
"Berhenti menghinanya!"
"Mas!"
Bergetar Seira memanggil suaminya. Dia yang bersembunyi pun turut keluar menampakkan diri.
"Ibu, Ibu nggak apa-apa, 'kan?" tanyanya cemas.
Pelayan tadi memegangi tangan Seira, maniknya menatap cemas pada sang majikan yang sedari tadi diam meski terus dihina.
"Nggak apa-apa." Seira mengusap-usap jemari yang menempel di lengannya itu tanpa mengalihkan wajah dari sosok laki-laki gagah yang kian mendekat.
Fatih berjalan sambil menggandeng tangan Rayan, raut wajahnya terlihat keras. Seira bahkan bisa melihat dadanya yang kembang-kempis meskipun samar. Mala mematung, amat terkejut mendengar suara laki-laki yang berusaha dia goda itu.
"Mamah!" Suara Rayan memanggil sang Mamah. Ada alunan sedih yang menguar dari suaranya yang lirih, menembus jantung Seira yang sejak tadi tak berhenti berdegup.
Fatih melepaskan tautan tangan mereka, membiarkan Rayan berlari ke arah mamahnya. Langkah bocah itu tiba-tiba berhenti tepat di sisi Mala. Matanya berubah tajam melirik wanita berpakaian minim itu.
"Nggak ada yang boleh hina Mamah Rayan, apalagi Tante. Lihat baju Tante itu, baju temen Rayan, kok, dipake." Bocah itu mencibir sebelum kembali berlari mendekati Seira.
"Sial!"
Tangan Mala bergetar perlahan mengepal erat, gerahamnya saling beradu menimbulkan bunyi gemeratak yang samar terdengar. Dia tersentak saat sebuah tangan mencengkeram erat pergelangan tangannya.
"Mas-"
Lidah Seira kelu saat kepala Fatih menoleh cepat menolak protes darinya. Mala meringis, mencoba melepaskan cengkeraman Fatih dari lengannya. Namun, sungguh sial, tangan itu tak dapat dilepaskan terus menempel erat, sangat erat.
Mata Fatih bergulir pada pelayan yang bersama istrinya. Sorot matanya mewakili lisan mengucap terima kasih. Jika bukan karena sikap tanggapnya yang mengirim video mereka pada Fatih, tak akan ia tahu apa yang akan terjadi pada istrinya itu.
"Bawa Ibu dan Rayan ke kamarnya. Jangan biarkan keluar lagi!" titah Fatih dari balik giginya yang merapat.
"Lepas!" lirih Mala memberontak.
Fatih tak acuh, ia terus saja menatap Seira yang begitu lemah melihat orang lain disakiti. Sementara dirinya pun teramat sering disakiti orang lain.
__ADS_1
"Mas!"
"Masuk, sayang. Ajak Rayan dan tunggu Mas di kamar. Jangan keluar," sahut Fatih melemah. Menatap memohon pada manik berkaca Seira.
Wanita itu berbalik, melangkah bergandengan tangan dengan Rayan dituntun pelayan tadi. Sesekali kepalanya akan menoleh ke belakang memastikan Fatih tidak berlebihan terhadap Mala.
"Lepas!" Mala masih merintih dan terus memberontak, tapi Fatih sama sekali tak melepaskannya.
"Kamu perempuan lancang! Nggak tahu siapa yang kamu hina. Aku tahu perempuan macam apa kamu ini!" ucap Fatih dengan geram.
Ia menyeret tangan Mala dengan kasar, terseok-seok kakinya mengikuti langkah lebar Fatih. Mulutnya menjerit-jerit meminta dilepaskan, ia bahkan memukul-mukul tangan Fatih supaya melepaskan cengkeramannya.
semua pengunjung yang sedang menikmati makanan mereka, serentak menoleh pada arah datangnya suara jeritan itu. Dio bahkan sontak berdiri ketika mengenali suara kekasihnya itu. Mereka yang mengenal Fatih, terkejut karena sekalipun tak pernah melihatnya se-berang itu.
Gilang dan karyawan lain meneguk saliva gugup, apalagi yang bisa membuat Fatih mengamuk seperti sekarang ini kalau bukan karena miliknya diusik.
Gilang gegas berlari, merasa kasihan pada wanita yang kesulitan berjalan karena ditarik Fatih.
"Pak, ada apa?" Gilang mengekor sambil bertanya, tapi laki-laki itu tak menjawab. Terus menatap ke depan, pada kedua manik Dio yang berdiri di dekat meja mereka.
"Ada apa ini, Bro? Kenapa kamu seret dia kayak tadi?" tanya Dio sambil membantu Mala untuk berdiri.
"Bawa perempuan sundal ini ke luar! Selamanya restoran ini tertutup untuk dia. Aku nggak sudi kakinya itu menginjak tempatku ini!" tegas Fatih tanpa menyaring kata-kata yang keluar dari bibirnya.
"Ya, tapi jelasin dulu kenapa? Apa yang dia lakuin sampe bikin kamu marah kayak gitu?" sahut Dio masih berusaha untuk bersikap tenang.
Semua teman Fatih tahu, laki-laki itu tak akan pernah berbuat lebih jika tak ada sesuatu yang menyinggung perasaannya.
Fatih menunjukkan video yang dikirim pelayan wanita tadi pada Gilang, manager itu pun terlihat geram setelah menyaksikan sendiri apa yang dilakukan wanita itu.
"Kalo Anda nggak mau bawa wanita itu keluar dari sini, biar aku yang akan menyeretnya," tegas Gilang tak kalah emosi dari Fatih.
Astaga, bos dan asistennya itu benar-benar sama.
"I-iya, tapi kenapa? Aku cuma mau tahu alasannya," tuntut Dio lagi keukeuh.
__ADS_1
Fatih berpaling, menetralkan emosinya yang terus memuncak setiap kali melihat wajah Mala.
"Anda mau tahu? Dia udah lancang menghina istri Pak Fatih, terlepas dari masalah apa yang terjadi di antara mereka, tapi dia mengatakan hal yang nggak pantas dia ucapkan terhadap majikan kami," jelas Gilang berapi-api.
Dio dan yang lainnya menatap ke satu arah, pada wanita yang kini menundukkan kepala. Laki-laki itu bahkan sontak melepaskan tangannya dari tubuh Mala dan bergeser.
"Kalian semua pulang saja, aku udah nggak mood nerusin reuni kita," ucap Fatih seraya berbalik dan pergi meninggalkan mereka setelah mengirimkan pesan video tadi pada teman-temannya itu.
Mereka semua geram, terlebih Dio yang langsung saja meradang.
"Kurang ajar!" umpatnya seraya menarik tangan Mala tanpa ampun.
"Aw! Sakit, Dio! Lepasin!" rintih Mala yang kembali harus terseok mengikuti langkah lebar Dio.
Laki-laki itu tidak peduli, terus menyeret Mala diikuti teman-temannya yang lain hingga ke parkiran. Ia membanting tubuh Mala sampai membentur badan mobil dengan cukup keras.
Wajah itu menjerit kesakitan, memegangi punggung yang tulangnya terasa patah. Sakitnya bukan main.
"Lancang kamu, Mala! Kamu tahu siapa Fatih, hah?!" bentak Dio pada Mala yang menangis memeluk tubuhnya sendiri.
"Dia itu temen aku! Aku mau pertunangan kita putus, aku nggak sudi punya istri sombong kayak mau," ucap Dio sengit.
Mala mendongak cepat, air yang jatuh dari matanya semakin deras. Wanita itu terus menggeleng cemas. Ia pagang kedua tangan Dio dan menahannya.
"Dio, nggak, Dio. Kamu nggak bisa kayak gini sama aku. Bentar lagi kita juga nikah, kamu nggak boleh kayak gini." Mala merengek meminta belas kasihan, terus menangis tersedu-sedu. Sayang, tak satu pun di antara mereka merasa iba.
Dio menghempaskan tangannya hingga membuat tubuh Mala menjauh dan ambruk di jalanan.
"Gara-gara kamu kita semua diusir Fatih, reuni kali ini jadi kacau dan nggak asik lagi. Aku heran sama kamu, dari mana kamu dapat perempuan kayak gini?" ketus temannya sembari melangkah melewati Mala.
Dio sudah tak peduli lagi pada Mala, ia masuk ke mobil diikuti semua teman-temannya. Mala memukul-mukul jendela mobil Dio, berteriak meminta ia mengajaknya. Tak ada lagi yang peduli meski dia mengejar mobil-mobil itu sampai terjatuh di jalanan.
*****
Hallo, Kakak-kakak semuanya. Terima kasih sudah mendukung novel ini. Mohon maaf, karena nggak bisa balas komentar Kakak semua satu per satu, tapi Kakak tenang aja komentar Kakak pasti dibaca Author. Terima kasih. Salam hangat.
__ADS_1