
Di rumah sakit, Zafran telah bersiap dan menunggu Hendra menjemput. Ia menanggalkan pakaian pasien dan menggantinya dengan pakaian biasa. Menyisir rambut bahkan memakai pelembab bibir untuk menyamarkan pucatnya.
Duduk tak tenang di kursi roda menghadap daun pintu, menunggu kemunculan dokter itu. Ia berdecak kesal, matanya tak lepas dari menatap jarum jam yang berputar. Sudah beberapa putaran terlewati, tapi sosok yang ditunggu tak kunjung menampakkan diri.
"Ke mana Hendra? Kenapa dia belum datang? Sialan!" umpat Zafran sembari mengepalkan tangan kuat-kuat.
Tanpa Hendra, dia tidak bisa keluar dengan mudah dari tempat tersebut, jika pun bisa maka Zafran harus melindungi dirinya dari ancaman penyakit yang bisa saja menyerang dan akan membuat kondisinya semakin parah.
Ingin menelpon, ia tak memiliki benda pipih itu. Zafran menenangkan diri mencoba untuk bersabar. Mungkin dua atau tiga putaran lagi, Hendra akan muncul dan membawanya ke tempat pesta di mana Rayan berada.
Begitu antusias ingin bertemu dengan anaknya, Zafran bahkan menghabiskan makanan lebih cepat dari biasanya. Meminum obat tanpa ada drama panjang antara dirinya dan suster yang mengantarkan makanan. Semuanya dia lakukan sendiri meski lidah tak memiliki rasa dan tenggorokan terasa sakit saat menelan.
Namun, hingga jarum jam melewati batas yang sudah ditentukan, sosok yang ditunggu tak juga menampakkan batang hidungnya.
"Hendra sialan!" jeritnya dengan napas memburu berat. Dibantingnya piring dan gelas bekas makan pagi tadi sampai berhamburan di lantai. Ia berbalik menghadap jendela, membuka tirai dan menatap lalu-lalang manusia di kejauhan.
Zafran teringat dia memiliki sebuah masker yang diberikan Hendra secara khusus. Zafran mengambilnya dari laci nakas, bertekad akan pergi sendiri ke taman kota meski sulit dilakukan.
Zafran mengenakan masker dan jaket yang tak pernah dipakainya selama dalam ruangan. Menggerakkan kursi roda dengan sekuat tenaga mendekati pintu. Dia tidak pernah berpikir untuk menerobos pintu tersebut jika saja Hendra tidak mengingkari janjinya.
Zafran terus keluar dan berjalan sendirian di lorong yang sepi. Lorong isolasi yang sangat jarang dikunjungi. Samar-samar dia mendengar suara tangisan seseorang dari sebuah ruangan. Teringin tahu suara siapa yang merintih, Zafran menghentikan laju kursi rodanya.
Untuk kemudian mendekati pintu ruangan tersebut dan mengintip dari celah kecil yang ada. Seseorang di dalam sana yang sama persis seperti dirinya. Duduk di kursi roda sambil menangis pilu.
"Mala?" gumam Zafran begitu mengenali sosoknya.
Keadaannya tidak lebih baik daripada Zafran sendiri, tubuh yang dulu dia banggakan bahkan dijajakan kini tampak kurus kering tak menggairahkan. Setiap hari hanya menangis dan menangis meratapi keadaannya yang menyedihkan.
__ADS_1
Tak ada sanak saudara yang datang menjenguk, sendirian menahan sakit yang tiada akhir. Mala tidak mau mendengar nasihat dokter maupun suster untuk memikirkan kebahagiaannya agar dapat pulih pada kondisi yang lebih baik.
Namun, entah apa sebabnya, dia tak bisa memikirkan kata bahagia lagi. Setiap hari menangis, mengeluh akan sakit yang dialaminya. Zafran tak acuh, Mala bukanlah tujuannya. Laki-laki itu membalik kursi roda dan kembali melanjutkan perjalanan menuju taman kota.
Sayangnya, seorang dokter memergoki aksi Zafran yang hendak pergi keluar dari rumah sakit. Dengan langkah lebar, laki-laki berseragam jas putih itu menjegal langkahnya.
"Pak Zafran, Anda mau pergi ke mana?" tanyanya dengan mata memicing.
Meski Zafran mengenakan masker dan jaket, dokter itu masih mengenali sosoknya. Ia berdiri di belakang kursi roda Zafran dan kembali mendorongnya.
"Baiklah, untuk kali ini saja saya mengizinkan Anda pergi ke taman," ucap dokter tersebut berbaik hati.
Zafran mendengus kesal, tapi mendengar taman ia jadi antusias. Memang taman kota tujuannya, bukan?
"Dokter bisa nggak kita pergi ke taman kota? Rasanya aku mau udara segar di sana," pintanya dengan mata memelas.
"Baiklah, tapi hanya kali ini saja, ya?" sahut dokter tersebut yang menerbitkan senyum Zafran dari balik maskernya.
Sang Dokter pergi ke perizinan, dan kembali setelah mendapatkan izin membawa Zafran pergi ke taman kota. Ia tak hanya sendiri, dibantu seorang suster yang biasa menangani keadaan Zafran. Mereka pergi ke taman kota, hari sudah beranjak sore.
Sementara di bangunan yang baru saja diresmikan, pesta berjalan dengan semestinya. Tak ada hambatan apapun yang terjadi. Semua tamu menikmati hidangan yang disuguhkan dengan wajah puas. Di antara mereka, ada tamu istimewa, sekelompok orang paling mencolok. Mereka anak-anak yatim dari yayasan yang sengaja diundang untuk turut merasakan kebahagiaan.
Mereka yang lama tak berjumpa dapat bercengkerama di acara tersebut. Menjalin silaturahmi yang telah lama terputus. Semua menyatu dalam acara peresmian itu.
Sementara pemilik acara berada di tempat lain, sebuah taman terbuka atas saran dari Seira. Tidak terlalu luas memang, letaknya berada di samping restoran dilengkapi bangku dan meja.
Mereka duduk di salah satunya, empat orang dewasa ditambah dua anak kecil yang berada di antara mereka. Seira masih terlihat kesal dengan kehadiran sosok Hendra yang sengaja tak diundangnya.
__ADS_1
"Maaf, ya. Aku ajak dia soalnya aku takut dia bertindak ceroboh lagi. Makanya aku ajak aja dia ke sini," ucap Nisa yang sebenarnya tak enak hati ketika melihat wajah Seira yang sedikit masam.
Wanita itu mengerti kenapa dia bersikap demikian pada suaminya. Itu disebabkan masalah kemarin di taman. Rayan tak banyak bicara, ia sempat ketakutan ketika melihat wajah Hendra.
"Mah, dia yang waktu itu nemuin Rayan di taman," ujarnya pada saat melihat Hendra di panggung. Kini Rayan kembali tenang setelah dibujuk papah dan mamahnya.
Seira mengusap kepala Rayan, bersyukur anak itu mau menurut dan tidak membuat keributan.
"Nggak apa-apa, lebih baik kayak gini daripada mendatangi diam-diam di belakang." Seira mengangkat pandangan, matanya mendelik tajam pada Hendra yang masih bergeming.
Hendra berpaling, menatap gelisah ke lain arah. Sungguh tak dinyana kejadian kemarin masih membekas dalam ingatan ibu Rayan itu.
"Mmm ... begini, sebenarnya suamiku ini mau ngomong sesuatu sama kalian. Aku harap kalian mau mendengarkan dulu, baru setelah itu kalian bisa memberi tanggapan dan memutuskan," ucap Nisa lagi membuka maksud dan tujuannya membawa Hendra.
Fatih melirik Seira, wanita itu bergeming pada sosok Hendra yang tertunduk dalam diam. Ia tahu apa yang akan mereka bicarakan, pastilah mengenai Zafran yang ingin bertemu dengan anaknya.
Fatih menggenggam jemari Seira, menguatkan sang istri untuk mendengar sebuah kabar dan berita yang mungkin akan mengusik hati.
"Aku tahu apa yang mau kalian bicarakan. Jadi, jangan terlalu bertele-tele dan langsung saja pada poinnya." Seira berujar tegas.
Hening. Hendra masih bungkam, ia sedang menyusun kata sebagai pembuka bahasan. Gugup, itulah yang terlihat dari riak di wajahnya.
"Aku ...."
*****
Terima kasih atas doa Kakak-kakak semua. semoga Allah ijabah. Aamiin. Doa yang sama untuk Kakak-kakak semua dari author.
__ADS_1