Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Bertemu Luka


__ADS_3

Beberapa hari setelah Naina datang meminta maaf, Seira dan Bi Sari merasa lebih baik juga lega hati. Mereka berencana pergi ke taman kota sekalian meninjau lahan yang sedang dibangun untuk cabang restoran Fatih.


"Sayang, udah siap?" tanya Fatih sembari masuk ke dalam rumah setelah memeriksa persiapan bersama Gilang untuk di lapangan nanti.


"Udah, Mas. Ini tinggal keperluan Fathiya yang perlu dibawa aja aku masukin," jawab Seira. Tangannya terlihat sibuk memasukkan barang-barang milik Fathiya ke dalam tas.


Sementara bayi itu terbaring sambil memainkan tangan dan kakinya. Tertawa karena Rayan mengajaknya bercanda, Fatih tersenyum melihat mereka. Ia lantas melirik Seira, mengernyit tak senang ketika melihat rambut indah sang istri diikat tinggi hingga memperlihatkan bagian lehernya.


Ia berjalan mendekati ratu hatinya itu, berdiri di belakang Seira yang membungkuk sambil berkacak pinggang gemas. Helaan napasnya berhembus lembut, tubuh itu padat dan berisi sejak Fathiya dilahirkan. Fatih menggelengkan kepala, mengangkat tangan mendekati rambut indah itu dan menarik ikatannya hingga terlepas.


"Mas!" pekiknya. Tubuh Seira berbalik cepat, matanya membeliak lebar.


Fatih menggerakkan telunjuk ke kanan dan kiri menolak protes yang akan dilontarkan bibir manis itu. Seira membuka bibirnya, tapi tak ada kata yang keluar. Ia tersenyum seraya menggeleng, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda dengan cepat.


"Mas nggak suka kamu ikat tinggi rambut kamu itu, kalo bisa ditutup aja biar orang lain nggak bisa lihat mutiara milik Mas ini," ucap Fatih sambil melingkarkan tangan di pinggang Seira. Hati wanita itu tercubit mendengarnya.


"Mamah! Papah!" tegur Rayan, meskipun pelan cukup mengejutkan keduanya.


Fatih segera melepas tangannya, dan tersenyum malu pada bocah yang melihat mereka dengan serius.


"Udah. Ayo turun, kita berangkat," ucap Seira seraya menurunkan Rayan dan menggendong Fathiya. Fatih membawakan tas keperluan mereka mengekor di belakang istri dan anak-anaknya.


Di perjalanan menuju taman, Rayan bercerita banyak tentang apa saja yang dia lakukan dulu saat ikut dengan Fatih. Anak itu duduk bersama Bi Sari di belakang, sedangkan Seira di kursi depan bersama bayinya.


"Mah, di taman itu ada danaunya. Airnya jernih, terus banyak ikannya. Rayan kasih ikan-ikan itu roti, mereka makan semua," beritahu Rayan sambil memegangi kursi belakang yang Seira duduki. Wanita itu menoleh dan tersenyum.


Mereka tiba di taman kota, di mana tak jauh dari sana sedang ada proyek pembangunan milik Fatih. Laki-laki itu bersama Gilang pergi untuk memeriksa, sedangkan Seira bersama kedua anaknya dan Bi Sari pergi bermain di taman.

__ADS_1


Akhir pekan taman kota selalu dipenuhi oleh masyarakat yang sekedar bermain menghabiskan waktu bersama keluarga, ataupun mengais rezeki dengan berjualan apa saja untuk menyambung hidup.


"Hati-hati mainnya, sayang," ingat Seira saat Rayan pergi bermain.


"Mah, aku mau menggambar. Itu yang di sana," ucap Rayan sambil menunjuk deretan anak-anak yang sedang mewarnai.


Melihat itu, Seira antuasias. Ia mendorong kereta Fathiya mendekati tempat tersebut. Menemani Rayan yang ingin belajar menorehkan warna pada sebuah kertas yang bergambar.


Berselang, iring-iringan mobil polisi mengalihkan perhatian semua orang termasuk anak-anak yang di sana. Mereka semua antusias, bertepuk tangan ketika mobil yang memimpin membunyikan sirine.


"Mah, ada mobil polisi!" Rayan berteriak sambil berdiri menghadap iring-iringan itu.


Seira berdiri di belakangnya, memegangi pundak anak itu. Khawatir dia akan berlari menghadang laju mobil kesukaannya. Ia menunjuk pada mobil, bertepuk tangan, dan tertawa riang gembira.


Di dalam sebuah mobil yang membawa para tahanan, Seira melihat sosok itu. Sosok luka yang telah bertahun-tahun lamanya tak pernah muncul lagi. Senyum Seira surut ketika pandang mereka bertemu.


"Hallo, Pak Polisi! Hallo!"


Suara Rayan yang cukup nyaring semakin membuat hati Zafran berdenyut. Rasanya, dia ingin melarikan diri dari mobil dan memeluk anaknya itu. Pilu. Zafran menitikan air mata, bibirnya berkedut memanggil Rayan.


Anakku!


Dia mengeluarkan kepalanya di jendela, tak ingin kehilangan wajah sang anak. Sayangnya, mobil yang ditumpangi melaju begitu cepat hingga dia kehilangan.


Tidak! Anakku! Dia anakku.


Hatinya bergumam sedih, Zafran menutup wajah dengan kedua tangan, menangis lirih teramat rindu ingin memeluk dan mencium aromanya.

__ADS_1


Dia udah besar sekali. Maafin Ayah, Nak. Maaf. Kalian terlihat bahagia tanpa aku. Seira, aku benar-benar menyesal menyakiti dia dulu. Kalo saja aku tahu dia lagi hamil, aku nggak akan pernah nyerein dia apalagi sampe ngusir dia kayak dulu. Nggak. Aku nyesel, tapi semua udah terlanjur dia udah bahagia sama suaminya sekarang.


Zafran menangisi kebodohannya, menyesal pun tiada guna. Semua tak akan pernah bisa kembali lagi seperti dulu sekalipun dia menangis darah memohon di depannya. Kini, dia hanya bisa meratapi nasibnya yang harus menjalani hukuman atas semua dosa yang dilakukan.


Istri yang dibuangnya demi seorang Lita, terlihat semakin bersinar dan mempesona. Wanita yang dia anggap mandul, kini sudah ada dua orang manusia yang terlahir dari rahimnya. Betapa dia menyesal, sedangkan Lita tak pernah hamil lagi setelah Naina dilahirkan. Ada apa dengan hidupnya?


Karma memang tidak terlihat dan terkadang tidak terasa. Seira termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung bisa menyaksikan karma itu secara nyata.


Dia menatap mobil paling akhir, tersenyum meski terpaksa saat Rayan berbalik dan berceloteh tentang mereka. Bi Sari yang sempat melihat Zafran, memperhatikan raut wajah Seira yang sedikit berubah.


Wanita itu kembali berjongkok di belakang Rayan, membantunya memoles warna. Mencoba menghilangkan sosok Zafran dari dalam ingatan. Kenapa mobil-mobil itu harus melintas di sana? Memangnya para tahanan selalu berjalan-jalan di akhir pekan seperti ini?


Seira mengumpat dalam hati, berselang-seling dengan bacaan istighfar untuk menenangkannya kembali.


Astaghfirullah al-'adhiim, ya Allah.


Seira bergumam, menggelengkan kepala menepis bayang-bayang Zafran dari dalam pikiran. Dia masih mengenali wajah itu meskipun kini ditumbuhi bulu-bulu di sekitar dagu hingga mendekati pelipis, juga di antara hidung dan bibir. Di mana dulu, Zafran tidak pernah meliharanya.


"Mah, udah selesai," ucap Rayan membuyarkan lamunan Seira.


Ia mengusap kepala sang anak sambil melihat hasil karyanya yang tak karuan. Seira terkekeh, tapi tetap merasa bangga padanya. Mereka beranjak, pergi ke sebuah warung bakso untuk mengisi perut sambil menunggu Fatih selesai.


"Non! Non baik-baik aja, 'kan?" bisik Bi Sari yang sedari tadi ingin bertanya.


Seira menoleh padanya, senyum yang diukir bibir itu kali ini tidak terlihat terpaksa.


"Nggak apa-apa, kok, Bi. Bibi nggak usah khawatir, insya Allah aku baik-baik aja," jawab Seira sambil mengusap tangan keriput yang menempel di lengannya.

__ADS_1


Tenang, semua pasti akan baik-baik saja.


__ADS_2