Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Ingin Bertemu Naina


__ADS_3

Keesokan hari setelah pertemuan itu, Zafran pada akhirnya bisa merasakan tidur lelap, makan enak, dan menjalani sisa hidupnya dengan semangat. Satu lagi yang mengganjal di hatinya, pertemuan dengan Naina. Dia ingin meminta maaf pada gadis kecil itu karena telah membuatnya kecewa.


"Nai lagi apa sekarang? Ayah kangen pengen ketemu sama Nai? Ayah harap Nai nggak benci sama Ayah, Nak." Zafran bergumam seorang diri sambil menatap langit yang kelam tanpa cahaya rembulan.


Sekelam hidupnya yang jauh dari rasa ikhlas. Zafran menengadah pada beberapa bintang yang hadir menghiasi kegelapan langit. Mereka tampak kecil dan samar tanpa cahaya bulan.


"Kalian tahu, Ayah seperti rembulan yang membutuhkan cahaya matahari untuk membuatnya bersinar, seperti musafir yang membutuhkan bintang sebagai petunjuk arah. Kalianlah cahaya itu, kalianlah bintang di hidup Ayah. Jangan pernah meredup, teruslah bersinar. Kalian mutiara hati Ayah," gumam Zafran lagi semakin lirih terdengar.


Uhuk-uhuk!


Ia menepuk-nepuk dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Meremasnya untuk mengurangi rasa sakit yang mendera. Matanya terpejam, keringat bermunculan di wajah dan lehernya. Dada bergemuruh, napasnya memburu.


"Ya Allah, astaghfirullah!" Wajah Zafran mengernyit kesakitan. Ia mencoba untuk tetap tenang dan tidak ingin memikirkan apapun.


Perlahan, rasa sakti itu menghilang dan Zafran bisa kembali bernapas normal. Diusap-usap dadanya, seraya menarik napas pendek-pendek. Selanjutnya, keadaan pun mulai membaik.


Zafran membuka mata, tersenyum menatap rembulan. Berselang, pintu ruangan terbuka menyusul langkah pun terdengar menapak di lantainya.


"Gimana kabar kamu?" tanya Hendra sambil berdiri di belakang sahabatnya.


Zafran berbalik, dan melihat Hendra dengan seragam dinas yang melekat di tubuh. Sepertinya, dia baru saja selesai dari tugasnya.


"Lebih baik dari sebelumnya. Makasih karena kamu udah bantuin aku buat ketemu sama Rayan," ungkap Zafran sambil mengulas senyum tulus.

__ADS_1


Hendra bersyukur dalam hati, sahabatnya itu terlihat lebih baik dari sebelumnya. Dia lebih bijak, dan tak pernah tertinggal ibadah. Zafran mulai menjalani kehidupan yang baik, tekad untuk sembuh pun semakin kuat. Apalagi saat suara Rayan yang mengatakan ingin bermain bersama-sama mengiang di telinganya.


Harapan pun terus hadir memenuhi hati, menumbuhkan semangat untuk sembuh, meyakinkan hatinya bawa masih ada cinta di atas muka bumi ini untuknya.


"Nggak masalah. Yang penting kamu udah bisa mengambil pelajaran dari semua yang terjadi. Juga mau memperbaiki diri dan merubah keadaan. Itu udah cukup," jawab Hendra sembari mendekat dan bersandar di ranjangnya.


Zafran tersenyum, betapa ia selama ini tidak bersyukur atas semua karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Pantaslah dia dihukum dengan sedemikian rupa.


"Hendra, aku mau minta tolong satu lagi sama kamu. Apa kamu masih mau nolong aku?" ucapnya teringat pada Naina, ia ingin bertemu dengan gadis kecil itu.


Hendra melipat tangan di perut, menelisik wajah Zafran yang terlihat sedikit bercahaya. Mungkin setengah hatinya telah ditumbuhi bunga-bunga, dan sebagian lagi masih berupa tanah tandus.


"Apa lagi? Mungkin aku bisa bantu kalo nggak bikin rugi orang lain kayak kemaren. Bukan apa-apa, aku nggak mau Nisa marah sama aku terus pergi ninggalin aku. Itu aja," sahut Hendra jujur sembari melepas tautan tangannya.


Ternyata, nafsu lebih dulu mengambil kebahagiaan mereka. Menghancurkan semua yang sudah dibangun di awal pernikahan. Hanya karena ujian sepele dari Tuhan, Zafran tidak mampu menundukkan pandangan apalagi mengalahkan nafsu yang terus menggodanya.


"Kamu harus belajar dari aku, Hendra. Jangan pernah lakukan hal bodoh kayak yang aku lakukan kalo kamu emang nggak mau kehilangan semuanya. Mereka anugerah, dan aku baru sadar sekarang setelah melihat Rayan. Dia anak yang hebat tentu saja karena orang tua yang mengasuhnya juga hebat." Zafran menggelengkan kepala menepis air yang hendak jatuh.


Ia tertawa getir, ada rasa senang juga penyesalan yang bercampur aduk di dalam hatinya.


"Sayangi mereka selama kamu masih bernapas di dunia, karena kepergian mereka adalah awal kehancuran dunia kamu. Percaya sama aku, Hendra. Akulah saksi hidup betapa nafsu menghancurkan segalanya. Mengikis ketenangan hidupku sedikit demi sedikit. Untuk itulah, aku sekarang menderita dan hidup sendirian. Jangan ulangi kebodohanku, Hendra. Jangan!"


Zafran serius, selayaknya orang yang telah hidup ratusan tahun lamanya dan sudah merasakan asam garam kehidupan. Dia terlihat bijak malam itu, langit dan bintang yang bertabur menjadi saksinya.

__ADS_1


Hendra tertegun, ia mendengarkan dengan baik petuah dari Zafran. Setiap kata yang diurainya menjadi kalimat, tertanam lekat di ingatan dokter tersebut. Ia tak akan pernah melakukan kesalahan dalam biduk rumah tangganya.


"Jadi, apa kamu masih mau bantu laki-laki nggak berdaya ini? Aku mau ketemu anakku yang lain. Naina, dia juga anakku. Anak yang aku rawat dari lahir. Tolong, aku mau ketemu sama dia," pinta Zafran memelas lewat tatapan matanya yang sayu.


Terpancar kesungguhan dari kedua maniknya yang tampak berkabut, sebutir embun menggenang di kedua sudutnya. Ia tengah menahan rindu pada gadis kecil itu. Gadis yang selalu menyayanginya meski pernah ditolak Zafran.


Hendra tertegun, menatap dalam-dalam kedua mata itu. Tak tega rasanya membiarkan Zafran terkurung rindu.


"Baik. Besok aku akan ajak kamu ketemu sama dia, tapi sekarang kamu sebaiknya tidur. Tidur terlalu malam nggak baik buat kesehatan kamu," ucap Hendra seraya menghampiri Zafran dan mendorong kursi rodanya mendekati ranjang.


Ia membantu membaringkan laki-laki itu di ranjangnya, menyelimutinya penuh perhatian.


"Ingat, besok kamu pasti akan ketemu sama dia. Jadi, segera tidur supaya kondisi kamu lebih prima saat bangun besok pagi," ucap Hendra mengingatkannya sekali lagi.


Zafran mengangguk, tanpa membantah ia memejamkan mata. Mencoba untuk larut ke alam mimpi. Hendra berdiri tegak, memperhatikan wajah sahabatnya yang tampak tenang.


Helaan napasnya terhembus panjang dan berat, sebelum berbalik keluar dari ruangan. Di depan, Suster Kia dan satu temannya sedang menunggu. Mereka akan berjaga di ruangan Zafran memastikan kondisi laki-laki itu baik-baik saja.


"Tetap di sini, kalian harus cepat lapor kalo ada kejanggalan terjadi," titah Dokter Hendra dengan tegas.


"Baik, Dok," sahut keduanya dengan pasti.


Hendra melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, pukul dua puluh dua lebih dua puluh lima menit. Ia menghela napas sebelum mengayunkan langkah meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


Perasaan tak tenang dan gelisah selalu datang setiap kali teringat pada Zafran. Hendra mencoba untuk menepis semua pikiran-pikiran buruk yang menghasut jiwanya. Menyusun rencana untuk esok agar Zafran dapat bertemu dengan Naina.


__ADS_2