
Jauh di desa terpencil sana, di dalam sebuah gedung bercat putih, seorang laki-laki berjalan menyusuri sebuah lorong. Di tangannya dua kantung plastik berisi makanan juga minuman ia bawa. Keadaan pagi yang sejuk, bekas gerimis semalam menyisakan embun di setiap ujung dedaunan.
Fatih merapatkan jaketnya untuk menghalau rasa dingin yang menerpa kulit. Mereka masih berada di puskesmas karena kondisi Seira yang belum stabil meskipun telah melewati masa kritis. Sepanjang malam ia bersama Bi Sari menunggui wanita itu di ruangannya.
Ruangan luas dan terisi oleh beberapa ranjang pasien karena tak ada ruangan khusus di puskesmas tersebut. Jadi, meskipun enggan Fatih harus rela berbaur dengan orang lain di sana.
Seira sudah sadarkan diri dari sejak semalam, kondisi tubuhnya lemah akibat terlalu keras bekerja. Sedang pikirannya pun belum tenang sepenuhnya, bayangan Zafran selalu melintas dan jadi pengganggu. Kenapa rasanya sulit sekali membuang wajah itu dari ingatan?
Seira mendesah, menatap ke arah jendela yang tak ada pemandangan apapun selain orang-orang berseragam lalu-lalang di lorong.
"Bi, kita pulang aja, yuk. Aku nggak mau lama-lama di sini, kasian Mas Fatih harus nanggung biaya banyak," ucapnya tak enak.
Bi Sari duduk di bangku memperhatikan Seira sejak tadi. Mendengar keluhannya, Bi Sari pun turut menghela napas. Menggenggam tangan hangat wanita itu sambil menatapnya penuh perhatian.
"Kalo emang Non udah ngerasa baikan, nanti bilang aja sama Den Fatih. Tahu nggak, Non? Dia panik banget semalam, nyetir juga ngebut banget. Bibi rasa Den Fatih jatuh cinta sama Non," ujar wanita paruh baya itu sambil tersenyum menggoda.
Samar terlihat rona merah di pipi Seira, ia lantas berpaling dan menghindari tatapan Bi Sari. Helaan nafasnya berat dan penuh beban.
"Mas Fatih cuma kasian sama aku, Bi. Nggak mungkin dia cinta sama perempuan menyedihkan kayak aku. Lagian aku juga lagi hamil, apa dia mau nerima aku sama bayi aku ini? Rasanya nggak ada laki-laki yang mau nerima, Bi. Apalagi Mas Fatih, masih muda, mapan, baik, punya segalanya, pasti bisa dapet yang lebih dari aku," ucap Seira merasa rendah diri.
Namun, entah mengapa, ada yang tercubit oleh sebab kalimat yang diucapkannya sendiri. Fatih ada di hatinya, tapi Zafran masih mendominasi semua rasa yang ia miliki. Tak ingin berharap, sebenarnya itu yang sedang dilakukan Seira untuk menghibur dirinya sendiri.
"Kalo kamu kasih izin, aku bisa ngelakuin itu. Nerima kamu juga bayi itu, nggak masalah buat aku. Asal kamu mau membuka hati buat aku."
Suara Fatih yang terdengar lirih menyentak Seira, ia gegas berpaling pun dengan Bi Sari. Laki-laki itu berdiri tak jauh dari tirai yang menjadi pembatas antara ranjang pasien.
__ADS_1
"Mas Fatih?"
Fatih tersenyum, seraya melanjutkan langkah mendekat. Ia meletakkan plastik yang dibawanya dan duduk di tepi ranjang Seira. Di bawah binar pandangan Bi Sari, Fatih tanpa segan menggenggam tangan hangat Seira.
Wanita hamil itu melirik, tapi membiarkan tangannya bertaut hangat bersama jemari Fatih. Kulit yang terasa halus, berbeda sekali dengan miliknya yang kasar karena selama tinggal di desa membantu warga mengolah ladang.
"Aku nggak tahu apa yang aku rasain, tapi tiap hari makan nggak enak tidur juga nggak nyenyak karena inget kamu terus. Rasanya aku pengen bawa kamu ke kota dan tinggal di dekat aku, supaya aku bisa jagain kamu sepanjang hari dan malam." Fatih menghela napas.
"Sei, kalo kamu kasih aku izin, kita sama-sama ngerawat bayi itu." Fatih menatap lekat manik sayu milik Seira.
"Tapi ini bukan darah daging kamu, Mas. Kamu yakin bisa nerima bayi ini?" tanya Seira balas menatap Fatih.
Bibir laki-laki itu tersenyum, mengeratkan genggamannya pada Seira. Meyakinkan lewat sentuhan bahwa apa yang sedang diungkapkannya adalah benar.
"Insya Allah, dia tetap seorang anak dan nggak bawa kesalahan orang tuanya. Lagian ini juga udah tiga bulan lebih sejak dia menalak kamu, jadi kamu udah bebas dari dia," ucap Fatih penuh harap.
"Mas, kalo perempuan biasa masa iddahku emang udah lewat, tapi aku perempuan hamil. Mas tahu masa iddah perempuan hamil?"
Garis bibir seperti itu yang sangat menggangu pikiran Fatih, lengkungan sempurna ke atas yang tak dimiliki wanita lainnya. Tersirat ketulusan hati yang tak dicampur dengan kebohongan. Fatih menatap ragu, tapi tidak memberi tanggapan.
"Masa tunggu perempuan hamil itu sampai dia melahirkan. Mas yakin mau nunggu selama itu? Inget, lho, Mas bisa dapetin yang lebih baik dari aku. Masih gadis dan single, dan kelebihan-kelebihan lainnya lagi," papar Seira memastikan keyakinan Fatih untuk perasaannya.
"Aku maunya kamu, selama ini juga emang banyak perempuan yang coba deketin aku, tapi nggak ada yang bisa buat hati aku ketar-ketir kayak sekarang. Tiap hari selalu ketakutan, takut kamu pergi jauh dari aku. Nggak masalah buat aku kalo harus nunggu sampe kamu lahiran. Yang penting, aku bisa sama kamu," ungkapnya tanpa beban.
"Ekhem. Bibi pergi keluar dulu, ya." Suara Bi Sari mengingatkan mereka bahwa ada orang lain di sana.
__ADS_1
Keduanya tersipu, tautan tangan mereka pun terlepas begitu saja. Saling membuang pandangan menyembunyikan rona merah di pipi.
"Udah kayak nyamuk aja ganggu." Bi Sari beranjak sambil bergumam-gumam pelan meninggalkan ruangan.
Fatih melirik punggung wanita paruh baya itu, tangannya kembali merayap dan menggenggam apa yang sempat terlepas tadi. Kali ini, Seira pun balas menggenggamnya.
"Gimana, Sei. Ibu udah pengen aku nikah, dia juga seneng banget pas aku cerita soal kamu. Adik aku juga pengen ketemu sama kamu. Jadi, gimana?"
Seira tertunduk, teringat akan statusnya yang belum resmi bercerai dari Zafran.
"Tapi aku belum resmi bercerai. Aku juga nggak punya berkas-berkas buat ngurus surat cerai itu." Seira berucap lirih.
Fatih tak berkecil hati, memang itu tujuannya datang. Menggunakan telunjuk, disentuhnya dagu bak lebah bergantung itu dan memutarnya sehingga pandang mereka kembali bertaut.
"Tujuan aku datang ke sini emang buat itu. Aku mau bantu ngurus semuanya supaya kamu bisa bebas dari mantan suami kamu itu," ungkapnya.
Seira tertegun, teringat akan kabar yang dibawa Mang Udin beberapa hari lalu bahwa Zafran telah bahagia bersama Lita dan mereka sedang menunggu kelahiran anak yang dikandung wanita itu.
Ada perih yang mencabik hatinya, sebegitu mudahkah Zafran melupakan semua tentangnya. Terlebih Ibu mertua yang memang selalu ketus padanya, membayangkan Lita yang bisa memberinya cucu, sudah pasti sosok Seira dilupakan begitu saja.
Pada akhirnya dia mengangguk, setuju dengan rencana Fatih.
"Tapi, boleh aku minta satu hal?"
Fatih mengangguk menyanggupi.
__ADS_1
"Aku ...."