Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Apa Lagi?


__ADS_3

"Mau ke mana lagi kamu, Mas?"


Lita meradang, melihat Zafran telah berganti pakaian. Baru saja mereka tiba di rumah menghabiskan seluruh uang yang dimiliki Zafran. Belum lagi tambahan biaya Ibu, hampir-hampir mereka semua ditahan. Beruntung, ada Hendra yang menjaminnya.


Ibu duduk di ruang depan, memperhatikan Naina yang terlelap di atas sebuah kasur lantai yang sudah tipis.


"Aku mau pergi, nggak usah ikut campur," ketus Zafran sambil terus berjalan keluar tanpa peduli pada Lita yang mengejarnya.


Suara Ibu terdengar tak jelas, tangannya yang kaku bergerak-gerak. Mungkin meminta Zafran untuk tidak pergi dan tetap di rumah bersama mereka.


"Kita baru aja pulang dari rumah sakit, Mas. Kamu mau pergi ke mana lagi?" teriak Lita kesal, berhasil menghentikannya langkah Zafran.


Laki-laki itu menghela napas sebelum berbalik menghadap Lita yang berdiri di belakangnya. Tubuh wanita itu bergetar menahan gejolak emosi yang kembali memuncak.


"Mau pergi ke mana aja, itu bukan urusan kamu. Urusin aja tuh anak kamu yang penyakitan. Nggak usah ngurusin aku!" bentak Zafran. Kedua matanya melotot lebar menatap jengah pada wanita yang hampir lima tahun ini dia nikahi.


Lita terkejut mendengar kalimat keras Zafran soal Naina. Dia tak lagi mengakui anak itu, menyebut namanya saja tak pernah lagi terdengar sejak mereka di rumah sakit. Air mata Lita jatuh dengan sendirinya, bekas tamparan Zafran semalam masih terasa nyeri dan linu, tapi tak lebih sakit disaat dia tak mau lagi menyayangi Naina.


"Aku ini masih istri kamu, Mas. Jelas urusan kamu juga jadi urusan aku." Lita tak kalah meninggi.


Ibu yang melihat pun mendengar, hanya bisa meneteskan air mata tanpa bisa melakukan apapun untuk melerai perseteruan anak dan menantunya.


Ya Allah, kenapa semuanya jadi begini? Kehidupanku yang dulu damai dan tenang, kini bagai neraka. Setiap hari selalu saja ada yang diributkan. Nggak kayak dulu, waktu Seira yang jadi menantuku. Dunia rasanya damai, setiap masalah selalu bisa diselesaikan tanpa bertengkar. Sekarang, semuanya berubah. Aku sadar, sungguh dosaku terlalu banyak pada wanita itu.


Hati tua Ibu menyadari semuanya, penyesalan pun terasa menyesakan dada. Kenangan tentang Seira melintas begitu saja. Bagai sebuah mimpi indah yang membuat Ibu tak ingin membuka matanya lagi.


"Istri macam apa yang udah nipu suaminya sendiri?"


Suara tinggi dua orang itu menyentak lamunan Ibu tentang Seira. Air matanya jatuh tak tertahan, tersedu di kursi roda. Seluruh tubuhnya kaku tak dapat digerakkan.


"Aku udah minta maaf soal itu, aku mengaku salah, Mas. Kita bisa mulai semua dari awal, 'kan? Naina, dia cuma anak-anak yang nggak tahu apa-apa. Tolong, jangan kayak gini sama dia, Mas. Aku mohon," ratap Lita sembari memegang tangan Zafran dan mengguncangnya pelan.


Air matanya berderai deras, tak tahu lagi harus apa untuk membuat Zafran luluh seperti dulu. Laki-laki itu menepis tangan Lita dengan kasar.

__ADS_1


"Aku nggak peduli, dia bukan anakku. Kamu pikir aku sudi anggap dia anak? Nggak, Lita. Aku akan mencari anak aku dan membawanya, Naina ... itu anak kamu!" ketus Zafran benar-benar menohok hati Lita.


Wanita itu mendongak cepat, menatap tak percaya pada ucapan suaminya.


"Anak kamu bilang? Jadi kamu selama ini punya simpanan selain aku, Mas?" Lita semakin meradang, tangannya dengan berani mendorong dada Zafran meluapkan emosi.


Laki-laki itu tertawa, seperti orang kehilangan akal.


"Ya, anak kandung aku. Seira itu nggak mandul, dia lagi hamil waktu aku talak dia. Sekarang aku mau cari anak itu," katanya sambil tersenyum penuh kemenangan.


Lita menggelengkan kepala, tapi Ibu tersenyum dalam ketidakberdayaannya. Bersyukur dalam hati ia masih memiliki cucu dari Seira. Menantu yang dia hina dan dianggap mandul itu.


"Nggak, Mas! NGGAK!" tolak Lita berteriak frustasi.


Ia menjatuhkan diri di lantai, pada akhirnya semua kembali pada kisahnya masing-masing. Yang ditakdirkan bahagia memang seharusnya bahagia, yang ditakdirkan menderita, akan menemui jalannya sendiri. Semua itu karena perbuatan yang dilakukan manusia itu sendiri.


"Kamu tolak pun, nggak akan ngerubah keputusan aku." Zafran berbalik.


Melangkah cepat meninggalkan rumah tanpa menutup pintunya kembali. Namun, langkahnya terhenti di saat baru saja keluar. Di hadapannya dua orang laki-laki berseragam polisi berdiri tegak.


"S-siang!" Zahran gugup, hatinya bergetar ketakutan. Mata memanas, dan seluruh tubuhnya membeku tak terkendali.


"A-ada apa, Pak?" tanyanya lagi.


"Apa benar Bapak adalah Bapak Zafran?" tanya salah satu dari polisi itu.


"Be-benar. A-ada apa, Pak?" Lidah Zafran kelu tak dapat digerakkan.


"Kami mendapat laporan pencurian yang dilakukan oleh Bapak. Bisa ikut kami ke kantor?" jawab polisi itu semakin membuat Zafran tersudut.


"Pe-pencurian? Ta-tapi saya nggak nyuri, Pak," kilahnya sambil bertopang pada daun pintu karena kedua kaki tak mampu menahan beban tubuh.


"Anda bisa jelaskan itu semua di kantor nanti. Sekarang, tolong kerjasamanya dan ikut kami ke kantor," ucap mereka masih dengan tenang.

__ADS_1


Lita yang samar-samar mendengar, beranjak dari lantai rumah. Menghapus air mata dan memperbaiki penampilan sebelum berjalan keluar. Penasaran apa yang menahan tubuh Zafran di ambang pintu.


Lita membelalak, terkejut bukan main melihat dua orang berseragam itu.


"Ada apa ini, Pak polisi?" tanya Lita menguatkan hatinya.


Zafran gelisah, ia membuang muka dari tatapan menyelidik wanita itu, tak ingin keburukannya diketahui.


"Maaf, Bu. Ibu siapanya Pak Zafran?" tanya polisi tersebut.


"Saya istrinya." Lita menjawab ragu.


"Begini, Bu. Kami mendapat laporan pencurian atas nama Zafran di kantor. Kami akan membawa suami Ibu untuk dimintai keterangan. Kalaupun itu hanya fitnah, Bapak bisa kembali ke rumah," jelas polisi tersebut yang menyentak perasaan Lita.


Kepalanya menoleh pada laki-laki di samping, Zafran masih tidak menatapnya.


"Mas, kamu beneran nyuri?" tanya Lita lirih.


"Nggak, itu semua fitnah. Aku nggak pernah nyuri," bantah Zafran emosi.


"Kalau memang Bapak tidak merasa mencuri, maka ikutlah dengan kami secara baik-baik. Bapak bisa menjelaskan semuanya di kantor nanti. Mari, Pak!"


Polisi tersebut membuka pintu mobil, menunggu Zafran yang masih bergeming di dekat pintu kontrakannya. Bibir Lita berkedut-kedut, air matanya kembali jatuh tanpa dapat dia cegah.


"Ba-baik." Perlahan Zafran meniti langkah.


Ia menoleh pada Lita dengan tatapan penuh sesal sebelum masuk ke dalam mobil polisi. Lita masih berdiri di sana melepas kepergian sang suami. Sungguh tak mengira, laki-laki itu akan berbuat nekad. Mencuri, sungguh tidak pernah terlintas dalam pikirannya.


"Nggak mungkin! Itu semua pasti fitnah. Aku harus ikut ke kantor polisi, aku harus susul Mas Zafran dan mastiin kalo itu semua cuma fitnah," gumam Lita seraya masuk kembali ke rumah dan menyambar tasnya.


"Bu, titip Naina. Aku harus ke kantor polisi, Mas Zafran ditangkap polisi, Bu."


Tanpa menunggu jawaban Ibu karena emang tak mampu menjawab Lita berlari keluar mencari angkot.

__ADS_1


Ya Allah, apa lagi ini? Ibu bergumam sedih.


__ADS_2