Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Zafran! Bisa ikut ke ruangan aku?"


Dokter Hendra keluar ruangan sembari membuka masker. Wajahnya berkeringat, terlihat panik. Langkanya bahkan tak berhenti terus berlanjut melewati Zafran dan Jago yang menatapnya dengan bingung.


Berharap kabar baik yang akan diterima Zafran, tapi melihat wajah sahabat dokternya yang pias itu sepertinya Zafran sudah dapat menebak seperti keadaan Naina saat ini.


Kepala Zafran menoleh pada Jago, mantan mandornya itu mengangguk meminta dia untuk segera pergi menyusul Hendra ke ruangan. Tidak menunggu lebih lama lagi, Zafran segera membawa langkahnya ke ruangan Hendra.


Langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan dokter itu tengah menunggunya di balik meja. Zafran duduk berseberangan dengan Hendra, saling melempar tatapan satu sama lain.


Zafran tak sabar menunggu, sedangkan Hendra bingung bagaimana mengatakan kondisi Naina saat ini. Ia sedang menyusun kata dalam pikiran, menjadikannya satu kalimat yang pantas untuk diucapkan dan tidak menambah kepanikan pada hati Zafran yang sedang kalut.


"Gimana keadaan Naina? Apa dia baik-baik aja?" tanya Zafran seperti kilatan petir yang menyambar.


Cepat dan terburu-buru tak sabar ingin segera mendengar kabar si buah hati. Hendra menghela napas panjang, masih bingung dengan susunan kalimat yang ada dalam pikirannya. Zafran terhenyak saat kepala dokter muda itu justru menggeleng. Riak wajahnya tak dapat dibaca, tapi rasa sesal sedikit terlihat di sana.


"Gimana, Hen? Dia baik-baik aja, 'kan? Anak aku nggak kenapa-napa, 'kan?" kejar Zafran semakin tak sabar sebab dokter itu belum mengeluarkan sepatah kata pun semenjak mereka duduk.


"Aku bingung harus ngomong gimana sama kamu, Zafran. Kondisi Naina benar-benar parah, apa kalian nggak tahu kalo selama ini dia sakit?" Kalimat yang terlontar dari bibir dokter itu benar-benar mengoyak sisi kelelakian Zafran.


Statusnya sebagai Ayah sedang dipertanyakan, dipertaruhkan, dan dipertanggungjawabkan. Setelah semuanya terjadi, barulah dia menyadari betapa selama ini tak peduli pada anaknya itu.


Zafran menundukkan kepala, rasa bersalah mulai bersarang di hatinya. Sungguh ia merasa terpukul dengan pertanyaan yang sama seperti yang dilontarkan Jago saat di perjalanan tadi.


"A-aku nggak tahu, selama ini aku cuma kerja dan nggak terlalu merhatiin Naina. Emangnya dia sakit apa, Hen? Tolong, jangan nakut-nakutin aku," ucap Zafran bergetar. Matanya sayu memohon pada sahabatnya itu, tapi semua sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur.


"Dia terkena anemia berat, Zafran, dan harus segera melakukan transfusi darah. Anak kalian kritis," ucap Hendra sambil menggeleng lemah, "masalahnya ...." Kalimat lanjutan Hendra tergantung membuat Zafran penasaran.


"Apa lagi? Kalo dia butuh darah, ambil aja darah aku sebanyak yang dia perlukan. Ambil sekarang juga, Hendra. Ambil!" Zafran meradang, bahkan berdiri menyerahkan hidupnya untuk Naina.

__ADS_1


"Bukan, bukan itu masalahnya ...." Hendra menggigit bibir, wajahnya berpaling seolah-olah enggan bertatapan dengan ayah Naina itu.


"Apa lagi, Hen? Dia anakku, sudah seharusnya darah kami cocok, 'kan? Tunggu apa lagi, ambil sekarang juga darah aku, Hendra!" bentak Zafran berapi-api.


Hendra terlihat bingung, gelisah di wajahnya jelas sekali terlihat. Ada apa sebenarnya? Zafran bertanya-tanya dalam hati.


"Masalahnya darah Naina sama sekali nggak cocok sama Kamu ataupun Ibunya. Salah satu dari kalian nggak ada yang bisa melakukan transfusi darah itu sama dia. Kalo kamu mau Naina selamat, kamu harus cari orang yang golongan darahnya sama dengan dia," ucap Hendra terdengar getir.


Zafran termangu mendengar penjelasannya, tubuhnya beku terpaku. Hanya kelopak mata dan bibir saja yang terlihat bergerak, berkedut-kedut menahan gejolak emosi.


"Nggak! Nggak mungkin! Pasti salah satu dari kami cocok sama darah dia, Hen. Kamu pasti salah!" tolak Zafran lirih.


Dia masih berdiri bertopang pada meja kerja Hendra. Hatinya bergemuruh hebat, laksana guntur yang menggema di langit. Menandakan badai akan tumpah mengguyur bumi.


"Tapi itu yang sebenarnya, Zafran. Naina bukan anak kamu, dia anak orang lain yang tumbuh sebelum kamu. Aku tidak tahu siapa, yang pasti ini bukan rekayasaku, ini kenyataan," ucap Hendra menegaskan status kandung mereka.


Tubuh Zafran lunglai kehilangan tenaga, ia ambruk di lantai dengan napas tertahan. Rasanya seluruh dunia yang dia miliki hancur seketika, tak ada lagi yang dia harapkan. Semuanya telah hancur berkeping-keping dan tak akan bisa kembali lagi.


Hendra beranjak mendekati, berjongkok di hadapan Zafran yang memucat karena kehilangan udara di paru-paru. Laki-laki itu bersandar lemah pada kaki meja Hendra, air mata berduyun-duyun turun dari pelupuk menghujani pipi.


Badai itu telah datang, memorak-porandakan rasa di hatinya. Merasa dipermainkan dan dimanfaatkan oleh Lita, wanita penipu itu.


"Kamu yang sabar, Zafran. Ini cobaan hidup yang harus kamu terima, gimanapun status Naina, dia udah kamu rawat dari lahir. Dia nggak bersalah, Zafran. Ibunya yang salah, jangan limpahkan kesalahan pada anak sekecil Naina. Kasihan, dia butuh kasih sayang kalian," nasihat Hendra yang ditolak mentah-mentah oleh hati Zafran.


Jika kenyataan itu yang harus dia terima, maka selamanya dia tidak akan menerima semua itu. Naina tetaplah bukan anak kandungnya meskipun dia menyaksikan sendiri kelahirannya dan merawat sendiri dengan tangannya.


Zafran menolak untuk mengakui, dia tak ingin merawat anak pesakitan yang notabene bukanlah anak kandungnya. Kepala laki-laki itu menggeleng, selama ini dia berjuang melawan rasa malu menjadi OB hanya untuk seorang anak yang terlahir bukan dari benihnya.


Tidak! Rasanya sudah cukup Zafran berteman dengan kebodohan, dia harus bisa melepaskan diri dari semua jerat yang dibuat Lita.

__ADS_1


"Kalo dia emang bukan anak aku, aku juga nggak mau mengakuinya, Hendra. Aku nggak sudi merawat anak yang lahir bukan dari benih aku. Aku nggak peduli, aku nggak peduli," racau Zafran getir.


Matanya menatap kosong ke depan, sungguh tak ada harapan dalam pancaran matanya apalagi cinta kasih. Yang ada hanya kebencian, dendam yang tak berkesudahan, juga rasa kecewa yang dalam. Tak luput jua rasa sesal yang kian subur tumbuh di hatinya.


"Yang terpenting kita harus selamatkan dulu nyawa Naina. Dia nggak bersalah, nggak seharusnya nanggung dosa orang tua. Dia masih kecil dan nggak tahu apa-apa soal permasalahan kedua orang tuanya. Jangan lampiaskan amarah kamu sama dia," ujar Hendra sembari mengusap bahunya yang turun jauh.


Hendra membantu laki-laki ringkih itu untuk beranjak dan keluar mencari orang yang bisa mendonorkan darahnya untuk Naina. Melihat kondisi Zafran yang lunglai, Jago lekas berdiri menyambut.


"Ada apa, Pak Dokter? Kenapa Bapak lemas begitu?" tanyanya segera.


Dokter Hendra menepuk bahu Jago, menghela napas lelah karena masalah rumit yang sedang dihadapi Zafran.


"Naina butuh transfusi darah secepatnya, sedangkan kondisi Zafran nggak memungkinkan untuk melakukannya. Bisa kamu cari darah ke bank darah?" tanya dokter tersebut pada Jago.


"Kalo sekiranya darah anak itu cocok sama saya, ambil darah saya aja, Dokter!" ucap Jago tanpa keragu-raguan.


Zafran terkejut mendengar ucapan mantan mandornya itu. Kenapa dia mau memberikan darahnya untuk Naina? Berbeda dengan Zafran, Dokter Hendra justru menatap kagum dan bangga padanya, dengan segera Jago dibawa ke ruangan melalukan segala rangkain pemeriksaan. Secara kebetulan, darahnya memang cocok dengan Naina.


Kini, mereka berdua duduk di bangku yang sama. Menunggu hasil pekerjaan para tenaga medis. Kondisi Naina sudah stabil, tapi dia belum sadarkan diri. Anak itu kekurangan gizi, asupan makanan benar-benar tak diperhatikan kedua orang tuannya. Sungguh miris memang.


Zafran beranjak, hatinya benar-benar kalut saat ini. Dia berdiri di sebuah pilar, membenturkan kepalanya berkali-kali. Jago hanya diam memperhatikan, siapapun akan terpukul jika dihadapkan dengan situasi seperti yang dialami Zafran.


Sampai kedatangan Lita, wajah itu semakin membuat emosi Zafran meledak-ledak hingga tanpa sadar tangannya berayun menampar cukup keras pipi wanita itu. Lita jatuh tersungkur sambil memegangi pipinya.


"Zafran! Apa-apaan kamu ini?!"


"Pak Zafran!"


Laki-laki itu seolah-olah tuli, dia menatap berang pada istrinya yang terduduk di lantai sambil menangis. Dada Zafran terasa sesak hingga membuatnya harus memburu udara dengan rakus.

__ADS_1


__ADS_2