
Di dalam sebuah kamar bernuansa merah muda, seorang laki-laki terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya yang ditumbuhi bulu-bulu itu tampak pucat dengan kedua belah bibir yang mengering.
Dari sejak semalam hingga pagi Zafran masih belum membuka matanya. Denyutan hebat yang menerjang kepala mengakibatkan kondisi fisiknya melemah, suhu tubuhnya pun meningkat.
Berkali-kali gadis yang menolongnya mengganti sapu tangan yang digunakannya untuk mengompres Zafran. Ia duduk di tepi ranjang, memang wajah laki-laki itu dengan saksama.
"Kenapa kamu jadi kayak gini? Apa yang terjadi sama kamu, Zafran?" gumam gadis tersebut sambil mengusap kepala laki-laki yang betah di alam bawah sadarnya.
Ketukan pada pintu ruangan mengalihkan perhatiannya dari keindahan di depan mata. Ia tahu siapa yang datang, asisten rumah tangga yang ia anggap seperti ibu sendiri.
"Masuk, Bu!" titahnya tanpa berpaling dari wajah Zafran.
Pintu berderit, seorang wanita seusia ibunya Zafran melangkah dengan sebuah nampan di tangan. Di atasnya tersedia dua potong roti isi berikut dua gelas susu yang masih hangat.
"Sarapan dulu, Neng. Nanti keburu berangkat kerja," ucapnya sambil melirik sang majikan yang tak lepas dari memandang Zafran.
"Taro aja di situ, Bu. Aku mau mandi dulu," sahutnya tanpa menoleh.
Ia menunggu sampai wanita itu selesai dengan tugasnya. Lalu, keluar dan meninggalkannya sendirian. Bunyi pintu tertutup, pertanda keadaan telah kembali seperti semula.
"Zafran, aku harap kamu nggak lupa sama aku. Kamu pasti inget, kan, waktu kita deket dulu. Sayangnya, kamu malah milih dia." Ia mendengus, sedikit kesal apabila teringat kenangan di mana mereka begitu dekat. Lalu, Seira datang tiba-tiba dan mengalihkan Zafran dari kebersamaan mereka.
"Coba dulu dia nggak datang, pasti sekarang kita udah nikah, tapi nggak apa-apa karena sampe sekarang aku masih suka sama kamu. Cepet bangun, ya. Aku mandi dulu."
Ia mendekatkan diri pada Zafran, mendaratkan sebuah kecupan di dahi sebelum beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Tak segan lagi seolah-olah itu adalah hal yang biasa dia lakukan.
Sepeninggal gadis itu ke kamar mandi, Zafran melenguh. Dahinya mengernyit, kelopak matanya berkedut-kedut hendak terbuka. Cahaya menyilaukan dari lampu menerpa tepat korneanya. Perlahan ia membuka mata, pandangannya buram dan berangsur-angsur pulih.
"Ah, di mana aku?" Zafran bergumam sambil memegangi kepalanya yang terasa pening.
Ia meringis, memejamkan matanya kembali sebelum beranjak duduk dan memperhatikan sekitar.
__ADS_1
"Tempat apa ini? Kenapa aku bisa ada di sini?"
Zafran mengedarkan pandangannya ke segala arah, mengenali tempat di mana dirinya terbangun. Akan tetapi, sungguh apa yang tampak dalam pandangan tak ada dalam ingatan.
"Ini kayaknya kamar, tapi kamar siapa?"
Zafran menyipitkan mata tatkala pandangannya jatuh pada sebuah figura besar yang terpampang di dinding kamar tepat di atas kepalanya. Ia mengingat-ingat pemilik wajah itu, seperti tak asing dengan senyumnya.
"Mala? Jadi, ini kamar Mala? Tapi kenapa aku bisa ada di sini? Gimana ceritanya?"
Suara gemericik air dari arah kamar mandi, mengalihkan perhatiannya dari foto tersebut. Dag-dig-dug jantung dibuatnya, ribuan tanya menuntut jawaban. Lintasan peristiwa masa lalu membayang dalam benak.
Mala adalah sahabatnya, sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar hingga ia memutuskan pergi keluar kota demi menghindari pernikahan Zafran dengan Seira waktu itu.
Zafran meneguk ludah, tak ingin menunggu gadis itu keluar gegas ia menuruni ranjang. Berjalan sempoyongan meski kepala berat rasanya. Pandangan memburam, semua yang dilihatnya seolah-olah membayang.
"Aku ada di lantai dua rumah ini ... argh, kepalaku rasanya berat banget. Sialan!" umpatnya sambil berpegangan pada pembatas lantai.
"Sialan, kenapa aku lemes kayak gini?" Zafran mengumpat lagi mencoba untuk berdiri dan lanjut berjalan meninggalkan lantai dua rumah besar itu.
Sementara di dalam kamar, Mala keluar dengan hanya berbalut handuk yang menutupi area sensitifnya saja. Di tangannya terdapat handuk kecil yang ia gosok-gosokkan pada rambut sambil berjalan menuju lemari.
Langkahnya terhenti saat melintasi ranjang, tak ada Zafran di sana. Ia menyambar kimono dan tergesa keluar kamar. Tak peduli pada penampilannya yang begitu menggoda.
"Zafran! Kamu di mana?" panggilnya sambil melangkahi pintu.
Mala tersenyum melihat Zafran berjalan tertatih hendak menuruni tangga. Ia menggulung rambutnya yang basah sepanjang jalan menuju laki-laki itu berada.
"Kamu mau ke mana? Kamu belum pulih, lho. Istirahat aja dulu di sini," ucap Mala sambil memegang tangan Zafran.
Laki-laki berjanggut tipis itu menoleh, pandangan matanya sulit diartikan. Ada senang, sedih juga kecewa yang terpancar di sorot matanya.
__ADS_1
"Mala? Jadi, ini beneran kamu?" tanya Zafran.
Ia tertegun melihat penampilan Mala yang bersinar meski tak dipoles makeup. Air yang masih menetes dari helai rambutnya membuat jakun Zafran naik dan turun menahan gejolak. Kenangan itu kembali muncul, cerita di mana mereka sering menghabiskan waktu berdua.
Mala tersipu, mengangguk malu-malu sambil menunduk. Ia menjawab, "Iya, ini aku. Syukurlah kalo kamu masih inget sama aku. Ayo, aku bantu turun, tapi kamu nggak bisa ke mana-mana dulu. Badan kamu masih lemes."
Mala menuntun Zafran menuruni anak tangga, membawa laki-laki itu menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Dengan penuh perhatian, gadis jelita itu menarik kursi untuknya. Mempersilahkan dia duduk. Semua perlakuannya mengingatkan Zafran pada Seira.
"Kamu mau sarapan apa? Aku buatin, dulu kamu itu suka banget masakan aku. Kamu masih inget, kan?" tanyanya antusias.
Mala memakai apron dan bersiap membuat masakan kesukaan Zafran.
"Oh, aku masih inget. Kamu suka nasi goreng dengan dua telur di dalamnya, sosis, dan sayuran. Sebentar aku buatin dulu," lanjutnya lagi.
Selanjutnya dia sibuk sendiri meracik bumbu untuk nasi goreng kesukaan laki-laki itu, sedangkan Zafran termangu di tempatnya duduk. Kilas balik cerita berdesakan ingin keluar, bercampur dengan sosok Seira yang juga selalu memanjakan lidahnya.
Mala? Aku nggak tahu kalo kamu masih peduli sama aku. Padahal, aku udah nyia-nyiain semua kebaikan kamu. Kenapa kamu masih kayak dulu aja?
Batinnya bergumam, meringis sedih karena dia sendiri melupakan keberadaan gadis itu di dalam hidupnya. Tak pernah terduga, Mala akan hadir kembali disaat ia buntu tak menemukan jalan keluar.
Kamu persis kayak Seira, beda banget sama Lita yang nggak bisa ngapa-ngapain.
Diam-diam Mala melirik, mencuri pandang pada laki-laki berkumis di bangku. Hatinya berbunga Zafran tidak menolak apa yang dia lakukan. Masih segar dalam ingatan, di mana dia menolak bertemu hanya karena ingin menjaga perasaan Seira. Untuk itulah dia mengalah dan pergi keluar kota untuk melupakan semua tentang Zafran.
Namun, ternyata tidak bisa, laki-laki itu menggangunya bahkan sampai dia menikah, Zafran masih nomor satu di hatinya. Perceraian itulah jalan yang diambil, dan memutuskan kembali ke Jakarta untuk mengejar cintanya lagi. Tak peduli sekalipun Zafran masih beristri.
"Nah, ini nasi gorengnya udah jadi. Kamu pasti suka, aku tiap hari masak ini biar kalo ketemu kamu udah bisa nyuguhin yang pas sama lidah kamu. Yuk, diicip. Kamu harus makan, abis itu minum obat supaya kondisi kamu cepet pulih-"
"Mala!" Ocehan dan gerakan tangan gadis itu berhenti disaat Zafran memanggil sambil menyentuh tangannya.
"Mmm?"
__ADS_1
"Aku minta maaf."