Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Semakin Aneh


__ADS_3

Lita ambruk di jalanan, hampir saja mobil itu mencicipi tubuhnya jika saja si pengemudi tidak menekan rem dengan cepat. Wanita itu memucat, nyaris saja nyawanya melayang. Ia memburu udara sambil memegangi dadanya yang sesak.


Pengemudi dengan penampilan rapi itu keluar dan menghampirinya. Ia berjongkok di dekat Lita dan memeriksa keadaanya.


"Kamu nggak apa-apa? Maaf, aku nggak sengaja. Aku lagi pusing tadi karena masalah dan nyetir asal-asalan," ucapnya meminta maaf.


Lita mendongak, melihat penampilan juga parasnya yang tampan, sebuah rencana busuk tersusun di otaknya yang licik. Ia meminta air pada laki-laki tadi, berpura-pura lemah dan tak berdaya. Namun, baru saja ia beranjak, Lita terjatuh dan tak sadarkan diri.


Laki-laki itu terkejut, ia menoleh kian kemari khawatir akan jadi bulan-bulanan warga karena kelalaiannya. Beruntung, jalanan sore itu tidak terlalu ramai.


Buru-buru ia mengangkat tubuh Lita dan membawanya ke suatu tempat. Bukan rumah karena rasanya tak mungkin dia membawa wanita itu ke rumah. Di sebuah kamar hotel, Lita dibaringkan.


Wajah cantiknya tampak kuyu dan kusam karena tak pernah dirawat. Laki-laki itu memperhatikan lekat-lekat wanita yang ditabraknya tadi. Ia tersenyum aneh sebelum masuk ke kamar mandi.


Berselang, Lita terbangun. Bingung melihat keadaan ruangan yang tak lagi sama dengan kamar miliknya di kontrakan. Suara gemericik air mengusik telinga, ia menoleh dan tersenyum penuh muslihat. Rencananya berhasil.


Pintu kamar mandi terbuka, Lita berpura-pura bingung dengan keadaannya saat ini.


"Udah bangun? Gimana udah baikan?" tanyanya sambil berjalan mendekati ranjang dengan hanya mengenakan balutan handuk di pinggang.


Lita memalingkan wajah malu, rona merah di pipinya menyembul tak tahu waktu. Benar, sudah lama sekali rasanya dia tidak merasakan kegagahan seorang laki-laki. Sejak bermasalah dengan Zafran, dan dia rindu sentuhan itu.


"I-iya. Boleh aku numpang kamar mandi?" tanya Lita sambil terus berpaling.


"Pakai aja, kamu bebas di sini. Maaf, aku nggak tahu rumah kamu di mana. Jadi, aku bawa kamu ke sini karena tadi kamu pingsan," ucap laki-laki tadi merasa bersalah.


"Iya, nggak apa-apa. Makasih," sahut Lita seraya beranjak turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.


Laki-laki itu tersenyum aneh, ia mengenakan pakaian kemudian keluar dari kamar hotel. Entah pergi ke mana. Yang pasti dia meninggalkan Lita sendirian. Di dalam kamar mandi, Lita mulai menyusun rencana. Jika dugaannya tidak meleset, dia adalah orang kaya dan Lita bisa menguras uangnya.


Lita membalut tubuh dengan handuk seadanya, membuka pintu kamar mandi berbarengan dengan pintu hotel yang terbuka. Seperti seorang gadis yang malu-malu, Lita menutup kembali pintu itu.


Laki-laki tadi tersenyum, berjalan ke kamar mandi dengan menenteng sebuah tas belanja. Ia mengetuk pintu di mana Lita berada.


"Ini aku belikan kamu baju ganti," katanya.


Lita menyodorkan tangan keluar, meminta. Ia segara menariknya kembali dan menutup pintu tersebut. Laki-laki tadi berjalan ke ranjang, membaringkan tubuh sambil menonton televisi.


Lita memekik, baju yang dibelikannya memang baju mahal, tapi kekurangan bahan. Dia keluar mencoba untuk percaya diri. Berdiri malu-malu tak jauh dari ranjang.

__ADS_1


"Kamu mau aku antar pulang?" tanya laki-laki tadi melirik Lita liar.


"Aku nggak tahu. Aku lagi nggak mau di rumah," sahut Lita menunduk.


"Kenapa? Apa ada masalah di rumah kamu?" Dia beranjak duduk.


Lita mengangguk, jemarinya meremas ujung dres dan sedikit menariknya.


"Apa masalah kamu?"


"Anakku sakit, tapi aku kesulitan cari uang buat bawa dia ke rumah sakit. Aku cuma mau nenangin diri aja, nggak tahu harus ke mana," ucap Lita menyedihkan.


Laki-laki tadi memegang tangan Lita, menariknya agar duduk di ranjang. Dalam hati Lita merasa puas karena berhasil membuatnya bersimpati.


"Kalo kamu butuh uang, aku bisa kasih berapa pun yang kamu mau, tapi semuanya itu harus ada timbal baliknya. Aku nggak mau semua uangku keluar dengan sia-sia." Dia berbisik di ujung kalimat.


Dengan berani mengendus leher Lita yang mengeluarkan aroma bunga dari sabun yang dikenakannya.


Sial! Tapi nggak apa-apa, demi uang.


Demi uang, hanya demi uang. Lita bahkan rela berkhianat terhadap pernikahannya. Semuanya hanya demi uang.


Beberapa hari berlalu, kondisi Fatih semakin membingungkan, ia bahkan menitipkan restoran pada Gilang karena tak ingin pergi ke mana pun. Malas, itulah yang kini dirasakan olehnya. Setiap hari selalu menempel pada Seira, dalam keadaan apapun.


"Sayang! Kamu di mana?" teriaknya pagi itu.


Seira yang sedang memasak di dapur memutar bola mata dengan malas. Dia tak pergi ke manapun, tapi laki-laki itu selalu mencarinya.


"Di dapur, Mas!"


Manjanya melebihi Rayan, Seira harus pandai berbagi waktu untuk memanjakan mereka berdua. Suara sang istri bagai angin segar di tengah gurun, Fatih bergegas mendatangi dapur dan seperti kebiasaannya, memeluk Seira dari belakang.


"Kenapa, Mas? Ini masih pagi, lho," ucapnya. Lihat saja, rambut mereka saja masih basah karena pertempuran semalam. Akhir-akhir ini, performa Fatih di atas ranjang meningkat. Apa sebabnya? Seira juga tak tahu.


"Emang kenapa? Nggak boleh Mas peluk istri sendiri?" bisiknya sambil menyesap kulit leher Seira.


"Mas! Malu kalo dilihat Ibu sama Biya, apalagi Rayan sama Bi Sari." Seira menghendikan bahu pelan.


"Siapa peduli. Mas cuma mau peluk istri Mas aja, kok." Fatih keukeuh, sepanjang acara memasak, dia tak melepaskan pelukan.

__ADS_1


Kini, malah menarik tubuh Seira ke pangkuannya. Kepala wanita itu celingukan khawatir penghuni rumah akan melihat. Tubuhnya dikurung Fatih, kedua tangan kokoh itu melingkar erat di pinggangnya.


"Mas, kenapa, sih? Kok, akhir-akhir ini jadi aneh kayak gini? Padahal aku nggak ke mana-mana, lho," tanya Seira keheranan.


Fatih menggelengkan kepalanya yang menempel di dada Seira.


"Mas juga nggak tahu, sedetik aja nggak liat kamu rasanya sedih terus kangen. Makanya Mas nggak mau pergi ke restoran, Mas mau di rumah aja," katanya dengan nada manja.


Geli memang, tapi berhasil membuat wajah Seira merona. Ia mendekap kepala Fatih dengan gemas, mencium ubun-ubunnya berkali-kali karena rasa bahagia yang tak terkira.


"Kenapa?" Wajah Fatih yang tiba-tiba mendongak menghentikan gerakan kepala Seira yang mencium kepalanya.


"Aku gemas sama Mas, akhir-akhir ini manjanya ngalahin Rayan. Aku jadi pengen bawa Mas ke dokter," katanya sambil tersenyum menggoda.


Fatih menelusupkan wajahnya kembali di dada Seira. Mendengus tak terima karena dia merasa baik-baik saja.


"Mas nggak sakit, kenapa harus ke dokter?" katanya tak senang.


Tawa renyah menguar dari bibir wanita itu, entah seperti apa menjabarkan perasaannya saat ini. Yang pasti hatinya berbunga dan tak ingin momen seperti sekarang cepat berlalu.


"Sayang, kayaknya bikin rujak enak. Mas lagi pengen banget makan rujak, kamu bisa bikin nggak?" tanya Fatih menatap Seira dengan matanya yang berkaca.


Jakunnya naik dan turun menelan ludah yang tiba-tiba membanjir di mulut. Membayangkan rujak dengan rasanya yang asam, manis, dan pedas benar-benar menggugah selera.


"Rujak?" Alis Seira bertaut, "tapi ini masih pagi, Mas. Penjualnya juga belum buka," lanjutnya keheranan.


Ini sudah di luar kebiasaan Fatih, laki-laki itu tak biasanya meminta rujak karena dia tidak terlalu suka yang asam.


"Ayolah, sayang. Mas ngiler tahu," ucap Fatih merajuk.


"Bawa ke dokter, Nak. Kayaknya suami kamu emang beneran sakit, masa pagi-pagi gini minta rujak. Di mana belinya?" sungut Ibu tiba-tiba.


Wanita tua itu juga heran dengan sikap anaknya akhir-akhir ini. Ia duduk di meja makan tanpa menatap mereka berdua. Seira mencoba untuk bangkit, tapi Fatih menahannya.


"Kan, bisa beli buahnya aja, Bu. Biar Sei yang bikin di rumah," ucapnya tanpa rasa bersalah.


Ibu menghendikan bahu tak acuh, membuka piring dan bersiap untuk makan.


"Iya, nanti kita beli, tapi setelah sarapan. Biar aku suapi," ucapnya sambil melepas perlahan lingkaran tangan Fatih.

__ADS_1


Lantaran semua orang sudah berdatangan, Fatih dengan tak rela melepaskan pelukan. Seperti mempunyai dua anak kembar, Seira bergantian menyuapi suami dan anaknya. Biya meringis jijik melihat tingkah aneh sang Kakak, tapi Bi Sari justru tersenyum bahagia.


__ADS_2