
Biya dan Bi Sari berlari di koridor rumah sakit, tak sabar ingin menyaksikan tangis pertama bayi yang akan lahir. Remaja itu bahkan masih mengenakan seragam sekolah, malas untuk menggantinya. Namun, kaki tua Bi Sari tak sanggup mengimbangi, wanita renta itu tertatih-tatih seraya memelankan langkah saat napas tak lagi normal.
Detak jantungnya bahkan memacu dengan cepat, selayaknya seekor kuda yang berlari di pacuan. Ia memegangi dadanya, tapi tak berhenti untuk terus menapak di atas lantai putih itu.
Biya yang menyadari ketertinggalannya, segera menoleh dan menyusul kembali. Menuntun wanita tua tadi agar bisa mempercepat langkah. Beruntung, mereka tidak terlambat.
"Ibu!"
"Aunty!"
Rayan berlari memeluk Biya, menumpahkan kecemasan di hati. Ia sempat melihat wajah pucat sang ibu saat di dalam mobil tadi, teringin memeluknya, tapi takut menambah ketakutan dalam hati.
"Nggak apa-apa, Mamah baik-baik aja. Bentar lagi Kakak akan ketemu sama Adik," ucap Biya sambil mengusap kepala anak itu.
Tak lama, tangisan bayi terdengar hingga keluar ruangan. Semua orang mengucap rasa syukur dan Rayan menangis histeris dalam pelukan Biya. Remaja itu menggendongnya, membenamkan kepala bocah itu di atas pundak. Dia mengerti saat ini Rayan sedang bahagia.
Semua orang menunggu dengan gelisah, tak sabar ingin melihat bayi yang baru saja dilahirkan Seira itu.
"Kayak apa, ya mukanya? Apa kayak Kakak atau Kakak ipar?" Biya bergumam sambil membayangkan wajah bayi mungil Seira.
"Aunty, apa tadi suara Adik?" Biya mengangguk, menjawab sambil memberikan dekapan hangat untuk Rayan.
Tangis semua orang hari itu, adalah tangis kebahagiaan. Ibu bahkan berkali-kali mengusap matanya yang basah, dan terus bercucuran tiada henti.
*****
Selama tiga hari Seira menginap di rumah sakit, semua itu atas permintaan Fatih untuk memastikan keadaan istrinya itu benar-benar pulih sepenuhnya. Fatih bahkan tidak mengizinkan siapa pun menjenguk mereka di rumah sakit. Dia hanya tidak ingin istirahat Seira terganggu karena menerima tamu.
Kini mereka telah tiba di rumah, berkumpul bersama sanak saudara yang datang menjenguk. Berbagai hadiah diterima bayi itu, ucapan rasa syukur juga doa yang baik mengalir dari setiap orang yang datang.
Hampir setiap hari rumah mereka kedatangan tamu, baik sanak saudara maupun para tetangga. Namun, tak satupun dari mereka yang diizinkan Fatih menyentuh bayinya. Ia laksana seorang bodyguard yang siaga melindungi tuannya.
Saat ini, laki-laki itu tengah berbaring di samping kasur sang anak. Wajah lelahnya tampak damai saat terpejam. Pastilah dia lelah, selain harus berjaga di siang hari, malam hari pun terkadang ikut terjaga menemani Seira yang menyusui.
__ADS_1
"Mas. Ashar, bangun sholat dulu," gugah Seira mengguncang pelan tubuh Fatih.
Seira melirik Rayan yang telah bersiap dengan pakaian sholatnya. Sekali membangunkan sang suami yang terkapar di samping anaknya.
Ia melenguh, berbalik dan duduk masih dengan matanya yang terpejam.
"Papah, ayo sholat!" Suara Rayan membuat mata Fatih terbuka, laki-laki itu tersenyum seraya berdiri sambil menguap lebar.
Ia merangkul bahu Rayan dan mengajaknya ke sebuah ruangan yang disulap menjadi mushola mini dalam rumah. Seira tersenyum, berdoa dalam hati semoga mereka selalu harmonis setiap harinya.
*****
Kini Fatih telah kembali duduk di tempatnya, di samping Seira yang sedang menyusui putri mereka sambil memangku Rayan. Keduanya memperhatikan cara bayi itu menikmati satu-satunya makanan yang bisa dia makan.
"Sayang, kemarin Rayan cerita kalo di toko sering ada anak kecil datang mengamen. Dari ceritanya, aku kasian sama dia. Gimana kalo kita bantu dia. Sekolah atau apa mungkin?" ucap Fatih menyampaikan apa yang didengarnya dari Rayan juga karyawan toko kue lainnya soal gadis kecil itu.
Dia.
Hati Seira bergumam, apakah harus jujur atau biarkan saja? Ia tengah menimbang rasa, tapi kejujuran yang dipilih Seira.
Fatih tercenung, seolah-olah sedang mengingat apa saja yang dikisahkan karyawannya di toko.
"Katanya, ayahnya itu udah lama nggak ada, neneknya sakit, ibunya sering sakit-sakitan. Nggak tahulah, pokoknya gitu." Fatih menghendikan bahu.
"Kalo Mas mau tahu, mas bisa tanya sama Pak Dirman. 'Kan, kemarin Pak Dirman yang antar anak itu pulang," ucap Seira tak memberi pilihan.
Fatih teringat pada waktu Rayan membelikan boneka untuk seorang anak kecil di pinggir jalan. Mungkin dia orangnya. Fatih gegas mengubungi Jago, tanpa basa-basi bertanya soal anak yang dimaksud karyawannya.
Wajah Fatih mengeras, urat-uratnya menegang, tapi Seira tak mampu menerjemahkan riak di wajah tampan itu. Ia hanya menunggu Fatih yang mengatakannya.
"Gimana, Mas? Apa kata Pak Dirman?" tanya Seira berpura-pura tidak tahu.
Fatih menunduk menyembunyikan kegamangan yang melanda hati padahal Seira pun sudah mengetahuinya. Ia menatap ponsel di tangan, mengusap-usap layar benda pipih itu gelisah.
__ADS_1
"Mas! Kok, melamun?" tegur sang istri sambil menyentuh lengannya.
Fatih mengelak, ia berdiri dan meninggalkan Seira bersama kedua anaknya. Seira menghela napas, lebih baik begitu. Biar saja Fatih tahu siapa yang akan dibantunya karena hal ini yang sebenarnya ingin dibahas Seira dengannya.
"Mamah?"
"Nggak apa-apa, sayang. Papah butuh waktu sendirian." Seira tersenyum, mengusap kepala Rayan dengan lembut.
"Mamah, apa Adek udah tidur?" tanya bocah itu kembali ketika Fathiya diletakkan Seira ke kasurnya lagi. Ia menoleh sambil mengangguk.
"Kenapa Adek terus tidur? Apa dia nggak mau main sama Rayan?" tanya anak itu lagi dengan nada sedih.
Seira kembali menyapu kepalanya, bukan seperti itu.
"Bukan begitu, sayang. Adek ini, kan, masih bayi. Dia belum bisa menggerakkan tubuhnya dengan sempurna. Kalo Kakak udah gede, jadi udah bisa ngelakuin apa saja. Makanya, nanti Kakak harus bantuin Adek biar pinter kayak Kakak." Seira mencolek hidungnya dengan gemas.
Wajah murung Rayan kembali cerah, tersenyum senang.
Sementara di belakang, Fatih sedang duduk termenung seorang diri. Mengingat ucapan Jago tentang gadis kecil itu, membuat hati resah gelisah.
"Nak! Ngapain kamu sendirian? Melamun lagi? Ada apa, apa ada masalah?" tegur Ibu pada Fatih yang tak menyembunyikan kegelisahan dari wajahnya.
"Duduk dulu, Bu." Fatih menepuk kursi di sampingnya, terhalang sebuah meja kayu yang telah lama ada di sana.
Fatih pun mulai menceritakan soal Naina yang dibicarakan karyawannya di toko kue. Raut wajah Ibu berubah-ubah, yang pasti kesedihanlah yang terlihat di sana.
"Menurut Ibu gimana? Fatih cuma takut mereka ganggu Sei lagi, Bu. Sei udah bahagia sekarang sama Fatih, tapi anak itu ... Fatih nggak tahu, Bu, karena Fatih pernah melihatnya sekali di toko," pungkasnya menuangkan kegelisahan.
Sisi kemanusiaannya, tak tega, tapi sisi cinta justru cemburu mengingat Seira harus berhubungan dengan orang-orang dari masa lalunya.
"Nak, yang berdosa dan bersalah adalah orang tuanya. Anak itu nggak tahu apa-apa. Kamu masih bisa bantu dia walaupun nggak secara langsung. Bisa aja melalui karyawan kamu mungkin, kan, sama aja. Di dalam rezeki yang kita dapat, ada hak orang-orang seperti anak itu. Harta kita nggak akan habis hanya karena bersedekah. Bantu sebisa kamu, nggak perlu mempertemukan mereka dengan Sei. Luka itu udah sembuh, jangan dibuka lagi."
Fatih mencerna setiap kata yang terucap dari lisannya. Dia memang benci terhadap mantan suami Seira dan keluarganya, tapi anak itu tidak tahu apa-apa. Dia tidak pantas untuk dibenci.
__ADS_1
"Makasih, Bu. Fatih ngerti sekarang."