
Di malam yang sama di tempat yang berbeda, Nisa sedang memilah dan memilih pakaian di depan almari. Hampir semua pakaian dikeluarkan dari sana, entah apa yang dia cari. Sampai Hendra kembali dari tugas, wanita itu masih sibuk dengan urusannya mencari pakaian.
Lidahnya berdecak berulangkali merasa kesal sendiri.
"Duh, yang mana, ya? Kenapa jadi bingung kayak gini, sih?" gumamnya sambil mengambil gaun terakhir dari lemari.
"Nisa? Kamu lagi apa?" tanya Hendra yang tak disadari Nisa telah masuk ke dalam kamar mereka.
"Mas?" Dahi Nisa mengkerut bingung, meraba-raba ingatan apakah dia lupa mengunci pintu kamar. "Kenapa kamu bisa masuk? Apa kamu mendobrak pintunya?" Nisa memicing curiga.
Hendra menggeleng sambil melanjutkan langkah mendekati sang istri. Matanya melirik pada ranjang yang dipenuhi pakaian Nisa. Wanita itu pula turut melirik, tapi tak acuh. Ia melengos ketika Hendra memandang ke arahnya.
"Apa yang aku dobrak? Kamu denger suara keras nggak tadi? Kamu lupa ngunci pintunya tadi, atau emang udah nggak marah lagi sama aku?" Mata Hendra berkedip nakal, tapi Nisa justru melengos, jual mahal.
Nisa mencebik kesal, menggulung baju di tangan sambil menghadap kembali pada lemari. Masih ada beberapa gaun di dalam sana, tapi tidak menjadi pilihan.
"Ngomong-ngomong kenapa baju-baju kamu di luar semua? Kamu ... Nisa!" Hendra berhambur dengan wajahnya yang pucat.
Panik. Itulah yang tampak dari garis wajah laki-laki itu. Ia mendekati sang istri, gelisah sendiri saat bayangan Nisa pergi melintas menjejali pikiran.
"Nisa, kamu nggak berniat pergi, 'kan? Kamu nggak akan tinggalin Mas, 'kan? Nis, Nisa! Jangan pergi, sayang. Maafin Mas," racau Hendra sembari memegangi tangan Nisa.
Suaranya bergetar, jelas sekali dia ketakutan. Diam-diam Nisa tersenyum, sesekali mengerjai laki-laki itu tak apa, bukan?
"Lepas, Mas. Kamu itu suka bertindak gegabah dan kadang nggak mikirin perasaan aku. Jadi aku pikir, sebaiknya kita pisah dulu sampai hati aku tenang. Aku mau tinggal di rumah Ibu," ucap Nisa yang diam-diam terkekeh tanpa sepengetahuan Hendra.
Mendengar itu, Hendra bertambah kalut. Ragu akan rencananya membawa Zafran ke pesta esok hari. Dia tidak ingin bermasalah dengan Nisa, dia tidak ingin Nisa pergi meninggalkannya walau hanya sementara. Tidak!
__ADS_1
"Nggak! Sayang, maafin aku. Aku janji nggak akan ngelakuin hal bodoh lagi. Aku janji, sayang. Kamu jangan pergi! Jangan tinggalin aku," mohon Hendra sembari memeluk erat Nisa dari belakang.
Sungguh hatinya takut kehilangan, setelah sekian lama merajut cinta dan kebahagiaan dia tak ingin semuanya hancur begitu saja karena tindakan bodoh yang dia lakukan.
Nisa melipat bibir menahan tawa, merasa lucu dan puas hati dapat mengerjai suaminya itu. Getaran tubuh Hendra bahkan terasa memukul-mukul hatinya. Benarkah laki-laki itu takut kehilangannya?
"Lepas, Mas!" pinta Nisa menggeliat menahan geli.
"Nggak! Bilang dulu kalo kamu nggak akan pergi ninggalin Mas!" pintanya semakin mengeratkan pelukan hingga Nisa merasa sedikit sesak.
"Lepas, Mas! Sesak," ucap Nisa tersengal-sengal.
Hendra terhenyak seraya mengendurkan pelukan, tapi tidak melepasnya.
"Bilang kalo kamu nggak akan ninggalin Mas, Nisa. Mas nggak mau kehilangan kamu, Mas nggak mau jauh dari kamu," pinta Hendra semakin bergetar. Ia mencoba untuk tidak menangis, tapi sungguh hatinya telah pun berderai deras.
Hendra mengangguk cepat, kali ini mungkin saja dia benar-benar berjanji pada sang istri untuk tidak melakukan kecerobohan lagi.
"Iya, sayang. Mas janji, Mas janji nggak akan terlibat masalah orang lain lagi kecuali untuk kemanusiaan. Mas berjanji, sayang," ucap Hendra dengan tegas dan yakin.
Nisa tersenyum berharap hati dan lisan Hendra kali ini cocok satu sama lain. Tidak saling mengompori, kompak dan selaras.
"Ya udah, lepas. Bantu aku cari pakaian yang pas buat ke pesta," pinta Nisa.
Mendengar itu, Hendra tercenung. Memilih pakaian untuk ke pesta? Apakah ...?
Hendra melepas ragu pelukan, bergeming menatap sang istri yang kembali sibuk memilih pakaian yang akan dia kenakan pada acara pesta esok hari.
__ADS_1
"Kamu ... pesta? Siapa yang mengadakan pesta?" tanya Hendra sedikit curiga.
"Seira mengundang aku dan Hana secara khusus ke pesta pembukaan cabang restoran miliknya besok. Maaf, ya. Dia nggak bilang kalo kamu juga harus ikut. Jadi, stay di rumah sakit jangan ke mana-mana. Apalagi melakukan kecerobohan seperti kemarin. Jangan!" ingat Nisa tidak main-main, matanya memicing tajam mengancam Hendra jika berani berbuat bodoh.
Laki-laki bergelar dokter itu mendengus, dia sudah salah perkiraan. Dikiranya Nisa mau pergi, ternyata hanya sedang memilih pakaian untuk pesta.
Ia melangkah gontai dan membanting diri di kasur, terlentang menatap langit-langit kamar yang baru beberapa Minggu dipoles ulang. Helaan napasnya terdengar berat dan panjang, pikirannya kembali mengingat Zafran yang pasti sedang berbahagia karena akan melihat anaknya.
"Jangan berpikir yang macam-macam, Mas. Aku nggak main-main, lho. Kalo kamu emang mau bantu teman kamu itu, ikut aja sama aku dan jelasin keadaannya sama mereka. Aku yakin Seira juga ngerti," ujar Nisa tepat menohok hatinya.
Hendra meneguk ludah, berpaling pada sang istri tanpa beranjak dari posisi awal.
"Apa kamu mau bantu?" tanyanya menatap sayu pada sang istri yang sedang merapikan kembali pakaiannya.
"Tergantung. Kalo teman kamu itu bisa dipegang ucapannya mungkin aku mau bantu, tapi kalo dia keras kepala. Jangan sesekali membantunya." Nisa menatap nyalang pada suaminya.
Mengingat cerita Seira tentang bagaimana perlakuan Zafran dulu, membuat Nisa menjadi sosok yang perhitungan terhadap laki-laki itu. Menurutnya, jika kedatangan Zafran akan mengganggu kebahagiaan keluarga mereka, maka sebaiknya jangan dipertemukan. Namun, jika sebaliknya, maka dia rela membantu pertemuan mereka.
Hendra lagi-lagi mendesah, teringat pada percakapannya dengan Zafran, mungkin dia akan membatalkan rencana mereka yang akan diam-diam datang dan melihat dari jauh.
Mau bagaimana? Nisa ada di pesta itu, dan matanya yang jeli itu pasti akan melihat mereka. Hendra tidak ingin perkara itu akan menambah runyam masalah yang sudah ada.
"Yah, besok kita coba ngomong sama mereka. Mudah-mudahan mereka bisa ngerti dan mau mempertemukan ayah dan anak itu," ucap Hendra setelah memikirkan saran Nisa.
Wanita itu tersenyum lega, bersyukur dan berharap semoga Hendra benar-benar menurut sekarang.
Sementara di rumah sakit, Zafran tak dapat memejamkan mata mengingat esok akan bertemu anaknya. Dia menatap langit malam lewat jendela yang tirainya sengaja dibuka. Bibir pucat itu terus tersenyum, betapa hatinya tak sabar menanti esok hari tiba.
__ADS_1