
Hari berganti, Minggu pun berlalu, bulan datang silih berganti. Kelahiran Seira hanya tinggal menghitung hari, di mana Fatih tidak berkeinginan meninggalkannya sendiri di rumah meskipun ada Ibu dan yang lain.
Pagi itu, seperti sudah menjadi rutinitas yang dilakukan Seira menjelang persalinan, mereka berjalan-jalan di sekitar rumah. Sekedar meregangkan otot ataupun mencari udara sejuk.
Bersama si kecil Rayan yang berlarian kian kemari dengan riang gembira. Dengan tingkahnya yang menggemaskan, dia menyapa para tetangga yang berpapasan dengan mereka.
"Kayaknya Bu Sei bentar lagi mau lahiran, ya?" tegur salah satu warga yang sedang menyapu halamannya.
Mereka berhenti sejenak untuk menjawab sapaan itu.
"Benar, Bu. Ini udah bulannya," jawab Seira sembari tersenyum.
"Alhamdulillah, Bu Sei ini salah satu perempuan beruntung menurut saya. Punya suami siaga kayak Pak Fatih, Bapak pasti seneng, ya, bakal punya anak lagi?" cerocos wanita berdaster itu dengan ramah.
Seira melirik suaminya, dalam hati membenarkan apa yang tadi diucapkan tetangga itu. Dia memang beruntung di masa tua kehamilannya, Fatih selalu berada di sisinya.
"Alhamdulillah, Bu. Saya cuma takut, pas saya pergi istri saya nanti malah kontraksi, Bu. Jadilah saya mau di rumah aja nemenin dia." Fatih menjawab seadanya.
Ia lantas berpamitan untuk kembali ke rumah karena matahari telah naik dan mulai menyengat. Rayan berlari ke arah mereka, anak itu tak bisa diam dan tenang.
Sigap tangan Fatih menangkapnya dan membawa tubuh gembil itu dalam gendongan. Dia tertawa saat kepala sang ayah menelusup ke dekat ketiaknya. Melihat interaksi mereka selalu membuat hati Seira merasa tenang. Tak lagi mengkhawatirkan masa depan anaknya. Sudah barang tentu dia akan bahagia.
Seira melingkarkan tangan di lengan suaminya, menciumnya penuh cinta. Betapa dia berterimakasih pada laki-laki itu karena telah melimpahkan cinta dan kasih sayang yang tiada tara. Sebuah ucapan saja tak akan cukup, dia berjanji akan selalu berada di sisi suaminya dalam keadaan apapun.
"Papah, aku mau kue yang di sana," pinta Rayan sambil menunjuk sebuah gerobak yang dipikul berisi aneka roti.
Fatih menurutinya, membeli roti tersebut beberapa untuk dibawa ke rumah.
"Papah, beli beberapa lagi. Rayan pengen kasih sama mereka," pintanya lagi sambil menunjuk sekumpulan anak yang sedang bermain di taman komplek.
Fatih tersenyum, mengusap kepalanya bangga. Ia melempar lirikan penuh kekaguman pada ibu anak itu. Diberikannya bungkusan roti tadi pada Rayan supaya dia sendiri yang memberikannya untuk mereka.
Seira menjatuhkan kepala di pundak suaminya, menyaksikan aksi terpuji anak tersebut. Dia segera berlari kembali pada orang tuanya setelah menyelesaikan tugas yang mulia.
Ketiganya lanjut berjalan menuju rumah, saling bergandengan dengan erat. Membuat iri siapa saja yang melihat.
"Duh!"
Seira mengaduh sambil menggigit bibir, tangannya pula memegangi perutnya yang berdenyut ringan.
"Sayang? Kenapa?"
"Mamah?"
__ADS_1
"Mas, kayaknya aku kontraksi," ucap Seira sembari menghela napas untuk mengurangi rasa yang berdenyut di bagian perut.
Fatih panik, lebih panik daripada saat Rayan akan dilahirkan.
"Mamah kenapa, Pah?" tanya Rayan turut merasa cemas.
"Mamah mau lahiran, sayang. Kamu tenang, ya."
Seira tersenyum geli, mendengar Fatih mengatakan itu pada Rayan. Padahal dialah yang terlihat panik.
"Papah yang harus tenang, tuh keinget Papah banyak banget," kilah Rayan menunjukkan butiran peluh yang muncul di sekitar wajah.
Rasa itu kembali hilang, tubuh Seira pun kembali menegak. Memperhatikan tingkah sang suami yang serba salah, ia tersenyum-senyum sendiri.
"Udah nggak apa-apa, kok. Ini masih bisa ditahan. Kita pulang, ya." Seira berucap sedikit lesu.
Wajah Seira yang pucat tadi sempat membuatnya hilang kendali. Buru-buru menggamit tangan sang istri dan Rayan untuk segera tiba di rumah.
"Kamu duduk di sini, Mas mau nyiapin apa aja yang akan kita bawa ke rumah sakit," titah Fatih setelah mendudukkan Seira di sofa. Ia meminta Rayan menjaganya sementara dirinya masuk ke kamar dan menyeret segala keperluan yang telah dipersiapkan wanita itu.
"Fatih! Nak, mau ke mana kalian?" tegur Ibu yang muncul dari pintu belakangan bersama Bi Sari .
Melihat tas besar di tangan Fatih, Ibu melempar tatapan pada menantunya. Seketika ia tahu hanya dengan melihat wajah Seira yang meringis.
Bi Sari menggantikan Fatih membawa tas tersebut, sedangkan ia membantu Seira beranjak dan menuntunnya menuju mobil.
"Kamu jangan nyetir, bisa-bisa nggak konsen. Biar aja supir yang nyetir," sergah Ibu dengan cepat disaat Fatih hendak duduk di kursi kemudi.
Laki-laki itu menurut, segera duduk di kursi belakang bersama Seira. Sementara Bi Sari menunggu di rumah dan akan menyusul saat Biya pulang sekolah nanti.
"Masih sakit?" tanya Fatih sambil mengusap-usap perut Seira yang terkadang menegang, kemudian normal lagi.
"Ya, gitu, Mas. Sakitnya hilang timbul," jawab Seira sambil menahan napas.
Fatih memeluk kepalanya, Seira yang akan melahirkan, dia yang merasakan sakitnya. Melihat wajah sang istri yang mengernyit, Fatih tahu betapa ia tengah menahan sakit. Sakit kontraksi disaat bayi mencari jalannya untuk melihat dunia.
"Tunggu!" Fatih mencegah Seira untuk turun dari mobil, tangannya sigap mengangkat tubuh itu dan membawanya masuk ke rumah sakit. Berteriak memanggil petugas medis dengan panik membuat gempar seluruh penghuni di sana.
"Mas, ini belum apa-apa. Jangan teriak-teriak gitu." Seira mengingatkan.
Fatih tahu, Fatih juga mengerti, tapi semua itu refleks terjadi akibat kepanikan yang melanda hatinya. Rasa bahagia, cemas, dicampur takut berkumpul di sana. Menjadikan Fatih tak tahu harus melakukan apa.
Dia menemani Seira di ruang bersalin khusus, menggenggam jemari sang istri sambil sesekali menciumnya. Rasa sakit itu semakin lama semakin intens dirasakan Seira. Ia terpejam, meringis, mengernyit, bahkan mengeluh dan mengaduh sambil memeluk tubuh suaminya.
__ADS_1
"Istighfar, sayang. Minta kemudahan sama Allah," bisik Fatih saat Seira meremas pundaknya dengan cukup kuat.
Ya Allah, betapa beratnya perjuangan istri hamba dalam menghadirkan buah hati kami. Ampuni dosanya, mudahkan jalannya, ya Allah. Pantas aja banyak orang yang memilih operasi, ternyata ... aku nggak tega liatnya, ya Allah.
Fatih menitikan air mata, mengingat dosa apa saja yang pernah dilakukannya terhadap Ibu.
"Mas ... astaghfirullah, ya Allah." Seira kembali mengeluh lirih.
Meskipun bukan yang pertama, dan dia pun sudah lebih siap, tapi tetap saja rasa sakit yang memutuskan urat-urat di perutnya amat menyiksa.
"Kuat, sayang. Kamu kuat, kamu hebat. Ingat, kamu udah berhasil menghadirkan Rayan. Semua ini akan terbalas saat anak kita nanti keluar." Fatih menyemangati.
Tim dokter memasuki ruangan, melakukan pemeriksaan terhadap jalan lahir Seira.
"Mas, jangan ke mana-mana. Di sini aja," pintanya sambil meremas tautan jemari mereka.
"Iya, sayang. Mas nggak akan ke mana-mana. Mas akan di sini temenin kamu," ucap Fatih.
Laki-laki itu mengecup dahi Seira sambil mengusap-usap rambutnya yang lembab karena keringat. Perjalanan menuju dunia pun dimulai, rasa sakit semakin sering dan hebat bahkan tanpa jeda lagi. Suara ketuban yang pecah menandakan dia telah menemukan jalannya.
Sekelip mata, perjuangan panjang dan penuh emosi dibayar tunai dengan suara tangisan si bayi.
"Maa syaa Allah! Alhamdulillah! Alhamdulillah, ya Allah. Dia lahir, sayang. Anak kita udah lahir. Kamu hebat, kamu hebat, istriku." Fatih menangis haru, memeluk kepala Seira dan menciuminya bertubi-tubi.
"Makasih, sayang, kamu udah rela berjuang dan berkorban buat anak kita. Makasih."
Hati Seira menghangat, ia akhirnya tahu bagaimana rasanya dihargai. Bagaimana rasanya dicintai, bagaimana rasanya diterima. Semua perjuangannya tak ada yang sia-sia, semua pengorbanannya dihadiahi yang lebih istimewa. Dia merasa menjadi wanita berharga dan paling istimewa.
"Selamat, Bapak, Ibu, anak kalian perempuan. Lahir dengan sehat dan sempurna. Silahkan diadzani, Pak. Di sana!" Dokter menunjuk box bayi.
Di sanalah wajah Fatih kedua berada, menunggu lantunan kalimat thoyiibah di telinga dari sang ayah.
Dengan jantung yang berdebar, air yang tak surut dari mata, hati yang dipenuhi rasa haru, Fatih melangkah pelan. Dia pernah melakukannya sekali, terhadap bayi Rayan. Kini, dia akan melakukan lagi untuk anaknya sendiri. Anak kandungnya.
Fatih menatap bayi merah di dalam sana, air mata kembali jatuh menimpa pipinya. Bayi itu membuka mata perlahan, lalu menutupnya lagi.
"Anakku! Fathiya Kamila."
Dia mengangkat bayi itu, menempatkannya dalam gendongan. Membacakan adzan dan iqamah di kedua telinga si bayi sambil menangis harus tiada henti.
Untuk kedua kalinya, Seira menyaksikan lelaki gagah itu melantunkan adzan dan iqamah pada bayi yang dilahirkannya. Dia menangis bahagia. Tak henti hati mengucap rasa syukur atas semua nikmat dan anugerah yang diberikan sang Kuasa dalam hidupnya.
Makasih, sayang. Mas udah jadi suami sempurna buat aku.
__ADS_1