Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Penolakan Rayan


__ADS_3

Keheningan yang diciptakan Hendra membuat Seira jengah sendiri. Rasanya baru kali ini dia merasa bosan saat menunggu.


"Aku ... a-aku ...." Hendra kembali terdiam, bingung sendiri harus memulai dengan kalimat seperti apa untuk berbicara dengan Seira.


Ck!


Seira berdecak sembari mendelik kesal, bosan sendiri melihat Hendra yang seolah-olah sedang mempermainkan waktunya. Fatih meraba pinggang sang istri, mengusapnya supaya lebih bersabar dan memaklumi sikap Hendra.


Dia gugup lantaran masalah kemarin, atau mungkin masalah hatinya.


"Langsung aja, aku tahu apa yang mau kamu omongin. Pasti masalah laki-laki itu, 'kan? Kenapa? Apa dia mau ketemu sama anaknya?" ucap Seira pelan, tapi penuh penekanan. Ia tak ingin perasaan Rayan terguncang jika meluapkan emosinya.


Sakit. Itulah yang sedang dirasakan hatinya saat ini. Betapa sakit harus mempertemukan mereka berdua sebagai ayah dan anak. Keinginannya untuk menyembunyikan keberadaan Rayan sepertinya tak diridhoi Tuhan. Betapapun ia berkeras hati, tapi kuasa Tuhan yang berjalan di muka bumi.


Hendra mendongak, bertatapan dengan manik tajam milik Seira yang menghujam jantungnya. Sekilas ada penderitaan yang tergambar di sana, teringat akan perlakuan Zafran waktu dulu. Namun, di dalam pancaran itu juga, ada kelegaan yang tak diungkapkan lewat kata-kata.


Laki-laki bergelar dokter itu kembali menunduk, menautkan jemari di bawah meja menahan gelisah. Nisa melirik pada laki-laki di samping, memperhatikan riak wajahnya yang tak lagi sama. Berkeringat dan menegang.


"I-iya-"


"Iya, Sei. Soal kemarin itu mohon untuk dimaafkan. Dia datang untuk meminta izin darimu mempertemukan mereka," sela Nisa geram sendiri dengan sikap Hendra yang terlalu bertele-tele.


Seira melirik Nisa, wanita itu cantik dan terlalu baik jika disandingkan dengan Hendra. Wanita dengan balutan hijab itu tersenyum, ia mengerti. Teramat mengerti dengan keinginan tersebut, tapi bagaimana dengan Rayan? Apakah harus memaksanya bertemu?


"Aku nggak akan ngelarang pertemuan mereka, tapi aku juga nggak bisa maksa anakku buat mau ketemu sama dia. Kalian bisa tanyakan sendiri padanya, apakah dia siap bertemu?" ujar Seira sembari melirik Rayan yang menegang.

__ADS_1


Rayan meletakan tangan kanan dan kiri di kedua paha orang tuanya. Mendengar pertemuan, teringat akan mimpi buruk yang akhir-akhir ini sering hadir di setiap malam-malam yang dilaluinya.


Seira memejamkan mata, dadanya bergemuruh merasakan jemari kecil Rayan meremas pakaiannya. Fatih melirik bergantian anak dan ibu itu, kemudian lirikannya jatuh pada tangan Rayan yang bergetar memegangi celananya.


Fatih memeluk tubuh itu, menenangkannya dari apa saja yang mengganggu.


"Tenang, sayang. Kakak harus tenang, ya. Bismillah!" bisik Fatih seraya mengecup ubun-ubun Rayan penuh cinta.


Bocah itu menggeleng, bayangan laki-laki seram yang ingin mengambilnya dari Seira tak kunjung pergi dari ingatan.


"Nggak! Rayan nggak mau ketemu sama dia. Dia mau ambil Rayan dari Mamah. Dia mau bawa Rayan, Mah. Rayan nggak mau pisah sama Mamah, Rayan nggak mau," ucap Rayan terdengar bergetar.


Fatih dan Seira sama-sama memeluknya, menenangkan hati anak itu agar tidak dikuasai rasa takut.


Nisa terenyuh, ia mendekap tubuh Hana membayangkan jika saja itu adalah anaknya. Sungguh ia tak akan sanggup melaluinya. Hendra tercenung, melihat Rayan yang berontak dia tersadar tindakannya yang kemarin telah mengguncang mental anak itu.


"Iya, sayang. Nggak ada yang mau ambil Kakak dari Mamah. Semua itu cuma mimpi, jangan dipikirin, ya." Fatih ikut menenangkan.


Ia mengusap-usap lengan Rayan menyalurkan ketenangan yang mengganggu jiwa anak itu. Baik Hendra maupun Nisa, keduanya terus diam sambil memperhatikan mereka.


Rayan memeluk Seira, menangis dalam buai hangat sang mamah. Seira mengangkat pandangan, menatap Hendra dan Nisa bergantian.


"Mohon maaf, kayaknya Rayan belum siap buat ketemu sama dia," ucapnya sedih.


Nisa melirik Hendra, dia mengerti dengan baik kondisi kejiwaan Rayan yang belum siap. Juga mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Entah apa?

__ADS_1


"Tapi, Sei. Kalian harus tahu kondisi Zafran saat ini. Dia sakit dan udah nggak bisa ngapa-ngapain. Buat jalan aja harus pake kursi roda. Dia bener-bener kasihan, Seira. Harapan untuk sembuh sangat tipis, kondisinya setiap hari memburuk. Aku takut dia nggak punya waktu banyak lagi, makanya dia pengen liat anaknya," ucap Hendra membuka kondisi Zafran pada Seira.


Wanita itu bergeming, pelan menatap Fatih yang juga tengah memperhatikan dirinya. Fatih mengalihkan pandangan pada Hendra dan Nisa, ia mengerti, tapi juga tak bisa memaksa Rayan.


"Kami akan coba untuk membujuknya, karena bagaimanapun kami nggak bisa maksa Rayan untuk ketemu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat dia mau ngerti dan mau ketemu sama ayahnya. Untuk sekarang, tolong biarkan dia tenang dulu. Akhir-akhir ini dia sering bermimpi tentang laki-laki yang ingin membawanya dari Seira. Aku harap kalian mau mengerti dan mau bersabar," pinta Fatih tak terlihat kesal apalagi emosi.


Laki-laki itu tampak tenang dan bisa diajak bekerjasama. Tidak seperti kebanyakan orang yang akan bersikap tak acuh ataupun ketus ketika berbicara tentang masa lalu pasangan.


Sekali lagi Hendra menyaksikan bahwa Seira benar-benar berada di tangan yang tepat. Fatih laki-laki luar biasa yang layak bersanding dengannya. Pupus sudah semua rasa dan memang tak seharusnya ada apalagi dipelihara.


Ia tak sepadan dengan Fatih, tak layak bersaing dengan laki-laki hebat seperti dirinya. Sadar dirilah, Hendra. Seira tidak ditakdirkan untukmu.


"Baik, kami mengerti. Mohon maaf kalo semua ini menggangu ketenangan Rayan, sungguh kami nggak bermaksud," ungkap Nisa tak enak hati setelah melihat reaksi Rayan yang histeris.


Seira tersenyum, tangannya masih mengusap-usap punggung dan kepala sang anak di pelukannya.


"Nggak apa-apa, mungkin emang Rayan belum siap aja buat ketemu. Nanti kalo waktunya datang, kami pasti bawa Rayan buat ketemu ayahnya," ucap Seira meminta pengertian.


Hendra dan Nisa tak berniat tinggal lebih lama lagi dalam acara tersebut, mereka gegas berpamitan dan langsung meninggalkan acara. Seira dan Fatih masih duduk di sana, menenangkan Rayan yang masih saja ketakutan.


Tak mudah memang, tapi perlahan Rayan pasti mau mengerti dan mau menerima keberadaan Zafran sebagai ayah kandungnya. Ini terlalu cepat, dan kejiwaan Rayan memang belum siap untuk menerima.


"Nggak apa-apa, sayang. Mamah dan Papah nggak akan maksa Kakak kalo belum mau ketemu sama ayah Kakak, tapi coba denger Papah." Fatih mengusap punggung Rayan, memintanya untuk berhadapan.


"Nggak akan ada telur kalo nggak ada ayam betina, dan ayam betina nggak akan bisa bertelur kalo nggak ada ayam jantan. Jadi, kalo nggak ada ayah Kakak, mungkin Kakak nggak ada. Maka kalo nanti Kakak udah siap buat ketemu, bilang sama Papah dan Mamah, ya?" ucap Fatih dengan lembut dan senyum meyakinkan.

__ADS_1


Pelan, tapi pasti kepala Rayan mengangguk.


__ADS_2