Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Kebahagiaan yang Tiada Tara


__ADS_3

"A-a-a-a ... a-anak-kuh!"


Suara itu terdengar seperti gumaman. Tak jelas, tapi masih dapat didengar oleh Zafran. Ia melepas pelukan dan menoleh ke belakang tubuh. Pandangnya bertemu dengan kedua mata Ibu yang berair.


"Za-za-zafran ... a-a-anak I-i-ibu!"


"IBU!" jerit Zafran histeris.


Ia menjatuhkan diri dari kursi roda dan merangkak mendekati Ibu. Hendra yang melihat gegas berdiri dan berlari untuk membantu.


"Ayah!" Rayan dan Naina sama-sama terpekik dan hendak menahan tubuh Zafran.


Namun, Zafran menggelengkan kepala, menangis histeris di atas pangkuan sang ibu. Tangannya memeluk kedua kaki ibu, menumpahkan kerinduan.


"Ibu!" Dia menangis, "maafin Zafran, Bu. Maaf, Ibu. Zafran banyak dosa sama Ibu. Maafin Zafran, Bu," rengek laki-laki itu tidak tahu malu.


Biarlah dia dianggap seperti anak kecil yang merengek, biarlah semua orang mengejek. Dia ingin menumpahkan kerinduan padanya, memohon ampunan darinya. Semua karena dia, wanita tua itu sakit karena dia.


Tangan Ibu yang bergetar mengusap kepala Zafran, air dari matanya terus berjatuhan menimpa rambut laki-laki itu. Ia menunduk meski sulit dilakukan, mengecup kepala sang putra.


"I-i-ibu u-udah ma-afin ka-mu, Nak. I-ibu ju-ju-ga mi-minta ma-af," tutur Ibu meski terdengar seperti gumaman saja.


Perawat Ida mengusap matanya yang berair tanpa sadar. Menyaksikan dua orang yang saling menumpahkan kerinduan, lirikan matanya jatuh pada Hendra, laki-laki yang dulu mengantar Ibu ke panti.


Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya aku bisa ketemu sama anak aku. Terima kasih, ya Allah. Terima kasih.


Hati Ibu bergumam penuh syukur, setelah sekian lama masih bisa memeluk dan mencium anaknya. Hendra mendekat, tersenyum pada perawat Ida yang telah telaten merawat Ibu. Pandangannya jatuh pada sosok tua yang tak henti mengucurkan air mata memeluk anaknya.


"Ibu, gimana kabar Ibu?" tanya Hendra sedikit tak enak hati lantaran tak pernah datang menjenguk.


Ibu mendongak, tersenyum sambil mengangguk. Tak apa, dengan Hendra mengiriminya ke panti jompo itu, ia bisa bertemu dengan perawat yang baik dan tak pernah mengeluh.


Fatih di kejauhan memperhatikan mereka, dari tempat duduknya bersama Biya yang baru saja muncul. Menatap dua sosok kecil yang berdiri tak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Kakak, apa itu mantan mertua kakak ipar?" tanya Biya setengah berbisik di telinga Fatih.


"Iya, dia yang dulu datang ke toko kue. Kayaknya mereka udah sadar," sahut Fatih tak lepas kedua matanya melihat ke arah mereka.


Hendra membantu Zafran kembali ke kursi roda, mendorongnya supaya lebih dekat dengan Ibu. Zafran menggenggam tangan Ibu, menciumnya dan mendekapnya penuh kerinduan.


"Makasih, ya. Kamu udah rawat Ibu selama ini," katanya pada Ida yang hanya tersenyum menjawab ucapannya.


"Nenek!" Suara Rayan memanggil Ibu, anak laki-laki itu melangkah mendekati keduanya dan berdiri di antara mereka. Sementara Naina, tetap berdiri di tempatnya.


Wajah Ibu teralihkan pada sosoknya, air kembali mengucur membanjiri wajah. Rayan melirik Zafran, laki-laki itu mengangguk membenarkan apa yang ada dalam benaknya.


Anak laki-laki Seira itu menoleh kembali pada Ibu sebelum melangkah semakin dekat dengannya.


"Nenek, ini Rayan. Anak Ayah juga, apa Nenek tahu sama Rayan?" ucapnya sambil menatap lekat-lekat manik tua itu.


Ibu mengangguk-anggukkan kepalanya, telah lama sekali ia ingin mendengar Rayan memanggilnya dengan sebutan nenek. Telah lama sekali ia ingin merengkuh tubuh kecil itu, menciumnya, dan mengatakan penyesalannya atas kejadian dulu.


Wanita tua itu kembali mengangguk, tak akan ia menolak permintaan sang cucu. Cucu yang selama ini ia inginkan, tapi diusirnya begitu saja tanpa salah dan dosa. Ah, hatinya remuk redam kala mengingat betapa kejamnya ia dulu. Tega mengusir Ibu dari anak yang kini memeluknya dengan hangat.


Ibu menciumi ubun-ubun Rayan, tangannya yang gemetar membalas dekapannya. Sungguh, hatinya menghangat karena cucu yang sempat dia buang dulu bisa menerimanya juga.


Diam-diam Fatih memotret momen pertemuan mereka. Ia tersenyum lega, pada akhirnya semua dapat saling menerima satu sama lain. Ia kirimkan gambar tersebut pada Seira, supaya wanita itu dapat melihat bahwa Rayan telah menerima mereka sebagai ayah dan nenek.


"Nenek! Nenek nggak lupa, kan, sama Nai?" tegur Naina dengan lirih. Wajahnya tertunduk sedih, ia takut kehadiran Rayan mengikis posisinya di hati sang nenek.


Ibu mengangkat wajah, bibirnya berkedut ingin memanggil Naina. Tangannya melambai pelan, ia juga rindu pada sosoknya. Sosok kecil yang kuat dan tegar, tak pernah mengeluh meski kesulitan hidup ia jalani setiap harinya.


Naina tersenyum, melangkah pelan menghampiri Ibu, dan masuk ke dalam pelukannya. Zafran turut memeluk mereka, sungguh kebahagiaan yang tiada tara untuk seumur hidup yang pernah dijalaninya.


Lagi-lagi Fatih memotret itu dan mengirimkannya pada Seira.


Mereka melepas pelukan, rasanya jika maut datang hari itu juga, Ibu sudah ikhlas menerima.

__ADS_1


"Ma-mamah Ra-rayan ma-mana?" tanya Ibu dengan susah payah.


"Mamah di rumah, jagain Adek, Nek. Kata Mamah, Mamah udah lupain semuanya. Mamah juga minta supaya Nenek nggak inget-inget lagi," jawab Rayan.


Rasanya bocah itu tahu tanpa harus mendengar cerita bagaimana kisah sang mamah dan neneknya dulu. Ia pernah melihat Bi Sari mengusir mereka dari toko waktu dulu.


Ibu mengangguk-anggukkan kepalanya lagi, berterimakasih dalam hati kepada menantu yang diusirnya dulu. Dia memang wanita baik, mengajarkan anaknya yang baik pula. Menyesal pun tiada guna, semuanya sudah berlalu dan patut dijadikan pelajaran untuk ke depannya.


"Kak, seneng, ya, lihat mereka akur kayak gitu. Rayan emang anak yang hebat. Dia bisa nerima mereka dengan baik," ucap Biya sambil menyenderkan kepala di bahu kakaknya.


Fatih menepuk-nepuk pipi sang adik. Rasanya sudah lama remaja itu tak lagi bersikap manja padanya. Mungkin setelah Fatih menikah dengan Seira, ia menjadi lebih dewasa dan tak pernah merengek lagi seperti dulu.


"Iya, mudah-mudahan Kakak ipar juga bisa berdamai dengan masa lalunya. Kakak tahu rasa sakit itu nggak akan hilang gitu aja, pasti akan terus ada. Yah, nggak bisa juga maksa Sei buat lupain rasa sakitnya mengingat perlakuan mereka yang kejam dulu," sahut Fatih yang diangguki Biya.


Keduanya tersenyum saat Rayan menoleh, bocah itu sedang berbincang dengan mereka. Sedangkan Dokter Hendra berbicara dengan Ida. Naina kembali menunjukkan hasil belajarnya kepada sang nenek, ia membuat bangga semua orang.


"Kak, kayaknya Rayan juga harus mulai sekolah, deh," tutur Biya sembari mengangkat kepala dari bahu Fatih.


"Iya, mamahnya udah nemu sekolah yang cocok buat Rayan. Tunggu tahun depan, ajaran baru, Rayan bisa daftar sekolah," jawab Fatih.


Mereka hening, fokus pada Rayan dan yang lainnya. Tiba-tiba Fatih terlonjak saat ponselnya bergetar.


"Astaghfirullah!" Ia melihat nama si penelpon, tersenyum ketika nama Seira terpampang jelas.


"Iya, sayang-"


"Mas, pulang sekarang juga!" Suara Seira terdengar penuh amarah.


Dahi Fatih mengernyit, lebih-lebih saat Seira memutuskan sambungannya dengan cepat.


*****


Hampura telat update. Semoga semua baik-baik saja dan tentunya masih setia.

__ADS_1


__ADS_2