
Ketukan suara langkah menggema di lorong sepi dan lengang itu. Lorong yang temaram dan nyaris mendekati gelap. Tak ada yang berani melewatinya, kecuali dia sendirian dengan langkah yang tertatih-tatih. Isak tangis yang menguar lirih menemani sepanjang perjalanan menuju ujung gelap yang tak terhingga.
Menggetarkan nyali siapa saja yang mendengar. Malam itu, keadaan mencekam, gerimis turun dengan awet, terkadang diselingi suara gemuruh dan kilat yang menyambar. Membuat siapa saja malas beranjak dari tempat ternyamannya.
Akan tetapi tidak dengannya. Langkah yang terkadang terseok-seok dan hampir tumbang, tak menyurutkan niatnya untuk tiba di penghujung lorong. Remuknya hati, hancurnya jiwa. Tak ada lagi rasa pun juga asa.
Dia, berdiri di sana, di ujung lorong yang terhalang jendela kaca yang terbuka. Memandang air yang turun dari langit dengan mata yang juga gerimis. Ia julurkan tangan ke bawah terpaannya, sebelum melangkah melewati pembatas dan berdiri di luar jendela.
Ia membentang kedua tangan, menengadah membiarkan wajahnya diterpa air hujan.
"Udah nggak ada gunanya lagi aku hidup, semua udah berakhir. Semua orang ninggalin aku sendirian. Nggak ada siapa pun yang mau dekat sama aku."
Dia meracau di kesunyian. Di bawah sana, bahkan tak terlihat orang lalu-lalang. Sepi, hanya suara percikan air hujan yang menimpa atap-atap mobil di parkiran. Ia menunduk, memastikan ketinggiannya berada. Terisak pilu dan sedih, meratapi nasibnya yang tak beruntung.
Lalu, membiarkan tubuhnya melayang ke bawah bersiap untuk mati. Namun, di tengah jalan menuju kematian, dia meronta-ronta ketakutan. Entah apa yang dilihatnya di bawah sana, apakah malaikat maut yang menjelma sebagai rupa buruk atas semua dosa-dosanya? Ataukah gambaran tempat yang akan dia datangi setelah kematian?
"Nggak! Aku nggak mau mati! Aku nggak mau!"
Brak!
Prang!
Bunyi-bunyian pun terdengar nyaring dari sebuah mobil yang tertimpa tubuhnya. Dia menggeliat sambil mengerang. Lalu, kaku tak bergerak. Lidah terjulur, mata membeliak lebar. Selayaknya orang yang ketakutan. Kehebohan pun tak terelakkan, para keamanan yang berjaga segera datang memeriksa.
Mereka bahkan tidak berani menyentuh jasadnya, sampai pihak kepolisian tiba di lokasi. Satu pasien bernama Mala dinyatakan meninggal karena bunuh diri di tengah malam itu.
****
Hos-hos!
Zafran terbangun di tengah malam dengan napas yang memburu dan tersengal. Dada yang terasa sesak membuatnya kesulitan bernapas. Dipukul-pukulnya dada supaya sesak yang menghimpit memberinya kelonggaran.
"A-air ... air ...."
Zafran menoleh kian kemari, mencari-cari keberadaan segelas air, tapi tak dapat menemukan. Ia meraba-raba nakas hingga membuat seluruh benda yang ada di atasnya berjatuhan dan menimbulkan suara-suara.
Hendra yang kebetulan datang karena kasus bunuh diri Mala, bergegas mendatangi kamar Zafran. Ya, karena rasa sakit hebat di dada ketika mengantar kedua anaknya, Zafran datang kembali ke rumah sakit. Menerima perawatan seperti biasanya, sambil terus berharap akan sembuh.
Sayangnya, Zafran menderita penyakit langka. Jangankan obat, penyebabnya saja tim peneliti kedokteran tidak dapat menemukannya.
"Zafran! Ya Allah!" Hendra berlari masuk ke dalam ruangan membantu Zafran yang terjatuh di lantai, menempatkannya kembali ke atas ranjang.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Hendra yang lekas memeriksa keadaan sahabatnya itu.
"Air, aku ... air," ucap Zafran seperti bisikan.
Hendra membuka laci nakas dan mengambil sebotol air mineral darinya. Ia memberikan air tersebut pada Zafran yang langsung menenggaknya hingga tandas.
__ADS_1
"Hen, aku minta tolong sama kamu," ucap Zafran usai menghabiskan sebotol air.
Hendra tertegun, malam gerimis begini apakah Zafran begitu kehausan? Sedangkan dia saja, menggigil kedinginan jika tubuhnya tak dibalut dengan mantel.
"A-apa?" Hendra gugup. Ia tahu hidup Zafran tak akan bertahan lebih lama lagi.
"A-aku mau ketemu sama anak-anak aku ... sama Ibu. Ka-kamu bi-bisa bawa mereka?" pintanya sambil tersenyum.
"Tapi ini tengah malam, Zafran. Besok pagi aja, aku nggak enak bangunin mereka malam-malam begini," tolak Hendra.
"Ta-tapi aku mau pulang malam ini, Hen. Tolong, aku mau lihat mereka. Aku mau pulang diantar mereka." Zafran menangis.
Tak tega Hendra melihatnya, ia beranjak menuju ruang informasi. Mencari-cari nomor telepon yang bisa dihubungi. Satu per satu dimintanya datang ke rumah sakit berkumpul bersama Zafran.
Seira dan Fatih bersama Rayan datang lebih dulu karena jarak tempat tinggal mereka yang dekat dengan rumah sakit, disusul Lita dan Naina, dan Ibu berada di urutan paling akhir. Zafran telah duduk dan tersenyum saat kedua anaknya datang.
Ia meminta mereka untuk mendekat, bermain dan bercerita tanpa tahu perpisahan sedang menanti waktu.
"Rayan denger Ayah mau pulang?" tanya Rayan.
Zafran mengangguk lemah, bibirnya tak lepas dari senyum melihat kedua anaknya berkumpul.
"Rayan boleh, ya, antar Ayah sampai rumah?"
"Nai juga, Nai mau antar Ayah sampai rumah," sahut Naina dengan cepat.
"Ayah, kata Mamah sebelum pulang Ayah harus baca syahadat dulu supaya dipermudah jalannya. Mau, ya," ucap Rayan teringat akan nasihat Seira saat di jalan tadi.
Zafran mengangguk lemah.
Dituntun Rayan dan Naina, Zafran melafazkan dua kalimat syahadat dengan napas yang semakin lama semakin berat. Matanya melotot lebar, ia tak ingin terpejam sebelum melihat sosok Ibu.
"Ibu!"
Zafran tersenyum, tangannya gemetaran terangkat hendak menggapai wanita tua yang langsung saja menangis histeris begitu tiba di ruangan sang anak.
"Za-zafran! Nak! Nggak, sa-yang. Ja-jang-an ting-ga-lin I-bu ... jang-an per-gi, Zafran!"
Ibu menangis memeluk anaknya. Menolak kepergian Zafran untuk selamanya.
"Zafran ikhlas, Bu. Zafran ... udah ... bahagia. Ibu jangan sedih, Zafran pamit, Bu." Suara Zafran terdengar seperti bisikan.
Ibu menggeleng, tak ingin ditinggalkan pergi oleh anak semata wayangnya.
"Dingin, Bu. Zafran mau dipeluk Ibu, dingin," ucapnya lagi sembari mengeratkan pelukan di tubuh Ibu.
Mendengar teriakan Ibu yang histeris, Seira yang berada di luar ruangan memeluk tubuh Fatih dan menangis di sana. Terlebih, saat tangis kedua anak itu pun turut menyeruak hingga keluar ruangan.
__ADS_1
"Aku ikhlas, aku udah maafin semua kesalahan kamu, Mas Zafran. Pergilah dengan tenang," lirih Seira dalam pelukan suaminya.
Lita berada tak jauh dari mereka, turut menumpahkan air mata atas kepergian Zafran. Hendra sendiri tak luput dari kesedihan, sebagai dokter sekaligus sahabat ia ingin Zafran sembuh, tapi Sang Kuasa memiliki kehendak lain. Zafran tak akan lagi merasakan sakit saat berada di sisi-Nya.
"Ayah, bangun! Katanya Ayah mau pulang. Ayo, Rayan antar sampe rumah. Jangan bobo di sini, Yah. Kalo Ayah nggak punya rumah, Ayah bisa tinggal di rumah Rayan. Ayah, bangun!" Rayan terus meracau membangunkan Zafran yang telah terbujur kaku.
Ibu hanya bisa menangis sambil memeluk putranya. Ia tak dapat mengubah takdir yang digariskan Tuhan untuk anaknya.
"Ayah, bangun! Nai juga mau antar Ayah pulang. Bangun, Yah!" Naina ikut membangunkan Zafran.
Namun, laki-laki itu bergeming kaku. Rayan berlari keluar menghampiri kedua orang tuanya.
"Mamah, Ayah nggak mau bangun. Katanya mau pulang, tapi Ayah sekarang tidur di sana nggak mau bangun. Ayo, Mah, bangunin Ayah. Rayan mau main sama Ayah besok," pinta anak kecil itu sambil menarik tangan Seira untuk membangunkan Zafran.
Wanita itu menangis, tak kuasa menahan diri. Ia menarik tubuh kecil Rayan dan mendekapnya. Entah seperti apa memberitahu mereka yang belum mengerti soal kematian. Semoga keduanya bisa menerima kepergian Zafran untuk selamanya.
"Sayang, Ayah udah pergi. Ayah nggak akan sakit lagi, Ayah udah pulang ke tempat asalnya. Besok kita antar Ayah ke rumah barunya, ya. Jangan sedih," pinta Seira sambil mengusap air mata Rayan.
Di malam yang sama, dua orang meninggal dalam waktu yang tak jauh beda, tapi dengan cara yang berbeda. Semoga Zafran husnul khotimah.
****
"Mamah, kenapa Ayah dimasukkan ke dalam lubang? Nanti Ayah nggak bisa napas, kasihan, Mah," tanya Rayan begitu melihat jasad Zafran dimasukkan ke dalam liang kubur dan ditimbun.
"Sayang, di sanalah rumah Ayah. Kita semua juga akan menuju ke sana, tapi Ayah udah lebih dulu dari kita. Doakan Ayah semoga ditempatkan di surga Allah. Diampuni segala dosanya, dan diterima taubatnya," ucap Seira menahan pedih melihat kesedihan sang putra.
Rayan berjongkok di dekat batu nisan Zafran, di lain sisi Naina bersama Lita dan Ibu.
"Ayah, sekarang Ayah pasti udah nggak sakit lagi, 'kan? Ayah udah sembuh. Ayah yang tenang, ya, di rumah baru Ayah. Rayan janji akan datang buat jenguk Ayah," ucapnya sambil mengusap batu nisan dan menciumnya sebelum beranjak pergi.
"Mas, kamu yang tenang, ya, di sana. Ibu akan aku urus, kamu nggak usah khawatir," ucap Lita setelah kepergian Seira.
"Ayah, Nai sayang sama Ayah. Besok Nai pasti datang lagi. Nai janji akan jadi anak yang pintar supaya Ayah bangga sama Nai," ucap Naina pula.
Mereka kembali dengan hati yang ikhlas.
****
Sementara di tempat lain, sepasang paruh baya sedang berebut makanan yang mereka temukan di tong sampah. Memakannya seperti orang yang kelaparan dan tak pernah bertemu dengan makanan. Pakaian mereka lusuh, tubuh mereka kotor dan bau. Tak akan ada yang mau mendekati keduanya walau hanya sekedar memberikan makanan.
"Sialan! Ini semua gara-gara si Lita. Anak durhaka itu, ke mana perginya mereka? Ditelepon nggak aktif. Mau makan aja harus rebutan sama kucing. Sial-sial-sial!" umpat salah satunya dengan kesal.
Mereka adalah orang tua Lita yang tak diketahui kabarnya setelah menipu Zafran dan Lita.
Sekian.
Jangan lupa sambangi novel terbaru Author, ya. Kita kongkow di sana.
__ADS_1