Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Kesialan II


__ADS_3

Tersudut di sebuah ruang, meringkuk sendirian, meratapi nasib diri yang ditimpa kesialan, sungguh tak pernah terbayangkan, hari itu akan datang bersama bencana yang menyakitkan.


Teramat sakit sehingga diri tak mampu lagi untuk mengecap manisnya kehidupan. Hanya derai air mata yang menjadi teman, di malam sunyi nan mencekam. Sekujur tubuh luluh lantak tak berperi, remuk hati bersama hilangnya kehormatan diri.


Oh, nasib! Mengapa senang sekali mempermainkan manusia yang mengedepankan nafsu belaka?


Wanita itu melenguh, kepala berdenyut nyeri, berputar tak tertahan. Bibirnya yang pucat meringis, berdesis lidah merasakan ngilu di setiap sendi tubuh. Oh, sungguh siksaan apa yang telah dia alami?


"Sakit!" rintih Lita disaat ia mencoba untuk duduk.


Keadaannya kacau, tubuhnya dipenuhi memar berikut di wajah. Sebercak warna merah yang mengering terdapat di salah satu sudut bibirnya. Lita memegangi pipi yang terasa ngilu, air mata jatuh saat tersadar apa yang terjadi semalam. Meski dalam pengaruh alkohol, Lita bisa masih bisa merasakan perihnya siksaan yang diberikan tiga laki-laki itu.


Untuk bercermin saja rasanya dia enggan. Lita terisak-isak sambil memeriksa keadaan tubuhnya yang ditinggalkan tanpa busana. Tangisnya semakin menjadi setelah mendapatkan beberapa lecet di bagian tubuh itu.


"Argh! Laki-laki brengsek! Jahanam kalian!" teriaknya frustasi, tapi entah pada siapa? Di ruangan itu hanya tinggal dirinya sendiri saja.


Lita merenggut rambutnya sendiri, tubuh lemah itu jatuh berdebam di kasur, meringkuk meratapi nasibnya yang tragis. Lintasan peristiwa semalam kembali membayang menjadi mimpi buruk untuk seumur hidup Lita.


"Argh! Kalian jahat! Bajingan!" umpatnya sambil menahan nyeri yang berdenyut di sekitar area bawah.


Lita memukul-mukul kasur menumpahkan segala kesedihan yang merundung hati. Berbagai macam umpatan juga sumpah serapah menguar dari mulutnya. Beberapa saat menangis sebelum matanya menangkap sesuatu.


Benda tipis berwarna merah yang berserakan di lantai bersama pakaian miliknya. Lita meraung setelah menghitung jumlah lembaran yang ditinggalkan tiga laki-laki itu.


"Biadab! Aku nggak sudi memaafkan kalian semua. Semoga hidup kalian lebih hancur dari pada aku!" sumpah Lita meradang.

__ADS_1


Ia memicing tajam sebelum tangis kembali berlanjut. Sungguh, tak ada lagi harga diri seorang Lita. Kehormatannya hancur, derajat tinggi yang harusnya diusung seorang wanita terhormat tak berlaku untuk seorang Lita.


Pancaran kekecewaan pada mata gadis kecilnya melintas kian menambah luka yang menganga. Tangisnya semakin menjadi, bayangan wajah tua Ibu juga suaminya yang meringkuk di dalam penjara, seperti garam yang ditabur di atas luka.


Menambah rasa perih dan sakit yang tak terhingga, meski menangis darah pun tak akan mungkin dosa-dosanya itu mudah untuk dimaafkan. Terutama Zafran, yang notabene adalah suaminya. Ini seperti Lita membalas perselingkuhan Zafran bersama Mala dulu.


Brak!


Pintu kamar yang terbuka dengan kasar hingga membentur dinding, menyentak Lita yang meringkuk memeluk dirinya sendiri. Selimut ditariknya dengan kuat, menggelung tubuhnya yang polos.


Ketukan langkah yang menggema membuat hatinya berdegup tak karuan. Menanti dengan cemas siapa yang masuk kembali ke kamar terkutuk itu. Lita menatap tak berkedip pada arah pintu di mana seseorang akan muncul.


Tidak! Langkah itu terdengar banyak, tak hanya satu.


Tubuh Lita menegang saat sosok yang dinantinya muncul. Tiga orang wanita dengan penampilan mereka yang mencolok berdiri angkuh di dekat ranjang. Kedua tangan mereka terlipat di perut, pandangan jijik dan mencibir mengarah pada Lita.


Kemeja membalut tubuh atas mereka, celana kain melapisi kaki mereka yang ditunjang high heels setinggi lima senti. Tas bermerek bertengger di lengan, perhiasan dan jam tangan ikut menyempurnakan penampilan mereka.


Sangat berbanding terbalik dengan Lita yang tak mengenakan apa-apa.


"Oh, jadi ini perempuan yang selama ini melayani suami kita?" ucap salah satu wanita sambil melangkah mendekati ranjang.


Ia membungkuk di hadapan Lita yang terbengong, menatap nyalang padanya sekaligus jijik. Dicengkeramnya dagu Lita cukup kuat, dia meringis. Sakit bekas tamparan semalam, bertambah nyeri disaat kuku tajam wanita itu menancap di kulitnya.


"Biasa aja, nggak ada cantik-cantiknya. Tubuhnya juga berisi, banyak lemak di sana sini. Aku heran apa yang dicari laki-laki brengsek itu dari perempuan j*l*ng ini?" ucapnya semakin mengeratkan cengkeraman tangan di dagu Lita.

__ADS_1


"Lepas!" geram Lita sembari memegang tangan itu.


Wanita tadi menghempaskan wajah Lita dengan kasar hingga berbalik cukup keras. Ia meringis, tak berdaya.


"Beraninya perempuan kotor kayak kamu nyentuh tanganku? Dasar J*l*ng murahan," umpatnya.


Tanpa diduga, tangan itu menarik rambutnya dengan kuat hingga kepala Lita mendongak sempurna. Nyaris saja tulang lehernya patah. Lita bergeming, tapi air mata tak dapat ditahannya. Terus jatuh menetes ke atas kasur.


"Perempuan kayak kamu itu nggak pantes ada di tempat ini karena setiap sampah harus dibuang pada tempatnya. Tempat kamu bukan di hotel ini, tapi di sana! Di tempat para pemulung mengais sampah untuk mencari uang."


Sekali lagi kepala Lita dihempaskan hingga membentur kasur. Sakit! Tapi dia tidak dapat melakukan apapun. Hanya bisa tersedu dalam diam, bagai jatuh tertimpa tangga pula.


Wanita lain memunguti lembaran berwarna merah di atas tumpukan pakaian Lita. Langkahnya berlanjut mendekat, ia mengangkat kepala wanita itu dan menamparnya dengan uang tadi.


"Jangan harap kamu bisa bawa pulang uang ini. Ini semua punya kami bukan punya kamu," ketusnya menegaskan pada Lita.


Dia mengibaskan uang tersebut di hadapan Lita, menggoda wanita telanjang itu. Tangan Lita terangkat untuk menggapainya, tapi buru-buru ditarik kembli.


Mereka tertawa kompak, tak puas rasanya jika hanya seperti itu saja. Wanita terakhir turut maju, hal yang tak terduga selanjutnya adalah ... dia menarik selimut yang membungkus tubuh polos Lita dan melemparnya jauh-jauh.


"Argh!" Lita terkejut bukan main. Segera merapatkan kedua kaki dan memeluk dadanya. Mereka terhenyak sebelum tertawa lagi. Wanita-wanita gila, berbagai umpatan dilontarkan Lita dalam hati. Sementara kedua mata terus menjatuhkan air yang tak terhingga.


"Kasian sekali kamu. Gimana rasanya permainan suami kami? Ganas dan brutal, 'kan? Mereka emang gitu, nggak akan puas sebelum mangsanya kesakitan. Lain kali, berhati-hatilah. Kamu itu masih muda, masih bisa mencari kerja yang lain. Kenapa malah menggoda suami orang? Apalagi namanya kalo bukan p*lac*ur! Murahan!"


Mereka mendengus, satu orang di antara mereka sibuk memotret tubuh Lita menggunakan ponselnya. Lita tak berani mengangkat wajah, terus menunduk sambil menutupi tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Ah, sial! Salah satu dari mereka malah menarik rambutnya hingga mendongak. Tubuh Lita bergetar, isak tangis tak terbendung. Air mata tumpah ruah. Ke mana lagi dia akan bersembunyi? Semua jalan tertutup untuknya, Lita benar-benar hancur sekarang. Hancur sehancur-hancurnya.


Setelah puas merundung Lita, mereka pergi meninggalkannya sendiri. Lita meraung pilu, ia tak berdaya melawan ketiganya. Lidahnya tak mampu berucap, seolah-olah terkunci rapat. Lita ... oh, Lita! Malangnya nasibmu, tapi itu semua adalah hasil dari apa yang kamu tanam.


__ADS_2