
Seira menoleh kian kemari mencari sosok Gilang yang hilang. Helaan nafas terhembus, sepertinya dia harus turun tangan sendiri mengatasi masalah pembeli yang lain. Kesal memang karena posisi mereka hanya beberapa meja saja dari meja tempat Zafran duduk.
Seira menguatkan hati sebelum mengambil langkah pertama, kalimat basmalah terucap lirih di lisan pun di hatinya. Ia melangkah pelan, wibawanya menguar, semua mata teralihkan pada sosoknya. Banyak yang bertanya tentang siapa Seira karena pelanggan yang sering datang ke restoran itu baru pertama kali melihatnya.
Ia tersenyum penuh pesona, berjalan dengan dagu terangkat tak lagi merendahkan diri. Seharusnya begitu, bukan? Diam-diam Zafran mencuri pandang pada sang mantan, jantungnya berdebar-debar tak menentu.
Dia emang Seira, nggak pernah berubah. Selalu tenang menghadapi masalah. Sayang, nggak ada laki-laki yang mau nerima wanita nggak sempurna kayak dia. Coba aja kamu nggak mandul, Sei. Aku nggak akan pilih Lita.
Zafran bergumam lirih, tak dapat memungkiri rasa itu masih ada walaupun sedikit. Rasa rindu ingin memeluk dan menghirup aroma tubuhnya yang memabukkan, memenuhi relung jiwa. Namun, semua itu ditepis segera, mengingat dia sudah memiliki anak dari Lita. Wanita itu lebih sempurna dari pada Seira.
"Maaf, Ibu. Bisa kita bicara di tempat lain saja?" pinta Seira dengan sopan.
Setiap ucapan ada tempatnya. Gadis yang dimarahi pengunjung itu memucat saat suara Seira menyela di antara perdebatan mereka.
"Ibu-"
Seira mengusap bahu gadis itu sambil tersenyum ketika beradu pandangan. Ia mengangguk pelan memberinya ketenangan. Meminta kertas yang dipegangnya, dan melihat sebentar.
"Siapa kamu? Apa kamu manager di restoran ini? Kalo bukan, panggil sana atasan kamu. Aku cuma mau ngomong sama dia," ketus pengunjung tersebut.
Seira beralih pandangan padanya, tetap tersenyum menahan diri agar tak terbawa emosi. Itulah yang membuat Zafran tergila-gila padanya, Seira tak mudah marah dan mampu meredam amarah.
"Dia itu cuma pelayan! Bukan siapa-siapa, Bu!" Suara Lita menyambar cepat dan lantang.
Pelayan di samping Seira terbelalak, mereka tidak terima pemiliknya disebut pelayan. Ingin berucap, tapi Seira menahannya. Sementara Ibu tersebut mencibirkan bibir mengejek mereka berdua. Seira tak acuh pada suara lantang Lita, ia kembali pada pemilik masalah dan sesegera mungkin mencari solusi.
"Saya saja sudah cukup, Bu. Jadi, apa bisa kita pergi dari sini?" Seira masih berucap lembut.
Sikapnya yang tenang dan sabar, menambah rasa kagum pada hati karyawan yang menyaksikan kejadian itu. Beberapa pengunjung pun memuji meski tak terucap melalui lisan.
"Nggak perlu, di sini aja! Kamu juga cuma pelayan, kan, di sini?"
Gadis pelayan itu semakin geram dibuatnya.
"Baik. Jadi, apa masalah Ibu?" tanya Seira berlanjut.
__ADS_1
"Pelayan di sini nggak profesional, anak saya minta jus malah dikasih lemon tea. Lihat, dia nggak mau minum!" ucapnya menunjuk pada gelas di atas meja.
Seira melirik, tersenyum lebih lebar tatkala melihat gelas itu hanya terisi setengahnya.
"Pokonya sama mau minta ganti! Nggak mau tahu, saya nggak mau bayar makanannya karena kalian bekerja nggak profesional," tegasnya sambil menuding Seira.
Lirikan Seira kembali jatuh pada meja tempatnya makan, semua piring di sana telah kosong tak bersisa. Orang-orang tidak bertanggungjawab, dan hanya menyusahkan saja.
"Nggak bisa gitu, dong, Bu! Ibu harus bayar semua makanan itu!" sambar si pelayan yang tadi dimarahi dengan berani.
Seira kembali mengusap bahunya, menenangkan hati gadis itu agar tetap sabar menghadapi semua masalah.
"Apanya, kamu itu jadi pelayan nggak becus. Restoran semewah ini seharusnya nggak mempekerjakan orang kayak kamu!" sengit Ibu tersebut semakin berapi-api.
"Kalo Ibu mau makan di sini, maka Ibu harus membayarnya. Kalo nggak mau bayar, kenapa nggak makan di rumah saja? Saya lihat minuman itu juga tinggal setengahnya lagi. Jadi, seharusnya nggak ada masalah, 'kan?" ucap Seira.
Mata pengunjung cerewet itu membelalak, di tempatnya Lita tertawa kecil. Menertawakan Seira yang tak akan mungkin bersabar menghadapi protes dari wanita paruh baya itu.
"Apanya yang nggak masalah? Ya, jelas masalah buat saya. Saya dan anak saya nggak merasa puas sama pelayanan di restoran ini. Katanya kenyamanan dan kepuasan pengunjung yang diutamakan, ternyata ... nol!" hardiknya dengan sengit.
"Kami sudah melakukannya, kalo lidah Ibu sama anak Ibu nggak dibuat manja sama rasa makanan di sini, nggak akan mungkin piring yang di sana kosong kayak sekarang. Terus, minuman itu pastilah masih penuh."
"Lagian, Bu ...." Seira mengambil kertas yang diambilnya dari gadis pelayan. Membukanya lebar untuk menunjukkan pesanannya.
"Di sini jelas tertulis kalo Ibu pesen lemon tea, bukan jus. Bukan kami yang salah, tapi Ibu sendiri. Jadi, tolong bayar makanan yang sudah Ibu makan karena kalo nggak, Ibu harus membayar dua kali lipatnya!" tegas Seira.
Semakin lebar mata wanita itu melotot.
"Aku tetep nggak mau bayar, aku mau pergi aja!" katanya sembari mengambil tas dan menggandeng tangan si anak.
"Pak Gilang!" Seira memanggil sang manager yang baru terlihat. Laki-laki itu gegas menghampiri, berhadapan dengan Ibu dan anak yang bersiap pergi tadi.
"Ya, Bu."
"Pinta Pak Dirman menjaga pintu restoran, jangan biarkan orang yang nggak bertanggungjawab ini keluar!" titahnya.
__ADS_1
Suaranya yang lantang membuat semua pengunjung terkesiap. Termasuk Zafran dan keluarganya. Pikiran mereka mulai dipenuhi oleh dugaan-dugaan tentang Seira. Jika dia bukanlah siapa-siapa, tak akan mungkin berani memerintah seorang manager seperti tadi. Lebih-lebih manager itu melaksanakan perintahnya tanpa membantah.
Hati mereka mulai dipenuhi rasa cemas, terutama Zafran yang tak berkedip menatap Seira. Senyum wanita itu tercetak tajam tatkala ia melempar tatapan padanya. Pembuktian bahwa apa yang mereka katakan tidaklah benar.
Tak perlu takut lagi menunjukkan diri, biar saja mereka tahu siapa dan bagaimana kehidupannya sekarang.
Seira kembali pada wanita di hadapannya yang tampak pucat pasi. Tersenyum tajam menegaskan posisinya di restoran tersebut.
"Sudah, Bu. Ada apa?" Gilang kembali datang melapor, bertanya masalah yang terjadi.
"Pak Gilang, Ibu dan anak ini sudah menghabiskan makanan mereka, tapi nggak mau bayar karena alasan yang dibuat-buat dan nggak masuk akal. Pinta mereka untuk membayar dua kali lipat karena secara nggak langsung mereka sudah mencoreng nama baik restoran ini," perintah Seira sembari memberikan kertas di tangannya pada Gilang.
Dengan geram manager tersebut menunjukkan bill yang harus dibayarnya serta kelipatan yang diminta Seira.
Wanita itu berbalik, menghadap kepada para pengunjung seraya membungkuk.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Silahkan dilanjutkan dan harap kejadian tadi cukup sampai di restoran saja. Terima kasih!" ucapnya sekali lagi membungkuk memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.
Banyak pujian terlontar dari mereka, orang-orang seperti Ibu tadi memang harus diberi pelajaran agar tidak seenaknya saja. Pada akhirnya, keadaan restoran kembali tenang setelah Ibu dan anaknya tadi pergi. Tentunya setelah membayar makanan serta minuman mereka. Apa yang terjadi di hadapannya sangatlah jelas, tapi Lita tetap saja mencibir Seira.
Sampai Fatih datang dengan tergesa dan berhambur mendekati istrinya.
"Sayang! Ada apa? Kenapa Pak Dirman jaga di pintu depan?" tanyanya sembari memperhatikan tubuh Seira dari ujung kepala hingga ke kaki.
"Nggak ada apa-apa, Mas. Semuanya udah selesai," jawabnya.
Fatih merasa lega, menarik tubuh Seira ke dalam pelukan.
"Sayang? Mas? Jangan-jangan ...."
Wajah Lita dan Ibu memucat, tak terkecuali Zafran yang turut termangu menyaksikan kejadian di depan matanya. Ia sangat mengenal betul siapa laki-laki yang memanggil Seira sayang. Dia pemilik restoran sekaligus orang yang membeli rumahnya.
Itu artinya, rumah itu dia beli buat Sei. Astaga!
Zafran meraup wajah gusar, hatinya tiba-tiba saja merasa kecil. Begitu pula dengan Lita dan Ibu, kedua-duanya gelisah tak menentu. Terlebih saat Seira tersenyum di balik pelukan Fatih. Seolah-olah mengejek mereka karena tadi menghinanya habis-habisan.
__ADS_1
"Mamah!"
Suara itu kembali menyentak Zafran.