
"Papah, kenapa kita harus pindah? Rayan suka tinggal di sini," tanya Rayan sedih disaat orang tuanya sedang mengemas barang-barang mereka.
Seira meninggalkan pekerjaan, mendekati si buah hati, disapunya pipi gembil Rayan sambil tersenyum.
"Karena rumah Nenek yang di sana nggak ada yang ngisi, sayang. Nenek juga nggak mau tinggal sendiri, Nenek mau sama Rayan. Rumah ini udah ada yang beli, nggak apa-apa, 'kan?" sahut Seira menghibur sang anak.
Mata bulat yang selalu membuat hati Seira berdebar itu menatap penuh padanya. Ada rasa enggan meninggalkan rumah tersebut, tapi juga tak ingin berpisah dengan sang Mamah. Jadilah ia mengangguk patuh meski pancaran kesedihan jelas nampak terlihat.
Mungkin Rayan punya firasat lain tentang rumah itu, hatinya tahu akan ada seseorang datang mencarinya ke rumah itu. Seseorang yang berperan tak kalah penting dalam hidupnya, tapi entah siapa. Yang pasti, hatinya ingin tetap di sana.
"Anak pinter." Seira memuji sebelum kembali membantu Fatih.
Ini keputusannya sendiri, setelah semalam Fatih memberitahu soal siapa pemilik terdahulu rumah yang mereka huni.
"Aku nggak mau tinggal di sini lagi," ucap Seira malam itu.
Fatih sudah menduga hal itu, jika saja dia tahu pemilik rumah tersebut adalah mantan suami Seira tak akan ia membelinya apalagi sampai dihadiahkan pada sang istri. Sayangnya, ia tak tahu hingga Jago bertemu dengan Seira, barulah kebenaran itu terkuak.
Fatih dan semua orang saling melempar tatapan, tangan Seira mengusap pipi dengan cepat mencegah air yang jatuh dari mata menghujaninya. Tubuhnya bergetar, hatinya berdenyut nyeri. Mengingat semua yang telah mereka lakukan di masa lalu, sungguh tak punya hati.
"Gimana kalo kita tinggal di rumah Ibu yang dulu, sayang juga nggak ada yang ngisi," saran Ibu menengahi.
Fatih melirik Seira, wanita itu menghela napas panjang dan mengurainya perlahan-lahan. Rasa sesak yang sempat menghimpit rongga dada, seketika saja menguap dan pergi dengan sendirinya.
"Nggak apa-apa, tinggal di mana aja asal jangan di sini," tegas Seira.
Ia melirik Fatih, bayangan penderitaan Seira yang diceritakan Mang Udin melintas begitu saja di pelupuk laki-laki itu. Betapa ia mengerti apa yang dirasakan sang istri.
"Bukannya aku nggak bisa lupain masa lalu, Mas, tapi aku takut dia gelap mata dan ambil Rayan dari aku," ucap Seira.
__ADS_1
"Kenapa dia harus ambil Rayan? Bukannya dia punya anak?" tanya Fatih. Sudah sejak lama ia ingin bertanya, tapi khawatir menyinggung perasaan Seira.
"Saat kebenaran nanti terungkap, tentang anak siapa yang dikandung Lita, maka nggak menutup kemungkinan dia akan datang buat ambil anaknya. Aku nggak mau, Mas," ungkap Seira.
Semua tercengang, selama ini Seira tahu bahwa anak yang dikandung Lita bukanlah anak Zafran.
"Jadi, selama ini Non tahu? Kenapa waktu itu nggak bilang aja?" tanya Bi Sari menyayangkan.
Seira mengalihkan pandangan pada wanita tua yang selama ini menolongnya.
"Yah, Bi. Lita pernah bilang sama aku kalo dia jadi tempat pelampiasan nafsu laki-laki yang nggak bertanggungjawab, tapi aku memilih diam karena memergoki mereka sedang ... begitu." Seira tak kuasa menahan hatinya agar tidak merasakan sakit lagi.
Fatih mengusap air di pipi istrinya, menarik tubuh bergetar Seira ke dalam pelukan.
"Sebenarnya aku mau bilang, tapi saat pulang kita malah diusir. Aku jijik sama mereka, Bi. Aku muak lihat muka mereka. Apalagi waktu mereka bilang aku ini mandul dan nggak bisa punya anak. Hati aku sakit, Bi. Makanya aku nggak mau mereka tahu soal Rayan, biarin aja. Dia anak laki-laki nggak butuh wali saat nikah nanti," ucap Seira semakin bergetar dan pilu.
"Ssstt ... udah, jangan diingat-ingat lagi. Iya, kita pindah ke rumah Ibu. Kita nggak akan tinggal di sini lagi," sela Fatih sambil memeluk dan mengusap punggung sang istri.
Biya yang melihat kesedihan di wajah sang Kakak ipar, juga kisah pilu wanita itu, menjatuhkan kepala di pundak Ibu sembari melingkarkan tangan di lengannya. Ia tak ingin bernasib buruk seperti Seira, jika saja dia berada di posisi Kakak iparnya itu sudah pasti tak akan mampu melewati semua ujian tanpa Ibu.
"Makasih, Mas, kamu udah ngertiin aku."
Dan pagi itu juga mereka meninggalkan rumah yang baru sebulan lebih ditempati Seira dan Rayan. Seira mengusap kepala anaknya yang terus melihat ke belakang, pada rumah yang membuatnya merasa aman dan nyaman.
Fatih menariknya ke dalam pelukan, apapun akan dia lakukan untuk membuat mereka bahagia. Dia percaya semua perbuatan buruk dan baik akan ada balasannya. Mengingat Biya, adik satu-satunya yang dia jaga setelah kepergian Ayah, Fatih tak ingin gadis itu memiliki takdir yang sama seperti yang dialami istrinya.
Rumah lama Ibu berada di bagian lain provinsi Jakarta. Tak apa sedikit jauh dari restoran, yang penting kehidupan mereka tak akan mendapatkan gangguan.
*****
__ADS_1
Di depan rumah itu, Zafran memberanikan diri mendekat pada pagar gerbang. Rumah yang dibelinya dulu kini tampak lebih mewah setelah Fatih memilikinya. Semua disesuaikan dengan kesukaan Seira. Benar-benar rumah yang diinginkan Seira dan tak pernah bisa ia wujudkan.
"Rayan!" Suaranya bergetar memanggil sang anak.
Namun, tak ada sahutan, apalagi kemunculan sosok itu dari dalam rumah. Tangannya mencengkeram erat besi gerbang, menahan gejolak yang meluap-luap. Kosong, rumah itu tak berpenghuni saat ini.
Mungkin dia harus kembali dulu untuk melihat kondisi Ibu, setelahnya dia akan kembali untuk bertemu dengan Rayan. Putranya dari Seira, wanita yang dia anggap mandul dan tak sempurna.
Zafran melangkah gontai menyusuri lorong rumah sakit. Keadaannya kacau, rambut kusut, kering dan kusam. Baju kemarin yang saat ini melekat di tubuhnya terasa lembab dan menguarkan bau tak sedap.
Tak ada lagi Zafran yang tampan dan berkarisma. Yang ada Zafran yang kuyu dan tak ada gairah hidup. Semuanya telah pergi, semuanya telah hilang bersama hancurnya dunia yang dia miliki.
Dia masuk ke ruangan Ibu, ada Lita di sana sedang menyuapi Ibu makan. Juga Naina yang terlihat lebih segar dari semalam.
"Ayah! Ayah dari mana aja?" tanya anak itu. Meski tubuhnya masih lemah, Naina mendekati Zafran dan memeluk kakinya seperti yang selalu dia lakukan setiap kali Zafran pulang.
Laki-laki itu menunduk, menatap mata sayu anak yang selama ini dia rawat. Teringat pada statusnya yang bukan anak kandung, Zafran melepas kedua tangan yang melingkari kakinya. Menepis tubuh anak itu hingga menjauh darinya, kemudian membanting diri di sofa.
"Ayah, Ayah kenapa? Apa Ayah capek, biar Nai pijitin," ucapnya sambil mendekat lagi.
"Jangan dekat! JANGAN DEKATI AKU!" bentak Zafran tak tahu sebab.
Gadis kecil itu tersentak, tubuhnya membeku seketika. Cairan merah jatuh dari kedua lubang hidungnya, tapi tak ada air mata.
Lita yang terkejut mendengar suara tinggi Zafran menoleh dengan segera. Buru-buru diletakannya piring bubur, dan menghampiri Naina.
"Nai! Sayang." Suaranya gemetar sambil mengambil tissue untuk menutup lubang hidung anaknya.
Zafran termangu melihat darah terus mengucur dari kedua lubang hidung Naina, tapi dia enggan mengambil tindakan meskipun hatinya ingin. Hati kecilnya merasa iba pada Naina karena bagaimanapun dia tak punya salah. Dia tidak tahu kesalahan apa yang telah dilakukan Ibunya dulu.
__ADS_1
Oh, sungguh malang! Naina yang malang!