
"Aku ... ke-kenapa kamu ba-bantu kami?" tanya Lita terbata.
Ia menatap Seira lekat-lekat, teringat akan luka yang dia torehkan di masa lalu. Rasa sesal semakin menghimpit membuat sesak dadanya. Mereka masih tergolong beruntung karena Seira mau menerima mereka dan memberi waktu untuk berbicara.
Seira menggerakkan tubuh tak nyaman, masih belum memalingkan pandangan dari jalanan yang ditatapnya. Mendengar pertanyaan Lita, ia mengumpat dalam hati.
"Siapa yang membantu kalian? Aku nggak membantu kalian, aku membantu Naina. Anak itu nggak bersalah, nggak ada sangkut pautnya sama kelakuan kalian," jawab Seira sedikit ketus, tapi masih dibatas wajar.
Lita meneguk ludah, wanita tua di kursi roda menggeleng-gelengkan kepalanya penuh sesal. Dalam hati terus meminta maaf pada mantan menantu yang enggan melihat ke arahnya.
"Apa kamu yakin cuma Naina yang kamu bantu?" tanya Lita lagi keukeuh. Dia ingin Seira peduli lagi padanya, dia ingin Seira mengatakan bahwa dia memang membantunya. Bukan hanya Naina.
Seira menoleh, jejak kebencian masih terlihat di kedua maniknya meski hanya sedikit. Wanita itu tengah menahan gemuruh di dada yang membisikinya agar menumpahkan semua emosi seperti Bi Sari kemarin.
"Kamu pikir kesalahan yang udah kamu buat itu mudah untuk dimaafkan, Lita? Kamu pikir apa yang udah kamu lakuin itu mudah aku lupakan? Nggak, Lita. Aku cuma manusia biasa yang dibekali ingatan, dan kejadian dulu tersimpan dengan sendirinya di sini, dan di sini." Seira menunjuk pelipis, lantas menunjuk dadanya sendiri.
Air mata wanita tua di atas kursi roda itu mengalir dengan sendirinya, perbuatan mereka amat membekas dalam ingatan Seira. Beruntung, tidak sampai membuat trauma wanita itu hingga enggan bertemu dengan mereka.
Lita menangis, ia menundukkan kepala dalam-dalam setelah melihat sendiri penderitaan Seira di kedua biji matanya. Ibu dari Rayan itu memalingkan wajah kembali, manahan semua sesak agar tidak tumpah ruah lewat air mata. Ia tidak peduli tangisan Lita pun dengan mantan ibu mertua.
__ADS_1
"Maaf, maafin aku. Aku bener-bener nyesel, Sei. Aku khilaf, aku berdosa sama kamu. Maafin aku, Sei," mohon Lita dengan lisan yang bergetar.
Ia tidak berani mengangkat wajah untuk bertatapan dengan mantan sahabatnya itu. Terlalu malu rasanya, mengingat semua luka yang dia torehkan di hati Seira.
"Aku ... aku tahu kesalahan aku memang nggak mudah dimaafin, tapi aku bener-bener nyesel, Sei. Aku nggak mau mati bawa dosa ini, aku minta maaf sama kamu, Seira. Aku minta maaf," lanjut Lita.
Ia memberanikan diri menoleh pada wanita di sampingnya, menatap nanar dengan mata yang basah. Pun dengan wajah tua di kursi roda itu, tapi Seira bergeming, tak ada air yang menggenang di pelupuknya. Hanya napasnya saja yang terdengar berat dan memburu. Dia sedang berjuang melawan hawa nafsu yang ingin membuatnya meledak.
Seira menunduk, menarik udara dalam-dalam. Mencoba berdamai dengan luka masa lalu, dia pun tak ingin terus menerus terkurung dalam luka yang tak berkesudahan. Mungkin ini sudah jalannya, mereka harus bertemu dan saling memaafkan, tapi tetap saja tidak akan pernah bisa menghapus jejak luka yang terlanjur tercipta.
"Aku udah maafin kalian, aku udah rela dengan semua yang terjadi di hidup aku. Jadi, setelah ini, aku harap kalian nggak datang lagi ke hadapan aku. Kalian nggak muncul lagi di hidup aku karena setiap kali melihat kalian, aku seperti bermimpi buruk," ungkap Seira mencoba untuk berlapang dada meski sulit dilakukan.
Mendengar itu, Lita yang tertunduk mendongak, menatap wajah Seira yang sama sekali tak melihat ke arahnya. Dia memang baik, hanya saja mungkin luka yang ditanam Lita di ingatan dan hatinya teramat dalam hingga menancap ke dasarnya.
Disaat hati mulai berdamai dengan luka, pikiran pun bekerja mempertontonkan apa-apa yang sudah terlewati. Ingatan yang dikubur dalam-dalam, dimunculkan kembali ke permukaan seolah-olah tidak mengizinkan untuk lupa. Bagaimana lagi? Hanya sebatas manusia biasa yang diuji dengan hawa dan nafsu.
"Seira, apa kita nggak bisa kayak dulu lagi? Dulu, kita adalah sahabat dalam suka dan duka, 'kan? Aku pengen kita kayak dulu lagi, Sei. Aku nggak mau musuhan sama kamu," pinta Lita bercucuran air mata.
Terkenang masa-masa dulu, di mana mereka selalu bersama dalam setiap keadaan. Seperti semut dan gula. Di mana ada Seira, di situ akan muncul Lita.
__ADS_1
Seira mendengus, tertawa getir mendengar permintaan dari Lita. Bagian mana yang dinamakan sahabat dalam suka dan duka? Dia sahabat hanya di dalam suka saja.
"Kamu yakin kita ini dulu sahabat dalam suka dan duka?" sarkas Seira sembari berpaling padanya dengan senyum tersemat di bibir. Senyum yang mengiris hati lita dan mengoyak kepercayaan dirinya.
"Seingat aku, kamu selalu mau yang aku punya. Kamu selalu ngancam kalo aku nggak mau nurutin mau kamu. Kamu selalu ngatur aku. Kamu juga nggak pernah ada, waktu aku susah. Kamu cuma manfaatin aku, Lita. Di mana kamu waktu Ayah meninggal? Di mana kamu waktu aku sakit berbulan-bulan di rumah sakit? Kata Ibu, sekalipun kamu nggak pernah datang buat jenguk aku. Sekarang, kamu bilang kita ini sahabat dalam suka dan duka?"
Seira kembali tertawa. Ia memalingkan wajah dari Lita lagi, menatap cermin toko di mana Rayan sedang mengawasi. Lita terhenyak mendengar isi hati Seira. Sungguh tak disangka, Seira menyimpan luka itu sendirian.
"Udahlah, Lita, Bu, aku udah maafin kalian. Aku udah rela dengan semua yang kalian lakukan dulu, tapi untuk kembali kayak dulu aku nggak bisa. Bukan nggak mau, tapi bener-bener nggak bisa. Aku cuma bantu Naina karena merasa terpanggil sebagai orang yang diamanahkan rezeki lebih oleh Allah."
"Pertemuan kami juga nggak disengaja, murni karena takdir. Rawat anak kamu itu baik-baik, Lita. Jangan bikin dia sedih apalagi kecewa. Dia masih kanak-kanak, kata orang-orang tua dulu mereka masih berupa kertas putih yang polos. Tergantung orang tuanya, apakah akan menorehkan tinta emas ataukah tinta hitam yang gelap."
Seira memalingkan wajah pada wanita tua yang hanya terdengar suara isak tangisnya saja. Sungguh miris memang, keangkuhan yang dulu dia banggakan kini tak ada lagi. Kesombongan yang dulu dia pelihara kini berbalik menyerangnya.
"Sebagai seorang manusia yang hidup di dalam batas waktu, semakin menua semakin berkurang waktu di dunia. Setiap saat sangat berharga karena maut datang tak pernah terduga. Kapan lagi kita akan mengetuk pintu langit, mengetuk pintu taubat karena jika nyawa sudah sampai di kerongkongan, pintu taubat sudah tertutup." Seira berdiri.
Rasanya sudah cukup berbicara dengan mereka karena mobil Fatih telah muncul dan laki-laki itu sedang memperhatikan mereka di sana.
Tanpa memberikan kata penutup, Seira melangkah meninggalkan mereka. Berjalan cepat menghampiri laki-laki yang sedang berdiri menunggu. Berhambur memeluknya dan menumpahkan tangis di dadanya yang kokoh.
__ADS_1
"Aku udah rela, Mas. Aku ikhlas."
Fatih mendekap tubuh berguncang Seira, dia memang terlihat kuat di luar, tapi sebenarnya rapuh dan membutuhkan bahu yang kokoh untuk tempatnya bersandar. Fatih adalah ketenangan, kenyamanan, bersamanya hati selalu damai, berada dalam dekapannya, Seira merasa aman.