-laki itu mendongak, dengan susah payah ia tersenyum dan mengangguk. Kedua tangannya merengkuh tubuh dua anak itu, mendekapnya penuh cinta dan kasih. Mereka balas memeluk, tanpa tahu bahwa Zafran sedang menahan sakit. Berkumpul dengan keduanya dan Ibu, membuat hidup Zafran terasa damai dan tenang.
****
"Rara! Kamu di mana, sayang?" Fatih berteriak memanggil istrinya. Ia berada di kamar menemani Fathiya.
__ADS_1
"Apaan, sih, Mas? Teriak-teriak. Pake nama Rara lagi, malu tahu." Seira datang dengan wajahnya yang cemberut.
Senang rasanya menggoda wanita itu.
"Aku seneng aja, gadis kecil yang aku kenal sebagai Rara ternyata bernama Seira Maharani. Hmm ... pantas aja aku nggak inget ternyata emang aku yang nggak tahu nama panjang kamu," ucap Fatih semakin menggoda, tangannya merengkuh tubuh Seira rapat-rapat.
"Udah, deh. Aku aja nggak tahu, dulu aku manggil Mas apa," sahutnya sembari tertunduk menyembunyikan rona merah di pipi. Ia memukul dada bidang Fatih dengan malu.
"Kamu mau tahu?"
Seira mengangguk malu-malu.
"Seingatku, sih, waktu dulu kamu manggil Mas pake sebutan kakak. Udah itu aja," jawabnya.
Seira kembali mendongak, memastikan tak ada kebohongan dari jawaban itu.
"Beneran?"
Fatih menganggukkan kepala pasti. Keduanya sering menginap di rumah Ibu, bermain di taman kecil belakang rumah untuk mengenang masa-masa indah dulu.
****
"Ayah, bangun. Ini udah sore, bukannya kita harus pulang?" gugah Rayan membangunkan Zafran yang terbaring di kursi taman panti.
Ia tertidur ketika menemani kedua anaknya bermain dengan Ibu. Kondisi wanita itu semakin lama semakin baik, ia bahkan sudah hampir lancar berbicara.
"Yah, bangun, Ayah. Nanti Ibu cariin. Ayo, kita pulang." Naina turut membangunkan Zafran sambil mengguncang pelan tubuh laki-laki itu.
"Nenek! Ayah nggak mau bangun!" lapor Rayan pada Ibu.
Wanita tua itu menggerakkan kursi rodanya mendekati Zafran, tersenyum menatap sang putra.
"Nak, bangun. Antar Rayan dan Naina pulang, ya. Ini udah sore," ucap Ibu berbisik di telinganya.
Kesadaran Zafran tersentak, ia membuka mata dan bergegas duduk.
"Ayo!"
Diapit Rayan dan Naina, Zafran meninggalkan panti jompo tempat di mana selama ini Ibu dirawat. Sambil berceloteh di sepanjang perjalanan tentang apa saja yang mereka mainkan hari itu bersama sang nenek.
Saat tiba di rumah pun, keduanya terus saja bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan.
\=Tamat\=
Hai, hai, terima kasih kepada semua para pembaca yang sudah setia dan begitu sabar menunggu cerita ini tuntas. Berkat doa dari Kakak-kakak semua, pada akhirnya hati othor terketuk juga untuk menyembuhkan Zafran.
Terima kasih atas semua dukungan, salam hangat selalu untuk kalian semua.
Oya, intip juga karya baru othor, ya. Baru update tadi, judulnya MOHABBAT. Jumpa di kisah selanjutnya, bye bye!
__ADS_1
Assalaamu'alaikum!