
"Nisa, kenapa sikap kamu aneh kayak gini? Apa yang dibilang perempuan itu sama kamu?" tanya Hendra memelas pada istrinya itu.
Nisa mendengus, berpaling pada laki-laki yang berstatus suaminya itu dengan mata yang mendelik.
"Aku lagi males ngomong. Lepas!" Nisa meronta mencoba melepaskan diri dari cekalan Hendra.
Sementara anak mereka, menatap bingung pada keduanya. Dia masih terlalu kecil dan belum mengerti pembicaraan orang tua. Yang dia tahu, wanita yang tadi berbicara dengan ibunya adalah seseorang yang baik lagi ramah.
"Jelasin dulu sama aku apa yang dia bilang sama kamu?" geram Hendra justru menguatkan cekalannya pada tangan Nisa.
"Aw! Sakit, Mas! Jangan kayak gini," pinta Nisa sembari menggigit bibir menahan perih yang mendera pergelangan tangannya.
Hendra menghela napas, mengendurkan pegangan sambil menekan segala emosi yang menguasai akal sehatnya. Ia melepaskan tangan Nisa, menunduk penuh sesal.
"Ayah, kenapa sakitin Ibu?" tanya anak mereka yang memeluk kaki Nisa dengan sedih.
Bibir wanita itu gemetar menahan rasa yang membuncah di hati, ia peluk anak mereka mengusapnya untuk menenangkan.
"Kita bicara nanti saat Hana tidur, dan kamu harus jelasin semuanya," ucap Nisa setengah berbisik khawatir gadis kecil mereka akan mendengar.
Ia berjongkok, mengusap rambut gadis kecil itu sambil tersenyum.
"Ibu nggak apa-apa, sayang. Kami cuma bercanda aja, kok. Sekarang kita pulang, ya. Udah sore juga," ucapnya seraya mengangkat tubuh gadis kecil itu dalam gendongan.
"Ayo, Mas!" Suara Nisa terdengar lembut, tapi matanya tajam dan garis wajahnya mengeras.
Hendra mendesah, membuntuti sang istri dari belakang kembali ke rumah dengan jantung yang tidak normal. Dia ingin tahu apa yang dikatakan Seira pada istrinya sehingga wanita itu berubah sikap.
Hendra mengacak rambutnya frustasi, berjalan tergesa menyusul anak dan istrinya yang hampir tiba di parkiran.
"Sial, Sei ngomong apa sama Nisa? Sebenarnya siapa suami Sei itu, kenapa dia bisa tahu segalanya?" Hendra bergumam seorang diri.
Ia menatap Nisa yang menunggunya di dekat mobil, bersama anak mereka dalam gendongan. Hendra membukakan pintu mobil untuk mereka, menunggu sampai keduanya duduk tenang di kursi. Ia berlari memutar, duduk di balik kemudi, menjalankan mobil dengan hati kalut tak menentu.
__ADS_1
Tak ada perbincangan di antara mereka, Nisa lebih memilih diam dan menatap ke depan. Jangankan mengomel, bernapas saja sepertinya ditahan. Hendra melirik lewat ekor matanya, Hana duduk di pangkuan sang ibu, gadis kecil itu pun diam seribu bahasa.
"Sayang, kamu kenapa, sih?" Hendra menyentuh jemari Nisa, tapi tangan itu menggeliat seperti seekor belut yang licin melepaskan diri.
Bayangan wajah Seira yang dinaungi awan hitam, juga jejak penderitaan di matanya, membuat hati Nisa terenyuh dan bisa merasakan seperti apa perjuangannya.
Dia memang gadis yang baik, berkata sopan dan ramah, Nisa bahkan tidak melihat api kemarahan ataupun dendam di dalam dirinya. Dia memiliki hati yang benar-benar tulus bersih.
*****
"Kamu tahu ... maaf, siapa nama kamu? Aku belum mengenal siapa nama kamu?" tanya Seira sebelum membuka bahasan.
"Nisa ... tunggu dulu! Apa kamu perempuan itu? Perempuan yang sempat disebut Mas Hendra dalam tidurnya?" tanya Nisa dengan kedua alis yang bertaut sempurna. Sekonyong-konyong hatinya merasa sedih.
Seira tersenyum, pantas saja selama ini telinganya sering berdenging sendiri. Kalo kata orang-orang tua dulu, itu artinya ada yang sedang membicarakan.
"Aku nggak tahu kalo seterkenal itu. Sampai-sampai kamu tahu padahal kita belum pernah ketemu, kan?" sahut Seira tetap mempertahankan senyum di bibir.
"Yah, kita emang belum pernah ketemu, tapi aku pernah nemuin foto kamu di ruang kerja Mas Hendra. Aku nggak tahu, ternyata kamu jauh lebih sempurna kalo melihat secara langsung kayak gini," ucap Nisa tanpa sadar.
"Jadi, karena itu kamu tadi liat aku kayak liat hantu?" Seira menutup mulutnya saat tertawa. Sangat manis, perangainya yang lembut benar-benar menghipnotis lawan bicaranya.
"Yah, karena aku tahu Mas Hendra masih cinta sama kamu. Aku takut dia meninggalkan kami," jawab Nisa jujur.
"Bodoh. Cuma laki-laki bodoh yang ninggalin istri baik-baik dan sempurna kayak kamu. Jangan sampai melakukan kesalahan kayak aku, Nisa. Dikhianati, diusir dan ditalak dalam keadaan sakit. Padahal, aku sedang mengandung anaknya." Seira menoleh, pandang mereka bertemu satu sama lain.
Sebagai sesama wanita yang memiliki perasaan lebih peka, Nisa dapat melihat sebesar apa derita yang dialami Seira.
"Aku berjuang sendirian, segala keluh kesah saat hamil kutanggung sendiri. Sampai melahirkan juga aku sendirian, anakku nggak ada Ayah yang mengadzani. Mas Fatih yang melaungkannya. Aku merawatnya sendiri sampai menikah dan hingga saat ini nggak ada nafkah yang aku terima dari ayahnya anakku. Menurut kamu, gimana aku harus bersikap?" Seira menatap Nisa kembali.
Wanita itu tertunduk, membayangkan menjadi Seira, rasanya dia tidak sanggup.
"Kehidupan kami baik-baik saja sampai sekarang, sampai Rayan bermimpi seseorang merebutnya dari kami. Dia ketakutan, Nisa. Bukan aku nggak mau kasih tahu perihal ayah kandung Rayan. Bukan! Aku hanya menunggu waktu yang tepat dan kesiapan mental anakku aja, tapi suami kamu justru merusaknya." Seira menjeda.
__ADS_1
Nisa mendongak, mata sipit itu memicing bingung. Tidak mengerti ucapan Seira.
"Ma-maksud ka-kamu?" tanyanya terbata.
Seira berpaling sambil menghela napas. Menatap arak-arakan awan yang mulai berubah jingga di ufuk barat.
"Kamu tahu, hari ini Rayan datang padaku dalam keadaan takut. Dia bilang ada orang asing yang bilang dia mirip seseorang. Dan orang itu adalah suami kamu, Nisa. Menurut kamu, pantaskah seorang dokter melakukan hal itu? Aku mengatakan ini, karena kita sesama wanita dan memiliki anak juga."
"Aku tahu maksud Hendra baik, dia mau Rayan mengenal ayah kandungnya, tapi nggak begini? Apa yang dia lakukan tadi membuat Rayan ketakutan. Seandainya kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan? Aku nggak bermaksud menciptakan kesalahpahaman di antara kalian, tapi aku cuma mau kalian ngerti posisi aku. Nggak mudah menjelaskan semua ini pada anak seusia anak kalian. Jadi, tolong jangan campuri urusan kami karena insya Allah kami bisa menyelesaikannya sendiri," tandas Seira sembari tersenyum.
Nisa menggeram dalam hati, jika ia menjadi Seira mungkin tidak akan sesabar wanita di hadapannya itu. Mengancam Hendra dengan segala bentuk sumpah serapah karena melakukan tindakan yang tak pantas dilakukan seseorang berpendidikan tinggi seperti dirinya.
"Anak kalian cantik, persis seperti kamu. Dia pasti jadi rebutan laki-laki saat dewasa nanti," ucap Seira sambil mengusap dagu Hana dengan lembut.
Gadis kecil itu mendongak sambil tersenyum, dia senang dipuji.
"Siapa nama kamu, sayang?" tanyanya dengan ramah dan sikap yang keibuan.
"Hana, Tante," jawabnya sambil menampakkan deretan gigi susunya yang putih dan bersih.
"Hana, nama yang cantik persis kaya orangnya. Nanti kalo Hana udah dewasa, jadilah manusia yang berguna, ya, Nak. Harus bikin Ayah sama Ibu bangga," tutur Seira.
"Iya, Tante. Terima kasih."
Oh, manis sekali gadis kecil itu. Jangan sampai Hendra menyia-nyiakannya seperti Zafran dulu.
*****
Nisa memejamkan mata mengingat semua perbincangan mereka. Tangan dan bibir rasanya gatal sekali bila ingat tingkah sang suami. Padahal dia tahu kisah Seira yang dicampakkan Zafran. Hatinya merutuk tiada henti, teringin malam cepat tiba.
****
Terima kasih, Kakak-kakak semua untuk doa buat anakku. Terima kasih.
__ADS_1