
Akhir pekan yang ditunggu pun tiba menghadirkan harapan bagi hati semua orang. Tak terkecuali Zafran yang sedang menunggu kedatangan dua malaikatnya. Ia memang tidak tahu, tapi hanya berharap kedua anak itu akan datang menemui dirinya.
Mata Zafran berembun kala teringat sosok tua yang ia titipkan kepada Hendra. Di mana Hendra menaruh ibunya? Rindu menggebu ingin bertemu, memohon ampunan darinya. Karena dialah, wanita itu kini stroke tak mampu melakukan apapun.
"Di mana Ibu? Kenapa Hendra nggak pernah kasih tahu aku soal Ibu? Aku mau ketemu Ibu," gimana Zafran lirih.
Ia duduk di kursi roda sambil menghadap pintu, menunggu harapannya datang membawa sedikit kebahagiaan untuk hatinya yang kesepian.
*****
Di rumahnya, dua orang laki-laki berbeda usia itu telah bersiap dengan pakaian olahraga mereka. Tak lupa sepatu, dan bola yang dibawa Rayan untuk melengkapi keseruan mereka hari itu.
Seira sendiri sedang sibuk membuat bekal untuk mereka makan setelah puas bermain. Hanya berupa roti isi yang dimasukkan ke dalam sebuah tas bekal.
"Mah, udah siap belum? Rayan mau berangkat, keburu siang," tanya Rayan mendatangi dapur mencari mamahnya.
"Sudah, ini ... mana Papah?" tanya Seira begitu menoleh ke belakang dan hendak memberikan kotak bekal di tangannya.
"Biar aku yang bawa, Kak," sambar Biya yang juga telah bersiap dengan pakaian olahraganya.
Seira tersenyum, ia menyerahkan kotak itu kepada Biya dan mengikuti mereka keluar. Fatih telah menunggu mereka di luar, baru saja memanaskan mesin mobil dan duduk di teras.
"Biya, jaga Kakak kamu dari ulat di luaran sana, ya." Suara Seira membuat Fatih terkekeh geli.
Laki-laki itu beranjak dan mendatangi sang istri yang berdiri di ambang pintu. Ia selalu tampak cantik setiap hari, Fatih merasa puas memilikinya karena hanya dia seorang yang bisa menikmati seluruh lekuk tubuh wanita itu.
Tangan kekarnya menarik pinggang Seira, merapatkannya hingga tak tersisa jarak di antara mereka. Tatapan mata laki-laki itu menusuk dalam manik Seira, menabur bunga pada hatinya yang sudah seperti taman.
"Mas udah punya satu ulat di rumah yang selalu bikin Mas gatel. Ulat di luaran nggak sebanding sama yang Mas punya di rumah." Fatih mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang sang istri.
Tangan yang lain meraba pipi Seira hingga tiba di benda kemerahan yang rasa manisnya membuat Fatih selalu ketagihan. Ingin lagi dan lagi, dan seterusnya.
Seira menundukkan mata, menatap dada bidang Fatih yang dibalut kaos. Ia jatuhkan kepalanya di sana, menyembunyikan semu merah yang muncul di wajah. Fatih mengecup ubun-ubun sang istri, mendekapnya penuh perasaan sebelum membuat jarak yang tak seberapa.
__ADS_1
"Tetap di rumah, jangan pergi ke mana pun, ok?" ingat Fatih yang diangguki Seira. Dia tak akan pergi ke mana pun, akan tetap di rumah menunggu kedatangan mereka kembali.
"Papah! Udah belum pamitnya!" tegur Rayan, suaranya cukup lantang hingga membuat Seira kembali merona dan Fatih gegas melepas pelukan. Laki-laki itu berlari dan masuk ke dalam mobil.
"Kalo mau mesraan tuh lihat-lihat dulu tempatnya. Haduh, emang dasar anak muda," gumam Ibu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Yah, namanya anak muda. Kita juga, kan, pernah muda," timpal Bi Sari dilanjutkan tawa kedua wanita sepuh itu.
Seira melepas kepergian mereka, satu tugas lagi yang belum dia selesaikan. Memandikan dan menyuapi Fathiya yang semakin hari semakin tumbuh dengan baik.
****
Di tempat lain, Ida sedang memandikan Ibu dengan air hangat. Dia benar-benar telaten, setiap lekuk tubuh Ibu tak lepas dari sentuhannya. Bibir kaku wanita tua itu pun membentuk senyuman sejak bangun tidur tadi.
Hari ini aku akan melihat anakku, semoga dia sudah lebih baik dari sebelumnya.
Hati Ibu bergumam perih, membayangkan kondisi Zafran terakhir kali mereka bertemu. Kurus kering dan wajahnya pucat.
"Ibu mau bawa apa ke sana? Nanti kita beli di jalan. Kayaknya buah aja, ya, supaya Ibu bisa nyuapin anak Ibu."
****
Di rumah mereka, Naina sibuk memasukkan buku-buku sekolahnya ke dalam tas. Ia ingin menunjukkan kepada Zafran betapa gadis kecilnya itu sangat pintar.
"Jangan dimasukkan semua, sayang. Nanti kamu berat bawanya," tegur Lita yang muncul dari dapur dengan membawa sebuah kotak bekal untuk Naina.
Ia akan mengantar Naina bertemu Zafran hari itu sebelum pergi bekerja, dan akan menjemputnya lagi sepulang bekerja nanti.
"Nggak apa-apa, Bu. Nai kuat, kok, bawanya. Biar Ayah lihat semua nilai pelajaran Nai," jawabnya sambil tersenyum lebar hingga menampakkan giginya yang sebagian telah tanggal.
Lita menggeleng-gelengkan kepala, ia menyambar tas dan menggandeng tangan Naina menuju jalan raya. Menunggu sebuah angkot yang biasa mengantar mereka pulang dan pergi.
"Ayah pasti seneng kalo Nai di sekolah pintar belajar. Nai nggak akan bikin Ayah kecewa, Nai mau belajar yang rajin supaya bisa bikin bahagia Ayah sama Ibu," seloroh Naina sambil menggerakkan tangan mereka yang bertaut.
__ADS_1
Lita tersenyum, ia menunduk dan bertatapan dengan manik Naina yang juga mendongak ke arahnya. Melihat senyum terbit secara sempurna di wajah cantik Naina, membuat hati Lita tak tega memisahkannya dari Zafran. Meskipun dia memilih hidup sendiri, tapi Lita tak akan pernah melarang Naina bertemu ayah asuhnya itu.
Dia bersinar, menerangi jalan hidupnya yang kelam. Membawanya pada setitik cahaya hidayah, menuju pribadi yang lebih indah. Adanya Naina dalam hidup Lita, bagai pelangi yang memberi warna di perjalanannya. Setiap hari berganti, dalam suka dan duka, Naina selalu menghadirkan tawa untuk hatinya yang tandus.
Apapun yang dilakukan gadis kecil itu, selalu membawa kebahagiaan untuk hati Lita.
****
Fatih tiba di parkiran rumah sakit, terus berjalan menuju meja penjaga. Meminta izin untuk menemui Zafran. Secara kebetulan, Hendra memang telah menunggu. Dokter itu membawa mereka ke ruangan di mana Zafran selama ini dirawat.
"Syukurlah kalian datang, dari pagi tadi dia terus duduk di depan pintu menunggu. Makasih, Pak. Bapak telah bersedia meluangkan waktu untuk membawa Rayan menemui ayahnya," ungkap Dokter Hendra penuh syukur.
Fatih tersenyum, tak akan ia memisahkan ayah dan anak. Sekalipun dia menyayangi Rayan, tapi darah tetaplah lebih kental daripada air.
"Yah, gimana juga, kan, mereka itu ayah dan anak. Saya nggak mungkin ngelarang Rayan buat ketemu sama ayahnya, tapi kalo mamahnya ... saya nggak bisa kasih izin," sahut Fatih, seraya tersenyum aneh saat Hendra menoleh dengan wajah terkejut dan tak percaya.
Selanjutnya dia tertawa canggung mengerti maksud Fatih.
"Iya, Pak. Siapa juga yang rela istrinya berhubungan lagi sama mantan. Saya aja nggak rela," ucap Hendra teringat pada Nisa di rumah.
Fatih menganggukkan kepala, puas dengan jawabannya. Mereka tiba di depan ruangan Zafran. Laki-laki di dalam menunggu dengan jantung yang berdegup-degup saat mendengar ketukan langkah di depan ruangannya.
Hendra membuka pintu, Rayan tersenyum begitu melihat sang ayah duduk menyambutnya.
"Ayah!" Bocah itu berhambur memeluk Zafran, ringan dan tanpa beban.
Hati Zafran berbunga, melihat anaknya datang bahkan memeluknya.
"Hari ini Rayan mau ajak Ayah ke taman, Rayan mau main bola sama Ayah, sama Papah juga. Ayah mau, 'kan?" ucap Rayan setelah melepas pelukan. Matanya berbinar, wajahnya bersinar, membuat hati Zafran turut bercahaya.
Zafran menganggukkan kepala, didampingi suster Kia mereka pergi bermain di taman.
*****
__ADS_1
Mohon maaf, ya. Semalam nggak update dikarenakan ... yah, badan remuk redam kayak abis digebukin satu RT.
Terima kasih selalu setia menunggu dan selalu mendukung. Beberapa episode lagi akan kelar. Salam hangat dari Author. Peluk jauh buat Kakak-kakak semua.