Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Bertemu Lita


__ADS_3

Keesokan harinya, keadaan kembali membaik. Seira dan yang lainnya tidak membiarkan Rayan sendirian apalagi melamun. Seira selalu senang jika Jago membawa Rani ke restoran. Gadis kecil itu teman yang baik untuk Rayan, selain para karyawan yang selalu mendongeng.


"Sayang, Mas mau pergi memeriksa persiapan dulu. Kamu baik-baik di sini, ya," ucap Fatih seraya mengecup dahi sang istri juga putri bungsu mereka di pangkuan wanita itu.


Ia melihat Rayan bersama seorang karyawan putri dan Bi Sari, tak luput gadis kecil ceria yang membawa tawa bahagia. Fatih mendatangi mereka, melirik mainan yang berserakan di lantai gubuk. Tangannya mengusap kepala Rayan penuh perhatian, ia bersyukur kejadian kemarin tidak membuat anak laki-laki itu lantas murung.


"Papah?" Rayan menoleh, wajahnya tampak ceria dan antuasias mendengar sebuah kisah dari karyawan tadi.


"Papah pergi dulu, ya. Kakak di sini baik-baik," pamit Fatih yang diangguki Rayan.


Ia mengecup pucuk kepalanya dan menerima ciuman takdzim di tangan dari anak itu. Seira tersenyum, semakin besar rasa syukur di hatinya dikaruniai suami yang begitu sempurna, juga anak-anak yang sehat lagi ceria.


Selanjutnya, ia mulai memikirkan cara bagaimana memberitahu Rayan soal keberadaan Zafran, ayah kandungnya. Bagaimanapun buruknya laki-laki itu, dia tetap seorang ayah yang berhak tahu dan bertemu dengan anaknya.


Ia menghela napas, sebenci apapun Seira pada Zafran, tapi Rayan tidak boleh tahu seperti apa kelakuan ayahnya itu. Yang perlu dia tahu, sisi baik seorang Zafran saja.


Fathiya menggeliat di pangkuan, membuat Seira mengalihkan perhatian dari Rayan padanya. Sama halnya seperti Rayan, yang semakin besar semakin serupa dengan Zafran meskipun saat bayi begitu mirip dengan Seira. Begitu pula dengan Fathiya, wajahnya yang sejak bayi dominan Fatih, semakin serupa dengan papahnya itu. Bagai pinang dibelah dua.


Ada sebuah mitos kuno yang beredar di wilayah Rangkasbitung dan sekitarnya (khususnya daerah tempat author tinggal), bahwa jika seorang anak laki-laki mirip dengan ayahnya dia pasti akan ditinggalkan. (Entah itu meninggal, ataupun bercerai). (Hanya sebuah mitos yang tidak sepatutnya kita telan mentah-mentah).


Bayi di pangkuannya semakin besar, tiga bulan sudah usianya. Seira meletakkan bayi itu di atas kaki yang diluruskan. Bermain-main dengannya, mengajarinya berbicara, tertawa, dan bertepuk tangan.


Memang menjadi seorang ibu yang memiliki bayi, membuat wanita sering berbicara seorang diri, tertawa sendiri, dan sosok kecil itu adalah pelipur lara pelepas lelah.


****


Sementara di rumah Hendra, laki-laki itu baru saja keluar dari ruang kerjanya. Semalam Nisa mengunci pintu kamar dan tidak memberi izin Hendra untuk tidur bersama mereka. Entah sampai kapan dia harus tidur terpisah meski masih di dalam satu rumah.


Hendra menatap nanar pintu kamar, dua wanita yang dia sayangi bahkan melakukan sarapan di dalam sana. Dari sejak perbincangan mereka sampai pagi hari, mata Hendra belum melihat kedua sosok itu.


Oh, hatinya merindu. Bagaimana jika Nisa dan Hana pergi meninggalkannya sendirian? Tidak! Itu semua tidak boleh terjadi. Dia tidak ingin menjadi seperti Zafran, yang merana di penghujung usia.


Ia memberanikan diri mendekat pada pintu itu, tawa kedua wanita di dalam sana sungguh membuat hati Hendra semakin merana. Dia kesepian padahal mereka masih berada di satu atap yang sama.

__ADS_1


Tok-tok-tok!


"Sayang, aku mau berangkat. Bisa keluar dulu sebentar?" ucap Hendra bergetar. Tak hanya lisannya, tapi juga hatinya.


Hening. Tak ada sahutan dari dalam kamar bahkan tawa yang tadi menjejali telinganya kini raib bagai ditelan bumi.


"Nisa! Hana! Kalian masih di dalam?" tanya Hendra semakin gundah gulana.


Tangannya mengepal, mencoba menggerakkan gagang pintu, tapi tak bisa. Itu terkunci dari dalam dan tak ada siapapun yang dapat membukanya, kecuali Nisa.


Hendra mendesah, rasa sesal menumpuk di hati. Ia menjatuhkan punggung pada daun pintu, menatap langit-langit rumah yang tampak kosong tak berseri. Jakunnya naik-turun secara lambat saat menelan ludah yang terasa berduri.


Hanya seperti itu saja, dia sudah merasa kehilangan. Bagaimana jika mereka benar-benar pergi? Sungguh Hendra tak akan sanggup membayangkan hidup sendirian tanpa istri dan anaknya.


Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, mendesah lelah karena hampir melewati jam kerjanya. Rasanya, dia tidak ingin pergi dan tetap di rumah menunggu kedua wanita berbeda usia itu keluar kamar dan melihat wajah mereka.


Hendra melangkah gontai, kali ini dia harus menelan pahitnya didiamkan. Rasa tak nyaman memenuhi relung jiwanya ketika tak diacuhkan oleh orang-orang yang dia sayangi.


Perutnya yang keroncongan membawa Hendra menuju sebuah minimarket untuk sekedar membeli roti dan air mineral. Tak ada sarapan untuknya pagi itu, sepertinya Nisa benar-benar sedang memberi hukuman.


"Naina?" tegur Hendra begitu posisinya hanya beberapa jengkal saja dari sosok kecil itu.


Naina yang asik duduk, mendongak dan tersenyum saat mengenali sosok yang menegurnya.


"Om Dokter?" Dia turun dan tanpa segan menyalami Hendra.


Wajahnya berseri-seri tampak lebih ceria dan segar dari terakhir kali mereka bertemu.


"Kamu pulang sekolah?"


Naina mengangguk.


"Lagi nunggu apa? Siapa yang antar kamu pulang?" tanyanya lagi karena dia tidak melihat Lita di sana. Oh, mungkin wanita itu ada di dalam.

__ADS_1


"Sendiri, Om. Sekolah Nai dekat, kok, itu di sana. Jadi, Nai pergi dan pulang sendiri aja," katanya dengan polos.


Hendra mengernyitkan dahi, tak akan mungkin Lita membiarkan anaknya pergi seorang diri. Apakah mereka tinggal di dekat sana.


"Apa Nai tinggal di sekitar sini? Di mana Ibu?" Bertanya lagi semakin penasaran.


Naina menggeleng, teringat akan pesan Lita untuk tidak memberitahu siapapun tempat tinggal mereka yang sekarang.


"Nai berangkat sama Ibu, pulang nanti juga sama Ibu. Ibu kerja di sini sekarang dan nggak jadi buruh cuci pakaian lagi. Itu, di dalam," jawab Naina sambil menunjukkan keberadaan Lita di depan mesin kasir.


Hendra melirik ke dalam, wanita itu sedang melayani para pembeli dengan ramah. Sama halnya seperti Naina, Lita pun terlihat lebih cerah daripada saat bersama Zafran dulu.


"Om mau belanja? Masuk aja!" katanya seraya kembali ke tempat duduk. Menunggu jam istirahat Lita untuk pulang ke rumah.


Hendra tersenyum, ia melanjutkan tujuannya untuk masuk ke dalam. Melirik pada Lita yang sibuk dengan para pelanggan. Laki-laki itu turut mengantri, tak lepas pandangannya dari menatap istri Zafran di sana.


"Ini saja, Pak? Ada lagi?" tanya Lita menerima sebuah roti dan air mineral dari pelanggan.


"Lita?"


Jemari wanita itu terhenti memainkan angka saat sebuah suara yang tak asing menyapa gendang telinganya. Lita mendongak, tersenyum ramah pada dokter di hadapannya.


"Dokter? Apa kabar?" tanyanya ramah, seraya melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Aku baik. Kalian hidup dengan baik, ya, selama ini?" ucap Hendra tersenyum kikuk sambil memperhatikan ibu dari Naina itu.


Lita tersenyum seadanya, kemudian menjawab, "Yah ... hidup, kan, harus terus berlanjut, Dokter. Ada Naina yang masih sangat membutuhkan aku."


Ia menyerahkan belanjaan Hendra dan menerima uangnya. Selanjutnya bersikap biasa seperti kepada para pelanggan yang lain.


Syukurlah, kalian hidup dengan baik.


Batin Hendra bergumam.

__ADS_1


Karena kebaikan yang dilakukan Lita dengan ikhlas meski secuil, dia mendapat balasan yang setimpal. Hidup dengan layak karena telah bersedia menolong hidup wanita tua itu.


__ADS_2