
Beberapa bulan berlalu, kekacauan di gudang Zafran semakin bertambah. Secara tiba-tiba banyak pelanggan yang membatalkan kerjasama dengannya. Hampir semua kecuali restoran mewah itu.
Zafran membolak-balik laporan dengan kesal, di hadapannya Jago bergeming tanpa suara. Memperhatikan sang majikan yang kian kacau setiap harinya.
"Sial! Kenapa semuanya jadi begini? Kalo terus-terusan kayak gini lama-lama kita bisa bangkrut. Jago, coba kamu datangi mereka satu-persatu dan tanyakan sama mereka alasan mereka nggak melanjutkan kerjasama lagi," titah Zafran dengan geram pada mandornya itu.
Jago menghela napas panjang, sudah dijelaskan berkali-kali alasan mereka pada sang majikan, tapi tetap saja dia tidak mendengar.
"Pak Bos, saya udah datangin mereka dan tanya alasan mereka. Semuanya sama katanya kualitas beras yang kita punya menurun, tapi harganya melangit. Mereka juga bilang ada gudang beras baru yang menawarkan harga rendah dengan kualitas beras yang bagus. Saya juga nggak tahu siapa yang punya gudang itu? Tapi di sana beneran rame," jawab Jago menjelaskan lebih lebar.
"Apa? Gudang beras baru? Nggak mungkin, harga beras aja sekarang lagi tinggi. Kalo mereka jual dengan harga yang lebih rendah dari kita otomatis mereka nggak akan dapat untung. Ini pasti ada permainan, ada orang yang nggak suka kalo usaha aku maju. Ya, kamu harus cari tahu siapa orang itu, Jago," tegas Zafran sambil mengira-ngira.
Laki-laki dengan khas kumisnya yang tebal itu mendesah. Sudah pasti banyak yang tak suka padanya karena kelakuannya yang menjijikkan.
"Baik, Bos," sahut Jago meski enggan sebenarnya, tapi karena mengingat pesan Seira yang memintanya untuk menjaga Zafran terpaksa ia melakukannya jua.
"Bos! Bos! Di luar ...."
"Ada apa? Kenapa kamu panik kayak gitu?" Zafran sontak berdiri dari duduknya. Menggebrak meja kesal karena diskusinya dengan Jago terganggu.
"I-itu, di-di luar ada perempuan yang waktu itu ke rumah. Dia bawa polisi, Bos," lapornya membuat tubuh Zafran semakin menegang.
"Apa? Kamu yakin itu mereka?" Jago berdiri menatap tajam pada rekannya.
"Iya, Bang. Nggak salah lagi, dia sekarang ada di depan gudang mau ke sini, Bang," jawabnya lagi.
Kepanikan jelas tergambar di raut wajahnya yang berminyak, sudah dapat dipastikan jantungnya saat ini berdegup kencang. Napas pun turut memburu rakus, mengisi paru-paru dengan udara yang tiba-tiba menipis.
Jago tak lagi bicara, ia bergegas keluar memastikan laporan rekannya itu. Langkah Jago terhenti, mata pun membeliak melihat kedatangan Mala yang dikawal dua orang polisi berseragam. Wanita itu tidaklah main-main.
"Di mana Bos kalian? Aku mau ketemu," tanya Mala dengan sikapnya yang angkuh.
Pakaian seksi tetap melekat di tubuhnya, sudah menjadi ciri khas seorang Mala yang tak bisa jauh dari kesan seksi.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Jago tak gentar.
Mala tersenyum miring, mengibaskan tangan tak peduli. Langkahnya berlanjut memasuki gudang sembari mendorong Jago dari jalannya. Laki-laki berkumis itu tak dapat melawan karena keberadaan polisi di belakangnya.
"Oh, sekarang kamu jadi pengecut, ya. Udah kayak tikus aja ngumpet di liang sempit," sindir Mala ketika tiba di ruangan Zafran.
__ADS_1
Laki-laki itu bangkit, menatap geram wanita yang pernah jadi simpanannya untuk beberapa waktu itu.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Zafran geram.
Mala melangkah dengan berani, menantang Zafran yang terlihat lemah tak berdaya di matanya.
"Apa lagi? Aku mau minta uang yang udah kamu pakai. Semuanya kamu harus bayar atau polisi itu akan bawa kamu ke penjara," ucap Mala sembari melipat kedua tangan di perut.
Bibirnya yang merah menyala mencetak senyum yang tak sedap dipandang. Menertawakan Zafran yang jatuh dan hancur berkeping-keping.
Laki-laki itu semakin geram, ia tahu saat ini pastilah akan tiba, tapi tak menduga akan datang secepat ini. Di mana kondisi keuangan sedang pailit, ditambah permasalahan gudang yang kembali melilit. Sungguh rasanya, kepala mau pecah.
"Berapa yang kamu pinta?" Zafran bertanya sembari merapatkan gigi-giginya.
"Aku bukan rentenir, Zafran. Jadi, cukup kembalikan aja uang aku yang udah kamu pakai. Kamu tahu pasti berapa jumlahnya, atau perlu aku kasih catatannya?" sahut Mala sembari duduk di atas meja kerja Zafran.
"Nggak perlu, aku ingat-"
"Ok, dua hari. Aku kasih kamu waktu dua hari, kalo nggak semua aset yang kamu punya jadi milik aku termasuk gudang beras ini," tegas Mala sambil memicingkan mata penuh dendam.
Zafran tak menyahut, tahu betul hatinya tak mampu untuk membayar semua uang Mala dalam waktu sesingkat itu. Namun, wanita itu tak melakukan tawar-menawar, lekas berbalik dan meninggalkan Zafran dengan segala perasaannya yang kalut.
Zafran menepis semua yang ada di atas meja kerjanya hingga berserakan di lantai. Kedua tangan mengepal erat, dada kembang-kempis memburu udara. Jago yang mendengar teriakan sang majikan bergegas masuk dan membelalak saat keadaan di dalam ruangan itu seperti kapal pecah.
"Bos?"
"ARGH!"
Zafran membanting diri di kursi, meremas rambutnya dengan kesal. Keadaannya kacau balau. Siapa yang mau membeli rumah dengan harga mahal dalam waktu singkat?
"Bos!"
"Jago, sebarkan ke mana aja siapa yang mau beli rumah aku. Aku butuh uang supaya nggak dipenjara, Jago. Bantu aku!" Zafran memelas.
Kedua matanya memancarkan keputusasaan yang tak bertepi, tak peduli apa kata Lita dan Ibu soal rumah yang telah dijualnya.
"Mmm ... Bos, kebetulan. Sepertinya emang udah rezeki, kemarin saya waktu ngirim beras ke restoran, yang punya restoran itu kayaknya lagi cari-cari rumah yang dekat-dekat sini, Bos. Coba aja Bos ke sana, mungkin dia mau beli rumah itu," saran Jago teringat pada pemilik restoran langganan mereka.
"Kamu nggak bohong, Jago?" Sedikit harapan muncul di hatinya. Biarlah rumah beserta mobilnya hilang, yang penting dia tidak masuk penjara.
__ADS_1
"Gimana kalo kita ke sana aja? Mudah-mudahan orangnya ada di restoran. Kita nggak akan tahu kalo nggak pernah nyoba," saran Jago lagi yang segera saja disetujui Zafran.
Keduanya pergi meninggalkan gudang, menuju restoran langganan beras mereka. Tempat makan yang dipadati pengunjung, terlebih saat siang hari seperti sekarang. Pastilah banyak orang yang berkunjung untuk makan siang.
Jago berinisiatif turun dan bertanya soal pemilik restoran, ia kembali dengan membawa harapan untuk Zafran.
"Gimana?"
"Ada, Bos. Kita disuruh langsung aja ke ruangannya," jawab Jago sumringah.
Zafran turun dituntun Jago memasuki restoran, dan seorang pelayan membawa mereka ke sebuah ruangan. Ia mengetuk pintu tanpa berbicara.
"Siapa?" Suara seorang laki-laki terdengar dari dalam ruangan.
"Saya, Pak. Ini ada Bang Jago katanya ada hal penting yang mau dia bicarakan," jawab si pelayan yang kembali terdiam.
"Oh, suruh masuk aja."
Ia mempersilahkan masuk pada keduanya, dibukakan pula pintu olehnya. Seorang laki-laki dewasa duduk di balik meja kerja sambil memasang senyum menyambut kedatangan mereka.
"Maaf, Pak, saya ganggu waktunya." Jago berbasa-basi dengan sopan, sedangkan Zafran terkesima oleh ruangan tersebut.
"Nggak apa-apa, silahkan duduk!" Ia mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Mereka saling berhadapan, beberapa saat menunggu, tak satu pun yang berbicara. Laki-laki pemilik restoran itu tertawa garing demi mengusir canggung.
"Baiklah, mau bicara apa? Silahkan, jangan sungkan," katanya ramah.
"Begini, Pak. Kemarin saya nggak sengaja denger kalo Bapak ini lagi cari rumah yang dekat sini, apa bener?" tanya Jago hati-hati.
Dia kembali tertawa kecil seraya menjawab, "Itu bener. Saya emang lagi cari rumah dekat sini buat hadiah calon istri saya. Ada saran?" Ia tersenyum menunggu.
Seperti angin yang menyegarkan di tengah terik matahari, Zafran tersenyum.
"Ada, Pak. Saya mau jual rumah saya yang ada di sekitar sini karena saya lagi butuh uang. Kalo Bapak minat, saya sangat bersyukur. Ini, Pak, saya ada gambar rumahnya."
Zafran mengeluarkan ponsel dan menunjukan gambar rumahnya serta mobil yang terparkir di halaman. Laki-laki itu manggut-manggut setuju.
"Mmm ... bagus, saya suka. Semoga aja calon istri saya juga suka. Ok, jadi berapa?"
__ADS_1
Rumah dan dua mobil miliknya dijual Zafran tampa sepengetahuan Lita dan Ibu. Biarlah, yang penting bisa terbebas.